Dua Perwira Polisi Serbia Dihukum 31 Tahun karena Membunuh 8.000 Muslim

Pengadilan terhadap pelaku kejahatan perang Bosnia memutuskan mengganjar dua perwira polisi Serbia masing-masing selama 31 tahun. Keduanya terbukti memerintahkan genosida terhadap warga Muslim dan turut mengambil bagian dalam pembunuhan hingga 8.000 Muslim di kota Srebrenica pada tahun 1995.

Tahun 2008, tujuh perwira polisi dan tentara rezim Serbia telah diganjar hukuman antara 38 hingga 42 tahun dalam sidang pengadilan kasus pembantaian 8000 Muslim.

“Mereka secara sadar membunuh ratusan muslim Bosnia dengan tujuan untuk selamanya menyingkirkan Muslim Bosnia dari Srebrenica,” kata Hakim Hilmo Vucinic

Kegagalan Pasukan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) asal Belanda dalam melindungi para pengungsi Muslim di Sebrenica banyak disoroti, karena mengakibatkan leluasanya Serbia membantai Muslim Bosnia. Bahkan seorang jenderal purnawirawan AS pada hari Kamis menyebut-nyebut homoseksualitas sebagai salah satu penyebab kegagalan Pasukan PBB asal Belanda dalam mencegah tragedi pemusnahan etnik di Srebrenica pada tahun 1995.Seperti diberitakan AFP, John Sheehan, mengemukakan bahwa salah satu penyebab kegagalan pasukan Belanda adalah karena tentara mereka menerima kaum gay sebagai anggota. (lihat Antara Jumat, 19 Maret 2010).

Wikipedia Ind menulis, menurut Komisi Federal untuk Orang Hilang, jumlah korban yang dikonfirmasi sampai saat ini mencapai 8.373 jiwa. Pembantaian Srebrenica dianggap secara meluas sebagai pembunuhan massal terbesar di Eropa semenjak Perang Dunia II. Ia juga merupakan kejadian pertama yang ditetapkan sebagai genosida secara hukum.

Berita-beritanya sebagai berikut:

Polisi Serbia Dihukum 31 Tahun karena Bunuh 8.000 Muslim

Sabtu, 24 April 2010, 21:13 WIB

BOSNIA–Pengadilan terhadap pelaku kejahatan perang Bosnia memutuskan mengganjar dua perwira polisi Serbia masing-masing selama 31 tahun. Keduanya terbukti memerintahkan genosida terhadap warga Muslim dan turut mengambil bagian dalam pembunuhan hingga 8.000 Muslim di kota Srebrenica pada tahun 1995.

Radomir Vukovic, 36 tahun, dan Zoran Tomic, 38 tahun, adalah anggota Detasemen Khusus Polisi 2 Sekovici. “Keduanya saat itu mendapat tugas khusus  untuk memusnahkan sebagian kelompok Muslim dan membantu menghapus paksa 40 ribu warga sipil dari wilayah timur kota itu, “kata hakim Senadin Bektasevic.

Dia mengatakan kedua berpartisipasi dalam penangkapan dan eksekusi pada sedikitnya 1.000 pria Muslim yang mencoba melarikan diri dari Srebrenica melalui hutan dan ditahan di sebuah gudang di desa dekat Kravice.

Sementara itu, saksi yang dilindungi melemparkan penghinaan pada pengadilan kejahatan perang mantan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic di Den Haag dengan menyebut tokoh ini  orang ‘sakit’. Saksi juga mengatakan PBB adalah ‘penyebab utama tragedi Srebrenica’ dan menyalahkannya atas kegagalan melindungi Muslim.

Red: Siwi Tri Puji.B

Sumber: The Telegraph

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/04/24/112798-polisi-serbia-dihukum-31-tahun-karena-bunuh-8000-muslim

Peristiwa pembantaia Muslim Bosnia di Srebrenica oleh Serbia (beragama Kristen Ortodox) sebagai berikut:

Mengenang Pembantaian Muslim di Srebrenica

Pembantaian warga Muslim Bosnia oleh pasukan Serbia selama perang Balkan yang berlangsung pada tahun 1992-1995 oleh dunia disebut sebagai kejahatan perang terburuk di Eropa setelah Perang Dunia II. Lebih 200.000 Muslim Bosnia menjadi korban kekejaman pasukan Serbia selama peperangan berlangsung, dan sekitar 20.000 muslimah menjadi korban perkosaan yang dilakukan secara sistematis oleh pasukan Serbia.

Salah satu tragedi mengenaskan adalah perisiwa pembantaian 8.000 lelaki dan remaja Muslim di di Srebrenica. Pembantaian itu terjadi karena ketidakmampuan pasukan Belanda yang diberi mandat PBB untuk menjaga kamp pengungsi di Srebrenica. Setelah pasukan Serbia berhasil menguasai Srebrenica, mereka mulai memisahkan laki-laki berusia 12-77 tahun untuk diinterogasi, yang sebenarnya awal dari pembantaian terhadap warga Muslim. Selama lima hari, pasukan Serbia dipimpin Jenderal Ratko Mladic dengan bantuan pasukan paramiliter Serbia yang dikenak sebagai pasukan Scorpion, dan dengan leluasa melakukan pembantaian terhadap lelaki dewasa dan anak-anak lelaki Muslim.

Pemerintah Serbia yang dipimpin Radovan Karadzic mendorong tentara Serbia, dan membiarkan pembunuhan demi pembunuhan yang ada, sehingga 8.000 pria Muslim Bosnia menjadi korban dalam aksi pembantaian tersebut.

