DI BALIK GENCARNYA MUSIK POP INDONESIA

(MOHON DIBACA DARI AWAL HINGGA AKHIR)

Oleh Hassan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). MTV, Mc Donald, celana jeans, film2 Hollywood. Cukup 4 hal saja terlebih dahulu. Renungkan, remaja sekarang tak terlepas dari itu semua, bukan?

Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam berlimpah dan penuh dengan keunikan. Sesuatu yang seharusnya terjadi, justru tak pernah terjadi. Lebih parahnya lagi, sesuatu yang seharusnya tak terjadi, malah sering terjadi. Bahkan sudah menjadi kelaziman sehingga membuat kita terbiasa dengannya.

Indonesia bak mangsa empuk yang tak tahu bahwa dirinya adalah mangsa. Ambillah cermin, mengaca dan berfikirlah. Lihat apa yang terjadi di sana dan cari solusi dan hikmahnya. Tentunya kita tak pernah lupa bagaimana pelajaran sejarah di sekolah menggambarkan tentang dahsyatnya penjajahan Barat terhadap negara ini. Sekarang, masyarakat mencicipi kemerdekaan tekstual yang secara konstan diperingati pada tanggal 17 Agustus. Tanpa ada beban meneriakkan kata, “Merdeka!” Namun tahukan Anda, sesungguhnya jiwa kebanyakan insan Indonesia kini tercebur ke parit penjajahan? Meski raga tak pernah mengamini hal ini, namun fakta adalah kenyataan. Kenyataan adalah realita. Dan realita seringkali lebih janggal dari sekedar fiksi belaka.

Melewati tahun 2000, musik pop tiba-tiba menyeruak ke tengah-tengah masyarakat dengan frekuensi yang dahsyat! Ada apa ini? Apalagi dalam kurun dua tahun belakangan ini. Semacam fenomena yang tak terelakkan. Sungguh, hal ini menyebabkan perubahan yang luar biasa. Perubahan yang mungkin jika mereka yang masih berpegang teguh pada agama atau pun para pejuang kemerdekaan negeri ini menyaksikan, akan menangis seketika. Musik pop berbalut cinta. Sebuah penjajahan yang mengantarkan kita pada kehancuran. Kehancuran moral, agama dan segalanya.

Ghozwul fikri! Perang Pemikiran atau Kebudayaan! Indonesia tak cukup layak untuk dijajah secara fisik. Biarkan Indonesia hidup. Tapi jerumuskan generasi muda mereka (dgn mayoritas beragama Islam) menjadi generasi pemuja hedonisme, malas bekerja keras, teracuni pemikiran sekuler sehingga melahirkan mental-mental cemen yang lupa akan agama. Jadikan tujuan hidup mereka sebatas garis duniawi semata!

Yahudi! Ya, para Zionist Yahudi lah yang mengepulkan asap halus nan beracun ini! Mereka telah merencanakan kehancuran ini dalam The Protocols of The Learned Elders of Zion yang disahkan menjadi agenda utama Yahudi Internasional sejak 1897. Di dalamnya terdapat 24 point/pasal yang berisikan ratusan kaedah dan strategi licik dan menakjubkan demi menghancurkan GOYIM (non-Yahudi) dan menguasai dunia.

Samuel Marinus Zwemer, seorang misionaris Kristen yang gencar berbicara tentang Islam, pernah berpidato dlam pembukaan Konferensi Jerusalem dan di dalamnya ia menyatakan (maaf, saya sudah berkali-kali mencari teks Inggrisnya, namun sulit ditemukan. Oleh karenanya, saya cukup melampirkan copy dari eramuslim.com):

…yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik.

Oleh karena itu, tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng kerajaan Islam. Cara ini telah Anda lakukan dengan baik seratus tahun lalu. Kita dan seluruh saudara kita sangat gembira dengan hasil perjuangan saudara selama ini.

Sarana yang telah saudara-saudara bawa saat ini ternyata mampu mengubah pikiran dunia mengikuti kita. Itulah jalan yang telah saudara-saudara perjuangkan dengan susah payah untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya. Kini saudara-saudara telah berhasil mencetak kader-kader dari berbagai macam bangsa yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya.

Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju yahudi atau baju kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya. (eramuslim.com)

Sekarang, mari kita tengok kondisi generasi kita yang (harus diakui) termakan oleh makar tersebut. Oke, mulailah dari waktu shubuh, di mana kebanyakan dari kita lupa akan kewajibannya. Tanpa rasa malu terhadap Sang Khaliq, sholat Shubuh tak masuk dalam daftar kosakata kehidupan. Dan acara siaran langsung sepakbola, pastinya masuk dalam daftar menu wajib.

Lihatlah acara-acara televisi di pagi hari yang berkenaan dengan entertainment. Inbox, Dahsyat, Dering, Playlist, Missing Lyrics dll. Acara-acara yang berdampak pada pembentukan karakter buruk bagi anak-anak bangsa. Tak heran jika sekarang musik pop selalu membahana di mana-mana. Seakan terasa aneh jika kita tidak tahu PeterPan, Ungu dll. Dan seakan tampak lazim jika kita lupa siapa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Ditambah acara-acara pembodohan, mistik, kekerasan, penistaan agama dan tak ada manfaatnya. Lucunya, semua itu terbungkus dengan kemasan menarik. Dan tentunya dengan pengkategorian busuk, ENTERTAINMENT.

Meski sadar, kita terlihat meremehkan gejala ini. Tapi percayalah, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ‘ditertawakan’! Anda tidak percaya? Cukup menoleh ke Malaysia saja. Sebutan ‘Indon’ adalah penghinaan. Sebabnya, mereka menganggap negeri kita berisikan orang-orang bodoh yang terlalu terlena dengan dunia entertainment sementara pendidikan dan pencerahan generasi bangsa terbengkalai. Dan Anda tentunya tak perlu berbohong, jika suatu saat Anda sendiri juga menertawakan Indonesia yang secara kuantitas menakjubkan, namun secara kualitas menyedihkan. Kenapa menyedihkan? Karena kebanyakan dari kita terlalu disibukkan dengan ‘Kebudayaan Sampah’.

Saya pernah membaca artikel di Majalah Sabili beberapa tahun lalu yang berbunyi, “Untuk menghancurkan bangsa ini, mereka menyusup lewat musik dan sepakbola.” Kalimat tersebut selalu bergaung di pikiran. Hingga ternyata saya mengamini pernyataan tersebut.

BUDAYA POP

Tanyakan pada orang tua Anda perbedaan antara anak jaman sekarang dengan jaman doeloe. Tentu dahsyat bedanya. Generasi muda telah terbius dengan budaya pop, romanticisme dan hedonisme. Sementara generasi tua bergulat dalam pertarungan duniawi klasik: harta, tahta dan wanita. Yang muda, tidak tahu harus kemana, karena tak memiliki pegangan kecuali tiang-tiang entertainment. Jika mereka ditanya, ‘apa yang akan kamu lakukan untuk bangsa dan umat ini?’ mereka kebingungan. Karena pusat pikiran tidak berlokasi pada self-improvement, melainkan pada entertainment.

Ada pertanyaan-pertanyaan lucu tapi cukup berarti bagi yang berfikir. Apakah arti entertainment? Hiburan! Apakah arti hiburan? Apakah hiburan sama dengan tujuan? Bukankah hiburan dikonsumsi sekedar untuk menghibur? Lalu kenapa hiburan dijadikan tujuan? Jika hiburan sama dengan tujuan, berarti hidup Anda adalah untuk menghibur atau dihibur. Sebuah kesia-siaan tentunya!

Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). MTV, Mc Donald, celana jeans, film2 Hollywood. Cukup 4 hal saja terlebih dahulu. Renungkan, remaja sekarang tak terlepas dari itu semua, bukan?

Dari segi fashion, berapa banyak sekarang wanita berpakaian namun sebenarnya telanjang!? Dengan kaos super ketat, tali puser bergentayangan kemana-mana dan celana jeans ketat yang melukis lekuk tubuh depan belakang. Tanpa disadari, mereka menjadi boneka/korban budaya ini. Jelas, semua ini berawal dari acara-acara televisi yang tak berguna. Tak terlepas dari musisi pop wanita yang berlagak seperti pelacur. Oh, atau mungkin sebenarnya mereka pelacur dan ingin menyebarkan virus kelacuran mereka kepada semua wanita. Sementara, penyanyi/band pria tak henti-hentinya meraung seakan meratap demi mengejar wanita. Pastinya, video klip yang mereka keluarkan selalu ada wanita murahan di dalamnya. Beginilah budaya pop. Budaya hasil rancangan kaum Zionist demi menghancurkan moral umat dan menguasai dunia.

