ESQ Dinilai Sinkretik

….. apabila benar bahwa ESQ adalah ajaran spiritual yang bersinkretik antara Islam dan NAM (New Age Movement), maka jelas, ajaran ini tidak mungkin mengajarkan adanya hari kiamat dan taqdir.

NAM adalah religi baru yang mengambil sumber filosofi dari berbagai agama lain, terutama agama-agama Timur (Budha, Hindu, Tao, Sinto) bahkan agama-agama pagan timur maupun Amerika Latin.

Memperbaiki buku ESQ (The Emotional and Spiritual Quotient) yang diajarkan Ary Ginanjar Agustian bukan berarti memperbaiki redaksinya, tetapi perlu memperbaiki persoalan keimanan yang paling mendasar terlebih dahulu. Saya lebih cenderung menyarankan sekolah-sekolah dan orang tua lebih kritis dalam menghadapi tawaran ini. Apa kurangnya pengajaran agama Islam kita dalam memberikan dasar-dasar keimanan dan moral? 
Demikian di antara isi saran mengenai kasus ESQ yang kemudian dimuat di milis dan kemudian diforward pula ke milis lainnya.

Beberapa waktu lalu ESQ pun gencar diberitakan penyimpangan dan kesesatannya yang sangat mendasar, di antaranya sebagai berikut:

Ajaran ESQ Sesat dan Menyesatkan

The Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) yang diajarkan Ary Ginanjar Agustian selama 10 tahun belakangan ini ternyata sesat dan menyesatkan. Pasalnya, training ESQ yang sudah diikuti lebih dari 850.000 orang di Indonesia, Malaysia, Australia, Belanda dan AS dengan biaya amat mahal itu, ternyata mengandung ajaran sinkretisme, liberalisme, pluralisme dan dapat menjadikan zindiq dan kufur.

Maka benarlah apa yang dikatakan Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi Bin Wah Teh, yang melarang ajaran ESQ Ary dikembangkan di Kuala Lumpur, Putra Jaya dan Labuan Malaysia, karena dianggap sesat dan menyimpang dari aqidah Islam.

Demikian antara lain kesimpulan dari diskusi Forum Komunikasi Sosial dan Kemasyarakatan (FKSK) ke 58 yang diadakan di Gedung Intiland, Jakarta, Kamis (29/7). Turut berbicara KH Amin Djamaluddin (Direktur LPPI), KH Anwar Ibrahim (Ketua Komisi Fatwa MUI), Bernard Abdul Jabbar (Mantan Missionaris Kristen) dan KH Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI). Sedangkan Ary Ginanjar Agustian (Presdir ESQ Leadership Centre) yang sudah berkali-kali menyatakan bersedia hadir ternyata mengingkari janji dengan dalih ada undangan ke Malaysia. (Abdul Halim), Suaraislam online, Jum’at, 30 Jul 2010


Sampai sekarang pun masalah kesesatan dan penyimpangan ESQ Ary Ginanjar itu masih dipersoalkan dan diperbincangkan di milis-milis, di antaranya kami copas dari satu milis sebagai berikut:

ESQ memang perlu dikaji kembali (u/pak Satriyo)

Senin, 10 Januari, 2011 23:55

Dari:

“Satriyo” <[email protected]>

Kepada:

[email protected], [email protected]

assalaamu ‘alaikum, Bu Julia, warahmatullaahi wabarakaatuh,

terima kasih saya haturkan atas ulasannya. insyaallaah akan saya tanggapi setelah saya benar-benar pahami masukan dari ibu ini. sementara ini, saya berharap agar ibu berkesempatan untuk dapat mengikuti 4 level pelatihan ESQ 165 ArGA (Ary Ginandjar Agustian) yang saya kira berisi hal hal yang tidak kita jumpai pada semua buku-buku ESQ terutama “buku pegangan” ESQ untuk awam yaitu “ESQ power” dan “ESQ Kecerdasan Emosi dan Spiritual” — ulasan buku terakhir ini antara lain ada di http://www.majalahalfurqon.com/index.php/kitab/146-esq — karena memang tidak semua isi buku2 itu tertuang atau ditemukan dalam pelatihan ESQ.

sekali lagi terima kasih bu, dan do keep in touch! Tot ziens …! 🙂

salam,

rsa

———- Forwarded message ———-
From: Julia Maria van Tiel <
[email protected]>
Date: 2011/1/11
Subject: [sd-islam] ESQ memang perlu dikaji kembali (u/pak Satriyo)
To:
[email protected]

Pak Satriyo YTH,

Sesuai dengan janji saya untuk mengomentari tentang ESQ pada Pak Satriyo beberapa waktu lalu. Saya membaca lampiran yang diberikan Pak Satriyo http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/27732 tentang ESQ Ary Ginanjar, rasanya saya masih harus membaca buku yang memang dikeluarkan oleh lembaga ESQ itu sendiri. Karena nampaknya apa yang diuraikan dalam artikel itu bagi saya bukannya tidak jelas, namun terlalu sepotong-sepotong dalam melihat persoalannya. Sehingga saya berusaha mencari bukunya tetapi hanya mendapatkan buku ESQ for Teens 3 – personal strength & social strength with 5 action. Ditulis oleh Ary Ginanjar Agustian dan Ridwan Mukri, penerbit Arga Publishing – Pondok Pinang Jakarta, cet. pertama tahun terbit 2008.

