Sependek pengamatan saya, alunan qira’ah Syaikh Misyari Rasyid banyak memberi pengaruh pada banyak qari’-qari’ muda. Juga di masjid-masjid, cengkok beliau dipakai. Kalau dulu sebelum booming, style Syaikh Abdurrahman Sudais dan Syaikh Sa’ud asy-Syuraim masih banyak bertebaran.

Sependek pengamatan saya, Syaikh Misyari Rasyid pun sebenarnya sangat terinfluence dengan maqamat dalam qira’ah yang biasa dipakai oleh para qari’ qira’ah mujawwadah terutama dari Mesir. Cuma, perbedaannya, beliau lebih mempercepat bacaan dan dipoles sedikit. Selain itu, karakter suara Syaikh Misyari itu manis, tidak terkesan tua atau -maaf- tidak cempreng.

Sebagian dari ikhwah memfavoritkan style ngajinya Ust. Abu Usamah dari Indonesia. Mungkin ada yang mengira bahwa beliau memberikan kreasi baru dari irama pembacaan al-Qur’an. Sebenarnya tidak. Irama standar beliau lebih dekat ke Maqam Ajam, maqam yang menurut sependek pengetahuan saya, adalah maqam yang paling manis. Paling cocok untuk tema-tema Surga dan keindahan/kenikmatan alam semesta. Syaikh Misyari Rasyid pun kadang memakai style tersebut. Kalau dalam rekaman resmi, beliau memakai maqam Ajam di situs berikut:

– beberapa ayat pertengahan surat al-Baqarah (ayat 100 dan sekian)
– awal al-An’am
– akhir surat at-Taubah
– awal surat an-Nahl (bukan paling awalnya)
– awal al-Kahfi
– sepotong ayat surat Muhammad
– sebagian besar al-Hujurat
– seluruh surat an-Najm
– seluruh surat al-Insan
– seluruh surat al-Bayyinah
– seluruh surat al-Kafirun
dan mungkin ada yang belum saya sebutkan

Juga Syaikh Misyari Rasyid sering menggunakan Maqam Shaba. Selain itu pula, Syaikh Sa’d al-Ghamidy dengan tempo lebih cepat. Syaikh Sa’d juga menggunakan Maqam Hijaz.

Maqamat semacam itu tidak usah dipelajari. Iramakan bacaan Anda sesuai kapasitas dan kemampuan saja. Al-Qur’an itu, yang dipelajari adalah tajwidnya, qira’at sab’ahnya, dan tafsirnya. Tapi kalau mau meniru qari’ yang Anda suka, silakan. Wallahu a’lam.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)