Buku Rekayasa Pembusukan Islam Memuat Bahaya ESQ

Kini sedang ramai diberitakan di mana-mana tentang sesatnya ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) milik Ary Ginanjar Agustian yang sangat terkenal di Indonesia. Berita ramai itu lantaran adanya fatwa dari Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia yang memfatwakan, ESQ sesat dan banyak bertentangan dengan Islam.

1. ESQ difatwakan, bahwa ajaran, pegangan, dan pemahamannya menyeleweng dari Islam dan dapat merusak aqidah Islam.

2. Ada sepuluh ciri yang terdapat dalam ajaran ESQ ditengarai oleh fatwa itu sebagai sesat dan dapat membawa kepada kekufuran.

3. Siapa saja hendaknya menjauhi ajaran, pegangan dan fahaman tersebut.

Di Indonesia pun suara-suara yang mengkritisi ESQ telah muncul ke permukaan sejak beberapa waktu lalu. Yang secara tertulis pun sudah beredar. Di antaranya dimuat di buku Rekayasa Pembusukan Islam, terbitan Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, Februari 2009/ Shafar 1430H. Buku itu beredar di Indonesia dan luar negeri terutama Timur Tengah. Di pameran buku sekarang, Pesta Buku Jakarta 2010 di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, 2-11 Juli 2010 ada di beberapa stand Sukses Publishing, stan nomor 17, 36, dan 96.

Dalam Bab Menyusupkan Syubhat ke Islam, di buku ini dimuat tentang ESQ Dibicarakan Orang. Isinya menguak 27 poin sisi negative yang perlu dihindari. Sisi negative itu ada yang dinilai sangat berbahaya.

Dalam catatan 27 poin itu di antaranya berdasarkan tulisan Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ Model-nya yang fenomenal. ESQ Model ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, bahkan buku monomental Ary yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual” sudah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan sudah dicetak lebih dari 20 kali!

Hal negative yang berbahaya dari buku tulisan Ary, dikritik pada poin 15 dan 16 dari 27 poin kritikan sebagai berikut:

15. Bagi Ary, sumber utama kebenaran adalah suara hati. Kebenaran ‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Berikut ungkapnya: “Pergunakanlah suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, …..” Lebih lanjut ia mengatakan: “…., dan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dasar berpijak (legitimasi). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati” (Lihat: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Hal. Liv).

Suara hati dalam bahasa kaum sufi sering disebut dengan Dzauq (rasa hati) yang pada prinsipnya sama, yaitu sumber kebenaran sejati. Maka tidak heran kalau dari mulut mereka kita dengar ungkapan “haddatsanii robbii ‘an nafsii” (Tuhan ku menginformasikan kepada ku melalui jiwa ku). Juga ungkapan: “kalian belajar kepada orang yang sudah mati,

sedangkan kami belajar langsung kepada Yang Maha Hidup”.

16. Keyakinan Ary yang lebih rancu dan sangat berbahaya lagi adalah ungkapannya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam kepribadiannya sebagai Rasul yang sekaligus sebagai pemimpin abadi sangat mengandalkan logika dan suara hati. Berikut ungkapannya: “Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan nabi penutup, atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, …….” (Lihat buku Rahasia Sukses …. ESQ, hal. 100).

Padahal kita kaum muslimin meyakini bahwa Nabi Shallallahu alaihi

wasallam selalu bersandar kepada wayu ilahi yang diturunkan melaui Jibril. Wahyu ilahi bukan suara hati! (Rekayasa pembusukan islam, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, Februari 2009, halaman 232-233).

Dengan munculnya kritikan terhadap ESQ dan bahkan fatwa dari Mufti yang menyatakan sesatnya dan bahayanya seperti tersebut, tampaknya ada reaksi dari orang-orang tertentu yang berani berkata dengan rancunya. Seakan Islam itu tergantung jumlah banyaknya orang yang setuju atau bersuara. Misalnya berkilah bahwa yang berfatwa tentang sesatnya itu kan hanya satu Mufti… dan sebagainya. Kilah seperti itu adalah satu bentuk pemikiran rancu. Karena Islam sama sekali tidak memerlukan banyaknya orang yang setuju. Ketika sesuatu itu benar secara dalil (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dengan pemahaman yang shahih, walau tidak disetujui oleh banyak orang maka tetaplah benar.

Jadi dalam kasus fatwa yang menyatakan sesatnya ESQ, atau catatan yang dimuat di buku yang menyatakan bahayanya, apabila itu dalilnya shahih, maka shahih pula alias benar. Tinggal lagi nanti orang yang ahli tentang evaluasi anggaran atau analisis tentang betapa besar pemborosan yang dihabiskan untuk penataran mahal itu dari berbagai kantor dan hasilnya pun negeri Indonesia banyak koruptornya bahkan sangat menonjol di dunia, maka evaluasi semacam itu akan menambah poin tersendiri pula. (nahimunkar.com).