Derita Anak Negeri dan Bapak Bencana

Ada yang berdesakan berebut apa saja sampai ada yang tidak malu-malu berebut daging qurban di depan masjid.

Ada yang sikut menyikut di berbagai tempat sampai lapak jualan hewan qurban yang ditempati setahun sekali pun boleh jadi diperebutkan, dan paling kurang sudah ada tukang “palak”nya (pemungut duit dengan memaksa). Lebih tragis lagi bila tukang “palak” itu dobel-dobel, ada yang “rasmi” (resmi, asalnya bahasa Arab, rasmi) dan ada yang liar tapi berpayung bendera jadi setengah “rasmi”, sehingga sulit juga dihindarkan apalagi dilawan.

Ada yang berebut dan mengantri untuk jadi babu di luar negeri dan banyak yang di sana disiksa sampai mati, buta, bibir dirobek dan derita aneka macam. Mereka pulang tinggal merasakan derita atau bahkan tinggal nama. Anehnya, kasus itu sudah sejak zaman Soedomo masih kafir dan mengawali pengiriman babu ke luar negeri tahun 1980-an, menimbulkan aneka berita mengenaskan telah terjadi selama ini, namun sampai sekarang tidak dihentikan. Barangkali memang bencana dan derita sebagian orang justru dianggap karunia oleh orang-orang durjana yang tak punya belas kasihan. Dan celakanya bila yang banyak mengendalikan suatu negeri terdiri dari orang-orang yang demikian, maka membuktikan masih dipertahankannya pengiriman babu-babu ke luar negeri, sambil sesekali diucapi, bahwa ke depan akan diprioritaskan yang tenaga skill seperti perawat dan sebagainya. Paling pintar memang, mereka itu dalam membuat kilah wal alasan.

Ada yang terkena letusan bencana lalu sebagian mati, yang lain mengungsi namun terancam dimurtadkan gereja dan wadyabalanya.

Ada yang hanya memegang sedikit kuasa di pengungsian saja berani mentang-mentang dan menggunakan kekuasaannya dengan menghalangi pihak yang mendirikan mushalla untuk pengungsi. Saking tidak relanya terhadap berdirinya mushalla darurat untuk pengungsi, maka “penguasa” sementara ini menjadikan mushalla itu sebagai ajang maksiat, di antaranya menggelar dangdutan di mushalla itu.

Asraghfirullah… padahal pendahulu negeri ini, di antaranya Abi Kusno Cokrosuyoso (keluarga HOS Cokroaminoto), ketika menjadi menteri perhubungan beberapa bulan pada tahun 1946-an, dia berhasil membangun tempat shalat setiap stasiun kereta api. Hingga kini tempat-tempat shalat bahkan masjid peninggalannya itu masih ada di setiap stasiun dan sangat bermanfaat bagi umat Islam.

Ada yang pelesiran ke luar negeri dengan dalih belajar etika (etika merokok?) seolah dengan ucapan “selamat tinggal” terhadap para korban bencana padahal duit yang mereka gondol justru diantaranya dari masyarakat yang menderita dan yang kena bencana.

Derita manusia seolah bukan urusan mereka yang hatinya tak punya belas kasihan. Bahkan bisa jadi aneka bencana justru diharapkan oleh orang-orang yang punya sifat curang; karena dengan adanya derita akibat bencana maka ada bantuan. Dengan adanya bantuan maka dapat dikentit, diutil, digelapkan. Para penggelap justru berharap adanya bencana. Yang terpeleset soal ini, ketika para pengungsi pulang ke rumah masing-masing, para penggelap pun pulang. Bila nasib lagi apes, mereka ketahuan menggelapkan dana bantuan bencana, maka rumah tahanan pun pintunya menganga. Hampir setiap ada bencana, kemudian akhirnya ada orang-orang yang kena perkara penggelapan dana bencana. Itu saja yang masuk dalam berita, mungkin yang tidak terdengar atau yang tidak ketahuan ada juga.

Di mana-mana sudah diperkirakan akan timbulnya bencana. Maka dana pun sudah dipersiapkan sebelumnya. Tahu-tahu, seperti yang terjadi di Kota Batu, dana bencana justru untuk menyambut tamu yang paling dihormati di negeri ini. Keruan saja, orang akan mudah untuk mempertanyakan: kedatangan Bapak Anu disambut dengan duit dana- bencana, berarti Bapak Anu itu dianggap bencana?

Hanya saja belum terdengar suara. Kalau dulu ada yang diangkat namanya dengan sebutan Bapak Pembangunan, apakah ada yang berani usul adanya julukan Bapak Bencana.

Kalau ada usulan, maka perlu diadakan penilaian secara seksama. Siapa yang paling “berjasa” dalam memusyrikkan manusia dengan keyakinan batilnya, menyuruh, memfasilitasi untuk diadakan sesaji, tumbal untuk dilarung ke laut, dilabuhkan ke gunung dan sebagainya; itulah Bapak Bencana. Yaitu bencana aqidah. Dan itulah sedahsyat-dahsyatnya bencana. Karena kalau aqidah (keyakinan) masyarakat ini digempur bencana yakni kemusyrikan dengan aneka upacara sesaji, larung laut, sedekah bumi, labuh sesaji ke gunung, nadzar dengan menyembelih binatang ke kubur-kubur dan sebagainya; itu menghancurkan keimanan orang. Ketika iman sudah hancur karena dijerumuskan pemimpinnya, gurunya, tokohnya dan sebagainya ke kemusyrikan, maka sudah tidak ada iman lagi. Ketika seseorang mati dalam keadaan imannya sudah berganti dengan kemusyrikan, maka masuk kubur tanpa iman, itu sangat amat celaka.

Di berbagai tempat, ada pemimpin-pemimpin setempat yang menggerakkan kemusyrikan itu, dan bahkan pakai duit anggaran yang tentunya didapat dari umat Islam (karena mayoritas penduduk ini Ummat Islam). Ini berarti dhalim kwadrat. Dhalim kepada manusia, masih pula dhalim kepada Allah Ta’ala, yakni mengalihkan keyakinan manusia dari Tauhid kepada kemusyrikan, masih pula pakai duit orang yang bertauhid (muslim).

Itulah Bapak atau Tokoh Bencana sesungguh-sungguhnya.

(nahimunkar.com)