KACAMATA ISLAM YANG RETAK

Bagaimana dengan budaya Islam Indonesia? Apakah bisa dibentuk perpaduan antara budaya pop dan Islam? Oh, ketahuilah, pertanyaan tersebut sangat tolol. Karena budaya pop bersumber dari Barat, dan Islam memiliki budaya tersendiri dengan ukuran dan batas yang tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Bukan budaya liberal Barat yang mengukur segalanya dengan freedom sehingga kerancuan pun membanjir.

Tapi, ajaibnya, di Indonesia (dan beberapa Negara Islam lainnya) terjadi ironi. Gerakan Islam, bukannya mencetak kader-kader yang bemanfaat bagi umat, malah melahirkan grup-grup nasyid, yang kerjaannya berdendang ria dan keluar masuk dapur rekaman. Lucunya, ada ‘ustadz’ yang retak kacamata Islamnya, tanpa risih dan malu mengadopsi musik “Jablay” dan mengganti liriknya sehingga terkesan ‘Islami’. Sangat menyedihkan, karena lagu tersebut awalnya dinyanyikan oleh boneka wanita pop yang bergaya seperti pelacur. Kemudian, ustadz tersebut pun meniru ‘bergoyang’. Na’udzubillah. Termasuk pula hasil budaya pop, adalah novel-novel picisan yang diklaim sebagi novel Islami tapi esensinya sama saja, karena ujung-ujungnya jadi film bioskop yang madharatnya jauh lebih besar dari manfaatnya. Jika kacamata retak, memang sangat sulit melihat dengan jelas.

Kian gencarnya musik pop, maka kian banyak orang yang ingin menyanyi. Namun sayang, tak ada penyaluran. Atau mungkin merasa suaranya pas-pasan. Hingga akhirnya, sekarang masjid pun dijadikan tempat untuk ‘menumpang nyanyi’. Coba dengarlah mereka yang ‘bernyanyi’ sebelum datangnya waktu Shubuh. Alasannya, itu adalah sholawat. Ha? Apakah sholawat harus dinyanyikan? Apalagi lewat speaker? Apa tidak mengganggu? Adakah ulama jaman terdahulu menyanyikan sholawat? Habis alasan, datang alasan lain: agar kaum muslimin terbangun dan melaksanakan solat Shubuh. Ha? Kalau begitu, APA GUNANYA ADZAN? Sungguh aneh para penyanyi itu.

Belum lagi yang bernyanyi keras-keras mengatasnamakan maulid Nabi. Bernyanyi dan ceramah ilmiahnya lebih lama bernyanyi-nya. Parahnya, tak ada rasa yang terkecap dari maulid Nabi. Sebatas ucapan mulut belaka. Tak ada yang namnya memperdalam siroh Nabi atau pun mempelajari hadits-haditsnya. Yang utama hanya bernyanyi. Budaya pop yang membutakan umat.

AHMAD DHANI / DEWA

Ahmad Dhani adalah salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas jatuhnya moral anak muda semenjak ia menciptakan kader-kader yang akan meneruskan bendera entertainment agar tak mati. Sungguh amat disayangkan jika generasi yang ia punya (generasi yang seharusnya ia sadari sebagai amanat dari Allah) dibentuk menjadi calon ikon musisi.

Dhani memang pria penuh kontroversi. Dari soal pernikahan, lirik lagu sampai ke masalah ke-Yahudian atau Zionisme. Zionisme? Bagaiamana itu terjadi? Berikut cuplikan dari swaramuslim.com:

Album Cintailah Cinta (2002)


Cover depan album Dewa ini memuat secara mencolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam mitologi Mesir Kuno. sama spt Dewa Ra, Yahudi juga mengklaim Horus merupakan salah satu dewa mereka. Di cover dalam juga terdapat simbol yang sekilas mirip mata, tapi sebenarnya merupakan contekan habis salah satu simbol yang terdapat dalam buku The Secret Language of Symbol yang disarikan dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa disebut Femina Geni.

