Dakwah di TV, Judi Premium Call, dan Fatwa

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Dakwah di televisi selama ini tampaknya mengandung masalah. Namun bukan berarti otomatis pihak televisi sengaja cari masalah. Ketika ada masukan dari masyarakat bahwa dakwahnya bermasalah, ada juga yang mencari solusi untuk dipecahkan. Di antaranya, kabarnya TVRI pada Ramadhan sebelum ini dakwahnya bermasalah, karena ada aliran sesat Syi’ah yang masuk dan siaran di sana. Maka pihak TVRI berkonsultasi ke MUI (Majelis Ulama Indonesia). Hasilnya, agar TVRI menghentikan dakwah sesat Syi’ah itu. Ini berarti ada i’tikad baik dari pihak TVRI, untuk memperbaikinya, kala itu.

Itu baru satu contoh masalah. Padahal mestinya, dakwah itu justru untuk mengurangi masalah atau bahkan memberi jalan untuk mengatasi masalah.

Masalah yang paling mendasar sudah jelas. Dakwah di televisi rawan dengan gejala mencampur adukkan yang haq dengan yang batil, masih pula kadang menyembunyikan yang haq (yang benar) padahal sang da’i tahu.

Ini masalah pokok yang sangat rawan dalam kehidupan. Sebab, dalam hidup pribadi seorang muslim saja, mencampur adukkan yang haq dengan yang batil itu dilarang.

Allah Ta’ala telah menegaskan:

وَلاَ تَلْبِسُواْ اْلحَقَّ بِاْلبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (42)

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-baqarah/ 2: 42).

Ketika dakwah berada pada kondisi –sengaja ataupun tidak, atau mungkin bahkan disistematisasi sedemikian rupa— mencampurkan yang haq dengan yang batil, dalam satu masalah saja, maka rangkaiannya jadi banyak.

Misalnya, da’i menyampaikan materi da’wah di televisi. Materinya itu sendiri sudah disetel, jangan yang keras-keras, misalnya. Lafal “jangan yang keras-keras” itu sendiri sudah memasung dakwah. Karena ukuran keras itu bukan diukur dari Islam, tetapi dari televisi atau penyelenggara. Padahal da’wah itu ukurannya adalah Islam itu sendiri, yakni Al-Qur’an dan Assunnah yang shahih. Karena ukurannya bukan Islam tetapi televisi atau penyelenggara da’wah, maka ayat Al-Qur’an pun bisa dianggap keras. Hadits juga bisa dianggap keras. Larangan berzina dianggap keras. Larangan campur aduk lelaki perempuan dianggap keras. Larangan menampilkan orang banci dianggap keras. Larangan merokok, larangan main musik, larangan menampilkan joget-joget dengan menampilkan wanita apalagi auratnya diumbar dan sebagainya; bisa dianggap keras. Menda’wahi agar menjauhi kepornoan, jangan menayangkan yang porno, bisa dianggap keras.

Da’wah tetapi tidak boleh membicarakan larangan-larangan terhadap yang diharamkan Islam seperti itu berarti memberedel Islam itu sendiri. Bukan berda’wah.

Akibat dari satu kalimat, “materi dakwahnya jangan yang keras-keras” itu sendiri sebenarnya sudah membunuh dakwah itu sendiri, bahkan membunuh Islam, karena Islam sudah tidak dijadikan ukuran lagi, bahkan diukur dan dibatasi. Sehingga da’i di televisi, dalam menjalankan misi satu kata, “jangan yang keras-keras” itu sendiri pada hakekatnya membunuh tugas da’wahnya sekaligus membunuh Islam.

Di samping materinya sudah disetel, Islam itu sendiri dan da’inya kadang disamakan dengan pelopor kemaksiatan dan maksiatnya. Sehingga televisi merasa tidak risih menghadirkan secara berdampingan bersama-sama antara da’i yang diminta suaranya secara Islami, dengan Inul pelopor maksiat goyang ngebor, misalnya. Ini benar-benar saya alami, saya diminta oleh satu televisi swasta di Jakarta untuk berhadapan dengan Inul, maka saya tolak.

