Buku Panduan Haji Palsu dan Fatwa Mati

 

MENJELANG pertengahan November 2008, di Kecamatan Muncang dan Sobang, Kabupaten Lebak, Serang, Banten, Jawa Barat, beredar sebuah buku bersampul warna hijau tanpa gambar dengan ketebalan 86 halaman. Buku itu berjudul Upacara Ibadah Haji. Pada bagian bawah buku tersebut tercantum penulisnya bernama Drs. H. Amos.

Meski berjudul Upacara Ibadah Haji, namun ternyata isi buku tersebut tidak saja berisi tuntunan ibadah haji, tetapi juga membahas mengenai shalat dan puasa. Buku yang dibagikan secara gratis dan diletakkan di tempat-tempat umum ini isinya sangat menyesatkan. Menurut Ketua MUI Lebak, KH Satibi Hambali, buku tersebut haram dibaca oleh umat Islam. Pernyataan itu disampaikan Satibi berdasarkan hasil rapat fatwa yang digelar 12 November 2008 pagi.

Menurut Ahmad Saefudin, Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Kabupaten Lebak, buku penyesatan itu awalnya ditemukan oleh petugas KUA Kecamatan Sobang. Petugas tersebut mendapatkannya dari seorang bocah yang sedang bermain di dekat kantor KUA setempat. Menurut sang bocah, buku itu diperoleh dari seorang pria yang mengendarai sepeda motor, dan diberikan kepada anak-anak kecil di dekat Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sobang secara gratisan.

Antara lain dari buku penyesatan itu berisi tentang berbagai penjelasan, misalnya dikatakan bahwa Tuhan yang disembah oleh orang Islam adalah batu hitam (hajar aswad), dan ibadah haji juga merupakan rangkaian ibadah menyembah berhala (menyembah batu hitam atau hajar aswad). Menurut buku itu pula, ibadah haji sebenarnya hanya ibadah agama bangsa Arab saja. Sedangkan mengenai Nabi Muhammad, pada buku itu juga dikisahkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperkosa Siti Aisyah.

Mengenai hadits, dikatakan pada buku itu, bahwa kedudukan hadits lebih tinggi dari Al-Qur’an karena yang mengatur sahalat lima kali sehari semalam ada pada hadits, bukan pada Al-Qur’an. Sehingga kedudukan hadits dianggap lebih tinggi daripada Al-Qur’an.

Untuk lebih meyakinkan pembacanya, pengarang buku tersebut juga mengutip beberapa ayat-ayat Al-Qur’an untuk membawa kepada pengertian yang sama sekali keliru. Misalnya, penulis mengutip Surat Al-Isra ayat 78 dan Surat Huud ayat 144, sebagai landasan pemahaman tentang shalat yang boleh dilaksanakan dua atau tiga kali saja dalam sehari. Begitu juga untuk mengatakan bahwa pada dasarnya umat Islam itu menyembah setan, dikutiplah SuratYasin ayat 60 dengan pemaknaan yang melenceng.

 

Lagu Lama

Kasus tersebut sebenarnya lagu lama yang diulang di tempat lain. Sekitar Desember 1997 materi serupa (bahkan persis, dengan judul sama yaitu Upacara Ibadah haji) pernah beredar di Jakarta, dibagikan secara gratisan kepada khalayak di pinggir jalan yang antara lain melintas di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Penulisnya, Drs. H. Amos yang bernama asli Agam Poernama Winangun. Penerbitnya, Christian Center Nehemia, yang beralamat di jalan Proklamasi 47, Jakarta Pusat.

Kasus itu menjadi salah satu alasan bagi sejumlah umat Islam (tokoh masyarakat, majelis taklim, mubaligh, pemuda masjid, lembaga-lembaga dakwah dan aktivis Islam lainnya) membentuk Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA) di Cimanggis tanggal 25 April 1998 (28 Dzul Hijjah 1418 H). Tujuannya, untuk mengantisipasi bahaya Kristenisasi dan missi pemurtadan.

Pelaku pemurtadan, bukan hanya Amos tapi ada juga Suradi Ben Abraham, keduanya dari sekte Nehemia. Keduanya mengaku pernah beragama Islam sebelum akhirnya murtad menjadi Kristen, dan menjadi evangelis.

Drs. H. Amos adalah nama alias dari Agam Poernama Winangun, kelahiran 17 Mei 1935, yang pindah agama dari Islam ke Kristen sejak tanggal 30 Mei 1993 (dalam usia 58 tahun). Sebelum murtad, sepanjang hidupnya sebagai Muslim, Amos hanya hafal beberapa surat pendek dari Kitab Suci Al-Qur’an, yaitu Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Naas, Al-Ikhlash dan Al-Kautsar, itu pun sekedar hafal, tanpa memahami arti dan maknanya.