Butir-butir isi dalam buku di atas sama dengan artikel yang anda kirim, namun penjelasannya lebih lengkap sehingga nampak benang merah ke mana arahnya kegiatan ini. Beberapa hal yang menurut saya memang fatal menjadikan bahwa ESQ justru merupakan sinkretik antara agama Islam dan New Age adalah pada penjelasan-penjelasan yang diutarakan dalam buku ESQ for Teens tersebut.

New Age Movement

Sebelum kita membahas ESQ itu, mungkin kita pahami dahulu apa itu New Age Movement (NAM).
NAM pada dasarnya tidak mempercayai Tuhan yang personal, tetapi Tuhan sebagai wujud yang impersonal berupa kekuatan atau energy spiritual yang ada dalam diri manusia. Energy spiritual ini dipercaya oleh kelompok NAM bahwa setiap orang sudah memilikinya, sebagai potensi, yang bisa ditingkatkan menjadi kekuatan luar biasa. Dalam bahasan-bahasan NAM sering disebut sebagai universe wisdom. Coba Anda pelajari lagi dari film Eat Pray and Love[1]. Film ini merupakan film pengajaran NAM. Eat Pray & Love, merupakan perwujudan dari tiga kesatuan body, mind & soul yang harus dalam keadaan harmonis. Dalam film itu diceritakan bahwa Liz ke India untuk mengosongkan segala persoalan berupa rasa benci, rasa bersalah, dan seterusnya yang merupakan energy negatip. Jika kita dapat mampu membersihkan diri maka universe wisdom itu dapat berkembang dalam diri kita, dan dengan begitu kita akan menemukan Tuhan (yang dalam bentuk energy spiritual) dalam diri kita. Dengan demikian manusia tidak lagi akan berbuat kesalahan dan dosa, dan semua manusia adalah Tuhan.[2]

Untuk selanjutnya energy spiritual ini harus ditingkatkan, caranya adalah dengan cara meditasi, relaksasi meningkatkan konsentrasi, dan kontempelasi (visualisasi) dengan begitu energy ini akan meningkat terus hingga berkemampuan luar biasa.
Pada NAM yang sinkretik dengan ajaran katolik percaya bahwa kita bisa mencapai kemampuan seperti Jesus, dan manusia akan menjadi the light itu sendiri. Anda bisa baca buku The Third Jesus dari Deepak Chopra. Saya lihat bukunya juga dijual di Indonesia yaitu di toko buku Aksara, Cilandak town square (citos). Atau buku The Secret yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dan banyak dijual di toko buku di Indonesia. Begitu menariknya meningkatkan energy spiritual ini, tidak heran pula sampai ada training-training motivasi yang mengatakan kita bisa menjadi pandai luar biasa, menjadi pebisnis tangguh, dan menjadi kaya. Mereka juga mempercayai bahwa orang-orang besar seperti Nabi, orang-orang jenius seperti Einstein, Thomas Alfa Edison dan lain-lain bahkan Barak Obama adalah orang-orang yang melakukan ritual meningkatkan energy spiritual (hal ini yang menjadikan bentrok dengan agama Samawi yang mempercayai bahwa Nabi dan Rasul adalah karena pilihan Tuhan bukan melalui pelatihan motivasi).

Kalau kita membaca buku-buku NAM, sering kita juga menemukan istilah forgiveness, yang merupakan upacara atau ritual inisiasi agar kita bisa mampu masuk dalam dunia spiritual ini.
Dalam NAM ritual ini merupakan ritual pertama dan harus dijalankan oleh mereka yang masuk dalam kelompok ini.
Dalam buku ESQ disebutnya sebagai zero mind process.
(Pada inisiasi Reiki adalah membuka mata ketiga. Pada dasarnya NAM ini merupakan agama baru pengembangannya mengambil dari filsafat agama-gama Timur).

Proses inisiasi ini juga dalam NAM dikenal sebagai proses memerdekakan diri sendiri “celebration of the self”. Untuk hal ini anda dapat membacanya dalam buku New Age Movement, religion and culture in the age of postmodernity (Paul Helaas, 1998) yang adalah buku sosiologi.

Agama-agama samawi yang mempercayai Tuhan yang personal di atas segala-galanya pencipta alam raya, yang bersinkretik dengan religi NAM akan menunjukkan sebuah gambaran dimana seolah nampaknya pada awalnya ia mempercayai Tuhan yang personal, namun kemudian dalam berbagai ritualnya menujukan diri pada kekuatan Tuhan yang impersonal. Pada akhirnya yang menjadi lebih penting adalah Tuhan yang impersonal. Disinilah yang perlu kita amati secara lebih cermat.

Buku-buku NAM ini rupanya sudah banyak sekali dijual terutama di toko buku Gramedia. Bahkan dalam sebuah rak katolik saya dapatkan sebuah buku berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia dengan judul The Power of Blessing.
Umumnya buku-buku NAM kini menggunakan ikon otak dan brain power, yang merupakan adaptasi NAM dengan neuroscience, terutama diadopsinya God Spot sejak tahun 1997.