Masih dalam album ini, masih terdapat beberapa simbol-simbol mata, yang merupakan salah satu simbol Gerakan Freemasonry

DHANI THANKS TO:…. JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih kepada:….Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah keturunannya)

Merunut dari silsilah keluarga, Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek Dhani (dari pihak Ibu) yang berkebangsaan Jerman. “Kohler” adalah nama keluarga, sejenis marga. Jadi jelaslah, Dhani punya kebanggaan akan darah darah keturunannya itu,” ujar pengamat Zionisme H. Ridwan Saidi.

Dalam album-album Dewa, bertebaran gambar dan simbol-simbol Yahudi.
“Ada apa ini? Dalam album-album selanjutnya Dewa juga banyak memuat logo dan simbol-simbol Zionis. Ini harus dilacak, ada apa di belakang Dewa?” papar Ridwan Saidi.

Saya sebagai orang yang telah lama mempelajari Zionisme berani menyatakan jika ini merupakan usaha penyebaran simbol2 Yahudi terbesar sepanjang sejarah Indonesia!” tandas Ridwan.

Beberapa dari kita mungkin akan mengatakan,” Ah, masalah basi dan kaku. Secara pribadi mah saya ndak peduli dengan hal-hal tersebut. Biar pun dia keturunan siapa, selama dia masih bisa menghibur para penggemarnya.” Dan selagi Anda terhibur dengan karyanya, simbol2 Yahudi dan Zionist terus merasuki generasi muda Indonesia. Hingga akhirnya takkan ada lagi rasa peduli terhadap kesucian Islam. Tak ada lagi yang merasa ingin berjuang mempertahankan Islam. Tepat sekali! Ternyata tujuan mereka (Zionist) tercapai!

“WHO OWNS YOUTH OWNS THE FUTURE”

Jika Anda (sampai sekarang) masih kurang meyakini adanya kaitan antara kebobrokan moral pemuda bangsa ini, jauhnya generasi muda dari agama dan Zionisme, maka sepatutnya Anda renungkan kutipan-kutipan yang saya cari dari buku Secret Societies and Their Power in the 20th Century karya Jan Van Helsing (Jan Udo Holey), seorang penulis Jerman yang karya-karyanya secara controversial mengupas tentang konspirasi Illuminati / Freemasonry.

Seorang psikolog Amerika bernama Edward Bernay mengatakan :

“The population growth was paralleled by the Illuminati’s efforts in the area of control of mass consciousness. Thanks to the news agencies, the press, newspapers, telephone,

radio and aircraft that are all controlled by the Illuminati, ideas and opinions can quickly be spread over the whole country. The conscious and intelligent manipulation of the behavior and opinion of the masses is one of the most important elements of the democratic society.

Those who use these mechanisms are the powers actually ruling the world.”

“Pertumbuhan populasi telah diseimbangkan melalui upaya Illuminati dalam hal mengontrol kesadaran masyarakat. Segalanya itu berkat agen-agen berita, percetakan, berita, telepon, radio dan aircraft yang semuanya dikontrol oleh Illuminati. Gagasan dan opini dengan cepat tersebar ke seluruh Negara. Penyelewengan yang cerdik dan ‘disengaja’ terhadap tindak-tanduk dan opini massa adalah salah satu element terpenting dalam masyarakat demokratis. Mereka yang menggunakan mekanisme seperti ini adalah kekuatan yang sebenarnya menguasai dunia!”

Sangat ironis jika kita melihat ‘mereka’ di Indonesia menggembar-gemborkan demokrasi yang sebenarnya adalah alat para Zionist untuk menguasai negeri ini secara governmental. Karena dengan alasan tolol ‘demokrasi’, tiap televise merasa punya hak untuk menyiarkan apapun tanpa memikirkan dampak negative terhadap moral bangsa ke depan. Sedangkan mereka yang memperjuangkan moral justru dikucilkan. Kenapa? Karena DEMOKRASI menciptakan HIPOKRISI (kemunafikan).

Jan Udo Holey pun mengatakan:

There can be no doubt about the importance of the role the media plays today.

Television, for instance, shows clearly how negative messages like the new horror and violent movies influence the behavior of the viewers. Predominantly though televison is used to influence opinions about how to think, to act and to look.

