“Diramaikan” Lagi, Aliran Sesat Hakekok Resahkan Ummat

Aliran sesat Hakekok di Jawa Barat ramai lagi. Beritanya muncul kembali di antaranya setelah padepokan Syah milik pemimpin Hakekok di Pandeglang dibakar massa baru-baru ini akibat praktek ajaran sesat dan mesum.

Aliran sesat yang dulunya dikenal dengan Islam Hakekok itu tidak mewajibkan shalat dan puasa Ramadhan. Juga mengajarkan seks bebas, bahkan mempraktekkannya. Bahkan Syah yang padepokan Hakekoknya dibakar massa di Pandeglang itu lantaran diduga menzinai anak tirinya. Aliran yang tersebar di Jawa Barat dan kini merambah Banten ini sudah berulang-ulang “diramaikan”, namun belum ada khabar dilarang. Padahal sudah sejak 1985-an meresahkan Ummat Islam. Bahkan seorang ulama Betawi Jakarta KH Abdullah Syafi’I yang meninggal tahun 1985-an pun telah berpidato di pemancar Radio-nya dengan menyatakan sesatnya Islam Hakekok. Berarti Hakekok itu telah meresahkan Ummat Islam sejak 25-an tahun lalu.

Tahun 2002 juga ramai lagi, dan ada berita bahwa jaksa pun boleh menangkapnya. Kini tahun 2009 di Bulan Ramadhan 1430H ramai lagi, dan sampai terjadi pembakaran padepokan pemimpinnya di Pandeglang Banten.

Dari kenyataan berulang-ulang “diramaikannya” itu, seolah aliran sesat itu barang simpanan yang kapan-kapan diungkap kalau dianggap perlu. Kalau sudah ramai, kemudian seolah-olah seperti hampir akan dilarang. Tetapi tidak-tidak juga. Bahkan aliran sesat yang sudah dilarang pun seperti Islam Jama’ah dibiarkan menjamur dengan berganti-ganti nama, berkeliaran, bahkan mendekat-dekat ke MUI untuk minta jatah masuk ke MUI. Lebih dari itu ada petinggi yang bahkan sowan ke sarang aliran sesat itu untuk minta dukungan dan ternyata gagal dalam pemilihan presiden yang lalu.

Berita tentang Islam Hakekok yang sudah meresahkan Ummat Islam dan ramai sejak 1985-an, kini terulang lagi sebagai berikut:

Minggu, 13 September 2009

Aliran Sesat,

Halalkan Seks Bebas

Ditulis Oleh : Redaksi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten menyatakan bahwa aliran Hakekok yang dianut sebagian warga Kabupaten Pandeglang merupakan aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Oleh karena itu MUI Banten mendesak Badan Koordinasi Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) segera bertindak tegas,” kata Ketua MUI Banten KH Aminudin Ibrohim di Serang, Kamis.

Selain itu,lanjut Aminudin,aliran Hakekoh di Pandeglang adalah variasi dari tasawuf dan ritual menyimpang.

“Yang dimaksud menyimpang itu, beribadah cukup dengan niat dan dilakukan di tempat gelap. Selain itu laku-laki dan wanita yang bukan istrinya diperbolehkan bercampur (berhubungan badan-red),” kata Aminudin.

Dengan alasan itulah MUI Banten mendesak Bakorpakem dan kepolisian untuk segera mengambil tindakan tegas kepada aliran Hakekok ini. Sebab jika terlambat, dikhawatirkan akan lebih meresahkan masyarakat.

“Masyarakat juga bisa lebih anarkis lagi,jika pemerintah membiarkan hal ini terjadi,” terangnya.

Aminudin juga mengatakan, pihak MUI juga akan secepatnya mengambil langkah setelah Bakorpakem bertindak.

“Kami akan lakukan pembinaan kepada penganut aliran itu. Pembinaan ini juga kami lalukan kepada 40 orang penganut aliran Ahmadiyah. Dan hasilnya, Alhamdulillah mereka (penganut Ahamdiyah-red) bisa kembali ke jalan Islam,” kata bapak berkacamata tersebut.

Sementara dihubungi terpisah ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten Fatah Sulaeman pihaknya masih melakukan pelacakan apakah jenis organisasi penganut Hakekok.

“Apakah organisasi mereka itu mirip pesantren, majelis ta`lim, atau lainya,” kata Fatah.

