Duh Cerobohnya Orang AKKBB

Kalau kita berbicara soal yang sesat-sesat dan nyeleneh-nyeleneh, ternyata sumbernya tidak jauh-jauh dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Selain Gus Dur sendiri dan istrinya (Shinta Nuriyah), ada juga keponakan Gus Dur (?) (Ulil Abshar Abdalla dedengkot JIL –Jaringan Islam Liberal), mertua Ulil (A. Mustofa Bisri tinggal di Rembang Jawa Tengah), teman-teman Gus Dur (Dawam Rahardjo –pembela Ahmadiyah dan Lia Eden, Goenawan Mohamad –boss Tempo, dan sebagainya). Sekarang mereka berkumpul dalam sebuah wadah cair bernama AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan).

Keberadaan AKKBB dan ditampilkannya sejumlah nama dalam petisi AKKBB yang dimuat beberapa harian nasional 26 Mei 2008 tempo hari, patut mereka sesali, karena memudahkan kita untuk mengetahui siapa-siapa saja sebenarnya yang menjadi pendukung kesesatan. Ternyata, orangnya ya itu-itu juga. Dari segi jumlah, sejak beberapa tahun lalu jumlahnya juga cuma segitu-gitu saja.

Ulil Abshar Abdalla

Salah satu sosok yang juga menonjol di AKKBB adalah Ulil Abshar Abdalla, menantu A. Mustofa Bisri. Pada 18 November 2002, harian Kompas mempublikasikan tulisan Ulil berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam. Reaksi keras pun bermunculan, antara lain dari FUUI (Forum Ulama Umat Islam) di Bandung, yang merujuk kembali fatwa mati untuk Pendeta Suradi yang menghina Islam, dapat dikenakan pula pada Ulil. Di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) juga timbul reaksi, sehingga pada Munas Ulama di Jatim (sekitar tahun 2003) ulama dan komunitas NU mempersoalkan segala sepak terjang Ulil, karena banyak pernyataan Ulil yang melecehkan Islam. Ketika itu, Sahal Mahfudz melakukan pembelaan, dengan mengajukan alasan, karena Ulil bukan pengurus struktural NU maka ia tidak perlu diapa-apakan. Akhirnya Ulil pun selamat.

Di tahun 2005, ketika MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang ketua-umumnya adalah Sahal Mahfudz mengeluarkan 11 fatwa tentang sesat dan haram, di antaranya tentang sesatnya Ahmadiyah dan juga Jaringan Islam Liberal (JIL). Ulil sebagai dedengkot JIL mengatakan, fatwa MUI itu konyol dan tolol cetusnya dalam konferensi pers di kawasan Saharjo Jakarta Selatan. Ketika ditanya wartawan, berarti yang konyol dan tolol juga termasuk Sahal Mahfuz (yang dulu membela Ulil); maka Ulil pun mengiyakan. Baru di lain waktu belakangan Ulil meralat secara setengah-setengah. Konferensi pers di Jl Saharjo itupun dalam rangka menyerang 11 fatwa MUI. Beritanya sebagaimana ditulis detikcom sebagai berikut:

Jakarta – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus menuai kecaman. Kecaman kali ini makin meruncing. Jaringan Islam Liberal (JIL) menilai fatwa MUI yang salah satunya mengharamkan aliran Ahmadiyah sebagai hal yang konyol dan tidak masuk akal.

“*Argumennya sangat singkat. Fatwa-fatwa MUI itu sangat konyol, tidak masuk akal dan tolol,*” kata tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Absar Abdala dalam jumpa pers bersama Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) di sekretariat P2D, Jl. Sawo, Menteng, Senin (1/8/2005).

Hadir dalam acara itu, antara lain praktisi hukum Todung Mulya Lubis, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, tokoh ICP Siti Musda Mulya, mantan aktivis mahasiswa Nono Anwar Makarim, Hasyim Wahid (Gus Im), dan mantan Direktur Eksekutif Cetro Smita Notosusanto.

Saat ditanya apakah pernyataan itu mengartikan tokoh-tokoh MUI seperti ketua MUI Sahal Mahfud dan Wakil Ketua MUI Prof Din Syamsuddin dan ulama lainnya adalah orang yang tolol, Ulil membenarkannya. “*Oh iya tolol,*” kata Ulil spontan yang disambut gelak tawa para anggota P2D lainnya.

Sementara itu, Azyumardi Azra menyatakan, dilihat dari sudut keagamaan, fatwa MUI sangat potensial menciptakan pertikaian antarumat beragama di Indonesia dalam hal ini agama Islam.

