Buku Islam dan Al-Qur’an pun Diserang

Karya Hartono Ahmad Jaiz dkk

iklan-buku-jg

Lima tahun lalu, tepatnya pekan kedua setelah Iedul Fitri 1425H, rombongan da’i Forum Peduli Ummat dari Jakarta menuju Padang Sumatera Barat untuk berda’wah keliling Sumatera. Tema yang dida’wahkan adalah Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya Yang Menghadang Ummat. Rombongan da’i itu berda’wah ke seantero Sumatera Barat, Muara Bungo, Jambi, Palembang,dan Metro Lampung.

Siapa nyana dan mengira, 5 tahun kemudian, tepat pekan kedua setelah Iedul Fitri pula, tepatnya tanggal 11 Syawal 1430H terjadi bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,6 skala richter (SR) menggoncang Sumatera Barat hingga memporak porandakan 7 hotel berbintang, ribuan gedung dan rumah, serta ratusan (mungkin ribuan korban tewas) dan sekian ribu yang luka-luka. Empat dusun di wilayah Padang Pariaman Sumbar terkubur longsoran bukit dalam gempa itu. ada pesta pernikahan yang dihadiri 400-an orang langsung terkubur bersama dalam gempa dahsyat Rabu 30 September 2009M/ 11 Syawal 1430H. Esoknya, Kamis 12 Syawal 1430H/ 1 Oktober 2009M gempa atas kehendak Allah Ta’ala meinmpa pula wilayah Jambi (Sumatera) berkekuatan 7 SR dengan menghancurkan ratusan rumah.

Peristiwa itu pada hari dilantiknya anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan daerag (DPD) periode 2009-2014 yang pelantikan 2 jam di Ibukota Jakarta itu saja khabarnya menghabiskan dana uang rakyat lebih dari 70 miliar rupiah. Itu satu versi. Versi lain menyebut, pelantikan Anggota DPR dan DPD pada 1 Oktober 2009 menelan biaya 11 milar rupiah. Itulah pemborosan di saat musibah bertubi-tubi diderita masyarakat Indonesia.

Masalah korban gempa, semoga para korban, Muslimin yang tewas, diampuni dosa-dosanya dan diterima amalnya oleh Allah Ta’ala. Sedang Muslimin yang selamat dari bencana itu semoga diberi ketabahan, kesabaran, sehat wal afiat dan terselesaikan urusannya. Semoga kaum Muslimin yang tidak terkena bencana terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan apa saja untuk menolong saudara-saudaranya yang tertimpa bencana itu. Dan amal mereka semoga diterima Allah Ta’ala. Amien.

Dalam perjalanan da’wah Islamiyah, Pustaka Nahi Munkar memuat tulisan laporan perjalanan Da’wah di Sumatera terutama di Sumatera Barat sampai Jambi dan Palembang. Laporan perjalanan da’wah itu ada di buku Islam dan Al-Qur’an pun Diserang.

Dalam Bab Dakwah dan Pendidikan Dijauhkan dari Islam dimuat Laporan Perjalanan Dakwah di Sumatera dengan tema Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya Yang Menghadang Ummat. Petikannya sebagai berikut:

Pengantar Redaksi:

Kami turunkan laporan perjalanan dakwah Forum Peduli Ummat di Jakarta yang terdiri dari 4 da’i yang telah menyampaikan dakwah secara keliling di beberapa daerah di Sumatera pada Bulan Syawal 1425H / November –Desember 2004. Ini bukan seperti Jama’ah Tabligh yang khuruj, tetapi dakwah untuk memberi masukan kepada Ummat Islam untuk mempertahankan aqidah Ummat dari berbagai serangan yang membahayakan. Karena muatannya cukup baik untuk disimak, dan insya Alloh bermanfaat, maka laporan ini walaupun sudah dibuat tahun 2004, namun seakan baru saja terjadi.

Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Redaksi nahimunkar.com

Pekan kedua setelah Iedul Fitri 1425H/ Desember 2004M, berangkatlah rombongan da’i Forum Peduli Ummat dari Jakarta menuju Padang Sumatera Barat. Tiga orang da’i berangkat lebih dulu menyusuri jalan darat sepanjang Jakarta-Padang, sementara seorang da’i masih ditunggu sembuhnya dari sakit, semoga bisa menyusul ke Padang. Perjalanan dakwah di Sumatera ini dilangsungkan selama 11 hari, dari tanggal 25 November sampai 5 Desember 2004. Kemudian dilanjutkan ke Makassar Sulawesi selatan selama 4 hari. Tujuannya adalah ke lembaga-lembaga Islam, masjid-masjid, perguruan tinggi Islam, dan pesantren-pesantren.

Hari Sabtu pagi, 14 Syawal 1425/ 27 November 2005M, 3 orang da’i telah sampai di Padang setelah menyusuri jalan darat selama dua hari dua malam. Mereka pagi itu langsung memberikan materi-materi dakwah dan kajian yang perlu disampaikan kepada jama’ah di Masjid Al-Madani Padang, dan telah ditunggu pula agar segera berda’wah di Masjid Muhammadiyah At-Taqwa di dekat pasar di Padang ba’da dhuhur seusai acara di Masjid al-Madani. Sementara itu Kepala rombongan, H Zulfi Syukur dari Dewan Dakwah Pusat Jakarta, berharap-harap cemas, rekannya yang satu, Hartono Ahmad Jaiz yang ditinggalkan dua hari yang lalu dalam keadaan sakit di Jakarta, mudah-mudahan bisa hadir saat itu. Zulfi senantiasa mengharapkan kepada Aru Saef Asadullah wartawan senior Majalah Media Dakwah yang di Jakarta untuk mendatangkan Hartono ke Padang, kalau perlu harus didampingi Aru, dan kemudian diantar pulang kembali ke Jakarta, tidak usah mengikuti tour dakwah selanjutnya, yakni ke seantero Sumatera Barat, Muara Bungo, Jambi, Palembang,dan Metro Lampung.