Kalau toh benar Amos pernah memeluk agama Islam, sudah bisa dipastikan ia adalah penganut Islam yang sangat awam, bahkan kualitasnya jauh di bawah anak-anak TK Islam yang sudah mampu menghafal belasan ayat (juz amma) sebelum menaiki jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SD). Secara jujur Amos pernah mengakui, dirinya tidak menguasai Bahasa Arab, dan hanya mampu memahami dan mempelajari Al-Qur’an versi terjemahannya saja. Namun, menurut pengakuan Amos, untuk menemukan kebenaran agama Kristen menurut Al-Qur’an, ia hanya perlu waktu mempelajari dan meneliti Al-Qur’an hanya dalam jangka waktu tiga minggu. Memang luar biasa kebohongan Amos ini.

Bagaimana dengan Suradi Ben Abraham (adakalanya ditulis Suradi Ben Abraham)? Menurut pengakuannya kepada majalah GATRA edisi Maret 2001, ia lahir dari orangtua muslim, yang mempraktekkan kewajiban agama (Islam), seperti shalat, puasa, dan sebagainya.

Ketika berusia 21 tahun, Suradi yang bapaknya seorang pegawai negeri sipil ini, murtad menjadi Kristen, karena diajak oleh Hamran Amrie. Sosok penyesat Hamran Amrie ini, meninggal pada 1987, konon sebelumnya juga beragama Islam, namun murtad menjadi Kristen untuk menjadi penginjil.

Pada tahun 1962, Suradi kelahiran Yogyakarta ini lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, dan sempat berdinas sebagai dokter Angkatan Udara Republik Indonesia. Sejak pensiun pada 1982, Suradi mulai menjalani perannya sebagai penginjil, yang berkhotbah ke berbagai gereja. Bahkan ia menjadikan tempat tinggalnya di jalan Proklamasi 47, Jakarta Pusat, sebagai tempat dilaksanakannya kursus penginjilan (pemurtadan) dengan nama Yayasan Christian Centre Nehemia.

Suradi antara lain pernah mengatakan, melalui khotbah-khotbahnya maupun melalui dokumen tertulis yang disebarkannya sendiri namun kemudian pura-pura diingkarinya, bahwa Tuhannya umat Islam adalah hajar aswad (batu hitam) yang menempel pada dinding Ka’bah di Mekkah itu. Suradi juga mengatakan, bahwa yang diterima Muhammad di Gua Hira bukan wahyu tetapi suara setan. Masih ada beberapa pernyataan Suradi yang melecehkan dan menyesatkan, misalnya Al-Qur’an itu bukanlah kitab suci, karena ayat-ayatnya saling bertentangan. Dan sebagainya.

Dari aktivitas pemurtadan dan penyesatan yang dilakukan oleh Amos dan Suradi, melahirkan reaksi di kalangan umat Islam. Maka, pada 1 November 2000 dideklarasikan berdirinya Forum Ulama Ummat (FUU), yang beranggotakan aktivis Islam seperti KH Rusyad Nurdin, Prof Djawad Dahlan, Muslim Nurdin, Ir Bambang Pranggono, Daud Gunawan dari PBB, Rizal Fadillah dari PPP dan lainnya. Menurut KH Athian Ali Muhammad Da’i Ketua FUU, “Semua unsur ada, dari Muhammadiyah, Persis dan lainnya. Hanya yang dari NU tidak ikut langsung aktif. Ada beberapa orang dari tokoh NU-nya sudah ikut mendukung.”

Sebagai tindak lanjut, pada Ahad 25 Februari 2001 di Masjid Istiqomah, Bandung, digelar tabligh akbar yang dihadiri sekitar 1.000 jamaah. KH Athian Ali Muhammad Da’i, Ketua FUU, membacakan “Fatwa Forum Ulama Umat Mengenai Penghinaan Terhadap Islam” yang terdiri dari dua butir pernyataan. Pertama, berdasarkan syariat Islam, mereka yang menghina Islam seperti Pendeta Suradi dan Pendeta Poernama Winangun wajib dihukum mati. Kedua, Forum itu meminta pemerintah melaksanakan tindakan hukum untuk menghindari umat Islam mengambil tindakan sendiri.

 

Fatwa mati untuk Suradi jadi rujukan dalam kasus Ulil

Fatwa itulah yang belakangan dirujuk kembali dalam kasus Ulil Abshar Abdalla dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menulis di Kompas, berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, 18 November 2002, yang isinya menghina Islam, dengan menegas-negaskan bahwa dirinya tidak percaya adanya hukum Tuhan. Di antaranya Ulil Abshar Abdalla menulis: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non Islam, sudah tidak relevan lagi.” “Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi.” “Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya.” “Menurut saya, Rasul Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).” (lihat Kompas Senin 18 Nopember 2002).

