Dahsyatnya Teror Miras

miras

RAZIA: Petugas menyadarkan seorang warga yang teler dalam razia jelang lebaran. HENDI/PONTIANAKPOST, Senin, 15 September 2008 , 07:26:00

Kejahatan sangat sadis yang menteror masyarakat akibat beredarnya minuman keras terjadi di mana-mana. Mayat bergelimpangan akibat minum bahkan pesta minuman keras pun berulang-ulang terjadi di mana-mana.

Anehnya, selama ini pihak yang paling bertanggung jawab tampaknya tidak merasa kecolongan, dengan bukti masih berkali-kalinya terulang dan terulang lagi peristiwa yang menteror masyarakt dan merenggut nyawa di mana-mana itu.

Di samping tampaknya tidak merasa kecolongan, belum pula diadakan instruksi yang menasional untuk membasmi terror miras itu, dan tidak terdengar diubernya biang terror berupa miras sampai ke pabrik dan hulunya. Hanya saja masih agak mending, kadang terdengar adanya sekian botol miras yang disita dari para pedagang. Operasi miras tempo-tempo yang hanya masa-masa tertentu misalnya menjelang Ramadhan itu tidak begitu mengurangi terror miras terhadap masyarakat, baik berupa merenggut nyawa maupun aneka kejahatan yang mengerikan.

Kasusnya berulang-ulang?

Ya. Bahkan di bulan Ramadhan atau Hari Raya Iedul Fithri. Kasusnya masih terngiang diantaranya:

Berdasarkan catatan Republika, pesta miras yang berujung maut pernah terjadi beberapa kali di Kabupaten Indramayu. Peristiwa itu mendapat sorotan luas terutama ketika terjadi pada September 2008. Selain bertepatan dengan momen Ramadhan dan Idul Fitri, peristiwa itu juga menyebabkan sedikitnya 31 korban tewas dan 200 orang lainnya terpaksa dirawat di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Indramayu.

Peristiwa itu kembali terulang pada Mei 2009 di Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Ind ramayu. Sebanyak tiga pemuda asal Desa Kertanegara dan Desa Wanakaya, Kecamatan Haurgeulis, tewas, dan seorang lainnya kritis setelah menggelar pesta miras dalam sebuah acara hajatan di Desa Wanakaya.

(http://epaper.republika.co.id/berita/52090/Pesta_Miras_Satu_Tewas)

Di tempat lain untuk menyambut Ramadhan tahun lalu juga ada yang berpesta miras:

Berita KRIMINALSenin, 1 September 2008
Pesta Miras Berujung Maut

SAMARINDA – Disaat umat muslim tengah mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan suci ramadan, beberapa warga justru sibuk menggelar pesta minuman keras (miras). Namun sayang, pesta miras yang digelar di teras depan kantor cabang Bank BRI di Jl Lambung Mangkurat, Kecamatan Samarinda Ilir justru membawa bencana, salah seorang diantaranya ada yang tewas, Minggu (31/8) sekitar pukul 15.00 Wita kemarin.

Belakangan diketahui peserta pesta miras yang tewas itu adalah Isbat Djohan (47) warga Jl Lambung Mangkurat Gang Permai RT 1, Kecamatan Samarinda Ilir. Diduga penyebab tewasnya Isbat karena dia terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras yang dia tegak beramai-ramai dengan beberapa orang temannya yang lain.

Sumber: http://www.radartarakan.com/berita/index.asp?Berita=KRIMINAL&id=138224

Tahun sebelumnya, ngeri pula, seperti berta ini:

Idul Fitri Diisi Pesta Miras, 8 Orang Tewas

Jumat, 19 Oktober 2007, 05:06:58 WIB
Simpang Empat, myRMnews. Delapan orang tewas dan puluhan orang terpaksa dirawat di beberapa Rumah Sakit Jambak dan Rumah Sakit Islam Yarsi di Simpang Empat, Sumatera Barat.

Kedelapan warga Ujung Gading yang tewas tersebut adalah Hendra, Diki, Rahmad, Rifki, Adi Dumbuang, Ikhwan Daulay, Melky dan Erwin. Mereka tewas dalam selang waktu yang berbeda, karena kebiasaan pesta minuman keras (miras) sehabis lebaran di Ujung Gading, Pasaman Barat, sejak gema takbir lebaran Idul Fitri bergaung (Jumat, 12/10) sampai empat hari kemudian (Senin, 16/10).

