ilustrasi


(Surat Pembaca)

Saya mohon maaf jika kritik saya dlm tulisan ini agak vulgar.

Apalagi dg fakta adanya orang2 yg punya kecenderungan mengkultuskan ulama/tokoh masa lalu.

Siroh perjuangan mereka lebih sering dikaji dari pada Siroh Nabi Muhammad SAW.

Maka kalau saya memposting tulisan seperti ini kemungkinan besar akan mendapat reaksi keras dari para pengkultus.

Terus terang setiap membaca sejarah Piagam Jakarta saya prihatin dg cara berpikir para ulama/tokoh Islam yg mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Yaitu ketika Piagam Jakarta dihapuskan karena konon ada protes dari utusan Indonesia timur yg mengancam utk memisahkan diri dari NKRI jika Piagam Jakarta tdk dihapus.

Masalahnya: Ancaman itu kenapa dituruti, sehingga para ulama/tokoh Islam itu menerima penghapusan Piagam Jakarta ?

Seandainya mereka konsisten mengikuti Aqidah Islamiyah, mereka tentu mengatakan :  Mau memisahkan diri silahkan saja. Kami hanya mencari ridho Allah. Bagi kami lebih baik negara kecil yg tdk mencakup Indonesia timur tapi diridhoi Allah, dari pada negara besar dg sistem kafir dan tdk diridhoi Allah.

Sayang sekali mereka memilih ridho manusia, bukan ridho Allah.

Pdhl RasuluLlah SAW sudah mengingatkan :

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ ، رَضِيَ الله عَنْهُ ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عليه الناس ) رواه ابن حبان “الإحسان في تقريب صحيح ابن حبان”

Siapa yg mencari ridho Allah dg resiko kemarahan manusia, maka Allah ridho kepadanya dan menjadikan manusia senang kepadanya. Dan siapa yg mencari ridho manusia dg kemarahan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya. (HR. Ibnu Hibban).

Nah sekarang ini kita mulai mengetam dampak negatif keputusan salah yg diambil ulama2 dan tokoh2 itu.

Demi persatuan dengan orang2 kafir,  demi menyatunya wilayah besar dlm Negara Kesatuan Republik Indonesia kita bersedia membuang Islam sehingga tdk menjadi asas negara ini dan tdk menjadi hukum.

Kita memilih asas yg disetujui kelompok2 kafir dan hukum yg sesuai selera mereka.

Sekarang apa jadinya ?

Setelah merdeka 71 tahun dan hidup bersama orang2 kafir diatas asas yg disepakati mulailah kita sedikit demi sedikit dikhianati.

UUD 45 dan Pancasila yg menjadi kesepakatan kita bersama mulai mereka ubah-ubah untuk selera mereka. Yang pada akhirnya nanti mungkin umat Islam dipaksa menerima asas yg mereka inginkan dan tdk kita inginkan.

Ini tdk akan terjadi seandainya dari awal kita jadikan Islam sbg asas dan hukum di negeri ini.

Karena seandainya yg jadi asas dan hukum adalah Islam maka orang2 munafik, dan apalagi orang kafir, tdk punya celah utk bisa memasuki dan mengambil jabatan strategis di negeri ini. Mereka juga tdk akan mampu merobah aturan yg bakunya ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Dampak negatif dari keputusan salah yg diambil para ulama dan tokoh masa lalu semakin terasa ketika melihat rencana di balik reklamasi, yaitu gejala akan mendatangkan puluhan juta cina, yg dengan begitu cina akan terus menerus memenangkan PILGUB DKI karena mereka mayoritas.

Dan berikutnya mungkin mendatangkan 200 juta cina utk menjadi penduduk Indonesia, yg dengan begitu presiden Indonesia dan yg mengisi jabatan2 strategis negeri ini selalu cina.

Maka umat Islam kemungkinan akan mengalami hal2 yg mengerikan :

– Pemaksaan utk menerima komunis sebagai sistem negara, bukan lagi Pancasila dan UUD 45, apalagi Islam.

– Pemaksaan untuk murtad, atau

– Pembantaian.

Inilah dampak serta akibat mencampakkan Islam.

الله المستعان

Mohammad Zubaidi

(nahimunkar.com)