Hingga kini padepokan atau majelis zikir milik Syah (45) yang dibakar massa di Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten, hinggga saat ini masih dijaga ketat polisi.

Sumber: http://www.dakta.com/dakta_ok.php?module=detailberita&id=1934

PADEPOKAN MILIK SYAH DIJAGA POLISI

Thursday, 10 September 2009 07:16

Padepokan atau majelis zikir milik Syah (45) yang dibakar massa di Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten, hinggga saat ini masih dijaga ketat polisi.

Pandeglang, 9/9 (Antara/FINROLL News) – Padepokan atau majelis zikir milik Syah (45) yang dibakar massa di Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten, hinggga saat ini masih dijaga ketat polisi.

“Sekitar 250 personel polisi menjaga tempat kejadian perkara (TKP), karena kondisinya belum dinyatakan aman,” kata Wakapolres Pandeglang, Kompol Deni Okuwanto, Rabu.

Deni mengatakan, pembakaran yang dilakukan masyarakat akibat kekesalan warga karena pemilik Padepokan telah menyebarkan aliran Hakekok atau ajaran sesat.

Dalam ajaran tersebut, diperbolehkan jemaahnya berganti pasangan berlainan jenis berbuat mesum tanpa menikah, Syah, pemimpin padepokan didakwa telah menggauli dua anak tirinya bernama Sw (18) dan Int. Sebelumnya, kata dia, Sah menikah dengan Dis (40) dengan status janda beranak tiga dari suami pertama.

Namun, Dis terpaksa meninggalkan Syah karena diduga sering tidur bersama dua anaknya yang masih gadis itu.

Terbongkatnya kasus ini, lanjut dia, berawal pengaduan Int kepada pacarnya yang diketahui bernama Dn (20) warga setempat.

Selanjutnya, Dn melaporkan kepada kepala desa dan tokoh agama setempat bahwa dua gadis itu diduga sering digauli oleh ayah tirinya tanpa menikah.

Mendengar informasi demikian, puluhan warga langsung bergerak menuju padepokan yang jarak tempuhnya sekitar dua kilometer dari pemukiman warga.

“Sampai saat ini kami belum ada warga yang ditetapkan menjadi tersangka,” katanya.

Sementara itu, Samsudin (40) warga Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, mengaku murid-muridnya yang berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta diajarkan cara kawin gaib, dan melaksanakan ibadah bareng di tempat gelap.

“Murid-muridnya itu terdapat kaum laki-laki dan wanita diduga saling bergantian pasangan di tempat gelap,” katanya. PK-MSR

Sumber: http://www.news.id.finroll.com/news/14/132626-____padepokan-milik-syah-dijaga-polisi____.html?joscclean=1&comment_id=311

Sudah ramai tahun 2002 namun belum dituntaskan pula. Beritanya sebagai berikut:

Aliran Sesat

Jaksa Sah Tangkap Pemimpin Aliran Hakekok

Medan, 11 Pebruari 2002 22:24

KEPALA Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajatisu), Chairuman Harahap, SH mengatakan, pihaknya boleh melakukan penangkapan terhadap pimpinan berbagai aliran sesat mengatasnamakan Agama Islam masuk ke daerah ini seperti dikembangkan Abdul Jabar dan “Hakekok” di Tangerang.

“Kejaksaan boleh saja menahan kelompok aliran sesat yang bertentangan dengan ajaran Islam itu, bila orang-orang tersebut setelah dilakukan peringatan, namun tidak juga mengindahkan atau menghentikannya,” ujarnya menjawab ANTARA dan Hr Perjuangan di Medan, Senin malam.

Diberitakan, Kapolres Tangerang AKBP Drs. Affan Richwanto akhir tahun 2001 lalu, menangkap sekelompok orang penganut aliran sesat yang dipimpin Abdul Jabar dan Sudarga di Curug, serta Hakekok dan Sandika di Wilayah Rajek, Tangerang.

Ajaran sesat yang diajarkan kedua pimpinan itu antara lain disebutkan orang Islam tidak perlu melaksanakan shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Pengikut ajaran hanya diwajibkan membaca niat dan mengikuti wirid dimana pengikutnya bisa melihat surga dan neraka.

Bahkan Abdul Jabbar dan Hakekok membolehkan pengikutnya untuk saling tukar menukar isteri sesama anggota. Ajaran ini juga berpraktek paranormal, namun dianggab cabul, seperti jika ingin kaya maka perempuannya dimandikan air kembang oleh pemimpin mereka.

Menurut Chairuman yang juga mantan Staf Ahli Jaksa Agung itu, Kejaksaan juga bertugas untuk mengawasi dan sekaligus berhak melarang segala bentuk ajaran sesat atau “gelap” yang mengatasamakan ajaran Islam.

Karena itu, kata Chairuman, ia minta pada masyarakat agar melaporkan bila mengetahui adanya bentuk ajaran-ajaran yang sesat dan dilarang oleh Pemerintah dan bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

“Kejaksaan akan menyurati dan minta pada pemimpinnya agar sesepatnya menghentikan dan bila terus membangkang akan dilakukan penangkapan,” katanya.

Ia mengatakan, Kejaksaan tidak akan tinggal diam dan terus membiarkan ajaran sesat itu tumbuh dan berkembang subur di bumi tercinta ini, karena jelas merugikan dan menyengsarakan ummat manusia.

“Tidak akan mungkin seseorang yang ingin menjadi kaya raya maka perempuannya harus dimandikan dengan air kembang oleh pemimpin aliran sesat itu. Dan emangnya menjadi orang kaya itu bisa datangnya secara tiba-tiba tanpa harus bekerja keras dan ajaran tersebut jelas menipu ummat beragama,” kata Chairuman Harahap,SH. [Dh, Ant]

Sumber: http://www.gatra.com/2002-02-11/artikel.php?id=15302

Bahkan sebelumnya juga sudah muncul. Beritanya sebagai berikut:

Di Jawa Barat pernah muncul “aliran kepercayaan” yang menamakan diri “Islam Hakekok”, penganjurnya mengajarkan sembahyang bersama antara pengikut laki-laki dan wanita secara telanjang bulat. Hal ini tentu saja meresahkan masyarakat setempat ketika itu. ([INDONESIA-VIEWS] RBS – Aliran Kepercayaan

From: [email protected]
Date: Sun Mar 26 2000 – 12:40:59 EST)

Kini MUI menilainya menyimpang dari Islam:

MUI: Aliran Hakekok Menyimpang dari Islam

Kamis, 10 September 2009 22:18 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | Dibaca 820 kali

Serang (ANTARA News) – Ketua MUI Banten KH Aminudin Ibrohim mengungkapkan, aliran Hakekok di Kabupaten Pandeglang, Banten, adalah sebagai aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Oleh karena itu MUI Banten mendesak Badan Koordinasi Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) segera bertindak tegas,” kata Aminudin di Serang, Kamis.

Selain itu, kata Aminudin, aliran Hakekoh di Pandeglang adalah variasi dari tasawuf dan ritual menyimpang.

“Yang dimaksud menyimpang itu, mereka beribadah cukup dengan niat dan dilakukan di tempat gelap. Selain itu laki-laki dan wanita yang bukan istrinya diperbolehkan bercampur (berhubungan badan-red),” kata Aminudin, memberi contoh.

Dengan alasan itulah MUI Banten mendesak Bakorpakem dan kepolisian untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap pengikut aliran Hakekok ini. Sebab jika terlambat, dikhawatirkan akan lebih meresahkan masyarakat.

“Masyarakat juga bisa lebih anarkis lagi, jika pemerintah membiarkan hal ini terjadi,” katanya.

Aminudin juga mengatakan, pihak MUI juga akan secepatnya mengambil langkah setelah Bakorpakem bertindak.

“Kami akan lakukan pembinaan kepada penganut aliran itu. Pembinaan ini juga kami lalukan kepada 40 penganut aliran Ahmadiyah. Dan hasilnya, Alhamdulillah mereka (penganut Ahamdiyah-red) bisa kembali ke jalan Islam,” katanya.

Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten, Fatah Sulaeman, mengatakan, pihaknya masih melakukan pelacakan apakah jenis organisasi penganut Hakekok dimaksud.

“Apakah organisasi mereka itu mirip pesantren, majelis ta`lim, atau lainnya,” kata Fatah.(*)

http://www.antaranews.com/berita/1252595933/mui-aliran-hakekok-menyimpang-dari-islam