ESQ dan Asmaul Husna

Rabu, 21 Juli, 2010 09:19

Dari:

Kepada: [email protected]

Assalamu`laikum, warahmatullah wabarakatuh.

Berikut sedikit komentar dari saya:

1. Sepertinya, yang dikeluhkan oleh para pengkritik ESQ dalam kaitannya dengan asma Allah itu bukan “peneladanan” (dalam pengertiannya yang positif), melainkan penandingan, peniruan, atau pengambilalihan asma-asma yang mengandung berbagai sifat keagungan itu sedemikian rupa sehingga seseorang diarahkan untuk “bertindak atas nama Allah Yang Maha Mulia dan bertindak sebagai wakil Allah”.

Tentu saja ini bukan perkara yang sederhana. Kalau betul konsep yang diajarkan oleh ESQ adalah seperti itu, maka tentu ini sebuah kesesatan, meskipun tidak segala kesesatan itu membuat pelakunya menjadi keluar dari Islam (sebab ada kasus-kasus di mana pelakunya itu tidak mengerti, salah paham, atau terpaksa, sehingga kesesatannya adalah kesesatan yang tidak berdosa atau tidak menjadi dosa besar karena tidak disengaja).

2. Rasulullah saw bukan tidak punya tuntunan khusus dalam hal ini. Tetapi sebaliknya, beliau sudah memberikan tuntunan yang sangat gamblang, terperinci, serta teraplikasikan secara jelas, yang semuanya menunjukkan dua konsep kunci:

(1) Kaitannya dengan sifat-sifat dan nama-nama Allah, yang harus kita lakukan adalah “tauhid” (pengesaan) dan bukan “syirik” (penyertaan).

(2) Kaitannya dengan amal dan perbuatan kita, yang harus kita lakukan adalah “mengejar kecintaan Allah” dan bukan “menyamai atau menandingi Allah”.

Coba kita perhatikan dan renungkan sampel berikut;

– Dalam Doa Istikharah, yang diajarkan oleh Rasulullah saw selayaknya beliau mengajarkan bacaan ayat Al-Quran, ucapan yang kita nyatakan adalah “fainnaka ta`lamu walaa a`lam, wataqdiru walaa aqdir, wa anta `allaamul ghuyuub”. Kita menyatakan bahwa Allah itu mengetahui sementara kita tidak mengetahui, Allah itu berkuasa sementara kita tidak berkuasa. Adakah ini sesuai dengan konsep “meniru sifat Allah”? Yang ada adalah sebaliknya.

– Dalam Sayyidul Istighfar, yang merupakan penghulu segala istighfar, kita menyatakan bahwa

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِى ، فَاغْفِرْ لِى

“Allaahumma anta rabii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana `abduk .. abuu’u bini`matika `alayyaa wa abuu’u bidzanbii”. Kita menyatakan bahwa Allah itu Rabb (Tuhan Pengatur) dan Ilah (Tuhan Sesembahan) sekaligus Sang Pencipta, sementara kita adalah hamba sahaya. Kita juga menyatakan pengakuan akan besarnya karunia Allah di saat kita justru banyak berdosa dan berbuat salah. Ini jelas pengesaan, dan bukan penyertaan ataupun penyama-nyamaan.

– Dalam doa pagi dan sore kita, kita menyatakan

{ : يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِك أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا إلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِك }

“Ya hayyu ya qayyuum, birahmatika astaghiits, ashlih lii sya’nii kullahu walaa takilnii ilaa nafsii tharfata `ain”. Kita memohon betul kepada Allah untuk memperbaiki diri kita dan tidak memasrahkan pengaturan urusan kita ini kepada diri kita sendiri. Adakah ini sesuai dengan konsep miring yang mendorong manusia untuk menganggap dirinya sebagai “wakil Allah” dan “bertindak atas nama Allah dengan penuh kepercayaan diri”?!

Semua ini menunjukkan bahwa asma-asma dan sifat-sifat Allah tersebut harus kita akui, kita yakini, dan kita esakan sebagai kekhususan Allah Swt semata-mata dan tidak mungkin kita samai. Inilah konsep kunci yang pertama.