Terhadap tulisan Ulil itu ada reaksi keras dari Ummat Islam. Di antaranya di Bandung ada pernyataan yang disampaikan kepada pers, (2/12/ 2002) dari “Ulama dan Ummat Islam Jabar, Jateng dan Jatim”. Tulisan Ulil itu menurut pernyataan tersebut dinilai telah menghina Alloh, Islam, dan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sesuai syari’at Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan diancam dengan hukuman mati. Penjelasan kepada pers di Bandung itu dihadiri Ketua Umum FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) KH Athian Ali M Da’i, Ketua PPP Reformasi Jabar H Rizal Fadhillah SH, pengamat politik Herman Ibrahim dan sejumlah pimpinan Ponpes, menurut berita ‘detikcom’ yang ditulis M Munab Islah Ahyani dengan judul Ulil Abshar dinilai Hina Islam.

Kembali tentang Suradi dan Amos, Tanggal 22 Maret 2001, KH Athian Ali Muhammad Da’i, Ketua FUU bertemu dengan Kapolri di Jakarta. Ketika itu, Kapolri telah memerintahkan seluruh Kepolda untuk menangkap Suradi dan Amos.

Peranan Amos sebenarnya hanya meneruskan pemikiran sesat hasil produksi Suradi. Kadar intelektualitas Amos tidak memungkinkan dirinya menjadi produsen gagasan-gagasan sesat. Amos hanya meneruskan pemikiran dan gagasan sesat Suradi yang bersumber dari Hamran Ambrie yang meninggal pada tahun 1987, setelah berhasil membawa Suradi murtad di tahun 1982. Praktis, setelah Hamran Ambrie meninggal, maka Suradi menjadi sosok paling penting di dalam meneruskan misi Nehemia, yaitu menginjili umat Islam dan membina mereka menjadi penginjil untuk menjangkau umat Islam.

Pemikiran dan gagasan Suradi sebenarnya tidak hanya dipandang sesat oleh kalangan Islam, tetapi juga oleh kalangan Kristen (Nasrani). Di tahun 1999, Suradi pernah mengusulkan kepada PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) untuk mengubah nama Allah menjadi Yahwe Elohim yang berasal dari bahasa Ibrani. Usulan itu meski sempat membuat geger, namun tetap tidak ditanggapi kalangan Kristen dan Katholik.

Tahun 1987, pasca kematian Hamran Ambire, Suradi berkesempatan melakukan ziarah ke Israel. Sepulang dari ziarah, Suradi mulai terpengaruh sekte Yudaisme. Salah satu ciri khasnya adalah penolakan nama Allah (Tuhan Bapak –bagi Nasrani) dan menunjukkan semangat anti Islam dan anti Arab. Menurut Suradi, Allah (Tuhan Bapak –bagi Nasrani) adalah nama dewa Arab (dewa bulan/pengairan) pada masa jahiliah. Maka bila umat Kristen menggunakan nama itu berarti menghujat Yahwe (tuhan yang sesugguhnya). Bandingkan dengan Nurchalish Madjid yang pernah mengatakan bahwa Allah sejenis Dewa Air.

Di tahun 2000, Suradi menerbitkan Kitab Suci Torat dan Injil (atau disebut juga dengan Kitab Suci 2000 yang disingkat KS2000), yang hampir seluruhnya contekan dari Alkitab yang diterbitkan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia). Pada KS2000 kata TUHAN diganti dengan YAHWE; kata ALLAH diganti dengan ELOIM; kata YESUS diganti dengan YESUA; kata MUSA diganti dengan MOSE; kata DAUD diganti dengan DAWID; kata YOHANES diganti dengan YOKHANAN. Bahkan, saking terpengaruhnya dengan Yudaisme, Suradi pun mengganti namanya menjadi Eliezer ben Abraham, kemudian berganti lagi menjadi Bet Yesua Hamasiah.

Pasca dijatuhi fatwa mati oleh FUU, konon Suradi kabur ke luar negeri dan bermukim di sana. Di tahun 2004, ada kabar Suradi akan kembali ke Indonesia untuk mendukung PDS (Partai Damai Sejahtera) pada musim pemilu saat itu.

Perkara kabur ke luar negeri, fatwa yang dikenakan kepada Suradi kemudian dirujuk dalam kasus Ulil Abshar Abdalla itu kenyataannya Ulil juga kemudian berada di Boston Amerika sampai kini saat tulisan ini dibuat. Apakah itu gara-gara fatwa mati atau bukan, wallahu a’lam.

Secara urut-urutan, kenyataannya justru Ummat Islam ini yang dipanas-panasi, diganggu agamanya. Tetapi ketika Ummat Islam bereaksi, kemudian dilontarilah dengan cap-cap negative.

Kalau saat ini Suradi masih hidup, usianya mencapai 78 tahun, sedangkan Amos sekitar 73 tahun. Sudah cukup tua. Boleh jadi, selebaran upacara ibadah haji sebagaimana ditemukan di Kecamatan Muncang dan Sobang, Kabupaten Lebak, Serang, Banten, diorganisir oleh pengikutnya yang lebih muda. Artinya, meski Yayasan Nehemia pimpinan Suradi sudah ditutup, aktivitasnya secara bergerilya masih terus hidup. Ummat Islam memang tetap harus waspada, sesuai dengan batas-batas yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (haji/tede)