Bagaimana bisa dilakukan. Karena ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengancam siksa terhadap wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang):

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي رِجَالٌ يَرْكَبُونَ عَلَى السُّرُوجِ كَأَشْبَاهِ الرِّجَالِ يَنْزِلُونَ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ نِسَاؤُهُمْ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِمْ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْعِجَافِ الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ. رواه أحمد وقال الهيثمي رجال أحمد رجال الصحيح

Akan ada di akhir umatku orang-orang yang naik di atas pelana seperti layaknya orang-orang besar, mereka singgah di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian namun telanjang, di atas kepala mereka ada semacam punuk unta, laknatlah mereka (perempuan-perempuan berpakaian tetapi telanjang itu) karena sesungguhnya mereka itu terlaknat.” (HR. Ahmad, Al-Haitsami berkata, para periwayatnya Ahmad orang-orang yang shahih/ benar).

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

Memakai pakaian-pakaian yang ketat yang memperlihatkan tonjolan kecantikan wanita dan menampakkan keindahan tubuhnya adalah perbuatan haram, karena Nabi r bersabda :

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا بَعْدُ : رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ – يَعْنِيْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا – وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ …

Dua golongan orang yang merupakan calon pengisi neraka yang belum saya lihat mereka itu : Laki-laki yang memiliki cemeti/ cambuk bagaikan ekor sapi yang dengannya mereka memukuli orang, dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang) mailat mumilat (menyimpang dari kebenaran dan mengajak orang lain untuk menyimpang)… (HR Muslim dan lainnya).

Sabdanya,” kasiyat ‘ariyat,” telah ditafsirkan:

1. Bahwa mereka itu berpakaian dengan pakaian pendek yang tidak menutupi aurat yang harus ditutup,

2. dan ditafsirkan bahwa mereka mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi kulitnya dari pandangan di baliknya,

3. dan ditafsirkan juga bahwa mereka mengenakan pakaian ketat yang memang menutupi kulit dari pandangan namun tetap menampakan lekuk dan bentuk kemolekan tubuh wanita.

Oleh sebab itu tidak boleh bagi wanita mengenakan pakaian-pakaian ketat/sempit ini kecuali hanya di hadapan suaminya saja, karena di antara suami isteri tidak ada aurat, berdasarkan firman-Nya :

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ ) المؤمنون 5-6(

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (Al Mu’minun 5-6).

Hadits shahih tentang ancaman yang dahsyat itu pun sudah tak digubris oleh sang goyang ngebor, bahkan dia contohi dan pelopori untuk melanggarnya, bagaimana kita mau diajak bicara berhadapan lagi, dan ditonton jutaan orang? Itu justru mendudukkan orang yang melecehkan ajaran hadits shahih sejajar dengan orang yang membawa ajaran shahih.

Mendudukkan Islam sebagai materi yang dibicarakan oleh da’i disejajarkan dengan penjoget maksiat yang diharamkan Islam dan bermisi untuk mempertahankannya bahkan memromosikannya (?) itu jelas menyejajarkan dua hal yang kontradiktif. Islam itu kebaikan yang harus disiarkan, dimasyarakatkan. Joget maksiat itu keburukan yang harus diberantas. Tetapi malah didudukkan sejajar, diberi waktu yang sama, untuk saling berargumentasi. Ini bukan sekadar menyamakan yang haq dengan yang batil, tetapi justru mengangkat yang batil untuk dipasarkan seraya mengalahkan yang haq. Na’udzubillahi min dzalik. Itu sama saja dengan menyembelih Islam.

Demikian pula aneka dialog yang menyejajarkan Islam dengan hal-hal yang mestinya diberantas, misalnya pemikiran sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme). Bahkan sampai Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) bisa dijajarkan dengan orang JIL (Jaringan Islam Liberal) yang fahamnya telah diharamkan MUI, malahan MUI kewalahan lagi dalam bicaranya di televisi. Ini sama dengan menguliti Islam lewat memposisikan Ulamanya pada posisi yang terlarang. Karena Allah telah berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140)

Dan sungguh Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (QS An-Nisaa’/ 4: 140).

Dalam hal mengingkari ayat, orang JIL sudah dikenal, sampai dedengkotnya telah menulis di media massa terkemuka bahwa tidak ada hukum Tuhan. Padahal dia menikah tentu saja memakai hukum Tuhan. Kalau tidak, maka tidak sah menurut Islam. Bagaimana da’i bahkan Ulama duduk dengan orang dari kelompok yang telah dikenal suaranya melecehkan Al-Qur’an seperti itu? Diadakannya dialog antara orang JIL dengan MUI itu sendiri satu penghancuran Islam secara tersistematisasi.

