Zina terang-terangan mengakibatkan adzab

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu desa maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي  أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali,  lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani, dari Ibnu ‘umar radhiyallahu ‘anhuma).

1558 حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا *.

1558 Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, meratanya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan * (Muttafaq ‘alaih/ HR Al-Bukhari dan Muslim).

Pelacur lali-laki alias gigolo

 

DUNIA prostitusi tidak hanya mengenal pelacur perempuan, tetapi juga pelacur laki-laki. Antara lain ada yang ditandai dengan sebutan gigolo. Kehadiran gigolo mungkin sama tuanya dengan pelacur perempuan. Karena konsumen gigolo adalah perempuan –dan sifat perempuan yang tidak seterbuka sifat laki-laki di dalam mempraktekkan perzinaan– boleh jadi faktor inilah yang membuat pelacur laki-laki ini tidak begitu tampak di permukaan.

 

Perkembangan Gigolo berjalan bersamaan dengan perkembangan penyakit homoseksualitas, sehingga gigolo sebagai pelacur laki-laki selain ada yang khusus melayani perempuan (hetero), ada yang khusus laki-laki (gay), namun ada yang melayani keduanya (biseks). Sebagaimana pelacur perempuan, pelacur laki-laki ini di dalam menjalankan prakteknya ada yang terbuka dengan menjajakan diri di tempat-tempat umum.

 

Di Jakarta, salah satu kawasan tempat mangkal gigolo yang terkenal adalah Lapangan Banteng. Di tempat ini, Rabu 23 Juli 2008 lalu, aparat Sudin Tramtib Jakarta Pusat pernah menangkap 5 gigolo yang masih berusia remaja. Tidak mudah bagi aparat menangkap gigolo-gigolo ini, meski berada di tempat terbuka. Untuk bisa menangkap mereka, petugas tramtib sampai harus mengutus salah seorang anggotanya (wanita) melakukan penyamaran.

 

Menurut Subandi, Kasudin Tramtib Jakpus, penyamaran ini dibutuhkan untuk menghindari kasus salah tangkap. Penyamaran merupakan bagian dari perencanaan yang disusun secara matang. Rata-rata para gigolo memasang tarif sebesar Rp 500 ribu, dan mereka selain melayani kaum wanita, juga melayani laki-laki. Begitu penjelasan Subandi. (http://www.beritajakarta.com/v_ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=29552)

 

Selain beroperasi di tempat terbuka, gigolo lainnya ada yang beroperasi di hotel-hotel dan rumah kos-kosan. Di Jakarta, Selasa 16 September hingga Rabu dini hari 17 September 2008, sebelas gigolo ditangkap Polres Jakarta Pusat dalam Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat).

 

Menurut Komisaris Polisi Agustinus Pangaribuan (Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat), dari sebelas gigolo yang ditangkap tadi, ada yang ditangkap di jalanan dan ada pula yang disergap di rumah kos. Para gigolo itu melayani panggilan via telepon. Mereka berusia antara 15-30 tahun. Selain beroperasi di Lapangan Banteng, menurut Agustinus, para gigolo juga beroperasi hingga di kawasan Atrium Senen, Jakarta Pusat. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/18/09275496/11.gigolo.ditangkap)

 

Dari artis hingga polisi

 

Pada umumnya menjadi gigolo dilandasi oleh faktor ekonomi, selain itu ada juga yang disebabkan oleh faktor kelainan seks sejak kecil. Namun demikian, tidak semua gigolo berasal dari kalangan pengangguran. Bahkan ada yang dari kalangan artis (selebritis). Menurut Bobby, salah seorang germo gigolo, para selebritis ini umumnya sadar mereka sebenarnya tidak mampu mengkuti kehidupan kaum jet set ala Hollywood. Meski mereka sudah jadi artis (selebritis), belum tentu memiliki banyak uang. Dari sinilah banyak selebritis yang melakukan pekerjaan sampingan menjadi gigolo karena terseret kehidupan glamour, dengan tarif Rp 10 juta, jauh di atas tarif rata-rata gigolo jalanan yang hanya Rp 300 ribu, seperti Budy Franki.

 

Budy Franki adalah seorang gigolo yang berkulit putih, dengan usia 26 tahun, dan sudah menjadi gigolo sejak akhir 2007. Selain di Lapangan Banteng, ia ada kalanya nongkrong di Petamburan dan Cempaka Putih. Sedangkan lokasi tempat berbuat mesum umumnya di hotel-hotel yang berada di sekitar di Jalan Gunung Sahari, Jalan Taman Sari dan Jalan Pecenongan. Ketiga lokasi tersebut dekat dengan Lapangan Banteng, tempat ia sering mangkal (detiknews Senin, 21/07/2008 15:06 WIB).