Dari informasi yang dihimpun Padang Ekspres, sebelumnya Hendra warga Pasa Lamo tersebut bersama teman-temannya pergi minum minuman keras ke warung Tawon di Pasa Lamo itu. Setelah ia mabuk dan tergeletak tak berdaya di warung tersebut, ia diantar teman-temannya ke rumahnya. Akhirnya, tidak beberapa lama sampai di rumahnya, keluarganya memberitahukan bahwa ia tewas.

Begitu juga dengan pemuda lainnya, Diki (27), Rahmat (25), Rifki (20), Ikhwan (30) dan Maiki (15). Mereka mabuk di warung miras itu dan digotong warga lainnya ke rumah mereka. Dan oleh keluarga mereka, ada yang sempat di boyong ke rumah sakit. Seperti halnya Melki (15) yang tewas di salah satu rumah sakit di Padang. Namun mereka tidak tertolong dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.
http://www.rakyatmerdeka.co.id/nusantara/2007/10/19/6741/Idul-Fitri-Diisi-Pesta-Miras,-8-Orang-Tewas

Pesta miras di tempat lain pun mengakibatkan tewas ramai-ramai:

Sabtu, 16 Mei 2009 04:22 WIB

Lagi, Pesta Miras Oplosan, 23 tewas

SEMARANG ( Pos Kota ) – Korban minuman keras (miras) oplosan di Tegal, hingga Jumat ( 15/5) mencapai 23 orang tewas, beberapa orang lainnya masih sekarat dirawat di RSUD Kardinah.

Kapolwil Pekalongan Kombes Dewa Bagus Made Suharya, mengatakan, dari hasil pemeriksaan, para korban meninggal setelah menenggak miras oplosan yang dibeli dari warung milik Tomo di Kota Tegal. (http://www.poskota.co.id/aktual/2009/05/16/lagi-pesta-miras-oplosan-23-tewas/)

Sudah sebegitu dahsyatnya terror miras terhadap nyawa manusia, namun belum-belum juga terdengar adanya penguberan yang memadai, apalagi sampai instruksi secara nasional untuk memeranginya. Padahal, jumlah korbannya tak sedikit dan di mana-mana, serta berulang-ulang, bahkan menodai hari-hari yang dimuliakan seperti Ramadhan dan Iedul Fithri.

Dalam hal jumlah korban dan seringnya terjadi, kasus matinya korban miras itu dibanding matinya bule kafir yang kena bom tidak sampai puluhan jumlahnya, barangkali saja terror miras ini lebih dahsyat dibanding terror bom. Namun secara logika bule kafir, kalau yang mati itu pribumi Mukmin, maka berjumlah banyak pun tidak soal. Pembunuhnya siapa dan dengan apapun mematikannya maka tidak dianggap kecolongan, dan bukan terror. Yang namanya terror bagi logika bule kafir hanyalah kalau yang jadi korban itu bule kafir, walau sama-sama penyebabnya, bom misalnya. Jadi, terror atau bukan, itu tergantungkorbannya, bule kafir atau bukan. Sehingga ratusan penduduk sipil Palestina (bukan bule kafir) termasuk anak-anak tak berdosa yang dibom dan dibunuh secara sadis oleh Israel, itu pembunuhnya dan pembomnya –yakni Israel—dianggap bukan teroris, karena korbannya bukan bule kafir. Sebaliknya kalau korbannya bule kafir, walaupun hanya sedikit orang, maka masjid-masjid atau tempat-tempat pengajian yang tak ada hubungannya dengan terbunuhnya bule kafir itupun perlu diuber sebagai sarangteroris. Itulah logika bule kafir yang telah matang. Maka tak mengherankankalau ada instruksi mau menguber tempat-tempat dakwah. Dan tidak ada instruksi untuk menguber tempat-tempat maksiat dan miras bahkan narkoba yang telah membunuh anak-anak bangsa dengan jumlah besar dan berulang-ulang di mana-mana.