Da’i didampingi pelawak di antaranya banci

Masih ada masalah-masalah lain yang tidak kurang bahayanya seperti berikut ini.

Apabila da’i laki-laki di televisi berbicara kemudian pendampingnya itu perempuan, walau pakai jilbab, tentunya ada masalah. Apakah tidak ada laki-laki di televisi itu yang bisa mendampingi da’i? Sebaliknya, kalau pembicaranya perempuan, justru pihak tvnya laki-laki. Ini untuk apa?

Belum lagi kalau yang mendampingi da’i laki-laki itu perempuan artis yang dalam keadaan tidak menutup aurat sesuai Islam. Ini menda’wahkan Islam atau apa?

Paling kurang, itu adalah mencampurkan yang haq dengan yang batil, dan agar manusia menirunya. Betapa bahayanya.

Belum lagi da’i itu hanya sebagai partner para pelawak bahkan kadang di antaranya banci. Sehingga baik posisi da’i maupun apalagi materi da’wahnya itu telah disejajarkan dan digabungkan dengan lawak dan isi lawakan. Padahal lawak itu telah dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi syarah At-Tirmidzi dijelaskan, bercandanya Nabi hanyalah benar dan tidak menyakiti hati serta tak keterusan. Sedangkan lawak, maka Syaikh Al-Mubarakafuri mengecamnya sebagai berikut:

فَإِنْ كُنْت أَيُّهَا السَّامِعُ تَقْتَصِرُ عَلَيْهِ أَحْيَانًا وَعَلَى النُّدُورِ فَلَا حَرَجَ عَلَيْك . وَلَكِنْ مِنْ الْغَلَطِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَّخِذَ الْإِنْسَانُ الْمِزَاحَ حِرْفَةً , وَيُوَاظِبَ عَلَيْهِ وَيُفْرِطَ فِيهِ ثُمَّ يَتَمَسَّكُ بِفِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَهُوَ كَمَنْ يَدُورُ مَعَ الزُّنُوجِ أَبَدًا لِيَنْظُرَ إِلَى رَقْصِهِمْ , وَيَتَمَسَّكُ بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي النَّظَرِ إِلَيْهِمْ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ( وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ) كَرَّرَهُ إِيذَانًا بِشِدَّةِ هَلَكَتِهِ , وَذَلِكَ لِأَنَّ الْكَذِبَ وَحْدَهُ رَأْسُ كُلِّ مَذْمُومٍ وَجِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ .

Maka apabila engkau wahai pendengar membatasi candaan sesuai dengan yang dialami Nabi saw dan hanya kadang-kadang secara jarang maka tidak apa-apa. Tetapi menjadi salah besar apabila seseorang menjadikan candaan/ lelucon itu sebagai profesi/ pekerjaan (seperti pelawak, pen), dan menekuninya dan keterusan dengannya, kemudian (berdalih) memegangi perbuatan Rasulullah saw, maka itu seperti orang yang mengitari Zunuj (satu masyarakat dari Sudan) terus-terusan untuk melihat jogetnya dengan berdalih bahwa Nabi saw mengizinkan Aisyah ra melihat mereka (zunuj) yang sedang bermain. Celakalah baginya, celakalah baginya; kata-kata ini diulang-ulang (oleh Nabi saw) menunjukkan sangat keras kerusakannya. Hal itu karena bohong itu sendiri adalah pangkal segala yang tercela dan pusat segala keburukan.[1]

Mestinya da’i bisa bersikap, para pelawak itu harus dienyahkan dari televisi. Demikian pula banci-banci. Karena orang yang berlagak lain jenis itu dilaknat.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَرَجِّلاتِ مِنَ النِّسَاءِ ، وَالْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالَ ، وَقَالَ : أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ ، قَالَ : فَأَخْرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلانًا ، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلانًا. (مسند أحمد – (ج 1 / ص 227)

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط البخاري رجاله ثقات رجال الشيخين غير عكرمة فمن رجال البخاري

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang kelelakian dari wanita, dan kewanduan dari lelaki. Dan ia berkata: keluarkanlah (usirlah) mereka dari rumah-rumah kalian. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan Fulan, dan Umar mengeluarkan Fulan. (HR Ahmad, sanadnya shahih menurut Syu’aib Al-Arnauth).

Orang-orang banci mestinya diusir, bukan malah dihormati dan ditampilkan, apalagi untuk mendampingi da’i.