Kenapa Zulfi selaku ketua rombongan ini sangat mengharapkan kedatangan Hartono, menurut Zulfi dan Aru, tour dakwah ini kurang seru bila tanpa disertai Hartono. Pembahasan kurang komplit. Sebab materi yang disampaikan tidak sempurna bila tanpa membeberkan kebusukan dan bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal). Sedangkan masing-masing sudah membawakan materi sesuai dengan faknya, dan Hartono bagian menjelaskan kebusukan dan bahaya JIL. (halaman 87).

Buku ini melaporkan pula sikap-sikap pihak yang menjual kesesatan dikemas dengan gaya ilmiyah namun sebenarnya jauh dari obyektivitas keilmiyahan. Misalnya, sikap dosen liberal seperti dituturkan berikut ini:

Beberapa waktu lalu ada mahasiswa pascasarjana dari UI (Universitas Indonesia) yang memberitahu kepada kami, bahwa dosennya dari UIN Jakarta tidak berkenan apabila mahasiswa merujuk buku-buku kami ketika membuat karya tulis. Tidak berkenannya itu dengan alasan yang kurang jelas. Bukan semata-mata lantaran title, karena yang bertitel doctor seperti Daud Rasyid pun termasuk disebut. Sebaliknya, kami temukan dosen di kalangan UIN di antaranya dari Bandung, justru membela-bela untuk diajarkannya atau dipelajarinya materi filsafat marxisme atau atheisme.

Apapun alasannya, dari kedua kenyataan itu, artinya buku-buku kami dan teman-teman sejenisnya seakan haram, sedang marxisme ataupun atheisme justru mereka halalkan dengan kilah bahwa itu filsafat yang perlu dipelajari. Ini artinya, mereka menolak buku-buku yang membahas masalah-masalah dengan merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pendapat para Ulama, hanya karena yang menulis adalah kami dan orang-orang yang dianggap sejalan dengan kami. Sebaliknya, marxisme dan atheisme yang jelas-jelas menentang agama justru bagi mereka perlu dipelajari dan diajarkan. Itulah semangat busuk mereka. (halaman 14-15).

Muatan buku ini, yang menjadi batang tubuh (diapit antara awal dan akhir), terdiri dari aneka macam hujatan, lontaran, tohokan, kritikan dari orang-orang yang mengaku dirinya Muslim namun suaranya tidak mengenakkan Islam. Bahkan Islam dan Al-Qur’an pun Diperangi. Sebaliknya, aneka macam pemahaman bahkan aliran yang merusak Islam justru dibela dan dijajakan. Sampai-sampai Ahmadiyah yang jelas-jelas punya nabi palsu tersendiri (Mirza Ghulam Ahmad 1835-1908M), kitab suci palsu tersendiri (Tadzkirah, kumpulan wahyu muqoddas/ suci), dan tempat suci palsu tersendiri (Qadyan, Rabwah, dan Masjidil Aqsho didirikan di Qadyan) pun ramai-ramai mereka bela.

Bagaimana kita pantas untuk diam saja? Lha wong Kitab Suci Al-Qur’an, wahyu dari Allah Ta’ala saja telah mereka kritik sejadi-jadinya bahkan disebarkan keraguan bahwa itu tidak murni wahyu Allah Ta’ala; sebaliknya kitab suci palsu, wahyu dari syetan, ramai-ramai mereka bela. Apakah kita tidak malu kepada Allah Ta’ala, ketika kita yang mengaku sebagai hamba Allah, tetapi justru diam, bahkan mungkin mengamini adanya penghujat-penghujat wahyu Allah Ta’ala, Al-Qur’anul Kariem?

Islam yang jelas-jelas dibawa oleh utusan Allah Ta’ala, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pecundangi, mereka kutak-kutik agar Ummat Islam menjadi ragu-ragu terhadap agamanya itu; tetapi faham sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias menyamakan semua agama, dan liberalisme) yang kesemuanya itu muaranya adalah atheisme dan komunisme justru mereka usung, jajakan, dan pasarkan di masyarakat lewat aneka sarana dan media massa. Termasuk lembaga-lembaga pendidikan formal Islam seperti IAIN, UIN, STAIN, STIS dan lainnya.

Bagaimana kita tidak malu kepada Allah Ta’ala yang Maha Tahu, ketika di sekitar kita berseliweran musuh-musuh-Nya yang menyakiti Islam, lalu kita yang tahu pula keadaan memilukan itu namun diam saja? (halaman 8).

Di saat musibah menimpa negeri ini dan bahkan seperti mendera secara marathon bertubi-tubi, buku ini menjadi saksi bahwa sebenarnya jauh-jauh hari, bahkan lima tahun lalu, bahaya perusakan Islam oleh kelompok-kelompok tertentu yang disebarkan secara sistematis telah diingatkan oleh para da’I dari pusat kepada para da’I di daerah-daerah.

Semoga hal itu semua jadi nperingatan dan pelajaran yang berharga sehingga manusia yang suka lupa, lengah dan melakukan dosa-dosa ini kembali mengingat dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Sehingga tidak termasuk orang-orang yang rugi di akherat kelak. Amien.

(Redaksi nahimunkar.com).