Fatwa tersebut tak sesuai dengan prinsip Islam yakni toleransi dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah. “*Fatwa itu bisa dijadikan justifikasi untuk mengambil tindakan main hakim sendiri di kalangan masyarakat,*” kata Azyumardi.

Azyumardi memaparkan, dari 11 fatwa MUI, 4 pasal merupakan fatwa yang kontroversial yakni pengharaman Ahmadiyah, pengharaman kawin antaragama, pengharaman aliran liberalisme, skularisme, pluralisme dan pengharaman doa bersama antar agama yang berbeda.

Meski menolak pengharaman terhadap Ahmadiyah, Azyumardi mengaku tidak mempunyai argumentasi yang mendukung Ahmadiyah merupakan bagian dari Islam.

“*Itu perlu diteliti lagi. Saya tak bisa menyatakan kata akhirnya bahwa Ahmadiyah adalah bagian dari Islam,*” kata Azyumardi. (http://jkt.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/01/time/164219/idnews/414020/idkanal/10)

Setelah itu ada reaksi dari Ummat Islam, maka berita selanjutnya sebagai berikut:

Ulil juga meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap menghina ulama.

“Saya cabut dan saya minta maaf. Tapi saya tetap mengkritik soal

itu,” ujar Ulil di depan kantor JIL di Jalan Utan Kayu No. 68-H,

Matraman, Jakarta Timur, Jum’at (5/6) siang tadi seperti dikutip

detik.com

Sebagaimana diketahui, tanggal 1 Agustus lalu, Ulil sempat kebakaran

jenggot dengan keluarnya fatwa MUI mengenai haramnya paham

pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Sampai-sampai Ulil terkesan

menghina ulama dengan mengatakan mereka adalah bodoh dan tolol.

(ramdhan/cha/Hidayatullah.com, Jumat, 5 Agustus 2005)

Dawam Rahardjo

Yang juga agak menonjol adalah Dawam Rahardjo, teman karib Gus Dur. Nama lengkapnya Mohammad Dawam Rahardjo, kelahiran Solo (Jawa Tengah) 20 April 1942. Meski uma_ lulusan Fakultas Ekonomi UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta tahun 1969, namun julukannya seabreg, yaitu cendekiawan, budayawan, pemikir Islam, pegiat LSM dan sebagainya.

Selain bergelar cendekiawan Muslim, pemikir Islam, Dawam juga bergelar profesor (guru besar). Namun, ketika ia berhadapan dengan urusan sederhana yang berkenaan dengan hukum waris Islam yang mengatur ketentuan pewaris laki-laki menerima dua bagian sedangkan pewaris perempuan menerima satu bagian, sang profesor kebingungan, ia tidak bisa merumuskan dengan kecerdasannya.

Sehingga ketika ia berhadapan dengan sekitar 200 lebih ahli syari’at di Kaliurang (Jogjakarta), ia sempat ditertawakan peserta, karena dalam salah satu rangkaian kalimat yang dilontarkan dalam pidatonya adalah, Kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya?”

Maka meledaklah tertawa para hadirin yang kebanyakan tenaga ahli syari’ah di Pengadilan Agama dari berbagai kota yang sudah biasa memberi fatwa waris. Mereka spontan menertawakan Sang Profesor yang tampaknya tidak menguasai materi pembahasan soal waris ini.

Saat itu pula mendadak sontak sang Profesor ini turun dari podium, langsung balik klepat (dengan cepat) ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Bagaikan orang yang nglurug (datang dengan menantang bertanding) tiba-tiba jatuh tersungkur, maka bangkit langsung mlayu nggendring (lari tunggang langgang).

Kalau dikaitkan dengan tarikh (sejarah), mungkin seperti kasus jagoan jahiliyah di Pasar Ukadz di wilayah Makkah yang menantang khalayak, tahu-tahu dijotos Umar bin Khotthob dan langsung nggledak (jatuh tersungkur). Jotosan para ahli syari’at di Kali Urang Jogjakarta itu cukup hanya dengan tertawa bersama, lantas podium pun goyang, sehingga membuat sang Profesor yang berdiri di podium itu tidak kerasan lagi, langsung turun dan lari.

