Ratu “sogok” anggota DPR dalam pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia, Nunun Nurbaiti yang baru sehari masuk di Rutan Pondok Bambu, langsung dipindahkan ke Rumah Sakit Polri di Kramat Jati. Karena Sakit.

Nunun Nurbaiti isteri mantan Waka Polri Adang Dorodjatun, yang sekarang menjadi anggota DPR Fraksi PKS itu, baru diperiksa kurang satu jam oleh KPK, sudah menyatakan sakit, dan pemeriksaan dihentikan.

Modus “sakit” ini sudah menjadi pola para koruptor, menghindari diri dari pemeriksaan, dan kemungkinan kasusnya bisa menjadi mandeg. Seperti dikemukakan seorang aktivis, yang mengemukakan, “Jika tahap awal pemeriksaan Nunun mandek, ke depannya juga bakal mandek”, ujar Hendardi dari Setara Institute. Selanjutnya, menurut Hendardi, Nunun harus dirawat di rumah sakit yang netral, jangan di rumah sakit Polri, tambahnya.

Modus “sakit” atau “berobat” keluar negeri ini, sudah sangat jamak dijalankan para koruptor, dan sesudah itu mereka menghilang tak tentu rimbanya. Nunun Nurbaiti ini, mula-mula mendapat  tiga kali panggilan dari KPK, dan tidak pernah datang. Kemudian, diberitakan sakit dan berobat ke Singapura. Tetapi, kemudian tak pernah pulang lagi ke Indonesia. Sampai KPK menangkapnya di Thailand.

Sejarah mencatat begitu banyak para buron penjahat koruptor yang lari dari jeratan hukum, dan mereka lari dengan modus berobat ke luar negeri. Ke Singapura. Karena Singapura menjadi surganya para koruptor Indonesia.

Banyak para koruptor yang mangkir dan lari ke Singapura. Para penegak hukum tidak dapat berbuat banyak, karena antara Indonesia dan Singapura tidak memiliki perjanjian ekstradisi sampai sekarang.

Salah satu penjahat kakap yang mengeruk uang negara puluhan triliun rupiah, Syamsul Nursalim, yang dengan modus “berobat”, kemudian lari ke Singapura, dan sampai sekarang pemerintah tidak dapat menangkapnya. Termasuk Eddi Tansil yang melarikan diri, yang menggaruk uang negara sebesar Rp 1,4 trlliun, dan sampai sekarang tak dapat ditangkap.

Lalu, sekarang Nunun yang sudah ditangkap tak dapat diperiksa, karena alasan sakit, dan dirawat di rumah sakit Polri. KPK nampaknya tak dapat berbuat maksimal, menghadapi Nunun yang sekarang berada di rumah sakit Polri itu.

Sejatinya kasus Nunun Nurbaiti itu harus terkuak dan menjadi jelas. Siapa yang memberikan uang Rp 24 miliar dalam bentuk 480 lembar travel check yang diberikan kepada puluhan anggota DPR periode 1999-2004?

Kalau ini tidak terkuak dengan alasan Nunun tidak dapat diperiksa, karena sakit akan menjadi preseden yang sangat memalukan bagi penegakkan hukum di Indonesia.

Apakah pemberi 480 lembar traveler check senilai Rp 24 miliar itu  Miranda Gultom, atau ada fihak lainnya, yang menggelontorkan uang yang banyak itu kepada anggota DPR, yang sekarang mereka sudah masuk bui.

Semuanya harus jelas dan gamblang diungkapkan. KPK harus berani membuktikan siapa dibalik pemberian traveler check oleh Nunun Nurbaiti. Adakah pengusaha yang memberikan uang itu, yang bertujuan memenangkan Miranda Gultom, dan pengusaha itu mempunyai kepentingan terpilihnya Miranda Gultom sebagai deputi gubernur Bank Indonesia dengan menggunakan Nunun?