Dahsyatnya Bahaya Miras

Miras bukan hanya mengakibatkan korabnnya tewas. Penenggak miras bisa berbuat jahat yang sejahat-jahatnya. Contohnya berita ini:

. Dengan membobol atap, sang oknum masuk ke dalam kamar kos dan menyelinap ke dapur untuk mengambil sebilah pisau. Dengan pisau inilah, sang oknum yang kala itu mengenakan cadar menodong sang remaja putri hingga akhirnya terjadi perkosaan.

Usai memperkosa, sang oknum menjarah TV, DVD, dan barang elektronik kemudian meninggalkan lokasi dengan sebuah mobil taxi ke kediaman teman wanitanya di Karang Medain, Mataram. (Lombok Post pagi edisi 6 Februari 2009)

Begitu dahsyatnya pengaruh miras terhadap diri seseorang (seperti kasus-kasus sangat merisaukan masyarakat yang akan diungkap di tulisan ini), maka tidak ada alasan untuk membiarkan berbagai miras beredar. Korban miras jauh lebih besar dari korban terorisme. Oleh karena itu, sudah sepantasnya operasi miras dilakukan secara lebih seru sebagaimana operasi melawan terorisme.

Kalau ada tanda-tanda menenggak miras atau mengedarkan, memproduksi, menyimpan, menjajakan dan membantu pengadaannya; maka perlu ditangkap, sebagaimana menguber teroris.

Miras bukan sekadar merusak raga, otak, jiwa pelakunya belaka, tetapi merusak orang-orang yang dijadikan korbannya. Entah itu perkosaan, pembunuhan, ataupun pencurian dan kejahatan lainnya.

Dalam Islam minuman keras atau khamr itu telah dinyatakan sebagai induk kekejian.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ». وَاللَّفْظُ لأَبِى عُمَرَ الْقَاضِى.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Khamr itu adalah induk keburukan (ummul khobaits) dan barangsiapa meminumnya maka Allah tidak menerima sholatnya 40 hari. Maka apabila ia mati sedang khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dalam keadaan bangkai jahiliyah. (HR At-Thabrani, Ad-Daraquthni dan lainnya, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ hadits nomor 3344).

Allah Ta’ala telah melarang keras khamr dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٩٠﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿٩١﴾

090. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.091. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS Al-Maaidah: 90, 91).

Secara terinci, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dilaknatnya orang-orang yang berkaitan dengan khamr:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَ إِلَيْهِ ». زَادَ جَعْفَرٌ فِى رِوَايَتِهِ :« وَآكِلَ ثَمَنِهَا ».حديث ابن عمر : أخرجه أبو داود (3/326 ، رقم 3674) ، والحاكم (4/160 ، رقم 7228) وقال : صحيح الإسناد . والبيهقى (6/12 ، رقم 10828) .

Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah melaknat khamr (minuman keras) , peminumnya, penuangnya (pengedarnya), penjualnya, pembelinya, pemerasnya (pemroses membuatnya), orang yang minta diperaskannya (minta dibuatkannya), pembawanya, dan orang yang dibawakan kepadanya.” Ja’far dalam riwayatnya menambahkan: “dan pemakan harganya.” (Hadits Ibnu Umar dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 3674 –dishahihkan oleh Al-Albani–, Al-Hakim no. 7228, ia berkata sanadnya shahih, dan Al-Baihaqi no. 10828, lafal ini bagi Al-Baihaqi).

Minuman keras alias khamr yang memabukkan, menimbulkan reaksi yang sangat dahsyat. Antara lain mendorong konsumennya yang sudah dalam keadaan mabuk untuk melakukan tindak perkosaan. Hal ini terjadi di Blitar.

Lima remaja berusia belasan warga Desa Gaprang Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, mengisi malam panjang libur tujuh belasan dengan mengadakan pesta miras di kediaman salah seorang di antara mereka.

Dalam keadaan mabuk, kelima begundal ini mendatangi Mawar yang berusia 17 tahun dan masih bersekolah di salah satu SMU di kota Blitar. Kelima begundal ini mengajak Mawar untuk ikut serta di dalam pesta miras yang mereka adakan. Namun tentu saja Mawar menolak.