JOHN TODD who claims to be a former initiate of the highest occult power circles of the Illuminati (Council of 13) calls this a satanic organization that wants to institute a world government by any means. Youth above all are the aim of the Illuminati, because – as already Hitler knew:

“Who owns youth owns the future.”

John Todd was the head of the largest amalgamation of recording companies in the whole U.S., ZODIACO Productions. He says that the original matrices of every recording – classical, country, rock, meditation music, disco, folklore…anything (not just rock and heavy metal) – were subjected to a black magic ritual conducted by thirteen people and beset by demons.

The mass media are the premier tool for keeping the public ignorant. That is the reason why practically nobody knows the true stories behind politics, economy and religion.

Tak ada keraguan lagi tentang pentingnya peran media yang bermain saat ini. Televisi, umpamanya, mempertunjukkan secara jelas betapa pesan-pesan negative seperti film-film horror dan bertema kekerasan mempengaruhi perilaku para penonton. Meski sebagian besar televisi digunakan untuk mempengaruhi pikiran untuk berfikir, bertindak dan melihat.

JOHN TODD yang mengaku sebagai seorang mantan anggota lingkaran Illuminati tertinggi (Council 13) menyebut Illuminati sebagai organisasi satanic yang ingin membangun sebuah pemerintahan dunia dengan cara apapun. Anak-anak muda di atas (maksudnya: John Lennon dari The Beatles, Madonna, band bernama Kiss – Kings in Satan’s Service-, Queen, The Police dan Cindy Lauper) adalah bidikan (kaki tangan) Illuminati, karena, seperti yang telah Adolf Hitler katakan:

“Barangsiapa yang menguasai kaum muda, maka ia mempunyai masa depan (yang baik).”

John Todd adalah kepala dari perusahaan-perusahaan rekaman gabungan terbesar di seluruh U.S., ZODIACO Productions. Dia mengatakan bahwa acuan dari setiap rekaman (musik klasik, country, rock, musik meditasi, disko, musik tradisional….apapun, tak sekedar rock dan musik metal) ditujukan pada sebuah ritual black magic (sihir) yang diselenggarakan oleh 13 orang dan dikelilingi oleh setan / iblis.

Media massa adalah alat utama untuk mempertahankan kebodohan public. Karena itulah, kenyataannya tak seorang pun mengetahui cerita-cerita yang benar (adanya) di balik politik, ekonomi, dan agama.

Apakah Anda sudah bisa membuka mata biarpun sedikit? Mari kita bersikap kritis terhadap diri kita sendiri dan juga lingkungan agar kita semua terjaga dari rasa penyesalan lantaran terhimpit arus globalisasi dan teracuni modernisasi. Akhirnya, kita menuju titik terakhir, di mana puncak dari tujuan Illuminati / Freemasonry ataupun Zionism bagi umat manusia tersirat dalam The Protocols of The Learned Elders of Zion :

Through the demoralization of society shall people lose their faith in God.

By working specifically with the spoken and the written word the masses shall be led

according to the wishes of the Illuminati.

Melalui kemerosotan akhlak masyarakatlah para manusia akan hilang rasa.

MELALUI KEMEROSOTAN MORAL MASYARAKAT-LAH PARA MANUSIA AKAN HILANG KEPERCAYAAN MEREKA AKAN TUHAN.

MELALUI PEKERJAAN SECARA RINCI DENGAN KATA YANG TERUCAP DAN TERTULIS-LAH MASSA AKAN IKUT SESUAI DENGAN HARAPAN-HARAPAN ILLUMINATI.

Tulisan ini adalah hasil pemikiran saya pribadi setelah membaca beberapa dokumen tentang Zionisme dan Illuminati, disertai dengan rasa ingin tahu penyebab utama runtuhnya moral kebanyakan anak bangsa ini dan ketidakpedulian terhadap agama. Jika ada kata-kata yang berlebihan, salah, tak sesuai kenyataan (di mata Anda), tak cocok ataupun perlu tambahan, maka dengan pikiran terbuka saya menerima selama dalam jalur yang benar.

Referensi:

http://www.wikipedia.org

http://www.eramuslim.com

http://www.swaramuslim.com

Buku Knight Templars, Knights of Christ, Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, oleh Rizki Ridyasmara

Buku Secret Societies and Their Power in the 20th Century karya Jan Van Helsing

The Protocols of The Learned Elders of Zion