Da’i yang didampingi pelawak, banci, ataupun artis yang mengumbar aurat itu jelas menambah rusaknya ummat.

Da’i jadi sarana judi?

Yang lebih memrihatinkan lagi, da’i di televisi kadang hanya sebagai sarana untuk melariskan judi dengan apa yang disebut premium call, yaitu sms judi. Padahal sms judi dengan nama premium call lewat televisi untuk mendapatkan hadiah itu sudah diharamkan oleh Komisi Fatwa MUI tahun 2006. beritanya sebagai berikut:

MUI: Premium Call Haram

Minggu, 28 Mei 2006, 01:47:02 WIB

Rakyat Merdeka. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) merekomendasikan bahwa kuis melalui short messages service (SMS) atau lebih dikenal dengan istilah premium call sama dengan judi. Keputusan ini diambil setelah melalui perdebatan panjang dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia II di Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, yang berakhir Sabtu (27/5).

http://www.rakyatmerdeka.co.id/nusantara/2006/05/28/1194/MUI:-Premium-Call-Haram

PBNU juga telah mengharamkan premium call itu tahun 2006:

PBNU Akhirnya Putuskan Kuis SMS Haram Hukumnya

Sunday, 20 August 2006 6:33

Jakarta (GP-Ansor): Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) akhirnya benar-benar mengharamkan kuis berhadiah melalui SMS (short message service) dan telepon premium call. Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi kemarin menyatakan, keputusan itu telah resmi menjadi fatwa PB NU untuk menjawab pertanyaan warga NU di berbagai pelosok.

Keputusan tentang kuis berhadiah melalui SMS dan telepon tersebut diambil dalam bahtsul masail di gedung PB NU Kamis kemarin. Itu merupakan lanjutan bahtsul masail yang belum tuntas saat Munas Alim Ulama di Surabaya Juli lalu.

Sumber; http://www.gp-ansor.org/berita/pbnu-akhirnya-putuskan-kuis-sms-haram-hukumnya.html

Sementara itu PWNU Jawa Timur telah mengharamkan premium call sejak Ramadhan 1429H/ 2008, dan diulang lagi seruannya pada Ramadhan 1430H/ 2009.

NU Jatim: Kuis Ramadan Haram, KPID Minta Masyarakat Melapor

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyatakan, acara kuis Ramadhan yang disiarkan beberapa televisi hukumnya haram karena sama dengan judi. Karena itu, pihak televisi maupun masyarakat diimbau tak meneruskan kuis-kuis tersebut.

“Kuis itu sama dengan judi. Unsur judi itu terlihat dari adanya kewajiban peserta membayar biaya tertentu melalui pulsa SMS premium dengan iming-iming hadiah uang besar. Padahal itu merugikan masyarakat sendiri karena mereka diajak untuk bermimpi mendapatkan hadiah,” kata KH Miftahul Akhyar, Ketua Rois Syuriah PWNU Jatim, pekan lalu.

Menurut KH Miftah, selama ini kuis punya nilai kurang baik dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat diajari berharap sesuatu yang tak masuk akal. Akibatnya, akan muncul masyarakat pemalas karena hanya berharap hadiah kuis.

Pada bulan Ramadan, kuis juga mengganggu orang yang sedang beribadah. Misalnya, orang mau salat tarawih atau sahur, beberapa televisi menyiarkan kuis berhadiah. “Sahur itu ibadah, sebaiknya jangan diganggu dengan kuis,” ujarnya mengingatkan bahwa fatwa kuis Ramadan haram itu juga pernah dicetuskan dalam hasil Batsul Masail PWNU Jatim pada 2004 lalu.

http://www.mui.or.id/konten/berita/nu-jatim-kuis-ramadan-haram-kpid-minta-masyarakat-melapor

Tahun 2009 sekarang, PWNU Jatim menyuara lagi:

NU: “SMS Premiun Call” adalah Judi

By Republika Newsroom وSenin, 24 Agustus 2009 pukul 13:18:00

SURABAYA–Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis berhadiah melalui SMS atau “SMS Premium Call” di televisi selama Ramadhan adalah judi.
“Itu karena harga normal SMS hanya Rp150, tapi dijual Rp2.000, lalu kelebihannya dijadikan hadiah,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar, kepada ANTARA di Surabaya, Senin.

Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, hadiah yang menggiurkan seperti mobil atau haji membuat banyak orang yang tertarik dengan keberuntungan itu.