 

Selain dari kalangan artis, ada juga gigolo dari kalangan (oknum) aparat kepolisian. Sebagaimana diberitakan harian Kompas edisi Rabu tanggal 31 Desember 2008, di kota Kupang diduga ada sejumlah (oknum) anggota kepolisian menjadi gigolo, (dari Polsekta Alak, Polsekta Oebobo, SPN Kupang dan Polda NTT). Tarifnya sekitar Rp 1 juta. Pelanggannya, selain ibu-ibu rumah tangga juga ibu-ibu yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Jalan Palapa, Kota Kupang.

 

Pada malam Sabtu tangal 27 Desember 2008, sekitar pukul 23.45 Wita, aparat kepolisian dari Polsekta Alak ketika mendatangi tempat kos milik Lt (salah seorang pegawai di salah satu koperasi di Kota Kupang) di Oesapa Kecil, pada saat itu dipergoki seorang perwira polisi dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) sedang berada di kamar Lt yang kerap membutuhkan pria-pria untuk mendapatkan kepuasan seks. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/31/06191095/Sejumlah.Oknum.Polisi.di.Kupang.Diduga.Jadi.Gigolo)

 

Pejabat dan Istri Pejabat Sewa Gigolo

 

Konsumen gigolo selain berasal dari kalangan wanita pengusaha muda, istri simpanan pejabat, ada yang dari kalangan pejabat, ada juga yang merupakan isteri pejabat.

 

Seorang mantan gigolo, bernama Deddi, mengaku pernah melayani seorang perempuan yang ketika itu merupakan salah seorang pejabat di lingkungan Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Pertemuan Deddi (23 tahun) dengan wanita paruh  baya itu terjadi setahun yang lalu, di sebuah restoran cepat saji yang berlokasi di sebuah mall di Surabaya. Saat itu keduanya saling bertatap mata dan saling berkenalan. Meski usianya paruh baya, tapi penampilannya sangat menarik dan tubuhnya masih terawat. Pertemuan sekilas itu berlanjut dengan bertukar nomor ponsel, dan kencan di hotel mewah.

 

Namun demikian, tidak setiap pertemuan di kamar hotel berakhir dengan hubungan intim. Jika hanya menemani ngobol, uang taksi (istilah untuk uang jasa bagi gigolo) yang diterima berkisar antara Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu sekali pertemuan. Tapi, jika terjadi ‘romantisme’ di kamar mewah, uang taksi menjadi Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000.  “Mungkin sekarang dia sudah mutasi atau malah pensiun…” Kata Deddi. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/05/09251717/istri.pejabat.sewa.gigolo)

 

Lain Deddi, lain pula Eko. Gigolo ini justru dipelihara oleh seorang pria paruh baya yang sudah beristri. Pria itu adalah seorang pejabat di Kantor Gubernur Lampung, berusia 56 tahun. Ia hanya 4 kali dalam sebulan datang ke Jakarta untuk minta dilayani. (Detiknews Senin, 21/07/2008 15:06 WIB)

 

Di Bogor, seorang pria berusia 26 tahun bernama Ucen Ade Saputra, mengaku dirinya seorang gigolo yang sering melayani pejabat Badan Pertanahan Nasional Bogor. Hubungan mereka berakhir tragis. Ucen akhirnya membunuh teman kencannya itu karena sang pejabat pernah berjanji membelikan telepon seluler dan memberikan sejumlah uang, namun tidak pernah dipenuhi. Bersama kakaknya, Ucen menghabisi sang pejabat di rumah kontrakannya. Setelah memastikan korban tewas, keduanya kabur ke arah Cikampek, selama hampir 40 hari. Akhirnya ditangkap di daerah Indramayu. (http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2008/10/17/brk,20081017-140796,id.html)

 

Seputar kehidupan gigolo khususnya di sekitar Surabaya, Jawa Timur, pernah ditelusuri harian Surya. Kisaran usia gigolo yang berkiprah di Surabaya, umumnya antara 20-25 tahun. Mereka terbagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok gigolo yang terorganisir dan gerakannya diatur germo. Kedua, gigolo yang bergerak sendiri. Kelompok gigolo yang terorganisir biasanya ini lebih rapi dan tertutup, karena ‘klien’ mereka adalah pengusaha wanita yang terkemuka dan dikenal masyarakat, atau, istri muda dan istri simpanan para pejabat. Sedangkan kelompok gigolo yang bergerak sendiri biasanya menjajakan diri secara terbuka lewat iklan di berbagai suratkabar. (http://www.suryalive.com/component/option,com_weblinks/catid,2/Itemid,23/index.php?option=com_content&task=view&id=1476&Itemid=1)

 

Gigolo Asing

 

Bukan hanya gigolo lokal yang beropreasi di Indonesia. Sebagaimana keberadaan pelacur perempuan asing yang beroperasi di Indonesia, gigolo asing juga hadir dan beroperasi di berbagai hotel di Indonesia.