Dawam memang bukan ahli agama, bukan ahli syari’ah. Namun, ia dengan bekal sekadarnya mau membela gagasan (mendiang) Munawir Sjadzali, Menteri Agama periode 1983-1993. Pak Munawir pernah melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil, karena bagian warisan untuk lelaki dua kali lipat dari bagian perempuan. Bahkan, Pak Munawir juga pernah berpidato di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, seraya menyatakan bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang kini tidak relevan lagi. Lho, koq bisa, orang yang meragukan Al-Qur’an bisa menjadi menteri agama, dua periode pula. Ini fakta bukan ilusi.

Anand Krishna

Sosok lain yang agak menonjol dari ‘komunitas’ AKKBB adalah Anand Krishna, yang bernama asli Krishna Kumar Tolaram. Ia selama ini dikenal sebagai spiritualis yang berasal dari India, dan telah menerbitkan puluhan buku yang selalu menjadi bestseller di pasaran. Selain menerbitkan buku, ia juga mendirikan Padepokan Anand Krishna (Anand Ashram) yang terletak di Sunter, Jakarta Utara. Siswanya tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Belum lama ini, ia mendirikan National Integration Movement (NIM).

Anand Krishna tidak sekedar sedang mengacaukan aqidah sejumlah orang yang tertarik dengan ajarannya, namun sebagaimana terbukti kemudian, ia melakukan sejumlah penipuan terhadap para muridnya itu. Salah seorang murid Anand, yaitu Krisna Wardhana (35 tahun) bercerita, Lima tahun menjadi siswa Anand, kami banyak diajarkan tentang kejujuran, kepercayaan, kesadaran, kepasrahan diri, dan bagaimana mengantar diri kepada kebaikan. Beliau selalu mengajarkan kami untuk bisnis yang jujur. Tapi, saya malah ditipu olehnya. Saya merasa kecewa dan tertipu (Tabloid NOVA edisi online 30 April 2006).

Ajaran Anand bukanlah sinkretis, tetapi lebih parah, meniadakan Tuhan. Hal ini bisa dilihat dari salah satu bukunya berjudul Surah-surah Terakhir Al-Quranul Karim Bagi Orang Modern, Sebuah Apresiasi_, khususnya di halaman 8, Anand mengatakan: baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut ‘Tuhan’ dan kejahatan dengan apa yang kita sebut ‘Setan’

Jadi, konsepsi ‘Tuhan’ menurut Anand tidak saja lebih rendah dari manusia, karena ‘Tuhan’ dilahirkan melalui sistem kesadaran yang ada di dalam diri manusia, bahkan lebih jauh dari itu, menurut Anand, ‘Tuhan’ itu sejenis atau sederajat dengan ‘setan’ yang juga merupakan ciptaan manusia melalui sistem kesadarannya.

Selain memiliki konsep ketuhanan yang kacau, Anand juga cenderung melecehkan syari’at Islam, misalnya tentang jilbab. Pada buku Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan_ (hal. 20), Anand Krishna tidak saja melecehkan, tetapi menyebutkan bahwa sumber hukum tentang jilbab tidak jelas: saya bertanya pada seorang wanita, mengapa ia selalu menutup lehernya, padahal cuaca di Jakarta cukup panas dan saya melihat bahwa ia sendiri kegerahan_ ‘Mengapa kau tidak buka saja lehermu itu?’ Saya terkejut sekali mendengarkan jawabannya, ‘Cowok-cowok biasanya terangsang melihat leher cewek, itu sebabnya saya menutupinya.’ Ia membenarkan hal itu dengan menggunakan dalil_ Lucu, aneh! Ia diperbudak oleh peraturan-peraturan yang sumbernya pun tidak jelas.”

Banyak yang terpukau dengan celoteh Anand Krishna, namun keterpukauan itu sirna seketika, manakala mereka sudah merasakan betapa pahitnya ditipu Anand. Dan penyesalan biasanya datang terlambat.

Goenawan Mohamad

Taufiq Ismail (penyair terkemuka) pernah mempopulerkan istilah Gerakan Syahwat Merdeka (GSM). Ada yang bilang, GSM itu kependekan dari nama lengkap Goenawan Susatyo Mohamad, teman Gus Dur juga, yang identik dengan Tempo (majalah dan koran).

Goenawan Mohamad memang tidak hanya lekat dengan dunia jurnalistik, tetapi juga dunia sastra dan budaya. Bahkan namanya sangat senyawa dengan nama Utan Kayu. Di Utan Kayu tidak saja bermukim JIL (Jaringan Islam Liberal), tetapi juga komunitas seniman seperti aktivis Teater Utan Kayu, dan Sastrawan Utan Kayu lainnya.