Pada aspek yang lain, Rasulullah saw juga memberikan tuntunan kepada kita untuk senantiasa mengejar keridhaan Allah Swt kepada kita, yaitu dengan mengamalkan segala hal yang dicintai oleh-Nya, baik berupa perbuatan, penyikapan, ucapan, maupun keyakinan:

Rasulullah saw bersabda,

إنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Innallaaha jamiilun, yuhibbul jamaal”. Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Dalam hadits yang lain, beliau bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ »

“Innallaaha hayiyyun sittiir, yuhibbul hayaa’a was-sitr”. Allah itu Mahamalu serta Maha Menutupi Aib dan mencintai rasa malu serta sikap menutupi aib. Jelas sekali bahwa perintah untuk menjadi indah, punya rasa malu, dan bersikap menutupi aib sesama muslim ini tidak muncul hanya semata-mata karena Allah itu punya asma dan sifat sedemikian, melainkan karena “Allah menyukainya”. Dengan mengamalkan hal-hal tersebut, Allah akan meridhai kita karena memang Allah mencintai hamba-Nya yang melakukan hal itu.

Jadi alasan seorang muslim mengamalkan hal-hal tersebut bukanlah karena “meniru Allah” atau apalagi “menandingi Allah”, melainkan karena “menaati Allah” dan “mengejar kecintaan Allah”. Ini konsep kunci yang kedua.

Di dalam Al-Quran, konsep ini sangat gamblang terlihat:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [البقرة/195]

“waahsinuu innallaaha yuhibbul muhsiniin” dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ [آل عمران/76]

“…wattaqaa fainnallaaha yuhibbul muttaqiin” (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali `Imran: 76)

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [آل عمران/159]

“fatawakkal `alallaahi innallaaha yuhibbul mutawakkiliin” maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Ali `Imran: 159);

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [المائدة/42]

“fahkum bainahum bil-qisthi innallaaha yuhibbul muqsithiin” maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maidah:42), dst.

Kebaikan dan keadilan itu kita lakukan bukan karena Allah itu Maha Baik dan Maha Adil, melainkan karena Allah menyukai orang-orang yang baik dan adil, sebagaimana ketaqwaan dan ketawakkalan itu kita lakukan juga karena Allah menyukai orang-orang yang demikian meskipun Allah sama sekali tidak bersifat demikian.

Oleh karena itulah, ada sifat-sifat Allah yang Allah tegaskan untuk jangan sampai ditandingi maupun dicontoh dan disamai, semisal sifat takabbur, sifat tajabbur, dan sifat tashawwur. Mengapa? Karena memang Allah tidak menyukai orang-orang mutakabbir, orang-orang yang mutajabbir, dan orang-orang yang berlagak menjadi mushawwir.

3. Permasalahan ini memang permasalahan laten, yang sudah ramai semenjak dulu, semenjak kalangan filsuf helenistik mengemukakan konsep “at-tasyabbuh bil-ilaah” (meniru-niru Allah), semenjak kalangan shufiyah mengemukakan konsep “at-takhalluq biakhlaaqillaah” (berperilaku seperti perilaku Allah), dan memuncak ketika kalangan Wahdatul Wujud mengemukakan konsep “al-fanaa` `an syuhuudis-siwaa” dan “al-fanaa’ `an wujuddis-siwaa” — Na`uudzu billaahi min dzaalik.

Namun, yang perlu disadari di sini adalah bahwa status permasalahan ini sebagai permasalahan laten sama sekali tidak kemudian menjadikannya “tak bermasalah”. Justru kita harus mencegah kesalahan-kesalahan atau kesesatan-kesesatan di masa lampau itu muncul kembali, dan sebisa mungkin kita meluruskannya sehingga menjadi konsep yang tidak menyimpang, yaitu paling tidak menjadi konsep “at-ta`abbud biasmaa’illaahi washifaatih” atau paling iya-nya menjadi konsep “ad-du`aa’ bi asmaa’illaahi washifaatih” sebagaimana ditandaskan oleh Al-Quran.

Wallaahu a`laa wa a`lam wa ajall,

Wanahnu adnaa wa ajhal,

Waminhu nastamiddal-`izzata wabihi na`uudzu minaz-zalal.

Dikutip dari [email protected], dengan sedikit editing, dan diberi teks ayat dan haditsnya. (nahimunkar.com)