Duh Professor Pembela Ahmadiyah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Yang namanya professor adalah orang yang ahli bahkan guru besar. Modal paling utama adalah akalnya. Ketika bertandang dalam sesuatu perkara, mesti bermodal akal. Karena akalnya sudah diakui hingga mencapai tarap professor, maka gelar itulah yang terpercaya bahwa akan dapat menyelesaikan masalah. Di zaman serba proyek, gelar itu menjadi penting, karena walaupun ahli kalau tanpa gelar maka diperkirakan kurang mendapatkan proyek atau seret.

Lama kelamaan jumlah professor menjadi banyak, walau tidak mudah mencapainya. Sementara itu jumlah proyek pun bertambah jumlahnya maupun jenisnya. Tetapi secara garis besar dapat dikategorikan jadi dua: proyek berumur panjang dan proyek berumur pendek. Tentu saja secara mudah orang akan pilih yang berumur panjang.

Di antara proyek yang berumur panjang itu adalah proyek membela aneka kesesatan. Dijamin –seratus persen secara hawa nafsu— bahwa selama dunia ini tidak ditegakkan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka aneka kesesatan, kemunkaran, kemaksiatan, kepornoan, kedhaliman dan sebagainya akan merupakan proyek yang subur makmur. Dapat dibayangkan, proyek dalam sector negative ini jsutru kemungkinan banyak duitnya, banyak konsumennya, dan kontinyu terus menerus, ajeg. Berbeda dengan proyek-proyek untuk membela agama Allah, maka pekerjaannya berat, bayarannya belum tentu lancar, dan mungkin banyak musuh serta konsumennya sedikit, atau harus benar-benar kerja keras. Sedang bayaran sejatinya baru akan dinikmati setelah mati, kalau memang ikhlas lillahi Ta’ala.

Orang yang pikirannya cerdas dan sikapnya amanah, mestinya justru memilih proyek yang bayarannya besar di akherat, walau mungkin di dunia ini sulit. Tetapi untuk berfikir ke sana, kadang professor-profesor kita pun tidak sanggup. Bukan karena tidak mampu berfikir, namun secara perhitungan akal semata, memang lebih beruntung bila memasuki proyek negative saja, dan menjauh dari proyek pembelaan terhadap agama. Karena di agama dianggap banyak larangan-larangannya. Kalau di proyek negative kan bebas-bebas saja.

Dari pertimbangan yang dangkal semacam ini, lahirlah pemandangan yang aneh sekali, memalukan, bahkan menggerus keimaman. Namun pelakunya justru mungkin bangga. Itu ibarat membuka aurat sendiri di depan umum. Sangat memalukan.

Memalukannya, karena statusnya masih sebagai orang Muslim, namun berdiri tegak di barisan depan untuk membela kekafiran. Ini pada dasarnya bukan sekadar menantang umat Islam, namun adalah menantang Allah Subahanu wa Ta’ala. Karena kekafiran itu jauh lebih tinggi dibanding system ekonomi riba. Sedangkan terhadap pelaku riba saja kalau tak mau berhenti maka sudah dinyatakan perang oleh Allah terhadap pelaku-pelakunya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(278)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ(279)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS Al-Baqarah: 278, 279).

Ahmadiyah jelas kekafiran. Lebih buruk lagi dibanding system riba yang telah Allah nyatakan perang terhadapnya itu. Anehnya ada professor-profesor bahkan dikenal sebagai tokoh di Ormas Islam, tahu-tahu menyeberang pagar dan membela kafirin Ahmadiyah. Padahal yang namanya menyetujui nabi palsu begitu saja sudah murtad, hingga hukumannya bunuh. Bagaimana pula orang yang membelanya?

Kasus nabi palsu Musailamah Al-kaddzab kirim surat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini dapat menjadi pelajaran:

Dua orang utusan (kurir Musailamah) datang kepada beliau (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dengan (membawa) surat (Musailamah).

(Ibnu Ishaq) berkata: Riwayat dari Nu’aim mengatakan, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada kedua kurir itu ketika beliau telah membaca surat itu:

“Apa yang kamu berdua katakan?”

Keduanya menjawab: “Kami berkata seperti apa yang dia (Musailamah) katakan”.

Nabi Muhammad berkata (kepada kedua kurir ini): “Demi Allah, sendainya bukan karena utusan (kurir) itu tidak boleh dibunuh, pasti saya penggal leher kamu berdua!” (Raudhatul Anf, juz 4 halaman 378, lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2008, bab Musailamah Al-Kadzdzab).

Tentang membela nabi palsu, maka dalam hadits, ancamannya di neraka, gigi gerahamnya lebih besar dari Gunung Uhud. Berikut ini riwayatnya:

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

إن فيكم لرجلا ضرسه في النار أعظم من أحد

Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2008, bab Musailamah Al-Kadzdzab).

Membela kekafiran dengan kepala kosong

Lebih buruk lagi, pembelaannya itu masih pula dengan kepala kosong tapi bunyinya nyaring. Ini yang habis-habisan.

Contoh nyata:

Dalam membela Ahmadiyah, ada yang menulis dengan ngawur-ngawuran, misalnya Professor Ahmad Syafii Maarif dengan judul Kekerasan Atas Nama Agama (Republika Selasa 29 April 2008 halaman 12). Bekas ketua umum Muhammadiyah ini tanpa ilmu hadits sama sekali namun berani menulis: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.”