Keprihatinan Taufiq Ismail terhadap lahirnya SMS (sastra mazhab selangkang) yang bersumber dari Komunitas Utan Kayu tadi, melahirkan sebuah akronim GSM (Gerakan Syahwat Merdeka), atau Goenawan Susatyo Mohamad.

Nama Goenawan Mohamad juga menjadi bagian dari hampir tiga ratus nama yang mendukung petisi AKKBB. Dan GM –begitu namanya biasa disingkat– termasuk yang menonjol.

Keprihatinan Taufiq Ismail terhadap keberadaan Gerakan Syahwat Merdeka ini semakin menguat, karena biasanya di negara-negara lain, yang menjadi produsen SMS (sastra mazhab selangkang) adalah sastrawan pria, namun di Indonesia (khususnya di Utan Kayu), yang menonjol adalah sastrawatinya.

Selain mempopulerkan akronim GSM, Taufiq Ismail juga mempopulerkan FAK yang merupakan kependekan dari Fiksi Alat Kelamin. Menurut Taufiq, FAK bagian dari SMS (sastra mazhab selangkang) yang dipelopori oleh seniman asal Utan Kayu, yaitu Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu. Keduanya punya kedekatan dengan Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad juga lekat dengan Koran Tempo. Nah, pasca Insiden Monas 01 Juni 2008, keesokan harinya Koran Tempo memuat sebuah foto yang sangat tendensius. Sebuah foto yang menampilkan Munarman sedang mencekik pria kurus, yang oleh Koran Tempo disebut sebagai anggota AKKBB. Eh, ternyata yang dicekik Munarman adalah anggotanya sendiri, bukan anggota AKKBB sebagaimana hendak di-opini-kan Koran Tempo.

Munarman melakukan itu, dengan maksud mencegah yang bersangkutan dari melakukan tindakan anarkis yang tidak perlu. Dengan demikian, yang ditempuh Koran Tempo itu adalah: Maksud hati mau membentuk opini yang negatif untuk Laskar Islam (dan laskar FPI), malahan muka sendiri yang tercoreng.

Media elektronik dan aktivis AKKB saat diwawancarai juga berusaha membentuk opini, bahwa kekerasan yang dilakukan Laskar Islam pimpinan Munarman telah menjadikan anak-anak sebagai korbannya. Karena, di lapangan terlihat ada seorang bocah yang tersudut di dinding sambil menangis, sebagaimana tertangkap sejumlah kamera teve. Ternyata bocah itu bukan korban, tetapi anak dari salah seorang Laskar Islam yang ikut bapaknya yaitu Ustadz Tubagus Sidik.

Goenawan Mohamad dan Tel Aviv Univercity

Sebelum terkuak kecerobohan-kecerobohan media massa dan kegiatan jurnalistik yang dipimpin Goenawan Mohammad atau yang pro dengannya, masih ada sedikit pengakuan dari aktivis Islam seperti Adian Husaini, ketika Goenawan Mohammad dihadiahi oleh Israel bidang jurnalistik. Kritik Adian bukan tertuju pada jurnalistik ala Goenawam Mohamad tetapi adalah tentang sekularisasi dengan aneka rekayasanya yang digencarkan Goenawan Mohammad. Ada baiknya sekarang Adian Husaini meralat semacam pengakuannya bidang jurnalistik, seni, dan sastra dari Goenawan Mohamad itu, setelah terkuak kasus kecerobohannya sekarang ini yang sampai pada tingkat menjijikkan.

Umat perlu dijelaskan, agar tidak samar lagi tentang kecerobohan-kecerobohannya, karena dalam tulisan Adian Husaini masih ada kalimat (yang bernada positif terhadap jurnalistiknya Goenawan Mohamad): Kita perlu menghormati dan mencermatinya, mengambil sisi positif dari prestasi jurnalistiknya.
Tetapi, pada saat yang sama, juga wajib meluruskan pendapat-pendapatnya yang keliru dan merusak Islam.