Suami Nunun Nurbaiti, mantan Waka Polri, Adang Dorodjatun menuduh Miranda Gultom, sebagai tokoh yang menjadi motivator terhadap isterinya, yang kemudian memberikan dukungan kepada Miranda.

Jika menggunakan dasar alasan dari Adang Dorodjaton ini, kemungkinan skanario kasus Nunun Nurbaiti, hanya mentok sampai kepada Miranda Gultom. Tidak berkembang dan dapat membuktikan siapa jati diri pemberi 480 traveler check itu?

Demi keadilan seharusnya yang paling mendasar, perlu diungkapkan adalah pemberi traveler check, dan apa motivasinya. Tertangkapnya Nunun Nurbaiti, sangat menjadi sia-sia, bila sampai tidak dapat mengungkapkan pemberi traveler check, yang menyebabkan anggota DPR harus masuk bui, sementara penyogoknya, terlindungi dan tidak tersentuh.

Nunun Nurbaiti menjadi tokoh kunci yang akan menentukan kasus traveler check itu, menjadi terbuka, transparan, dan memenuhi rasa keadilan, manakala Nunun Nurbaiti bersedia mengemukakan dengan terbuka jati diri tokoh yang menggelontorkan dana melalui traveler check itu.

Kemungkinan lainnnya, Nunun Nurbaiti tidak akan pernah membuka mulutnya, mengungkap tokoh yang memberikan 480 traveler check, karena tokoh ini sangat kuat dan terlalu kuat, dan dapat membuka kotak pandora, yang dapat menggonjang-ganjingkan politik nasional, karena tokoh ini mempunyai hubungan yang sangat luas di kalangan partai dan tokoh-tokoh nasional. Sehingga, Nunun Nurbaiti tidak akan pernah mengungkapkan jati diri, siapa sejatinya yang memberikan uang Rp 24 miliar kepada puluhan anggota DPR itu.

Sama halnya, Nazaruddin yang sekarang menghadapi pengadilan Tipikor, nampaknya terjadi anti klimaks, dan tidak sampai mengungkapkan tabir yang sesungguhnya, tiga tokoh Partai Demokrat, yang disebutkan oleh Nazaruddin, seperti Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, dan SBY, semuanya  tidak menjadi objek penyelidikan KPK, dan pasti akan hilang bersama dengan angin.

Hukum di Indonesia tidak berlaku bagi para penguasa, atau mereka yang memiliki kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah tersentuh oleh hukum, dan membiarkan kejahatan yang mereka lakukan. Sampai rakyat bosan sendiri.

Bandingkan dengan Emak Saodah, yang hanya memunguti buah “randu”, di Medan dihukum tiga bulan, dan kemudian meninggal di penjara. Sungguh sangat tragis nasib rakyat di negeri ini. Wallahu a’lam.

ERAMUSLIM > EDITORIAL

http://www.eramuslim.com/editorial/drama-ratu-sogok-nunun-nurbaiti.htm
Publikasi: Kamis, 15/12/2011 09:05 WIB

Ilustrasi jakpress

***

Selasa, 13 Dec 2011 – 16:20 wib

Dilema sakit Nunun dalam membongkar kasus Miranda

Sindonews.com – Setelah berhasil dipulangkan ke Tanah Air, Nunun Nurbaeti langsung dibawa ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan selanjutnya menjalani pemeriksaan. Namun dalam pemeriksaan terkait kasus cek pelawat dalam pemenangan deputi gubernur senior Bank Indonesia, Miranda S Goeltom, mendadak kondisi kesehatan Nunun menurun.

Penyidik KPK memutuskan menghentikan pemeriksaan dan membawa Nunun ke rumah sakit. Sakit Nunun ini dikhawatirkan dapat menggangu proses pengungkapan kasus tersebut. Pasalnya, Nunun adalah saksi kunci yang bisa membuka misteri siapa aktor intelektual dalam suap cek pelawat. Seandainya kondisi Nunun kian memburuk ditambah sakit lupanya kambuh sehingga tak bisa mengingat, bagaimana kelanjutan pemeriksaannya?