Apabila kita menelaah sebuah buku “agama” akan sulit bagi kita melihat kemana arah ajaran buku itu, jika kita tidak mengenal ciri-ciri NAM terlebih dahulu. Apalagi NAM ini sekarang sedang marak dan masuk ke segala agama, dunia pendidikan, dunia ekonomi, dunia kesehatan, dunia ilmiah, bahkan film, musik, dan games. Umumnya mengaku ilmiah padahal ilmiah semu. Contoh yang tengah marak di segala penjuru dunia: gelang Power balance yang sebetulnya boleh dikata jimat – bentuk kepercayaan yang beradaptasi dengan pengetahuan (common sense) tentang energy tubuh yang bisa ditingkatkan melalui gelombang magnit. Atau aktivasi otak tengah menjadikan anak menjadi jenius. Hasilnya dipercaya oleh mereka si anak bisa membaca dengan mata tertutup.

Bila saya amati antara di belahan Eropa dan Indonesia, NAM di Indonesia tidak mau berterus terang, bahkan mengakui Tuhan yang personal, tetapi dalam prakteknya melakukan praktek-praktek NAM. Jelas disini warna sinkretik di Indonesia lebih pekat. Bisa kita pahami karena umumnya masyarakat Indonesia masih sangat religius. Disamping itu belum ada buku yang dapat dijadikan sebagai pegangan tentang pandangan Islam terhadap New Age Movement. Sehingga jika kita menelaah buku “agama” tersebut yang terasa hanya, penyampaian yang berbeda, dan lebih moderen. Karena seolah berisi ilmu-ilmu psikologi dan neuroscience. Apalagi selalu mengklaim ilmiah.
Sementara itu Vatikan sudah membuat pernyataan terhadap NAM sejak beberapa tahun lalu. Pernyataan Vatikan dapat kita lihat dalam situs ini:
http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/interelg/documents/rc_pc_interelg_doc_20030203_new-age_en.html
Kekosongan dari dunia Islam ini akan menyebabkan mudahnya masuk paham NAM ke dalam pengajaran-pengajaran agama Islam, yang tanpa terasa bisa diterima dengan mudah oleh mereka yang memang dasar-dasar pemahaman Islamnya masih sederhana atau generasi yang masih sangat muda dimana perkembangan kognitif dalam kemampuan analisa juga masih sederhana.

Model ESQ

Model ESQ Ary Ginanjar merupakan bentuk model inti atom yang bergerak berputar-putar. Kita bisa lihat gambar seperti ini dalam pembahasan ilmu fisika yang membahas fisika kuantum. Fisika kuantum menjadi pembicaraan dalam dunia spiritual, diawali oleh Carl Jung yang mengambil teori fisika kuantum dari fisikawan Wolfgang Pauli. Sekalipun demikian, Wolfgang Pauli sudah membantah bahwa menjelaskan dunia spiritualitas dengan teori fisika kuantum adalah tidak mungkin, sebab dunia spiritualitas tidak dapat diukur dan dihitung dengan matematika. Namun fisika kuantum dalam spiritualitas yang penjelasannya menjadi psedo-ilmiah ini tetap digunakan oleh kelompok spiritualitas terutama NAM hanya untuk memperlihatkan (mengklaim) bahwa NAM dilandasi oleh pemikiran ilmiah (padahal tidak benar).

Model ESQ Ary Ginanjar mempunyai pusat yang ia sebut sebagai God Spot. Dan God Spot dijelaskan olehnya merupakan hati nurani, suara hati Ilahiah,
di bagian lain ia juga menjelaskan tempatnya di otak. Dalam buku ESQ for Teens dijelaskan bahwa pusat ini merupakan pusat energy spiritual (hal 15 – 17).
Dalam buku tersebut dijelaskan God Spot diibaratkan sebagai inti atom dikelilingi oleh elektrone yang berpendar-pendar, yaitu rukun iman dan rukun islam. Kelak di akhir buku, dijelaskan bahwa dalam ibadah naik haji, saat melakukan upacara tawaf, bentuk tawaf ini merupakan perwujudan dari modelnya, yaitu pusat energy spiritual (Ka’bah) dan manusia yang mengelilinginya sebagai elektrone yang berpendar-pendar. Upacara ini merupakan upacara memperkuat energy spiritual, atau God Spot yang ada pada setiap manusia. Naik haji dijelaskan merupakan penutupan dari segala ritual (total aplication). Artinya ESQ mempunyai ritual meningkatkan energy spiritual (God Spot) – ritualnya mulai dari inisiasi di tempat masing-masing hingga penutupannya di Mekkah.

Energy spiritual yang dahsyat ini dijelaskan dapat berubah bentuk menjadi energy lain, yaitu dalam bentuk implementasi suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna.

Hal 106 menjelaskan bahwa God Spot adalah kejernihan hati yang merupakan sumber-sumber suara Ilahiah yang selalu memberikan bimbingan dan informasi-informasi penting untuk keberhasilan dan kemajuannya. Bila kita kembali menilik pengajaran Islam tentunya pendapat ini akan berbenturan dengan pemahaman Islam dimana informasi dan bimbingan adalah bersumber dari Qurán dan hadist.

Penjelasan tentang sejarah God Spot saya letakkan disini:
http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/24/god-spot-ary-ginanjar-dan-new-age-movement/

Tentang NAM saya letakkan disini:
http://gifted-disinkroni.com/NEW_AGE_MOVEMENT.pdf

Rukun Iman yang diartikan sebagai prinsip moral dalam ESQ, bagi saya sungguh sangat menarik untuk dikaji.