Pembunuhan hampir 8000 pria muslim dilakukan terorgansir secara matang. Banyak dari pria muslim yang melarikan diri ke hutan sekitar Srebrenica ditangkapi dan ditembak mati di beberapa lokasi. Sejumlah saksi mata mengatakan, tentara Serbia Bosnia menyamar sebagai Pasukan Baret Biru PBB, untuk mengelabuhi warga muslim. Pasukan Serbia juga mencoba menghapus jejak pembunuhannya dengan menggali kembali kuburan warga Muslim, dan jenazah korban dipencar dalam kuburan-kuburan yang lebih kecil.

Setelah perang berakhir, peristiwa pembantaian warga Muslim ini mulai mendapat perhatian dunia internasional. Para keluarga korban menuntut agar pelaku pembantaian diseret ke Mahkamah Internasional. Setelah melalui pembahasan panjang, PBB akhirnya menetapkan peristiwa Srebrenica sebagai peristiwa pembersihan etnis atau genosida dan para pelakunya dinyatakan telah melakukan kejahatan perang.

Tribunal Yugoslavia mendakwa 19 orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa pembantaian di Srebrenica. Namun tiga orang yang dianggap menjadi dalang aksi pembantaian tersebut adalah Radovan Karadzic, Jenderal Ratko Mladic dan ajudannya Zdravko Tolimir. Proses investigasi akhirnya juga menyeret mantan presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic sebagai salah satu tersangka pelaku kejahatan perang Bosnia. Milosevic meninggal dunia ketika sedang menjalani proses hukum di mahkamah internasional. Sementara Radovan Karadzic baru tertangkap setelah 11 tahun buron, sedangkan Jenderal Ratko Mladic, sampai saat ini masih belum diketahui tempat persembunyiannya. Meskipun, Radovan Karadzic telah tertangkap tidak menghapus kekejaman yang dilakukan Serbia terhadap Muslim Bosnia, yang mereka bantai. Peristiwa yang sangat mencoreng masyarakat dunia.

http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/Mengenang_Pembantaian_Muslim_di_Srebrenica

Homoseks di kalangan Pasukan PBB asal Belanda disebut sebagai salah satu penyebab tidak mampunya untuk mencegah pembantaian terhadap Muslim. Inilah beritanya:

Pembantaian Srebrenica oleh Serbia Terkait Gay?

Jumat, 19 Maret 2010

WASHINGTON–Seorang jenderal purnawirawan AS pada hari Kamis menyebut-nyebut homoseksualitas sebagai salah satu penyebab kegagalan Pasukan PBB asal Belanda dalam mencegah tragedi pemusnahan etnik di Srebrenica pada tahun 1995.Seperti diberitakan AFP, John Sheehan, mengemukakan bahwa salah satu penyebab kegagalan pasukan Belanda adalah karena tentara mereka menerima kaum gay sebagai anggota.

Sheehan, mantan komandan NATO dan perwira tinggi angkatan laut, mengemukakan hal itu saat memberi kesaksian di senat demi menentang rencana Presiden Barack Obama yang akan mengakhiri larangan bagi mereka yang mengaku gay untuk bergabung dengan militer AS.Sheehan mengatakan bahwa setelah Perang Dingin berakhir, militer di Eropa berubah dan berpikir bahwa .”sudah tidak perlu lagi punya kemampuan bertempur aktif.”

Dia mengatakan proses sosial yang terjadi antara lain “homoseksualitas terbuka” dan “fokus pada operasi sebagai penjaga perdamaian, karena mereka yakin bahwa Jerman atau Soviet tidak akan menyerbu kembali.”

“Kasus yang jadi rujukan saya adalah ketika Belanda diminta untuk menjaga Srebrenica dari Serbia,” katanya. Pasukan PBB asal Belanda saat itu diberi tugas melindungi masyarakat sipil Muslim Bosnia.”Batalion mereka lemah, kepemimpinannya buruk, dan saat Serbia masuk, mereka memborgol tentara-tentara itu ke telepon umum lalu membariskan masyarakat Muslim kemudian mengeksekusi mereka.”

Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Carl Levin, melakukan penajaman untuk mengklarifikasi komentar Sheehan tentang Srebrenica.”Apakah para petinggi Belanda mengatakan kepada Anda bahwa (jatuhnya Srebrenica) adalah karena ada prajurit gay?” tanya Levin.”Ya,” kata Sheehan lalu melanjutkan: “Mereka memasukkan hal itu sebagai bagian dari permasalahan.”

Sheeha yang pensiun dari militer pada tahun 1997, mengatakan ia diberitahu oleh mantan kepala staf tentara Belanda.Levin dengan keras menolak dugaan Sheehan dan mengatakan bahwa menghubungkan pembantaian di Srebrenica dan gay di militer Belanda adalah “terlalu jauh.”

Kegagalan pasukan PBB Belanda untuk menangkis serangan Serbia “tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual ” tapi terkait dengan “latihan dan aturan pelibatan,” kata Levin.

Hampir 8.000 pria Muslim Bosnia dan anak laki-laki tewas setelah pasukan Serbia menangkap mereka di Srebrenica pada 11 July 1995. Pembantaian itu adalah yang terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

Sumber Berita:

ant/AFP

http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/pembantaian-muslim-di-srebrenica-oleh-serbia-terkait-gay.html

Para pelaku pembantaian terhadap Muslimin yang diadili tahun 2008 menurut berita BBC, “Para terdakwa tahu bahwa membunuh para pria Muslim Bosnia, mereka ikut serta dalam pemusanahan selamanya warga muslim Bosnia dari Srebrenica,” kata hakim Hilmo Vucinic.

“Mereka secara sadar membunuh ratusan muslim Bosnia dengan tujuan untuk selamanya menyingkirkan Muslim Bosnia dari Srebrenica,” katanya. (bbc.co.uk/indonesian/news/, 29 Juli, 2008). (nahimunkar.com).