Untuk lebih transparannya tentang komentar Adian Husaini terhadap Goenawan Mohamad sebelum terkuak kecerobohannya dan mendapat hadiah dari Israel, berikut ini kami kutip tulisan Adian Husaini seperlunya, di bawah judul Dawam Rahardjo, Goenawan Mohammad, dan Israel:

Yang juga menarik untuk dicermati, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan mengadakan jumpa pers-nya di Utan Kayu 68 H, yang selama ini dikenal sebagai markas kelompok liberal, yang salah satu bos besarnya adalah Goenawan Muhammad.
Dari tempat inilah, gerakan penolakan anti RUU-APP digalang, terutama melalui Radio Utan Kayu. Dalam minggu ini, ada berita yang menarik bagi umat Islam berkaitan dengan Goenawan Mohammad. Yaitu, diberikannya penghargaan ‘Dan David Prize’ oleh Tel Aviv University kepada Goenawan Mohammad.
Seperti dilaporkan sejumlah media massa di Jakarta, pemberian penghargaan yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv (TAU) itu didasarkan kepada aktivitas Goenawan selama 30 tahun terakhir yang memperjuangkan kebebasan pers dan jurnalisme yang independen di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. ( http://www.dandavidprize.com/ )
Seperti telah diberitakan harian lokal Israel, “Haaretz”, edisi 18 April lalu, Goenawan Mohamad akan menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS (sekitar Rp 2,3 milyar).
“Dan David Prize” mulai diberikan pada tahun 2002 kepada para individual dan institusi yang telah memberikan kontribusi unik dan besar dalam sektor kemanusiaan, termasuk di antaranya kontribusi di bidang ilmu pengetahuan alam, seni, dan bisnis dalam tiga dimensi waktu – lampau, kini, dan akan datang.
Penghargaan ini mengambil nama seorang pengusaha Yahudi yaitu Dan David. Penyelenggaraannya dilakukan oleh TAU secara rutin tiap tahun di Tel Aviv. Goenawan telah beberapa kali menerima penghargaan.
Setidaknya pada tahun 1992 ia sempat dianugerahi penghargaan Profesor Teeuw dari Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 1998, ayah dari dua anak ini menerima penghargaan internasional dalam hal Kebebasan Pers dari Komite Pelindung Jurnalis. Setahun kemudian, ia menerima penghargaan dari World Press Review, Amerika Serikat, untuk kategori Editor Internasional. Popularitas GM dalam dunia pers tidaklah diragukan.
Dia telah berjasa melahirkan mengkader banyak jurnalis di Indonesia. Tapi, terlepas dari soal itu, Goenawan juga sukses menggerakkan proses sekularisasi di Indonesia. Dia berperan besar ‘membesarkan’ Abdurrahman Wahid dan Nurcohlis Madjid, sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia.
Seorang sahabat dekat Goenawan pernah bercerita kepada saya, bahwa apa yang Goenawan kerjakan terhadap Ulil Abshar Abdalla saat ini sama dengan apa yang dulu dia kerjakan terhadap Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid pada awal-awal 1970-an. Akhir-akhir ini, Goenawan sering menulis tentang Islam.
Tulisannya tentang RUU APP, yang berjudul ‘RUU Porno: Arab atau Indonesia’, menjadi salah satu inspirasi penting kaum Hindu di Bali dan para penentang RUU APP lainnya dalam menolak keras RUU tersebut.
Dalam perspektif ini, bisa dipahami, bahwa pihak Israel memilih Goenawan sebagai sosok yang layak diberi penghargaan. Liberalisasi Islam di Indonesia berhasil menggerus keimanan kaum Muslim dan dalam jangka panjang, memuluskan pembukaan hubungan Indonesia-Israel. Terlepas dari kualitas teknik jurnalistiknya, bisa dikatakan, Goenawan Mohammad merupakan sosok tokoh pers yang konsisten dalam meliberalkan Islam di Indonesia. Itulah pilihan hidup Goenawan.
Kita perlu menghormati dan mencermatinya, mengambil sisi positif dari prestasi jurnalistiknya.
Tetapi, pada saat yang sama, juga wajib meluruskan pendapat-pendapatnya yang keliru dan merusak Islam.
Bagi kita, amal kita, dan bagi Goenawan amal dia sendiri. Di dunia, Goenawan telah mendapatkan balasannya. Kita sama-sama menunggu balasan di Akhirat nanti. Wallahu a’lam. (Jakarta, 28 April 2006/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini merupakan hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com/

Peringatan Alloh Ta’ala dan kisah durjana sekelompok manusia

Setelah kita menyimak kecerobohan manusia-manusia yang sampai tingkat menjijikkan bahkan merusak kehidupan, maka marilah kita simak peringatan Alloh Ta’ala, kemudian kita simak pula kisah segerombolan orang durjana yang sampai mendatangkan adzab dari Alloh Ta’ala.

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ(21)

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. (QS Ghafir: 21).