Rukun Iman pertama yaitu percaya kepada Tuhan pencipta alam raya, direinterpretasi sebagai Prinsip Bintang atau spiritual commitment (hal 13 ESQ for Teens). Penjelasan selanjutnya dalam penguraian rukun Islam, yaitu mengucapkan syahadat dijelaskan sebagai proklamasi kemerdekaan sebagai manusia ( hal 47), yang diartikan terbebas dari belenggu penjajahan teman, sahabat, pacar, geng, uang, dan kepentingan lainnya di dunia. Di tempat lain berkali-kali dijelaskan bahwa kita harus mendengarkan suara hati sebagai visi dan misi kita, bukan mendengarkan orang lain. Pada hal 37 juga dijelaskan bahwa apabila keyakinan bersyahadat telah ditanamkan kuat-kuat maka keyakinan itu akan menjadi kekuatan super dahsyat yang bisa mendorong untuk bergerak mencapai visi dan cita-cita. Pada hal 47, 52, 56, dan hal 77 dijelaskan bahwa kekuatan super dahsyat dari hati nurani ini karena semua manusia sejak lahir mempunyai 99 sifat-sifat Tuhan atau Asmaul Husna yang ditiupkan Tuhan ke dalam hati setiap manusia (artinya disini setiap manusia mempunyai potensi mempunyai kekuatan luar biasa yang belum kita bangkitkan). Pendapat seperti ini perlu pengkajian kembali dengan merujuk ajaran Islam. Benarkah setiap manusia sudah memimiliki Asmaul Husna? Dalam ajaran Islam, bisakah jika meningkatkan kekuatan (Asmaul Husna) dalam diri kita menjadi kekuatan luar biasa dahsyat (dalam hal ini ESQ tidak menjelaskan kekuatan itu sampai seberapa besar, hanya saja kita akan mampu mengimplementasikan Asmaul Husna tersebut). Bila merujuk ajaran Islam, dapatkah energy spiritual super dahsyat tersebut berubah menjadi energy lain yaitu berupa implementasi Asmaul Husna? Bila merujuk NAM, memang benar, bahwa NAM mempercayai setiap manusia mempunyai potensi kekuatan luar biasa yang masih tidur, yang dapat ditingkatkan menjadi kekuatan luar biasa bahkan bisa seperti Nabi, Jesus, atau bahkan melebihinya karena percaya bahwa manusia bisa bersatu dengan kekuatan alam.

Apabila kunci keimanan percaya kepada Tuhan pencipta alam raya (sebagai Tuhan yang personal di luar diri manusia) diubah pemahamannya ke arah sebagai kekuatan dahsyat yang berada dalam diri manusia (dinamai hati nurani ataupun God Spot) dan harus dipercayai kebenarannya mutlak karena sudah diidentikkan mempunyai kebenaran Tuhan bersumber dari Asmaul Husna, menurut saya jelas ESQ ini sudah mengajak kita ke arah bentuk religi lain, yaitu NAM. Terlebih lagi jika rukun keimanan dimana kita perlu bersaksi bahwa kita percaya adanya malaikat dan para nabi, namun direinterpretasi bahwa kita bisa juga mempunyai karakter seperti malaikat dan nabi.

Dalam ESQ, bagaimana membangkitkan kekuatan super dahsyat ini adalah dengan senantiasa menjaga God Spot dengan cara menjalankan ritual-ritual selanjutnya yaitu setelah mengucapkan syahadat kemudian menjalankan rukun Islam menjalankan shalat, berpuasa, berzakat, dan naik haji. Namun dalam penjelasannya perlu kita telaah lebih mendalam, sebab nampaknya penjelasannya menjadi lebih luas dari pada akidah yang diajarkan Islam. Hal ini karena ESQ juga menggunakan acuan buku-buku New Age Movement seperti bukunya Danah Zohar, dan Stephen Covey. Juga buku dari spiritualis Ralp Waldo Emerson yang mengajarkan transendental. Apalagi pelatihan ini ditujukan pada generasi muda yang jelas mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan di masa yang akan datang. Motivasi ekstrim seperti halnya memotivasi mempunyai kekuatan luar biasa dan dahsyat melebihi kekuatan manusia biasa tanpa memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan; tidak bisa tunduk pada kekuatan apapun kecuali hati nuraninya dengan kebenarannya yang mutlak, apalagi selalu ditekankan jangan mendengarkan orang lain tetapi dengarkan suara hati, semuanya ini tentu bisa mendatangkan kesalahan pada pemahaman konsep diri yang dapat membawa pada masalah gangguan mental dan perilaku. Para psikolog dan psikiater perlu melakukan survei atau mengamati pasien-pasiennya apakah latar belakang gangguan mental dan perilakunya disebabkan karena mengikuti training motivasi ini.
Survey yang dilakukan di US menunjukkan 1 dari 6 penderita masalah psikiatri disebabkan oleh praktek spiritual, karena itu dalam butir manual diagnosis gangguan mental dari APA (DSM IV 1994), dan WHO (ICD-10) masalah gangguan psikiatri akibat praktek spiritual ekstrim ini sudah dimasukkan. Penjelasannya saya letakkan disini http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/09/24/jika-megalomania-sudah-menjadi-kehidupan-normal-cara-pikir-ribet/

Para penderita gangguan jiwa ini umumnya mempunyai masalah pada rasionalitas yang hilang, pemikirannya tidak rasional lagi. Ia lebih mengutamakan imajinasinya yang dianggapnya benar, padahal secara realita tidak benar.