 

Pada tahun 2006, aparat imigrasi pernah menangkap lima warga negara asing (WNA) yang berprofesi sebagai gigolo. Sejak 4 hingga 7 Desember 2006, aparat imigrasi melakukan operasi penyamaran, yang berawal dari adanya laporan masyarakat tentang adanya transaksi seks yang melibatkan pria warga asing. Transaksi seks ini, menurut laporan warga, terjadi di beberapa hotel di bilangan Jakarta Barat, yakni di Jalan Mangga Besar dan Jalan Jaksa. Aparat pun menyamar sebagai penyewa gigolo.

 

Hasilnya, lima gigolo asing berhasil ditangkap pada hari Selasa, 5 Desember 2006. Mereka terdiri dari Babani Rajesh Vadesh dan Nirmal Kumar (warga negara India), Nlate Ndjou’ou Martin (warga negara Kamerun), Tiwmy Smith (warga negara Liberia) dan seorang lagi bernama Ezenwa Paul Ogonna (berwarga negara Guinnea).

Mereka ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda. Babani dan Nirmal ditangkap di Hotel Sparks pada 5 Desember 2006. Aparat yang menyamar bersepakat dengan harga sewa Rp 3 juta per orang dan masuk ke kamar hotel, setelah itu aparat langsung menyergap mereka. Sedangkan Nlate ketika disergap di Hotel Mercure pada 6 Desember 2006. Saat tawar menawar sepakat dengan harga Rp 1.500.000, Nlate bersama petugas yang menyamar masuk ke kamar hotel dan langsung disergap. Tiwmy dan Ezenwa tertangkap di Hotel Fortune. (detiknews Kamis, 07/12/2006 21:34 WIB)

Konsumen gigolo asing bukan hanya perempuan Jakarta, tetapi sudah merambah ke kota kecil, seperti Madiun. Menurut detiknews (Senin, 25/06/2007 11:28 WIB), puluhan tante-tante kesepian di Madiun, Jawa Timur, kerap menggunakan jasa gigolo asing, karena setelah mereka beberapa kali mencoba kencan dengan gigolo lokal tak pernah mendapatkan kepuasan. Begitu kata mereka.

Gigolo dan Tindak Kriminal

 

Keterkaitan gigolo tidak hanya dengan urusan seks alias zina, tetapi juga dengan tindak kriminal. Di Bali, 12 September 2008, aparat kepolisian di sana menangkap dua gigolo berinisial WMK dan KM di daerah Kuta karena melakukan aksi penodongan dan penjambretan kepada sejumlah turis mancanegara. Aksi kedua gigolo yang merangkap penjahat itu, sebagian besar dilakukan pada tengah malam atau dinihari, ketika jalanan mulai sepi, yang ada hanya turis asing yang jalan-jalan. Sehingga, tidak banyak saksi yang dapat melihatnya. (http://terkini.com/2008/09/12/polisi-gulung-komplotan-gigolo-penjambret.html)

 

Dari hasil pemeriksaan polisi, terungkap bahwa kedua tersangka dan komplotannya telah sebelas kali melakukan aksi penjambretan dan penodongan di Kuta. Dari aksi sebanyak itu, korbannya sebagian besar kaum wanita yang berasal dari mancanegara. Saat dilakukan penggerebekan di rumah kontrakan WMK dan KM, disita sejumlah barang yang diduga merupakan hasil penjambretan. Barang-barang tersebut terdiri sebuah kamera merk Sony, Hp Motorolla, kacamata, lipstik, bedak dan barang berharga lainnya. Keduanya berasal dari daerah Tianyar, Kabupaten Karangasem, kini ditahan pihak Ditreskrim Polda Bali.

 

Di Tangerang, seorang gigolo yang merangkap sopir pribadi, membunuh majikannya, Michie Senda, wanita berkebangsaan Jepang. Peristiwa itu terjadi awal Maret 2003. Sang gigolo saat itu menolak berhubungan dengan majikannya, karena ia sudah berjanji kepada calon istrinya untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan sang majikan, karena momen pernikahan sudah kian dekat, bahkan undangan pernikahan telah disebar. Namun, sang majikan terus mendesak, sehingga sang gigolo menjadi sewot. Sebaliknya, sang majikan juga marah, karena keinginannya ditolak. Sehingga, kedua manusia bejat itu sempat cekcok mulut.