Kelima begundal itu marah karena Mawar menolak ajakan mereka. Karena rumah Mawar dalam keadaan sepi, maka kelimanya langsung membekap Mawar dan membawanya ke salah satu kamar. Mawar pun diperkosa, setelah digilir sebanyak 5 kali Mawar ditinggalkan begitu saja. Peristiwa ini terjadi pada hari Ahad, tanggal 16 Agustus 2009 malam.

Mawar akhirnya melaporkan kejadian itu ke keluarganya. Laporan itu tentu saja membuat kaget seluruh keluarga Mawar. Saat itu juga, keluarga Mawar melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Dengan mudah, aparat kepolisian membekuk kelima begundal pemerkosa yang berusia antara 17 hingga 19 tahun itu, dan kelimanya dijerat dengan UU RI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak di bawah umur dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (http://surabaya.detik.com/read/2009/08/17/175906/1184558/475/5-abg-kompak-perkosa-pelajar-sma-bergiliran)

Sebelumnya, akhir Juli 2009, seorang pelajar salah satu SMK swasta di Kabupaten Trenggalek berusia 15 tahun, diperkosa dua kawan barunya setelah sebelumnya dicekoki miras.

Pada tanggal 29 Juli 2009, Anggi (demikian nama samaran gadis beruia 15 tahun itu disebut), saat pulang sekolah berkenalan dengan dua pemuda, yaitu Rudianto (25 tahun) dan Mujiyat (29 tahun). Keduanya warga Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Malam harinya, Anggi tak keberatan diajak jalan-jalan menuju Objek Wisata Pantai Prigi. Rupanya Anggi tidak menyadari jalan-jalan itu merupakan tipu daya semata.

Buktinya, Rudianto dan Mujiyat memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkosa Anggi, setelah sebelumnya mencekoki Anggi dengan miras di salah satu bangunan kosong bekas cafe di Objek Wisata Pantai Prigi. Setelah diperkosa, Anggi ditinggalkan begitu saja.

Keesokan harinya keluarga Anggi menaruh curiga karena sang anak belum juga pulang ke rumah. Mereka pun menggali informasi. Dari tetangga, diperoleh informasi bahwa Anggi diajak oleh dua pria teman barunya ke Objek Wisata Pantai Prigi. Maka, dilakukan pencarian ke Objek Wisata Pantai Prigi. Di tempat itu, mereka menemukan Anggi dalam kondisnya sangat memprihatinkan dengan pakaian acak-acakan dan tak sadarkan diri. Mendapati kenayataan seperti itu, pihak keluarga langsung membawa Anggi ke rumah sakit dan melaporkan kejadian itu ke polisi.

Berdasarkan laporan itu, dalam waktu relatif singkat, polisi dapat membekuk kedua pelaku di rumahnya masing-masing. Keduanya diancam hukuman 12 tahun penjara, karena diduga melanggar Pasal 82 UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 tentang tindak pidana menyetubuhi anak di bawah umur.

Remaja memperkosa remaja setelah menenggak miras, juga terjadi di Surabaya, April 2009 lalu. Pelakunya, Suri (18 tahun), IR (14 tahun), UM (13 tahun) dan ZL (14 tahun) asal Bulak Banteng Surabaya. Korbannya, Ola (18 tahun) yang juga warga Bulak Banteng.

Sebelum terjadi perkosaan, Ola dan keempat remaja tadi pesta miras di Pantai Kenjeran. Selain keempat begundal tadi, Ola juga mabuk berat. Dalam keadaan mabuk berat, keempat remaja begundal tadi sepakat memperkosa Ola secara bergiliran. Sedangkan Ola, karena dalam kondisi mabuk berat, ia tidak berdaya mencegah terjadinya perkosaan yang menimpa dirinya.

Tidak Hanya Remaja

Kenyataannya, tidak hanya remaja labil yang bisa dipengaruhi miras untuk melakukan perkosaan. Bahkan sudah sering terbukti, akibat pengaruh miras orang dewasa pun bisa punya dorongan memperkosa. Contohnya, terjadi di Banyuwangi sekitar Desember 2008 namun baru terungkap pada 12 Agusus 2009.

Sebut saja namanya Robert, berusia 39 tahun, status bujangan. Warga Dusun Krajan Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar, Banyuwangi ini menjadikan gadis sembilan tahun sebagai korbannya.