Jika kita telusuri buku ESQ for Teens ada bagian-bagian yang menjelaskan bahwa EQ jauh lebih penting dari pada IQ, dengan mengatakan bahwa kunci keberhasilan bukanlah IQ tetapi EQ (hal 58). Pernyataan ini nampak tidak konsisten dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang selalu mengatakan bahwa mengutamakan keseimbangan. Bahkan pada halaman 93 dijelaskan bahwa body-mind-soul harus bersinergi menjadi satu kesatuan dan berintegrasi dalam shalat. Dalam halaman-halaman lainnya, ESQ juga menjelaskan tentang prinsip keseimbangan dan keharmonisan. Hal 141, diartikan sebagai berhati emas, bermental baja, dan berfisik besi.
Menjadi pertanyaan, apakah dalam ajaran Islam juga diajarkan tentang keseimbangan body-mind and soul? Saya lebih banyak mendapatkan tentang ajaran ini adalah dalam buku-buku ajar NAM (bisa lihat juga dalam film Eat Pray & Love).

Kontempelasi atau creative imagination

Istilah kontemplasi sering kita temui dalam mistik agama kristen dalam biara, yaitu melakukan doa meditasi dengan konsentrasi tinggi untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Sementara itu kita juga dapat menemukannya dalam ritual NAM – biasanya juga disebut sebagai creative imagination, yang berbeda tujuannya dengan kontempelasi dalam kristen. Dalam NAM , kontempelasi adalah ritual melakukan meditasi dengan konsentrasi tinggi dan berimajinasi dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai (dalam hal ini NAM tidak mempercayai adanya Tuhan yang personal di luar dirinya, tetapi Tuhan sudah ada di dalam dirinya, dan dirinya adalah Tuhan itu sendiri). ESQ mengajarkan untuk hanya menyembah Allah tetapi juga mengajarkan bahwa syahadat adalah proklamasi pembebasan diri, dan pada hal 42 dijelaskan bahwa secara ilmiah (ilmiah yang mana? badan keilmuan apa?) penetapan misi melalui syahadat akan menciptakan imajinasi berbentuk visual yang akhirnya akan menghasilkan dorongan serta kekuatan untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan apa? Keberasilan mencapai cita-cita yang diinginkan, pengimplementasi Asmaul Husna.

Bagi seseorang yang kritis, jelas ajaran ini bisa menyebabkan kefrustrasian, bagaimana caranya mencapai suatu tujuan kepemimpinan yang dijanjikan oleh ESQ? Sebab, dalam beberapa ajarannya, diajarkan keseimbangan antara body-mind-soul, keharmonisan antara IQ, EQ,SQ, tetapi juga dikatakan bahwa EQ lebih penting daripada IQ. Mengajarkan keseimbangan IQ, EQ, SQ tetapi lebih pekat pengajaran spiritual demi mencapai tujuan dengan cara meningkatkan energy spiritual dari God Spot. Caranya dengan melakukan ritual-ritual yang dijadikan oleh ESQ sebagai ritual kontempelasi dan visualisasi, yaitu pada saat mengucapkan syahadat, berwudhu, shalat, dan naik haji. Akhirnya yang didapatkan adalah pengajaran pembangunan karakter dahsyat Asmaul Husna.

Wudhu diajarkan sebagai pensucian diri, karena, dijelaskan pada halaman 81, bahwa suara hati kita yang berada dalam God Spot sering tertutup dan terbelenggu. Dengan wudhu terjadilah proses penjernihan emosi, yang kemudian oleh ESQ disebutnya sebagai Zero Mind Process. ZMP ini sangat penting karena sebagai proses inisiasi yang membuka hati kita menerima keimanan, untuk kemudian menuju ritual berikutnya.

Ibadah shalat 5 waktu diajarkan sebagai ritual kontempelasi dan meningkatkan energy spritual yang dahsyat, dijelaskan dalam halaman 49 dan seterusnya. Peningkatan ini digambarkan sebagai berikut: pada waktu menjalankan ibadah shalat, maka kita akan berulang-ulang mengucapkan kalimat-kalimat syahadat, dijelaskan bahwa artinya kita disini melakukan repetition magic power (yang diadopsinya dari Jepang – pola memotivasi orang agar menjadi juara). Dengan melakukan repetition magic power kalimat syahadat dalam ibadah shalat ini, maka kita akan mendapatkan energy spiritual dahsyat yang setiap hari akan semakin meningkat sesuai dengan semakin banyaknya jumlah shalat yang kita kerjakan. Menjadi pertanyaan saya, apakah kemudian dalam hal ini, kalimat syahadat menjadi sebuah mantra yang jika diulang-ulang akan menghasilkan energy spiritual yang semakin banyak diucapkan energynya semakin luar biasa?

Sinchronity dan menjadi the light

Istilah synchronity dalam NAM diambil dari pemikiran Jung yang melihat bahwa ada kesamaan spiritualitas antar kelompok masyarakat. Kesamaan ini kemudian ia namai sebagai sinchronity. Sinchronity dalam NAM mempunyai arti yang penting dalam rangka mencapai kedamaian dunia. Dengan adanya synchronity maka kehidupan menjadi harmonis. Misalkan dalam film Eat Pray & Love, digambarkan sebagai adanya ketidak-harmonisan hubungan suami istri bahkan orangtua-anak disebabkan karena tidak adanya synchronity diantara mereka. Seperti yang digambarkan dalam film itu synchronity dalam NAM disimbolkan dengan jabat tangan. Maka ikon yang digunakan dalam NAM menuju keharmonisan dunia atau the new world order adalah tangan saling berjabatan dan memeluk bola dunia. New world order dibawah kepemimpinan NAM.