Suami Nunun, Adang Daradjatun yang membantah kalau istrinya sakit bukan karena akan diperiksa KPK. “Darah ibu pernah diperiksa, jangan dipikir ibu sakit karena akan diperiksa, itu tidak benar. Ibu kan memang sejarah kesehatannya kurang baik kondisinya,” ujar Adang usai menjenguk istrinya di ruang Cendrawasih kamar 4, Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (13/12/2011).

Menurutnya, dari dulu dokter Andreas pernah bilang kalau ibu diperiksa dalam keadaan stres maka akan mengalami stroke dan itu terjadi. “Dari awal kan ibu stroke , persis seperti yang kemarin, ibu memang kondisinya masih baik. Pingsan tekanan darahnya sekitar 210,” terangnya.

Saat ditanya kondisi istrinya sekarang, Adang mengatakan Nunun masih lemas dengan tensi darah  200 per 110. “Belum sempat ngobrol, tadi di dalam lagi istirahat, saya keluar lagi biar dia istirahat,” ungkapnya. Menanggapi kelanjutan pemeriksaan terhadap istrinya, politisi PKS ini menyerahkan semuanya ke KPK. “Terserah KPK, kita taat hukum, yang penting kesehatan ibu diperhatikan,” pintanya.
Sebelumnya, Adang juga menampik bila Nunun dikatakan berpura-pura sakit saat diperiksa penyidik KPK, kemarin. “Mungkin saja kecapaian, tapi memang ibu punya stroke, tekanan darah sampai 200/110, itu bukan main-main,” ungkapnya.

Nunun dilarikan ke Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan, setelah satu jam menjalani pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kemarin. Menurut pengacaranya Ina Rahman, penyakit darah tingginya Nunun kambuh. Setelah dipastikan sakit Nunun dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Hingga kini nunun dirawat di paviliun Ruang Cenderawasih Rumah Sakit tersebut.

Sementara itu Juru Bicara Johan Budi SP mengatakan dilakukan pembantaran terhadap Nunun lantaran kondisi kesehatannya belum pulih. “Saya konfirmasi kondisi Nunun masih perlu dirawat inap. Kita tunggu satu sampai besok, kalau kondisinya belum bisa memberikan keterangan, kita akan melakukan pembantaran,” katanya.

Kondisi terkini, lanjutnya, Nunun masih perlu istirahat yang cukup. “Sekarang sedang istirahat, tadi ada pemeriksaan dokter soal tekanan darahnya. Tekanan darahnya masih tinggi dan kondisi fisiknya masih lemah,” tambahnya.

Johan sendiri memastikan, pada masa pembantaran tak akan mengganggu masa penahanan Nunun. “Bantar itu proses pengobatan tak menganggu masa penahanan,” katanya. Kini, Nunun dirawat di RS Polri Kramat Jati. Nunun bahkan sempat dikabarkan pingsan saat pemeriksaan kemarin. Namun, Johan sendiri membantah kalau Nunun jatuh pingsan. “Hanya ingin pingsan,” tuturnya.

Rumah Sakit Polri Kramat Jati sendiri dipilih KPK berdasarkan alat-alat kesehatan yang dimiliki juga melihat kepada faktor keamanan untuk Nunun. “Selain pengamanan dan keamanan, juga karena peralatan yang lengkap,” tegasnya.

Sebelum tertangkap di Thailand, Nunun menjadi buron Interpol atas permintaan KPK setelah ditetapkan sebagai tersangka pada Februari 2011 lalu. Ketua KPK Busyro Muqoddas mengumumkan Nunun sebagai tersangka pada 23 Mei 2011.  Nunun dicegah keluar negeri oleh Imigrasi atas permintaan KPK pada 24 Maret 2010. Namun, dia keluar negeri sehari sebelumnya dengan alasan berobat. Nunun dikabarkan mengidap penyakit lupa berat, sehingga kesulitan mengingat.
(nahimunkar.com)