Prof ini sedang tengok kanan tengok kiri lalu berteriak. Sedang teriakannya itu mendustakan agamanya sendiri yaitu Islam, sekaligus juga mendustakan kafirin yang dibela yaitu Ahmadiyah yang nabi palsunya Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Nabi Isa yang turun kembali.

Ketika Syafii tengok kanan, yang dia bantah adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sifatnya mutawatir dalam hal akan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam menjelang qiyamat itu. Ini berarti mendustakan agamanya sendiri.

Ketika tengok kiri, kepada Ahmadiyah, Syafii mendustakan gerombolan kafir yang sedang dia bela. Ungkapan Syafii: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.” itu menghantam pula terhadap Mirza Ghulam Ahmad.

Dari ungkapan itu, secara akal sebenarnya Syafii sedang bentrok sendiri dengan Ahmadiyah. Secara gampangnya, Syafii dapat diucapi oleh pemikiran pelaku pemalsu yakni Mirza Ghulam Ahmad: He Pak Syafii. Bapak ini bagaimana? Lha Mirza Ghulam Ahmad itu sampai bertungkus lumus, bersusah payah menyatakan diri sebagai Nabi Isa yang dijanjikian turun kembali, itu karena memang benar-benar ajaran itu ada, dan itulah ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lha kalau tidak ada, kenapa Mirza Ghulam Ahmad sampai berpayah-payah untuk jadi pemalsu seperti itu. Coba pikir! Sebagaimana orang memalsu duit, itu ya memang duitnya ada dan benar berlaku. Kalau duit yang sudah tak berlaku atau tak ada duit model itu, apa perlu dipalsu?

Di samping itu, ungkapan Syafii itu coba kita tes dengan mafhum mukholafah (pengertian tersirat). Dia katakan: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.” Masalah turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam itu sesuatu yang qoth’I, pasti dalam Islam, sebagaimana akan munculnya Dajjal menjelang qiyamat, dan yang akan membunuh Dajjal itu adalah Nabi Isa alaihis salam. Terhadap Dajjal palsu, seandainya ada di dunia ini Dajjal palsu, ungkapan Syafii itu bunyinya akan menjadi: “jika Dajjal masih harus muncul, berarti misi Iblis gagal.” Whaa…. Dajjal palsu langsung akan mencak-mencak. Bagaimana Bapak Profesor ini. Lha saya ini berpayah-payah memerankan diri sebagai Dajjal (palsu) ini kan karena Dajjal yang asli itu memang benar-benar akan ada. Lha kok malah dianggap tidak ada itu apa nggak keblinger?! Lha Bapak ini sebenarnya membela saya atau membela siapa Pak? Kok jadi bingung!

Ya. Sebenarnya Pak Syafii itu membela Ahmadiyah atau membela siapa?

Kalau membela Islam, perlu memahami dulu bagaimana sebanarnya ajaran Islam tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam.

Ahmad Syafii Maarif perlu pula membaca hadits, di antaranya:

93 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ *

93 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya telah hampir masanya Nabi Isa bin Mariam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah, sehinggalah tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya. (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Hadits-hadits tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam ini tingkatnya mutawatir[1] menurut ahli Hadits seperti Al-Albani, Imam As-Syaukani dan lainnya.

Selanjutnya, mengenai Nabi Isa alaihis salam yang dibantah turunnya lagi oleh Prof Ahmad Syafii Maarif itu sebenarnya bagaimana menurut keterangan para ulama, silahkan membaca judul Turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam Sebelum Qiyamat.


 

[1] Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw oleh beberapa banyak manusia kepada beberapa banyak manusia (tidak mungkin mereka bersepakat bohong) dan seterusnya demikian hingga tercatat, dengan beberapa sanad pula. Hadits mutawatir ini tidak perlu kepada syarat-syarat Hadits Shahih, karena ia dengan sendirinya lebih dapat dipercaya, melebihi Hadits Shahih.

Selain yang mutawatir maka dinamakan Hadits Ahad. Hadits Ahad yang boleh dipakai adalah hadits-hadits yang mencocoki syarat-syarat Hadits Shahih atau pun Hadits Hasan. Syarat Hadits Shahih: seluruh sanadnya terdiri dari rawi-rawi yang muslim, baligh, adil, yang beres hafalannya yang beres catatannya, serta seorang dengan lainnya bertemu dan tidak berlawanan dengan satu Hadits lain yang lebih kuat, terutama tidak berlawalanan dengan ayat atau maksud Al-Qur’an. Hadits Hasan ialah Hadits yang sama seperti Shahih juga tetapi di antara rawi-rawinya ada orang yang ada kesalahannya di dalam urusan Hadits, ada kelalaiannya, ada keragu-raguannya, ada yang menyalahi lain-lain rawi atau ada yang kurang baik hafalannya, tetapi di dalam semua itu, tidak banyak, hanya sedikit-sedikit saja. (Muqaddimah Tarjamah Bulughul Maram, CV Dipo0negoro Bandung, cetakan 8, 1981, halaman 20).