Dalam NAM seseorang yang sudah mempunyai tingkatan spiritual yang baik akan menjadi the light atau pencerah yang lain. Dengan demikian synchronity akan lebih cepat tercapai.

Dalam buku ESQ for Teens saya mendapatkan penjelasan ini di halaman 145, yaitu tentang rukun Iman[3] keempat – zakat yang oleh ESQ disebutnya sebagai strategic collaboration. Zakat dalam ESQ diartikan dengan pengertian yang luas, yaitu berzakat spiritual. Jelas, pengajaran Islam dalam ESQ sudah melenceng dari rukun Islam itu sendiri dimana zakat adalah kewajiban umat Islam untuk membayarkan hartanya. Pada ESQ rukun Iman berzakat direinterpretasi sebagai syering spiritual, dan membimbing orang lain dengan spiritual yang telah dibangunnya. Ia menjadi the light atau pencerah bagi orang lain.

Perubahan paradigma dan transformasi sosial

Suatu proses perubahan dalam NAM disebutnya melalui transformasi paradigma. Tentang hal ini bisa kita baca dalam buku The Aquarian conspiracy dari Merilyn Ferguson. Disana dijelaskan bahwa isi dunia ini bisa menuju yang NAM cita-citakan menjadi the new world order jika ada perubahan paradigma pada setiap individu yang dimulai dari perubahan paradigma ditingkat otak (pikiran) kemudian di tingkat spiritual. Apabila terjadi perubahan yang disebutnya transformasi paradigma ditingkat individu, maka dengan demikian akan terjadilah transformasi sosial di seluruh dunia. Transformasi sosial inilah yang merupakan cita-cita dari NAM.

Dengan menggunakan buku acuan dari Covey yang memang dikenal sebagai motivator NAM (penjelasan tentang perubahan paradigma Covey sebagai tujuan NAM bisa dibaca disini:http://www.apologeticsindex.org/c12.html atau http://www.wfial.org/index.cfm?fuseaction=arcVanArc11198.pg5), ESQ secara samar-samar menjelaskan persoalan transformasi sosial dan perubahan paradigma di halaman 210 dan selanjutnya.

Tidak percaya adanya takdir dan hari kiamat

NAM tidak mempercayai takdir sebab masa depan adalah di tangan kita sendiri, kita yang menentukan masa depan ini. Sebab, setiap manusia yang sudah mampu mempunyai energy spiritual tinggi, akan mempunyai Tuhan di dalam dirinya, yaitu universe wisdom yang kebenarannya dianggap mutlak.
Kematian bukanlah berhenti hidup, tetapi kita hanya berganti materi. Dunia hanyalah hologram dari interseksi atom. Dasar penjelasannya yang digunakan adalah melalui penjelasan fisika kuantum yang diadopsi dari ilmu fisika moderen.

Dalam halaman 14 buku ESQ for teens ke 3, butir kelima yang merupakan butir rukun Iman kelima yaitu mempercayai hari kiamat, oleh ESQ diubah dan dijadikan prinsip masa depan, atau vision principle berupa spiritual vision. Dalam penjelasan-penjelasannya pada akhirnya rukun iman tentang percaya pada hari kiamat tak pernah disentuh, tetapi justru penjelasan misalnya halaman 100, rukun iman ini berubah menjadi bahwa shalat[4] akan membawa kita pada imajinasi atau visualisasi cita-cita kita di masa depan. Semakin kuat visuaslisasi itu maka semakin besar pula energy yang dihasilkan, yang akan membawa masa depan kita yang baik.

Sedangkan butir ke enam yang merupakan rukun Iman ke enam dari percaya pada takdir diubah menjadi prinsip keteraturan. Seperti halnya dengan penjelasan pada rukun Iman kelima, rukun Iman keenam tentang takdir ini juga tidak pernah disinggung, tetapi berganti dengan penjelasan-penjelasan tentang kedisiplinan.

Perubahan-perubahan ini dapat kita pahami jika kita mengacu pada pemahaman NAM, karena NAM memang tidak mengenal adanya hari kiamat dan taqdir. Sehingga apabila benar bahwa ESQ adalah ajaran spiritual yang bersinkretik antara Islam dan NAM, maka jelas, ajaran ini tidak mungkin mengajarkan adanya hari kiamat dan taqdir.

