Disesalkan, Pesta Undang Maksiat

Sambut Ramadhan di Aceh

Budaya baru Serambi Makkah—entah di Makkah ada budaya seperti ini?—adalah membuat pesta dan pameran yang mengundang maksiat, seperti khalwat dan semacamnya. Lebih lagi PLN (Perusahaan Listrik Negara) sepakat dalam hal ini dengan memadamkan lampu.

Pesta menyambut puasa dengan acara semacam PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) dapat disebut mengubah budaya Aceh yang islami menjadi budaya yang hura-hura. Peristiwa semacam ini, alih-alih mengangkat martabat Aceh malah menurunkan nuansa keislamannya. Bulan Ramadhan yang begitu diagungkan dulu, kini dijelang dengan pesta yang berpotensi maksiat seperti khalwat.

Demikian ungkap tajuk Harian Aceh dengan judul Pesta Sambut Ramadhan. nahimunkar.com mengutip dan menampilkan tulisan ini bukan lantaran menyedihi malam nisfu sya’ban yang menurut tajuk ini seharusnya disambut dengan salat khusus, tapi untuk acara lain; tidak. Sebagaimana nahimunkar.com pernah tampilkan tulisan, bahwa malam nisfu sya’ban tidak ada shalat khusus. Jadi masalahnya, kegiatan hura-hura yang mengundang maksiat dan pelanggaran syari’at yang dikritik oleh tajuk Harian Aceh inilah yang kami angkat dalam pengutipan ini.

Dengan diberlakukannya syari’at Islam seperti di Aceh, maka apabila ada acara yang menimbulkan kemaksiatan, akan ada yang dengan sadar mengingatkannya, untuk kembali kepada syari’at. Berbeda dengan tanpa ditegakkannya syari’at, sampai acara yang porno, merusak moral bangsa, bahkan merusak aqidah Ummat Islam pun digelar seolah kebal kritik, bahkan seolah bernada menentang dan mentang-mentang.

Bersyukurlah bagi Ummat Islam yang wilayahnya telah ditegakkan syari’at, paling kurang kalau ada kemunkaran muncul, masih bisa Ummat Islam menyuara, bahkan lewat media. Sayangnya, justru para ulama dan ormas Islamnya bungkam, menurut tulisan tajuk berikut ini:

Pesta Sambut Ramadhan

By admin at 6 August, 2009, 2:10 am

Aceh diklaim sebagai wilayah bersyariat Islam bahkan mengkalim dirinya Serambi Makkah. Sementara Banda Aceh sebagai ibukotanya berani mengklaim diri Bandar Wisata Islami. Sebuah keberanian yang patut dipertanyakan.

Beberapa penjudi dan pelaku khalwat telah dicambuk, beberapa botol minuman keras telah dimusnahkan. Dan, kini Aceh yang berani sebut diri negeri syariat sedang membangun budaya baru, yakni cara sambut Bulan Suci Ramadhan gaya baru.

Budaya baru Serambi Makkah—entah di Makkah ada budaya seperti ini?—adalah membuat pesta dan pameran yang mengundang maksiat, seperti khalwat dan semacamnya. Lebih lagi PLN sepakat dalam hal ini dengan memadamkan lampu.

Para petugas penjaga syariat tidak berusaha mencegah hal yang biasanya mereka halangi tersebut, karena PKA pagelaran para atasan. Dari segala ketimpangan dan ketidakbecusan menangani PKA, diduga pesta sambut Ramadhan dengan mengundang maksiat ini ada kepentingan terselubung.

Ketidakbecusan ini tampak dari beberapa lokasi acara yang seharusnya perlu pengawasan syariat secara ketat tersebut. Warga hanya berdesakan pada pagelaran seni dan pameran yang kebanyakan tidak mencerminkan budaya islami. Sementara di Taman Budaya, misalnya, perlombaan seudati tingkat propinsi hanya disaksikan para juri dan peserta. Tidak ada penonton. Dalam hal ini tampak bahwa budaya Aceh dilecehkan dengan pelaksanaan PKA ini.

Bahkan seorang ketua rombongan dari pemerintah kota mengatakan bahwa dia tidak menyangka bahwa panitia tidak siap mengadakan PKA. Kata dia, PKA 5 adalah terburuk dibandingkan yang sudah-sudah.

Kembali pada pelanggaran syariat dalam PKA ini. Tadi malam adalah nisfu syakban, seharusnya disambut dengan salat khusus, tapi pemerintah telah menggiring masyarakat di Banda Aceh yang berwisata islami sibuk dengan pesta PKA.

Keadaan ini  mencerminkan bahwa pemerintah tidak konsisten dengan penegakan Syariat Islam. Para santri dan guru di dayah patut mempertanyakan ini pada para pemimpin di Aceh. Ini menyangkut marwah para ulama yang tausiah mereka jadi panutan.

Pesta menyambut puasa dengan acara semacam PKA dapat disebut mengubah budaya Aceh yang islami menjadi budaya yang hura-hura. Peristiwa semacam ini, alih-alih mengangkat martabat Aceh malah menurunkan nuansa keislamannya. Bulan Ramadhan yang begitu diagungkan dulu, kini dijelang dengan pesta yang berpotensi maksiat seperti khalwat.

Dalam kasus ini, kita belum mendengar pendapat para ulama yang jadi panutan orang Aceh, apakah mereka belum bersikap atau tidak peduli pada hal seperti ini lagi. Organisasi-organisasi Islam pun tampak tidak peduli pada acara yang dibuat pemerintah.

Semua seolah bungkam, entah karena takut, entah karena tak ingin pemerintah tak membantunya lagi bila mengkritik. Keindependenan sebuah organisasi ummat dan figur ummat tak tampak lagi di Aceh, sementara kita masih berani menyombongkan diri sebagai Serambi Makkah.

Kalau ulama berani bersuara, mungkin akan kita tahu bahwa pesta pameran seperti PKA adalah hal yang tidak pantas dibuat menjelang Ramadhan, apalagi di Aceh yang menyebut dirinya islami. Semuanya telah tersihir dengan angan bahwa pameran PKA akan mendatangkan keuntungan bagi Aceh. Namun nyatanya malah sebaliknya, hanya menghamburkan uang rakyat dan mengundang pelanggaran syariat. (ha060809)

Categories : Tajuk Harian Aceh

Sumber: http://blog.harian-aceh.com/pesta-sambut-ramadhan.jsp