Dalam hal dosa-dosa yang sengaja dibuat dan mengakibatkan adzab yang dahsyat, berikut ini satu kisah yang pantas sekali jadi pelajaran.

Ibnu Jarir dan lain-lain dari ulama salaf (generasi Sahabat, Tabi’ien, dan Tabi’ut Tabi’ien) menyebutkan bahwa dua wanita dari kaum Tsamud, salah satunya Shoduq putri Al-Mahya bin Zuhair bin Al-Mukhtar, dia adalah bangsawan dan kaya. Sedang ia di bawah suami yang telah masuk Islam, lalu wanita ini menceraikan suaminya itu. Lalu wanita ini mengundang anak pamannya yang disebut Mashro’ bin Mahraj bin Al-Mahya, dan wanita ini menyodorkan dirinya pada lelaki anak pamannya itu bila ia berani membunuh onta (Nabi Shalih ’alaihis salam).

Wanita lainnya adalah `Unaizah binti Ghanim bin Majlaz dijuluki Ummu ‘Utsman. Dia ini tua dan kafir, punya anak 4 wanita dari suaminya, Dzu’ab bin Amru, salah satu kepala kaum. Lalu si perempuan tua ini menyodorkan ke-4 putrinya kepada Qadar ibn Salif bila ia berani membunuh onta, maka ia akan kebagian putrinya mana saja yang ia ingini. Lalu 2 pemuda (Mashro’ dan Qadar) bersegera untuk membunuh onta itu, dan berusaha mencari teman di dalam kaumnya. Maka 7 orang lainnya merespon ajakannya itu, jadi jumlahnya 9 orang. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ(48)

Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (QS. An-Naml/ 27:48)

Mereka berusaha pada seluruh kabilah itu dan mempropagandakan untuk membunuh onta, lalu mereka menyambutnya dan sepakat untuk membunuh onta itu. Lalu mereka berangkat mengintai onta. Ketika onta itu muncul dari kawanan yang mendatangi air, lalu Mashro’ bersembunyi untuk menyergapnya, lantas melemparkan panah padanya dan menancaplah di tulang kaki onta. Dan datanglah wanita-wanita membujuk kabilah itu untuk membunuh onta, sedang wanita-wanita itu membuka wajah-wajahnya (dari kerudungnya) untuk menyemangati kabilahnya. Lalu Qadar bin Salif mendahului mereka mengeraskan (hantaman) pedangnya atas onta itu maka putuslah urat di atas tumitnya, lalu jatuh tersungkurlah onta itu ke bumi. (Tafsir At-Thabari juz 8 / 227-228, Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir juz 1/ 127, Al-Kamil fit Taariekh Ibnul Atsier juz 1/ 51-52).

Wanita yang menyemangati Mashro’ adalah isteri pemimpin, sedang yang menyemangati Qadar adalah isteri pejabat juga. Adapun Qadar bin Salif sendiri termasuk pemimpin, jadi mereka itu orang elit semua.

Perempuan pertama telah menyodorkan dirinya kepada Mashro’, sedang perempuan kedua menyodorkan puteri-puterinya kepada Qadar. Dan perempuan-perempuan kabilah itu telah keluar dengan membujuk orang-orang agar membunuh onta dengan cara membuka wajah-wajah mereka. Sungguh telah terjadi fitnah wanita itu sebagai jalan masuknya Iblis kepada para pembesar, dan Iblis bersandar bersama mereka untuk membunuh onta yang menjadi ayat Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan kepada nabi-Nya, Shalih ’alaihis salam.

Demikian ini tampak bagi kita, para pembesar (kaum elit) bersepakat, laki-laki maupun perempuan. (Lihat Buku Hartono Ahmad Jaiz, Wanita Antara Jodoh, Poligami, dan Perselingkuhan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007).

Akibat dari kejahatan secara bersekongkol yang ditokohi 9 orang dan disemangati wanita-wanita elit itu maka Alloh Ta’ala menimpakan azab kepada mereka, malapetaka dahsyat berupa sambaran petir yang memusnahkan mereka:

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ(50)فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ(51)فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(52) وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(53)

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (QS An-Naml/ 27: 50).

Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. (QS An-Naml/ 27: 51).

Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. (QS An-Naml/ 27: 52).

Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (QS An-Naml/ 27: 53).

Persekongkolan jahat dengan perbuatan ceroboh telah mengakibatkan adzab yang sangat dahsyat. Semestinya jadi pelajaran berharga bagi kita semua. (haji/tede)