 

Karena sang majikan terus marah-marah, akhirnya sang gigolo kian kesal. Kebetulan di situ tergeletak sebuah obeng, yang akhirnya digunakan sang gigolo untuk menusuk kepala majikannya. Ketika sang majikan sekarat, sang gigolo justru mengambil uang tunai senilai Rp 750 ribu, serta membawa kabur satu unit Toyota Kijang lengkap dengan surat-suratnya. Mobil Toyota Kijang itu dijual ke show room dengan harga Rp 76 juta. (http://www2.kompas.com/metro/news/0303/12/000347.htm)

 

Di Surabaya, Bima Eka Satria (21 tahun), seorang gigolo, harus meringkuk di tahanan Polsekta Sawahan karena telah merampas ponsel Vera (22 tahun), penghuni Wisma Madonna Indah di lokalisasi prostitusi Dolly (Kamis 26 Juni 2008). Selama ini Bima selain menjadi gigolo juga menjalin hubungan khusus dengan Vera. Bahkan, setiap kali Bima berkencan, Vera tidak pernah menarik biaya kecuali sewa kamar.

 

Tora Sudiro dan Gigolo

 

Meski gigolo merupakan bagian dari penyakit masyarakat, namun ada saja yang memberikan perspektif yang humanis, misalnya menyosialisasikan gigolo melalui film Quicki Express arahan sutradara Dimas Djayadiningrat. Film tersebut bercerita tentang seorang anak muda yang terjebak dalam kerasnya kehidupan di Jakarta. Setelah mencoba peruntungan dengan bekerja di berbagai profesi, mulai dari office boy di sebuah toko perbelanjaan sampai akhirnya terdampar menjadi pegawai di tempat tambal ban. Dari situlah ia kemudian bertemu dengan seorang pria tua kaya raya yang memiliki perusahaan bergerak di bidang jasa male escort alias gigolo. Untuk menghindari serangan dari kelompok religius, lelaki tua ini menjalankan bisnisnya dengan kedok pizza delivery service yang diberi nama QUICKIE EXPRESS.

 

Tora Sudiro kembali dijadikan icon penyakit masyarakat melalui Quickie Express, sebagai gigolo. Sebelumnya, di tahun 2004, Tora diberikan peran sebagai pria gay melalui film berjudul Arisan arahan Rudi Soedjarwo. Di film Arisan itu terdapat adegan kontroversial berupa: Tora Sudiro beradegan ciuman dengan Surya Saputra. Adegan ciuman antara dua laki-laki ini merupakan hal pertama di dalam catatan sejarah perfilman Indonesia.

 

Tora yang beranama asli Taura Danang Sudiro dilahirkan di Jakarta pada 10 Mei 1973. Tora adalah anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Tanto Sudiro dan Pinky Mardikusno. Kedua orangtua Tora Sudiro bercerai. Ibu kandung Tora Sudiro kemudian menikah dengan seorang pembalap, Tinton Soeprapto dan kini mempunyai seorang putri yang bernama Tania Soeprapto. Ibunda Tora Sudiro meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.

 

Sejak kian populer sebagai artis komedian, kehidupan keluarga Tora bermasalah. Ia diisukan berselingkuh dengan rekan sekerjanya di Extravaganza Trans TV. Anggi, istri Tora menuntut cerai di Pengadilan Agama, setelah bertahun-tahun statusnya ‘digantung’ oleh Tora.

 

Gigolo adalah penyakit masyarakat yang ‘komprehensif’ karena ia seolah-olah menjadi sebuah ‘institusi’ dari berbagai penyakit masyarakat, yaitu seks bebas, gay, prostitusi, bahkan kriminal. Personifikasi dari penyakit masyarakat tadi ternyata dilekatkan pada sebuah sosok yang tepat, yaitu Tora. Ia menjadi icon patologi sosial. Tanpa disadari, Tora telah dijadikan semacam kapsul untuk serbuk racun yang berada di dalamnya. Sehingga, melalui ‘kapsul’ Tora generasi muda mau menelan ‘serbuk racun’ penyakit sosial tadi tanpa penolakan. Begitulah kebebasan berekspresi yang ditunjukkan para pekerja seni yang tidak punya landasan agama. Mereka bekerja semata-mata untuk seni, seolah-olah Allah Ta’ala tidak hadir.

 

Barangkali, karena menyadari Tora telah dijadikan icon bagi berbagai penyakit sosial sekaligus, di samping kehidupan rumahtangganya yang berantakan, maka sebuah bank yang semula menjadikan Tora sebagai icon produknya, mengganti posisi Tora dengan sosok yang lain. Mudah-mudahan langkah tersebut diikuti oleh yang lainnya, yaitu tidak menjadikan artis bemasalah, artis pembawa kerusakan menjadi bintang iklan –apalagi icon–  bagi produk perusahaannya.

Dan lebih dari itu, penyakit masyarakat dengan aneka bentuknya, dari perzinaan, pelacuran, pemerasan sampai kepada criminal lainnya mestinya wajib diberantas, terutama oleh pihak yang berwewenang. Kalau tidak, maka akan mendatangkan bala’ bencana, bukan hanya kepada para pelakunya namun merata.

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

25.  Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal/ 8: 25).   (haji/tede)

 Foto: Wikipedia