Istilah dan kalimat Islami itu berbahasa Arab karena Al-Qur’an dan Hadits yang jadi pedoman Islam itu berbahasa Arab. Maka cara membacanya harus sesuai dengan ejaan huruf Arab.

Ada dua hal yang penting dalam membunyikan huruf Arab, yaitu masalah panjang – pendek, dan tebal-tipis. Yang panjang tidak boleh dipendekkan, dan sebaliknya, yang pendek dilarang dibaca panjang. Begitu juga yang tebal tidak boleh dibaca tipis, sedang yang tipis jangan dibaca tebal. Bila tidak tepat bacanya, di samping salah secara bacaan, masih pula beresiko menjadi berubah maknanya.

Yang bacaannya benar sesuai panjang pendek dan tebal tipisnya disebut fasih. Sedang yang tidak benar cara bacanya disebut grotal gratul, dan yang lebih parah lagi disebut blekak blekuk. Yang boleh jadi imam shalat itu yang bacaannya fasih dan banyak hafalan ayat al-Qur’annya. Bila tingkatnya grotal gratul apalagi blekak blekuk, maka tidak memenuhi syarat untuk jadi imam shalat.

Oleh karena itu, cara membaca huruf-huruf itu harus tepat, baik panjang pedeknya maupun tebal tipisnya.

Lafal الله    ِ Allah, lamnya harus dibaca tebal, jadi cara bacanya: Allooh (lamnya –lo nya–panjang, sedang huruf o di sini seperti membaca lafal Cirebon atau Purwokerto, jangan seperti baca lafal gado-gado atau beo).

Beda dengan lafal Billahi. Kalau didahului i, maka lam jalalahnya jadi tipis, cara bacanya adalah Billaahi, bukan Billoohi. Begitu juga lillahi, tidak boleh dibaca lilloohi, tapi harus lillaahi.

Kalau sebelum lam jalalah itu u, maka dibaca tebal juga sebagaimana yang diawali dengan a yaitu Allah jadi dibaca Allooh. sehingga lafal yadullah dibaca yadullooh. Abdullah dibaca Abdullooh. Jadi yang dibaca tipis hanya kalau didahului dengan i, seperti lafal fillahi tetap dibaca tipis yaitu: fillaahi.

Perhatikan, setiap lam jalalah, walau hanya ditandai a (pendek), tetapi tetap dibaca a atau o panjang. jadi ketika ditulis lafal Allah maka dibacanya: Allooh, atau kalau didahului i maka lamnya jadi laa (bukan loo) yaitu misalnya: Billah maka dibaca Billaah, bukan Billooh.

Huruf-huruf tebal

Ada huruf huruf tebal yang walau diberi tanda a maka cara membacanya jadi o. Di antaranya lihat abjad hijaiyah ini:

foto arabiyana.net

A Ba Ta Tsa Ja Ha Kha (dibaca Kho) Da Dza Ra (dibaca Ro) Za Sa Sya Sha (dibaca Sho) Dha (dibaca Dho) Tha (dibaca Tho) Zha (dibaca Zho) ‘A Gha (dibaca Gho) Fa Qa (dibaca Qo) Ka La Mana wa ha La A Ya

Huruf-huruf tebalnya adalah:

Kha (dibaca Kho)

Ra (dibaca Ro)

Sha (dibaca Sho)

Dha (dibaca Dho)

Tha (dibaca Tho)

Zha (dibaca Zho)

Gha (dibaca Gho)

Qa (dibaca Qo).

Huruf-huruf tebal itu harus dibaca o bila ditulis a. kalau ditulis (bertanda) u atau i maka tidak ada soal apa-apa.

Contoh:

Khadimul Haramain, maka bacaan yang benar adalah: Khoodimul Haromain (pelayan dua tempat suci, Makkah dan Madinah).

Shalat (Sholaat)

Shallallahu ‘alaihi wa sallam (shollalloohu ‘alaihi wa sallam).

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wa barokaatuh).

Shalawat (Sholawaat).

Masjidil Haram (Masjidil Haroom).

Baitullah (Baitullooh)

Rasulullah (Rasuulullooh)

Allahumma dammir ‘adaaka… (Alloohumma dammir a’daa-aka…).

Wahdzul man khadzalal muslimin (Wahdzu man Khodzalal muslimiin).

Wala takun lilkhainina khashima (Walaa takun lil khooiniina khoshiimaa) dan janganlah kamu jadi pententang (terhadap orang yang tidak bersalah) demi membela orang-orang yang khianat.

Shadaqallahul ‘adhim (Shodaqolloohul ‘adhiim).

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi ajmain walhamudlillahi Rabbil ‘alamin (Wasollalloohu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa Shohbihii ajma’iin walhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin).

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)