Buku Ilusi Negara Islam Mencatut Nama Peneliti Dituntut Tarik dari Peredaran


“Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing. Sebagaimana dilakukan Holland Taylor dari LibforAll, Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.

Karena itu, peneliti Yogyakarta menuntut kepada LibforAll untuk menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama peneliti Yogyakarta. “Kami menghimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi oleh kepentingan agen intelektual asing yang bekerja di Indonesia,” tandas peneliti Yogyakarta. (Republika news room edisi Senin 25 Mei 2009).

BARU sepekan lebih sedikit usia buku Ilusi Negara Islam diluncurkan, sudah menuai protes. Uniknya, protes itu datang dari sejumlah orang yang pada buku itu tercantum sebagai tim peneliti (researchers). Sebagaimana diberitakan Republika news room edisi Senin 25 Mei 2009, buku yang diluncurkan 16 Mei 2009 lalu itu, dinilai tidak sesuai dengan apa yang mereka teliti dan isinya mengadu domba umat Islam.

Para peneliti asal Jogjakarta ini, terdiri dari Dr Zuli Qodir, Adur Rozaki MSi, Laode Arham SS, Nur Khalik Ridwan SAg. Selain tidak sesuai dengan apa yang mereka teliti, para peneliti itu juga tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan penelitian sampai penerbitan menjadi sebuah buku.

Aroma manipulasi juga menyeruak. Misalnya, nama Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki yang sejak jauh hari sudah mengundurkan diri, namun tetap saja dicantumkan dalam buku tersebut. Padahal, keduanya sudah tidak terlibat lagi dalam tahap penelitian mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan hingga penerbitan buku. Nama keduanya dicatut. Pemberitaan selengkapnya sebagai berikut:


Buku ‘Ilusi Negara Islam’ Mengadu Domba Ummat

By Republika Newsroom

Senin, 25 Mei 2009 pukul 16:08:00

YOGYAKARTA — Peneliti Yogyakarta, Dr Zuli Qodir, Adur Rozaki MSi, Laode Arham SS, Nur Khalik Ridwan SAg melakukan protes terhadap buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkan The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Buku tersebut dinilai tidak sesuai dengan apa yang mereka teliti dan isinya mengadu domba umat Islam.

“Saya tidak berani lagi pulang ke Madura, karena terbitnya buku ini. Bisa-bisa saya dikalungi clurit karena buku ini mengadu domba umat Islam,” kata Abdur Rozaki di Kantor Republika.

Dijelaskan Zuli Qodir, isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ bukan merupakan hasil penelitiannya meskipun mereka disebut sebagai penelitinya. Sebab isi dari buku tersebut telah menyimpang dari apa yang mereka teliti. Selain itu, pihaknya juga tidak dilibatkan dalam proses penerbitan.

“Kami tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan penelitian sampai penerbitan menjadi sebuah buku,” kata Zuli.

Bahkan, lanjut Zuli, dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang dicantumkan dalam buku tersebut sebagai peneliti jauh hari sudah mengundurkan diri namun masih dicantumkan, seperti Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki. Sehingga keduanya sudah tidak terlibat lagi dalam tahap penelitian mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan hingga penerbitan buku.

Kata Zuli, tujuan penerbitan buku ‘Ilusi Negara Islam’ telah bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik kepada politis. Kondisi ini diperkuat hampir semua peneliti daerah yang namanya tercantum dalam buku tersebut tidak pernah diajak untuk berdialog menganalisis temuannya dalam kerangka laporan hasil penelitian yang utuh.

“Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing. Sebagaimana dilakukan Holland Taylor dari LibforAll, Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.

Karena itu, peneliti Yogyakarta menuntut kepada LibforAll untuk menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama peneliti Yogyakarta. “Kami menghimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi oleh kepentingan agen intelektual asing yang bekerja di Indonesia,” tandas peneliti Yogyakarta.

Bahkan yang aneh dari penerbitan buku tersebut adalah pencantuman KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur sebagai editornya. Padahal selama ini Gus Dur terganggu penglihatannya sehingga tidak mungkin Gus Dur bisa mengeditnya. “Ini sudah kebablasan,” kata Abdur Rozaki.

Sementara Ahmad Suadey, Direktur The Wahid Institute kepada Zuli Qodir mengirim SMS bahwa dirinya tidak tahu persis isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkannya. Karena itu, dirinya merasa kaget ketika mendapat protes dari peneliti Yogyakarta.

“Aku malah baru tahu ini. Kalau gitu perlu klarifikasi ke LibforAll. Kalau perlu teman-teman bikin nota protes tertulis. Aku gak keberatan karena saya tidak berhubungan dengan isi sama sekali,” kata Ahmad Suaedy. -hep/ahi

Sumber: ww.republika.co.id/berita/52253/Buku_Ilusi_Negara_Islam_Mengadu_Domba_Ummat

Aroma manipulasi-dramatisasi juga menyeruak: seolah-olah ada sekelompok orang yang mengancam akan membakar super bookstore Gramedia, bila buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika itu, dipasarkan oleh toko buku terbesar di Indonesia itu. Mungkin tujuannya, selain untuk mendiskreditkan lembaga yang disasar, juga untuk mendongkrak penjualan.