Semua agama equal

NAM adalah religi baru yang mengambil sumber filosofi dari berbagai agama lain, terutama agama-agama Timur (Budha, Hindu, Tao, Sinto) bahkan agama-agama pagan timur maupun Amerika Latin. NAM sering menyebutnya sebagai agama alam, jadi tidak heran jika kita melihat berbagai film-film pengajaran NAM, mereka menggunakan latar belakang alam raya. Bahkan meditasi lebih dianjurkan di hutan, di tepi laut, tepi sawah, atau di pegunungan.
Selain NAM menggunakan berbagai sumber agama, ia juga menggunakan berbagai sumber ilmu pengetahuan, budaya, bahkan astrologi sekalipun. Disamping juga bisa bersinkretik dengan agama apapun. Karena itu kita dapat melihat NAM dalam bentuk yang warna-warni, dan tidak mempunyai payung organisasi. Masing-masing bergerak sendiri-sendiri dengan misi dan visinya (pendidikan, kesehatan, ekonomi).
Dengan karakter yang demikian, maka NAM terbuka untuk segala agama dan kalangan. Karena itu dalam filsafatnya NAM menganggap semua agama adalah equal dan bisa bergabung ataupun menganut ajaran NAM. Tentang hal ini dapat dilihat dalam video ini.
http://www.youtube.com/watch?v=hXuLtp40bXU

Jika kita mengamati kegiatan ESQ, sekalipun ESQ banyak memberikan tuntunan dalam agama Islam, namun ia terbuka bagi siapa saja, dan mengganggap semua agama adalah sama. ESQ sebagaimana tujuan lembaganya, adalah bukan lembaga dakwah Islam, tetapi lembaga training motivasi bisa diikuti oleh siapa saja, tetapi isinya persoalan spiritual dan agama Islam.

Tidak mengenal jin dan syetan, tetapi energy negatip

NAM tidak mengenal jin, syetan maupun mahluk halus lainnya yang dalam agama Islam merupakan tokoh-tokoh penjerumus masuk neraka. Segala sesuatu yang buruk atau yang dapat memberikan efek buruk pada manusia disebut energy negatip. Seperti merasa bersalah, merasa berdosa, marah, benci, dengki, dan sebagainya. Karena itu bentuk energy negatip ini harus dihindari. Sebaliknya apabila seseorang sudah mempunyai jiwa yang bersih, dan mampu mengembangkan sifat-sifat positip maka manusia tidak lagi mempunyai sifat-sifat yang buruk. Kepercayaan seperti ini tentu bertentangan dengan temuan-temuan ilmiah pada perkembangan perilaku manusia, baik psikologi, psikiatri, dan pedagogi. Karena pada dasarnya manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan, bahkan dalam ilmu kedokteran psikiatri dan neurologi dikenal adanya orang-orang yang mempunyai gangguan perilaku dan mental akibat masalah perkembangan neurologisnya diluar kuasa dirinya. Dengan demikian NAM telah menisbikan keanekaragaam anak yang lahir.

Bila kita menelaah buku ESQ for teens, kita juga tidak akan menemukan ajaran-ajaran tentang adanya syetan dan jin ini. Yang ada adalah ajaran tentang energy negatip yang harus disingkirkan, dan meningkatkan energy positip yaitu energy spiritual yang dipercayanya sudah ada di dalam setiap diri manusia berupa Asmaul Husna.

Tidak mengenal dosa dan pahala, baik dan buruk.

NAM memang tidak mengenal dosa dan pahala, ia lebih mengenal adanya karma yang diadopsinya dari agama Hindu.
Manusia yang sudah diaktivasi universe wisdom dan mengenal Tuhan ada dalam dirinya dipercaya tidak akan berbuat dosa – karena sifat-sifat universe wisdom dipercaya adalah sifat-sifat luhur. Sehingga yang ada bukan baik dan buruk, dosa dan pahala, tetapi relatif tergantung dari tinggi rendahnya energy spiritual yang dimilikinya.

Dosa dan merasa berdosa adalah energy negatip yang dapat merusak energy positip – karena itu merasa berdosa ini harus dihindari. Bila kita telaah dalam buku ESQ for Teens ini memang ESQ tidak mengajarkan mana dosa dan mana pahala. Justru mengajarkan agar menghindari merasa berdosa. Misalnya dijelaskan oleh ESQ bahwa umumnya kita melaksanakan ibadah shalat adalah karena takut akan dosa yang mana hal itu tidak benar, padahal menurutnya lagi ibadah shalat adalah untuk membangun energy positip – energy spiritual.

Tidak mengenal imam tetapi guru atau master training

Lembaga-lembaga pengajaran NAM tidak mengenal imam, pastur, maupun pendeta, yang ada adalah guru spiritual, atau para master yang menjadi trainer. Metoda yang paling banyak digunakan dalam training motivasi adalah Neurolinguistik Programing. Tentang Neurolinguistik Programing saya letakkan disini:
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/10/05/new-age-movement-nlp-dan-oportunisme-dalam-science/

Praktek training yang bisa kita lihat di youtube yang banyak jumlahnya dan dikeluarkan oleh lembaga ESQ nampak sekali bahwa cara penyampaiannya menggunakan metoda NLP.

Berbeda dengan agama pagan (indigeneus religion)