Saat itu, Desember 2008, Robert yang dalam keadaan mabuk akibat mengkonsumsi minuman beralkohol, melihat AT (berusia 9 tahun) sedang bermain-main di halaman rumahnya. Robert pun menghampiri AT. Bocah belia itu dirayu akan diberi hadiah, dan diajak masuk ke dalam rumah khususnya ke kamar tidur Robert. Di dalam kamar, Robert pun melucuti pakaian AT. Maka, terjadilah perkosaan itu dengan mudah dan tanpa perlawanan.

Sangat disayangkan, orangtua AT baru mengetahui kejadian itu delapan bulan kemudian, setelah sebelumnya mereka melihat ada gerak-gerik AT yang mencurigakan, antara lain sebagaimana bisa dilihat melalui cara berjalan AT yang berbeda dari biasa-biasanya. Setelah ditanya lebih intensif, AT akhirnya mengakui bahwa ia pernah diajak ‘main kudan-kudaan’ oleh Robert. Untuk memastikan, keluarga AT membawa sang anak ke dokter.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, diketahui jika keperawanan AT sudah sobek, dan pada kelamin AT mengalami infeksi. Dilihat dari kondisi luka, infeksi tersebut sudah berlangsung lama. Maka, Robert pun diciduk aparat. Ia terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara karena diduga melanggar UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002. (http://surabaya.detik.com/read/2009/08/13/161011/1182678/475/terpengaruh-miras-bujang-lapuk-gauli-bocah-di-bawah-umur)

Bahkan, pengaruh miras juga bisa menembus ke dalam diri orang-orang terlatih, semisal aparat negara. Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada diri seorang anggota TNI –AL berpangkat kelasi dua (KLD).

Menurut pemberitaan Lombok Post pagi edisi 6 Februari 2009, salah seorang oknum anggota TNI Angkatan Laut (AL) Mataram berinisial BN digelandang ke Polres Mataram pada hari Kamis tanggal5 Februari 2009, karena mencuri dan memperkosa remaja berusia 18 tahun yang masih duduk di kelas II SMA di sebuah kos-kosan di Karang Pule, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sang remaja putri melaporkan oknum TNI-AL tersebut ke polisi, karena ia sempat diperkosa di kamar kos-kosan sekitar pukul 01.00 WITA. Sang remaja putri juga melaporkan tindak pencurian yang dilakukan oknum tersebut. Menurut hasil pemeriksaan polisi, terbukti sang oknum TNI-AL itu sebelum melakukan pencurian dan perkosaan, telah lebih dulu mendatangi sebuah tempat penjualan minuman keras (miras) jenis tuak yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Di tempat itu, ia berada sekitar pukul 22.00 WITA dan ditemani dua oknum lainnya.

Dalam keadaan dipengaruhi miras, sang oknum TNI-AL ini, sekitar pukul 00.30 WITA, tanpa sepengetahuan rekannya, menuju kediaman sang remaja putri. Dengan membobol atap, sang oknum masuk ke dalam kamar kos dan menyelinap ke dapur untuk mengambil sebilah pisau. Dengan pisau inilah, sang oknum yang kala itu mengenakan cadar menodong sang remaja putri hingga akhirnya terjadi perkosaan.

Usai memperkosa, sang oknum menjarah TV, DVD, dan barang elektronik kemudian meninggalkan lokasi dengan sebuah mobil taxi ke kediaman teman wanitanya di Karang Medain, Mataram.

Begitu dahsyatnya pengaruh miras terhadap diri seseorang, maka tidak ada alasan untuk membiarkan berbagai miras mudah diperoleh di sembarang tempat. Korban miras jauh lebih besar dari korban terorisme. Oleh karena itu, sudah sepantasnya operasi miras dilakukan secara lebih seru sebagaimana operasi melawan terorisme.

Dalam hal korban, pada umumnya yang jadi korban miras dalam bentuk perkosaan adalah para wanita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya, para aktivis wanita turun ke jalan meminta pemda menertibkan penjualan miras. Kalau untuk urusan poligami dan menolak undang-undang pornografi, para aktivis perempuan begitu getol turun ke jalan, maka sudah sepantasnya mereka turun ke jalan dengan lebih semangat untuk menolak keberadaan miras. Sebab, miras merupakan induk kejahatan. (haji/tede).