Uniknya, pihak Gramedia justru membantah adanya ancaman seperti itu. Bahkan buku Ilusi Negara Islam sama sekali belum dijual pihak Gramedia. Berita selengkapnya sebagai berikut:


‘Ilusi Negara Islam’ Diperdebatkan, Gramedia Bantah Diancam

Rabu, 20 Mei, 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Penerbitan buku berjudul Ilusi Negara Islam, tampaknya akan menuai kontroversi. Saat ini telah beredar berita ancaman pembakaran terhadap toko buku yang menjual buku tersebut, melalui sms. Namun Bambang Nuryono, Humas dan HRD Kompas-Gramedia mengaku belum tahu tentang buku tersebut. “Pertama, justru saya baru tahu ada judul buku itu,” katanya saat dihubungi Tempo, Selasa (19/5). “Dan pertama kali juga saya tahu bahwa ada ancaman beredar,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan Alvin, Supervisor Penjualan Toko Buku Gramedia-Matraman. Ia mengatakan, saat ini di toko buku tersebut belum ada buku Ilusi Negara Islam. “Belum ada di Gramedia,” katanya.

Bambang malah balik bertanya dan meminta penjelasan tentang sms yang berbunyi, “Gramedia diancam akan dibakar jika jual buku Ilusi Negara Islam. Gramedia lalu mengembalikannya ke Wahid Institute.” Sms tersebut diterima Tempo sekitar pukul 17.00.

Ditanya mengenai antisipasi yang akan dilakukan Gramedia terhadap ancaman itu, Bambang mengatakan pihaknya belum bisa membayangkan langkah yang akan ditempuh. “Kami belum bisa membayangkan akan ngapain sebab baru dengar kabar ini pertama kali,” katanya. “Terima kasih juga atas informasinya,” pungkas Bambang.

Sebelumnya, di situs http://politikana.com, pembahasan mengenai buku ini menjadi berita utama website tentang politik tersebut. Penulis tamu di situs itu, Roby Muhammad berbagi alamat tempat mengunduh buku Ilusi Negara Islam. Sejauh ini, tanggapan terhadap tulisan tersebut sudah mencapai 140 komentar.

Buku Ilusi Negara Islam berisi hasil penelitian yang antara lain melibatkan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Syafii Maarif, KH. Mustofa Bisri ini membahas tentang gerakan Islam ekstrim global yang harus diwaspadai.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2009/05/19/brk,20090519-177189,id.html

Dalam hal mendiskreditkan (baca: memfitnah) lawan ideologisnya, nampaknya sudah menjadi ‘tradisi’ bagi kelompok ini. Nama kelompok atau lembaganya bisa bermacam-macam, kali ini menggunakan nama Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, kemarin AKKBB, namun intinya ya sepilis juga, yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai Gerakan Fundamentalis Sepilis Transnasional. Atau ada yang menjuluki mereka sebagai Gerakan Pemurtadan Transnasional.

Ismail Yusanto dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) berpendapat, penggunaan kata transnasional yang dilekatkan kepada HTI memang ditujukan untuk menyudutkan pihaknya. Padahal, sekarang ini banyak hal-hal yang berasal dari luar (trans nasional), mulai dari makanan sampai ideologi sosialisme, liberalisme, kapitalisme, dan lainnya.

Pada satu sisi mereka mempermasalahkan gerakan transnasional yang dilekatkan kepada HTI, PKS dan sebagainya, namun pada sisi lain mereka tidak menolak (bahkan membela) gerakan kesesatan transnasional seperti Ahmadiyah dan sejenisnya. Ini tidak hanya rancu, tetapi membodohi masyarakat awam, setidaknya membuat bingung orang lain. Padahal, tugas seorang ulama atau cendekiawan atau intelektual adalah membuat orang lain yang tadinya bingung menjadi tidak bingung.

Salah satu ciri ilmuwan, cendekiawan, intelektual, adalah menjunjung tinggi kejujuran. Lha, kasus terbitnya buku Ilusi Negara Islam yang diprotes sendiri oleh penelitinya menunjukkan bahwa mereka yang terlibat di dalam proyek itu sama sekali mengabaikan kejujuran. Nafsu mau menghabisi lawan ideologisnya ditempuh dengan cara-cara yang tidak elegan, kasar, kotor, karena yang dikejar dollar semata. Karena otaknya sudah dipenuhi dollar, maka akal sehatnya tidak berfungsi.

Mereka yang terlibat di dalam proyek buku Ilusi Negara Islam itu, adalah sosok yang selama ini masuk kategori sebagai “gurubesar senior” seperti Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafi’i Ma’arif, A. Mustofa Bisri dan sebagainya. Kalau gurubesar seniornya saja tidak punya kejujuran (intelektual), bagaimana pula dengan juniornya?

Orang akan ingat pepatah: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sehingga bukan saja para guru besar senior itu saja yang rugi besar, tetapi adalah para juniornya. Sehingga korban-korban yang protes sekarang ini seakan tertimpa dua kali. Sudah jatuh, tertimpa tangga lagi. Sudah dikorbankan oleh seniornya, masih pula orang akan ingat pepatah itu tadi: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Lebih parah lagi, mereka justru mempecundangi juniornya dalam rangka mencari muka kepada pihak asing yang memang mencurigai dan bahkan memusuhi Islam, demi dollar. Astaghfirullah…

Kalau kelakuannya saja sudah sedemikian rupa, bagaimana masyarakat mau mempercayai bahwa ‘ideologi’ yang mereka tawarkan adalah sesuatu yang baik, dan akan membawa bangsa kita menuju kepada sebuah peradaban yang luhur, jika adab yang mereka pertontonkan kepada kita adalah adab yang buruk? Saking buruknya, kalangan junior mereka sendiri justru yang membuka adanya “dusta” di balik proyek penerbitan buku Ilusi Negara Islam yang nampaknya ingin membangun opini ada agenda tersembunyi dari PKS dan HTI. Namun, justru yang terbangun adalah gugus opini yang mempertegas adanya hiden agenda kalangan sepilis alias Gerakan Pemurtadan Trans Nasional ini. (tede)