“Cara seperti itu merupakan judi, karena ada unsur untung-untungan dan ada unsur tipuan, karena pengelola SMS itu pasti untung lebih besar lagi hingga miliaran rupiah,” katanya.

Bahkan, katanya, bila fasilitas “premium call” itu digunakan menjawab kuis, maka ada uang yang masuk ke penyelenggara kuis, karena untuk menjawab kuis dibutuhkan waktu tiga menit.

Ia menilai televisi selama Ramadhan merupakan media massa yang patut disikapi secara hati-hati, karena bila tidak mampu menahan diri, akan membuat orang yang berpuasa tidak berzikir.

“Kalau kita seharian tidak tidur dan hanya nonton televisi, maka kita mungkin akan tergolong orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/71403/NU_SMS_Premiun_Call_adalah_Judi

Dari kenyataan itu, sejak tahun 2004 ternyata judi sms bernama premium call lewat televisi telah difatwakan haramnya, dan mengganggu kegiatan ibadah sahur Ummat Islam di Bulan Ramadhan. Sampai kini Ramadhan 1430H/ 2009, da’wah lewat televisi tampaknya dari tahun ke tahun makin menambahi problem bagi ummat. Termasuk da’inya, kalau seperti itu, sama dengan jadi alat bandar judi.

Semoga Allah Ta’ala menunjuki hambaNya yang menginginkan jalan-Nya yang lurus. Negeri ini mayoritas penduduknya dari 220 juta orang lebih adalah Muslim alias beragama Islam. Tetapi untuk melangsungkan da’wah saja didera derita dari luar dan dari dalam. Masih pula ada suara-suara yang mencurigai da’wah sebagai alat yang digunakan oleh teroris, maka harus dikuntit atau dimata-matai. Maka reaksi para tokoh Islam pun gencar. Alhamdulillah kemudian ada penjelasan dari pihak petinggi polisi bahwa dakwah tidak akan diawasi polisi. Kalau sampai suara-suara tersebut benar, mungkin derita Ummat Islam ini tidak kalah buruknya dibanding zaman penjajah Belanda yang sampai mendatangkan Snouck Hurgronje untuk menipu Ummat Islam Nusantara.

Aneka kendala da’wah itu menjadikan wajah da’wah jadi rusak, dan isinya pun rusak. Padahal kalau da’wahnya rusak, maka pemahaman ummatnya jadi rusak pula. Sebagaimna bila da’inya rusak, maka apalagi masyarakat yang dida’wahi.

Astaghfirullaahal ‘adhiem…

Bagaimana solusinya?

Da’wah lewat televisi ada dua hal yang rawan, bahkan membahayakan. Pertama, bisa dijadikan alat penyebaran aliran dan faham sesat, seperti kasus TVRI di Bulan Ramadhan waktu lalu kemasukan propaganda Syi’ah hingga TVRI perlu minta keputusan dari MUI, maka MUI menegaskan agar tidak dibolehkan lagi propaganda aliran sesat Syi’ah itu.

Kedua, da’wah di televisi menghancurkan da’wah itu sendiri, karena mencampur adukkan yang haq dan yang batil. Bahkan untuk melariskan kebatilan, seperti da’wah untuk melariskan judi sms premium call.

Sebenarnya itu semua bisa diperbaiki. Tinggal pihak televisi mau atau tidak. Kalau tidak, maka mestinya Ummat Islam bersepakat, untuk menghindari mudhorot yang lebih buruk dan bahaya lagi, maka perlu berlepas diri dari TV. Tidak usah melihat TV.

Mungkin ada pendapat: Itu bukan solusi, karena tidak bisa ditempuh, karena banyak orang telah keranjingan nonton TV.

Kalau masalahnya demikian, masih ada jalan keluarnya, mendirikan stasiun televisi Ummat Islam sendiri, yang program-programnya benar-benar Islami.

Inilah yang sudah sering dikemukakan, namun belum kesampaian. Atau mungkin sudah ada sebagian, namun belum terdengar gaungnya secara luas. Wallahu a’lam. Hidup di negeri Muslim tetapi Islamnya dirusak oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, ya beginilah! Semoga saja menambahi pahala bagi orang-orang yang teguh memegangi Islamnya dengan baik dan dilandasi ilmu serta pemahaman yang shahih!


[1] (Al-Mubarakafuri, Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Jami’ At-Tirmidzi, juz 6 halaman 498 المباركفوري). – (ج 6 / ص 498 ], الكتاب : تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي)