Do’a Bersama Antar Agama, Merusak Islam

Do’a Bersama antar Agama yang Disyari’atkan Hanyalah Mubahalah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Ada gejala “baru” berupa acara do’a bersama antar berbagai agama dan keyakinan. Bahkan pernah ada upacara “Indonesia Berdoa” yang diselenggarakan di Senayan

Jakarta, Agustus 2000, terdiri dari berbagai macam agama, diprakarsai oleh KH Hasyim Muzadi ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Sebelum ada upacara “Indonesia Berdo’a” antar berbagai agama dan keyakinan, sudah dikenal umum bahwa Dr Said Aqiel Siradj dari NU (Nahdlatul Ulama, kini Said Aqile Siradj jadi ketua umum PBNU 2010-2015) dan Istri Gusdur (Sinta Nuriyah) telah melakukan do’a bersama antar orang-orang dari bermacam-macam agama.

Di antara yang berlangsung, ada juga yang berbau Kristenisasi, seperti yang terjadi di Lampung, Juli 2010:

Ribuan Orang dari Lima Agama Lakukan Doa Bersama

Sabtu, 24 Juli 2010 00:16 WIB |

Bandarlampung (ANTARA News) – Ribuan orang dari berbagai agama mengikuti acara Doa Bersama yang dilaksanakan di Lapangan Korpri, kata Pendeta Deni Sambuaga, Wakil Ketua Publikasi dan Masa, di Bandarlampung, Jumat.

“Ada dua tujuan dalam acara ini, pertama untuk mengangkat kebersamaan antar umat beragama agar tidak terpecah belah, dan kedua untuk meningkatkan mutu iman dari umat Kristiani dan dapat merasakan satu pengalaman rohani,” ujarnya.

Menurut Deni peserta yang mengikuti acara doa bersama ini berasal dari sekitar 200 gereja di seluruh Provinsi Lampung, dan sebagian besarnya berasal dari Bandarlampung.

Selain tokoh agama Kristen Protestan, dalam acara Doa Bersama ini juga turut hadir tokoh dari agama lain.

Lima tokoh agama yang hadir dalam acara ini diantaranya Pendeta Petrus Muhdiharjo (tokoh agama Kristen Protestan), Romo Roy (tokoh agama Katolik), Muswardi Tahir (tokoh agama Islam), Darmapala (tokoh agama Budha), I Ketut Sargit (tokoh agama Hindu). (Antara, Sabtu, 24 Juli 2010 00:16 WIB)|

Bolehkah doa bersama antara agama seperti itu dilakukan menurut syari’at Islam, mari kita kaji.

Pengertian dan fungsi do’a

Do’a adalah permintaan hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan itu

merupakan suatu ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60]

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS 40 Al-Mu’min: 60).

[1326]. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.


Penegasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, do’a itu ibadah:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ (قَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ) ».. سنن أبى داود – (ج 4 / ص 493) قال الشيخ الألباني : صحيح

”Do’a itu ialah ibadah,” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu.” (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).

Adab berdo’a

Ada ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan tuntunan adab berdo’a.

1. Merendahkan diri dan bersuara lembut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [الأعراف/55]

.

“Serulah Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, karena sesungguhnya Dia tidak suka kepada orang-orang yang melewati batas.” (QS Al-A’raaf: 55).

Allah SWT memuji hamba-Nya, Nabi Zakaria, dengan firman-Nya:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّ [مريم/3].

“Tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS 19 Maryam: 3).

2. Menghindari bersuara keras dalam berdzikir dan berdo’a.

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ

مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Ayyuhan naasu irba’uu ‘alaa anfusikum fainnakum laa tad’uuna ashomma walaa ghooiban innakum tad’uuna samii’an qoriiban wahuwa ma’akum.”

”Wahai ummat manusia, kasihanilah dirimu dan rendahkanlah suaramu,

kamu tidak menyeru Tuhan yang tuli atau yang gaib (jauh), sesungguhnya kamu menyeru Tuhan yang Pendengar, dekat, dan Dia menyertai kamu.”

(Hadits Muttafaq ‘alaih). (Tentang Dia menyertai kamu, “ma’iyah Allah”, kebesertaan Allah itu maknanya Allah bersemayam di atas ‘arsy, menyertai kita namun bukan berarti Dia berada di bumi).

3. Disertai iman dan amal shaleh.

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (25) وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ [الشورى/25، 26]

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan Dia mengabulkan (do’a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya.Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka adzab yang sangat keras.” (QS 42 As-Syuura: 25, 26).

4. Makanan, minuman, dan pakaiannya dari hasil yang halal.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ». (رواه مسلم 2301).

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min dengan apa-apa yang diperintahkan oleh para rasul. Maka Dia berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mukminuun: 51). Dan Dia berfirman: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu. (Al-Baqarah: 172). Kemudian Nabi menyebutkan seorang laki-laki yang telah berkelana jauh dengan rambutnya yang kusut masai dan pakaian yang penuh debu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdo’a; Ya Allah, Ya Allah, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dibesarkan dengan makanan haram, bagaimana Allah mengabulkan do’anya itu? (HR Muslim nomor 2301).

5. Keyakinannya tanpa ragu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِى إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لاَ مُكْرِهَ لَهُ ». سنن أبى داود – (ج 4 / ص 497) قال الشيخ الألباني : صحيح

“Laa yaquulanna ahadukum: Alloohummaghfir lii in syi’ta, Alloohummarhamnii in syi’ta, liya’zamal mas’alata fainnahu laa mukriha lahu.”

“Janganlah salah seorang dari kamu mengatakan: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, ya Allah rahmatilah aku jika Engkau menghendaki”, tetapi hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Tidak membangkit-bangkit (bahasa Jawa: ngundat-undat) Allah ketika do’a belum terkabul.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ رَبِّى فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِى ». (متفق عليه).

“Yustajaabu li ahadikum maalam yu’ajjil yaquulu: qod da’autu Robbii falam yastajib lii.”

“Do’a seseorang akan dikabulkan (oleh Allah) selama orang itu tidak tergesa-gesa (ingin dikabulkan), yaitu dengan mengatakan: “Saya telah berdo’a tetapi do’a itu belum juga dikabulkan Tuhan untukku”.” (Muttafaq ‘alaih).

7. Jangan mendo’akan jelek kepada diri sendiri, anak-anak, dan harta, sekalipun sedang marah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan do’a itu bertepatan dengan waktu Allah menerima atau mengabulkan do’a dari hambaNya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ ». صحيح مسلم – (ج 19 / ص 109)

“Laa tad’uu ‘alaa anfusikum walaa tad’uu ‘alaa aulaadikum, walaa tad’uu ‘alaa amwaalikum, laa tuwaafiquu minalloohi sa-‘atan yas’alu fiihaa ‘ithooan fayastajiibu lakum.”

“Janganlah kamu mendo’akan buruk (celaka dsb, pen) terhadap dirimu, jangan kamu mendo’akan buruk terhadap anak-anakmu, dan jangan kamu mendo’akan buruk terhadap harta bendamu! Jangan sampai nanti do’amu itu bertepatan dengan suatu saat dimana Allah sedang memenuhi permohonan, hingga do’a burukmu itu benar-benar terkabul.” (HR Muslim).

Do’a Bersama antar Agama yang Disyari’atkan Hanyalah Mubahalah

Dalam Al-Quran dan Hadits, do’a bersama antara mu’minin (Nabi dan ummat Islam) di satu pihak, dan Ahli Kitab ataupun musyrikin di lain pihak; justru merupakan do’a ancaman, saling melaknat untuk adu kebenaran, yang disebut mubahalah.

Mubahalah (atau mula’anah, saling melaknat, pen) ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat, berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. _(Al- Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/ 1986 juz 1 hal 628).

Mubahalah atau do’a saling melaknat itu dilakukan terhadap:

1. Orang Nasrani, berlandaskan QS Ali ‘Imran: 61;

2. Orang Yahudi berlandaskan QS Al-Jumu’ah: 6

3. Orang Musyrik berlandaskan QS Maryam: 75 dan hadits tentang Abu Jahal ditantang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mubahalah, riwayat Al-Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai).

4. Terhadap penyeleweng, ahli bid’ah dan semacamnya, berlandaskan bahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya ‘iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari, pen). Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:

Perintah do’a di dalam Al-Qur’an, kalau ditujukan kepada Ahli Kitab justru berupa ancaman, bahkan mubahalah.

{ قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }

_Katakanlah :”Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS 62 Al-Jumu’ah: 6).

{ فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ } [آل عمران : 61]

”Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa setelah datang ilmu ” (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (QS 3 Ali Imran: 61).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, suruhan Allah kepada Yahudi agar minta mati di Surat Al-Jumu’ah 62, Al-Baqarah 94, itu juga mubahalah; kalau memang orang Yahudi itu menganggap (diri mereka berada) dalam hidayah Allah, sedang Muhammad itu dianggap dalam kesesatan, maka mintakan mati atas yang sesat dari kedua golongan itu, kalau memang Yahudi menganggap diri mereka benar. Ternyata Yahudi tak berani.

Demikian pula ancaman terhadap orang-orang musyrik di Surat Maryam ayat 75, agar musyrikin ber_mubahalah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekeluarganya.

2264- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يَزِيدَ الرَّقِّىُّ أَبُو يَزِيدَ حَدَّثَنَا فُرَاتٌ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو جَهْلٍ لَئِنْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُصَلِّى عِنْدَ الْكَعْبَةِ لآتِيَنَّهُ حَتَّى أَطَأَ عَلَى عُنُقِهِ. قَالَ فَقَالَ « لَوْ فَعَلَ لأَخَذَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ عِيَاناً وَلَوْ أَنَّ الْيَهُودَ تَمَنَّوُا الْمَوْتَ لَمَاتَوا وَرَأَوْا مَقَاعِدَهُمْ مِنَ النَّارِ وَلَوْ خَرَجَ الَّذِينَ يُبَاهِلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَرَجَعُوا لاَ يَجِدُونَ مَالاً وَلاَ أَهْلاً ». مسند أحمد – (ج 5 / ص 290)

Dari Ibnu Abbas: Abu Jahal la’natullah berkata, bila aku melihat Muhammad di sisi Ka’bah pasti sungguh aku datangi dia sehingga aku injak lehernya. Ibnu Abbas berkata, bersabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Kalau ia (Abu Jahal) berbuat, pasti malaikat akan mengambilnya (mengadzabnya) terang-terangan, dan seandainya orang-orang Yahudi mengharapkan mati pasti mereka mati dan mereka melihat tempat-tempat mereka berupa neraka.” Dan seandainya mereka yang (ditantang) bermubahalah dengan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam itu keluar, pasti mereka pulang (dalam keadaan) tidak menemukan keluarganya dan tidak pula hartanya. (HR Ahmad, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan An-Nasai, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr 1412H/ 1992M jilid 4, halaman 438, tafsir Surat Al-Jumu’ah ayat 6, atau juz 8 halaman 118, ditahqiq Sami bin Muhammad Salamah, Daru Thibah, cetakan 2, 1420H/ 1999M).

Berikut ini fatwa tentang mubahalah dijelaskan bahwa bukan khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Mubahalah Tidak Khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Soal:

Apakah mubahalah itu khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dapat menjadi umum bagi Muslimin? Dan apakah seandainya mubahalah itu umum bagi Muslimin bolehkah untuk dihadapkan dari arah ahlis sunnah waljama’ah kepada firqoh-firqoh sesat? Dan apakah mesti terjadi tanda yang menampakkan kebenaran seandainya dilangsungkan mubahalah?

Fatwa:

Alhamdulillah wassholatu wassalmu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi, amma ba’du.

Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak yang bermubahalah. Mubahalah itu tidak khusus hanya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya, bahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari, pen).

Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris); dan tidak mengapa dalam hal mubahalah Ahlis Sunnah waljama’ah terhadap ahli syirik, bid’ah dan semacamnya tetapi sesudah ditegakkan hujjah (argumentasi) dan upaya menghilangi syubhat (kesamaran), dan memberikan nasihat dan peringatan, sedang itu semua tak guna. Bukan termasuk kepastian (setelah mubahalah itu) munculnya tanda/ bukti atas dustanya orang yang batil dan dhalimnya orang yang dhalim, karena Allah Ta’ala menunda dan mengakhirkan, sebagai cobaan dan istidroj/ uluran.

Wallohu a’lam.

Mufti; Markas Fatwa dengan bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85).

Kesimpulan

Do’a bersama antara Ummat Islam dan kaum ahli kitab, kafirin /musyrikin yang dibolehkan hanyalah mubahalah, saling melaknat bagi yang dusta. Sudah jelas, do’a adalah ibadah. Sedang dalam kaidah, ibadah itu tauqifi, tidak dibolehkan kecuali kalau ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ada dalil yang membolehkannya. Dalam hal do’a bersama antara Muslimin dan non Muslim, adanya hanyalah tentang mubahalah. Jadi, kalau mau diadakan do’a bersama antara umat Islam dan non Muslim, seharusnya yang sifatnya seperti itu, yakni mubahalah, sesuai aturan Al-Quran dan Hadits.

Adapun orang yang mengadakan (terutama yang memprakarsai) do’a bersama antara Muslim dan non Muslim seperti yang terjadi sekarang, berarti dia membuat syari’at baru, sekaligus melanggar aturan syari’ah yang sudah ada, dan itulah perusak agama (Islam).

Penutup

Dengan mengadakan doa bersama antar agama itu berarti merintis jalan kemusyrikan. Padahal banyak peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat akhir zaman terhadap bencana syirik. Bahkan beliau tegaskan umatnya kelak ada yang mengekor kaum musyrikin hingga berhala pun disembah.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Autsan dalam bentuk jamak (plural) dari watsan, artinya berhala. Watsan adalah segala sesuatu yang mempunyai bentuk badan yang biasanya dibuat dari unsur tanah, kayu, atau bebatuan seperti bentuk manusia. Benda ini dibentuk, dimuliakan, dan disembah. Kadang juga watsan mencakup sesuatu yang tidak berbentuk gambar/bentuk. Shanam adalah gambar tanpa bentuk badan.

Sesembahan ini, kalau zaman jahiliyah berbentuk patung-patung orang shaleh, sekarang bisa diwujudkan dalam kuburan-kuburan atau petilasan-petilasan orang shaleh yang dianggap shaleh. (Lihat Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11, Trend Muslim Bergaya Musyrik).

Apa yang disabdakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian tidak digubris oleh sebagian orang malahan mereka merintis jalan kemusyrikan bersama –dengan nama doa bersama antar agama– itu masih pula di tempat dan acara lain diadakan penghidupan kembali kemusyrikan yang telah terkubur. Misalnya, salah satunya adalah apa yang mereka sebut ruwatan.

Penyelenggaraan ruwatan (upacara dengan sesaji untuk apa yang mereka yakini yaitu mitos Raksasa Betoro Kolo sebagai ritual untuk apa yang mereka hajatkan yakni membuang sial atau agar tidak dimangsa oleh Betoro Kolo) adalah mengadakan kemusyrikan, dosa terbesar. Itu bukannya membuang sial tetapi justru mendatangkan adzab, baik di dunia maupun di akherat karena membuang iman diganti dengan kemusyrikan.

Ketika menjelang kiamat nanti ada penyembahan kembali berhala Lata dan Uza, maka orang-orang yang mengaku Islam bahkan tokoh ormas Islam bahkan ormas pakai nama ulama namun merintis jalan kemusyrikan, apabila mereka tidak bertobat, mesti bertanggung jawab atas apa yang diancamkan dalam hadits ini:

Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى ».

“Malam dan siang tidak akan lenyap (terjadi kiamat) hingga Lata dan Uzza kembali disembah.” (Shahih Muslim : 6907, Sunan al-Tirmidzi no. 2228, dan Musnad Ahmad no. 8164, Mukadimah Masail Jahiliyah juz I hal. 16).)

Betapa dahsyatnya keberanian mereka dalam merusak Islam, kalau kita renungkan bahwa mereka itu sedang merintis jalan kepada penyembahan berhala kembali, yang menjadi puncak hancurnya dunia yaitu lenyapnya siang dan malam alias qiyamat. Maka bertobatlah wahai para manusia. Sebelum waktunya terlambat.

Demikian pula yang mereka sebut pluralisme agama atau menyamakan semua agama itu tidak lain adalah kemusyrikan baru. Yang ujung akhirnya adalah penyembahan berhala yang telah diancam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Ummat Islam wajib berhati-hati dalam menjaga keimanannya, agar tidak diseret oleh para perusak Islam.

Gejala doa bersama antar agama itu bukan syiar agama tetapi adalah perusakan agama (Islam) yang amat dahsyat karena berujung akhir pada puncak kehancuran Islam berupa penyembahan berhala bersama orang-orang musyrikin. Lalu adzab datang berupa dahsyatnya qiyamat yakni hancurnya dunia dengan segala isinya. Wallahu a’lam bis shawaab