Selama ini yang kita pahami adalah agama Islam bersinkretik dengan agama pagan (agama asli) Indonesia, yaitu agama Islam yang masih diwarnai dengan upacara-upacara ritus lintas, sesajian, dan kepercayaan pada jimat, amulet, patung, keris, dan sebagainya. Sekalipun NAM juga banyak menggunakan amulet yang diinterpretasi mampu meningkatkan energy positip maupun melindungi body-mind-soul terhadap energy negatip, namun umumnya NAM memang tidak menyembah berhala dan tidak memberikan sesajian. Sehingga jika kita melihat pergerakan NAM kita sering menyangka bahwa apa yang disajikan adalah bentuk pengembangan agama secara moderen. Ia juga tidak terkesan praktek klenik karena tidak mempunyai upacara-upacara dan pakaian-pakaian sebagaimana simbol agama pagan dalam praktek pengobatan. Ia terkesan merupakan penyampaian agama secara moderen karena menyajikan dengan teknologi komputer, suasana hangat, musik, lampu-lampu, pakaian rapih bergaya eropa menggunakan jas dan dasi, moderen, dan terkesan ilmiah. Bahkan terkesan lebih bijak terhadap lingkungan dan alam raya karena diselipi dengan film2 alam raya, hutan, lautan, bunga, bahkan luar angkasa.
Sehingga tidak heran jika kita dapat menemukan ada resensi buku ESQ dari Pustaka Iptek yang berbunyi demikian:
“Inti dari buku ini adalah untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Buku ini mensinergikan kebenaran ajaran Islam dengan penemuan ilmiah dan teori-teori dari para pakar ilmu pengetahun di “Barat”, khususnya ilmuwan di bidang EQ atau kecerdasan emosi.
Buku yang perlu dibaca, tidak hanya oleh kalangan agamawan atau ilmuwan tetapi juga oleh masyarakat umum. Dan hendaknya dijadikan bahan acuan pemikiran dan langkah bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya demi kemajuan bangsa dan negara secara keseluruhan. “http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8

Bukan gerakan kelompok radikal tetapi gerakan spiritual radikal

NAM bukanlah gerakan kelompok radikal, tetapi merupakan gerakan spiritual radikal yang mempercayai adanya kekuatan dahsyat yang tersembunyi dalam diri setiap manusia.

Dalam membaca buku ESQ for teens 3 ini, saya menilai kelihatannya reinterpretasi ini sangat tersistem, jadi saya tidak yakin kalau perubahan itu hanya kesalahan redaksi saja. Sebab dari depan hingga ke belakang buku, jelas alurnya, semua terbuntel dalam suatu pesan yang justru jauh dari keimanan Islam itu sendiri.

Lalu apa yang mau diambil hikmahnya, jika yang mendapatkannya adalah anak-anak muda bahkan dari SD sudah dijejali yang salah?

Mengapa salah? Jelas salah, jika dilihat dari sudut keilmuan psikiatri dan psikologi saja salah, bukan hanya dari sudut moral, apalagi agama Islam. Karena ajaran ini ekstrim – radikal, tidak memperkenalkan mana yang baik dan mana yang buruk, tidak memperkenalkan pahala dan dosa, sehingga kelak anak didik kita tidak bisa lagi membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Hal ini bisa runyam. Apalagi di dalam buku itu selalu ditekankan bahwa jangan mendengarkan apa kata orang, dengarkan suara hati, sebab suara hati sumbernya dari Asmaul Husna, sifat-sifat Tuhan yang mulia.

Ajaran ini merupakan ajaran spiritual radikal, yang menjanjikan manusia bisa mempunyai energy spiritual dahsyat, yang bersumber dari Asmaul Husna, yang merupakan sifat-sifat yang luhur. Dengan begitu setiap anak muda Indonesia kelak merasa dirinya mempunyai sifat-sifat luhur, padahal realita tidak benar. Setiap manusia mempunyai sifat-sifat baik dan buruk dan mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Jelas, ajaran ini bisa membawa pada anak-anak didik kita menjadi anak yang tidak bisa mengembangkan konsep diri yang benar. Akan tetapi dapat membawa pada masalah perilaku karena berkembangnya megalomania. Yang punya bakat schizophrenia justru akan mendapatkan trigger mengembangkan bakat wahamnya (pemikiran yang dirasanya benar padahal realita tidak benar).

Memperbaiki buku ESQ bukan berarti memperbaiki redaksinya, tetapi perlu memperbaiki persoalan keimanan yang paling mendasar terlebih dahulu. Saya lebih cenderung menyarankan sekolah-sekolah dan orang tua lebih kritis dalam menghadapi tawaran ini. Apa kurangnya pengajaran agama Islam kita dalam memberikan dasar-dasar keimanan dan moral?
Mudah-mudahan sedikit sumbangan saya ini bisa bermanfaat, dan mengajak teman-teman semua untuk lebih kritis dalam memberikan bimbingan dan tawaran-tawaran kepada anak-anak didik kita.

Salam,
Julia Maria van Tiel
Antropologi kesehatan

Dipetik dari: [email protected], Senin, 10 Januari, 2011 23:55

(nahimunkar.com)


[1] Judul film itu yang kini akan ditiru dengan sedikit diubah sebagai judul apa yang akan ditulis oleh artis seronok Jupe yang akan menulis novel berisi kehidupan sexnya, dengan memilih judul sex pray and love. Insya Allah nahimunkar.com akan mengomentarinya dalam serial Ummat Islam Indonesia bagai Digiring ke Jurang Neraka. (redaksi nahimunkar.com)

[2] Buku-buku Anand Kreshna yang membahasa ayat-ayat Al-qur’an dan diberi kata pengantar dan dipuji oleh dosen-dosen IAIN (kini UIN) Jakarta Nasaruddin Umar dan Komaruddin Hidayat, aqidahnya juga seperti itu. Kemudian ditarik dari peredaran oleh penerbitnya, grup Gramedia. (red nahimunkar.com)

[3] Zakat adalah rukun Islam, bukan rukun Iman (red nahimunkar.com)

[4] Shalat juga bukan rukun Iman tapi rukun Islam. (red nahimunkar.com)