Dana ‘Nganggur’ Jamaah Haji Capai Rp 27 Triliun

Setiap jamaah haji tahun lalu mendapat subsidi dari hasil bunga dana setoran jamaah haji yang disimpan di Sukuk sebesar Rp 6 juta perorang, kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PIH) Slamet Riyanto.

Berarti ibadah haji dicampuri duit riba?

***

Jakarta (SI ONLINE) – Banyaknya jamaah haji yang waiting list (menunggu) tahun ini mencapai 1.342.482 orang termasuk haji khusus sebanyak 38.048 orang, menyebabkan dana setoran haji tahun ini sebesar Rp 25 juta perorang mencapai Rp 27 triliun. Saat ini dana milik calon jamaah haji tersebut disimpan dalam Sertifikat Berharga Syariah Nasional (SBSN) atau Sukuk, dengan bunga 7 persen pertahun.

“Dana setoran calon jamaah haji saat ini mencapai Rp 27 triliun, disimpan dalam bentuk Sukuk yang dijamin 100 persen oleh negara,” ujar Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PIH) Slamet Riyanto  yang didampingi Direktur Pengelola BPIH dan SIH Ahmad Djunaidi dan Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji pada Direktorat PHU Sri Ilham Lubis kepada para wartawan di Kantor Kemenag, Kamis (7/4/2011).

Menyinggung mengenai pendanaan haji, Slamet Riyanto menegaskan setiap jamaah haji tahun lalu mendapat subsidi dari hasil bunga dana setoran jamaah haji yang disimpan di Sukuk sebesar Rp 6 juta perorang. Adapun komponen pembiayaan haji yang mendapat subsidi sehingga gratis adalah paspor, makan di Madinah, maka di Arafah dan Mina, Asuransi dan sebagainya.

Karena UU (Undang-undang) Haji tidak menyinggung dana setoran jamaah haji, maka sekarang sedang diajukan RUU ke DPR mengenai Tata Kelola Keuangan Haji. Nantinya UU tersebut akan mengatur bagaimana mengelola keuangan haji. Sedangkan di Malaysia sudah memiliki Tabung Haji yang keamanannya dijamin seratus persen oleh pemerintah Malaysia.

Waiting List

Menyinggung panjangnya waiting list jamaah haji Indonesia yang mencapai 10 tahun, Slamet Riyanto menegaskan tidak akan ada prioritas terutama bagi para pendamping jamaah haji yang berusia 60 tahun keatas. Sebab untuk tahun ini, calon jamaah haji yang berusia 61-70 tahun mencapai 32.199 orang, 51-60 tahun 51.013 orang, 41-50 tahun 57.000 orang, 31-40 tahun 28.435 orang, 71-80 tahun 9.359 orang, 81-90 tahun 1.021 orang dan 91 tahun keatas sebanyak 44 orang.

“Bayangkan jika jamaah haji 60 tahun keatas didampingi satu pendamping dari keluarganya, jumlahnya sudah mencapai 50 persen lebih dari jumlah total jamaah haji tahun ini. Jelas hal itu akan menggeser calon jamaah haji yang sudah lama witing list. Sehingga tidak perlu ada prioritas bagi jamaah haji 61 tahun ke atas dengan pendamping dari keluarganya,” ujar Slamet Riyanto.

Rep: Abdul Halim

Suaraislam.com, Thursday, 07 April 2011 18:42 | Written by Shodiq Ramadhan

Duit bunga untuk haji

Dalam berita itu disebutkan: Menyinggung mengenai pendanaan haji, Slamet Riyanto menegaskan setiap jamaah haji tahun lalu mendapat subsidi dari hasil bunga dana setoran jamaah haji yang disimpan di Sukuk sebesar Rp 6 juta perorang.

Perlu diketahui, bunga dari duit simpanan adalah riba. Sedangkan riba adalah haram bahkan termasuk dosa besar. Sementara itu ibadah haji adalah ibadah yang tingkatannya tinggi, bahkan merupakan jihadnya wanita Muslimah.

Duit riba lalu untuk subsidi ibadah haji, bagaimana?

Para ulama yang lebih tahu. Hanya saja perlu diingat, ada hadits-hadits yang harus benar-benar diperhatikan mengenai riba, di antaranya sebagai berikut:

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ


Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Al-Munawi menukil di dalam Faydh al-Qadir, bahwa al-Hafizh al-‘Iraqi berkata (tentang hadits di tas), Sanadnya sahih.

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:

الرِّبَا سَبْعُوْنَ حُوْبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

Riba itu (ada) 70 dosa. Yang paling ringan adalah (seperti) seorang laki-laki yang menikahi ibunya sendiri (HR Ibn Majah, al-Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan Ibn Abi Dunya).
€
Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً


Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani).
Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

دِرْهَمٌ رِبًا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً. وَقَالَ : مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.”€ (HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Asy-Syaukani, dalam Nayl al-Awthar, berkata, Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat. Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji, tidak diragukan lagi, bahwa kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.€
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling besar. Hal itu bisa dilihat dari: Pertama, orang yang mengambil riba merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya (QS 2: 275). Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai bukti keimanan seseorang (QS 2: 278). Ketiga, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan sebagai seorang kaffÃran atsÃman; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa (QS 2: 276). Keempat, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya (QS 2: 279). Kelima, dosa teringan memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.

Hadis di atas jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara. Hal itu seperti yang dilakukan oleh negara-negara besar (penjajah) kepada negara Dunia Ketiga. Melalui utang dengan sistem riba akhirnya kekayaan negara-negara Dunia Ketiga justru mengalir ke negara besar. Dengan utang itu pula, negara-negara Dunia Ketiga didekte dan dikendalikan demi kepentingan negara-negara besar itu. Apa yang terjadi akibat utang luar negeri terhadap negeri ini merupakan buktinya.

Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada mereka) (Hr al-Hakim).
(Diringkas dari tulisan Yahya Abdurrahman dalam

http://www.facebook.com/anggoro.network)

Para ulama dan zu’ama di negeri ini perlu membahas masalah itu kemudian menjelaskan dan mempertanggung jawabkannya.

(nahimunkar.com).