Hukum Minta kepada Tukang Sihir dan Dukun

Oleh : Syekh Abdul Aziz bin Baaz Mufti ‘Aam Kerajaan Saudi Arabia-rahimahullahrahmatan wasi’ah-

Pertanyaan:

Seseorang bertanya : Di sebagian tempat di Yaman kami temui orang-orang yang disebut As-Saadah. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menafikan agama seperti meramal dan lain-lain. Mereka mengaku dapat mengobati orang-orang yang sakitnya kronis, dan sewaktu-waktu memperlihatkan atraksi menusuk-nusuk tubuh mereka dengan pisau atau memotong-motong lidah mereka secara berulang-ulang tanpa hal tersebut membuat mereka menderita. Di antara mereka ada yang shalat, namun sebagiannya lagi tidak shalat. Mereka menikahi orang-orang dari selain sanak keluarga mereka, namun tidak menikahkan sanak keluarga mereka dengan orang lain. Dan ketika berdoa bagi orang yang sakit, mereka mengucapkan, “Ya Allah, ya Fulan (nama salah satu leluhur mereka)”.

Para manusia mengagungkan mereka, menganggap mereka sebagai paranormal dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Bahkan mereka disebut sebagai “Lelakinya Allah”. Dan sekarang masyarakat terpecah dalam permasalahan ini. Sebagian menolak mereka, mereka adalah golongan para pemuda dan sebagian penuntu ilmu. Sebagian lagi senantiasa berpegang dengan mereka, mereka ini adalah golongan tua dan selain penuntut ilmu. Ini membutuhkan kesediaanmu untuk menjelaskan hakikat pemasalahan ini.

Jawaban:

Orang-orang tersebut dan juga yang seperti mereka merupakan sekelompok sufi yang memiliki amalan-aman mungkar serta perbuatan-perbuatan yang batil. Mereka juga merupakan sekelompok peramal yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal)) dan bertanya kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (HR. Muslim 11/273, Ahmad 33/457, 47/199)
Ini karena pengakuan mereka mengetahui perkara gaib, pelayanan dan penyembahan mereka kepada para jin, serta penipuan mereka terhadap manusia dengan perbuatan sihir yang mereka lakukan, dimana Allah berfirman dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun :

قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). (Al-A’raf:116).

Maka tidak boleh mendatangi mereka, bertanya kepada mereka karena hadits mulia dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Hakim 1/18, Thobroni Al-Kabir 8/403, AlAusath 3/470).

Adapun do’a yang mereka panjatkan kepada selain Allah serta istighotsah (meminta dihilangkannya bala’) kepada selain Allah, persangkaan mereka bahwa bapak-bapak mereka serta leluhur-leluhur mereka memiliki pengaruh terhadap kejadian di dunia ini, penyembuhan mereka terhadap penyakit, atau mereka mewajibkan berdo’a bersama orang-orang yang telah mati serta orang-orang yang ghaib (dari golongan mereka), maka ini semua adalah kufur kepada Allah ‘azza wa jalla dan termasuk ke dalam syirik akbar.

Maka wajib mengingkari mereka, tidak mendatangi, bertanya serta membenarkan mereka. Hal ini karena mereka dalam amalan tersebut telah menggabungkan antara perdukunan, peramalanan dengan amalan musyrik penyembah selain Allah. Begitu pula meminta pertolongan dari selain Allah. Meminta bantuan jin, orang-orang yang telah mati, dan kepada pihak-pihak lain yang cocok bagi mereka, dan mereka mengira bahwa itu adalah bapak-bapak serta leluhur-leluhur mereka. Atau meminta bantuan dari orang-orang yang mengira mereka memiliki derajat kewalian atau karomah. Bahkan semua ini merupakan amalan klenik, perdukunan, peramalan yang munkar dalam syariat yang suci ini. Adapun atraksi-atraksi mungkar mereka seperti menusuk-nusuk diri mereka dengan pisau atau memotong-motong lidah mereka, maka semuanya ini merupakan tipuan terhadap manusia (seperti atraksi debus, pent.) Dan kesemuanya ini merupakan jenis sihir yang haram, dimana telah ada nash-nash pengharaman serta peringatan terhadapnya dari Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya. Maka tidak selayaknya bagi orang yang berakal untuk terpikat dengan hal tersebut. Ini merupakan jenis yang yang difirmankan oleh Allah ta’ala tentang para tukang sihir Fir’aun :

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.”(Thaha : 66)

Maka mereka telah menggabungkan antara sihir dengan klenik, perdukunan, serta peramalan, antara syirik akbar, meminta bantuan dan istighotsah kepada selain Allah dengan mengaku-aku tahu tentang perkara gaib dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ini merupakan bentuk kebanyakan syirik akbar dan kekafiran yang jelas, dan juga merupakan amalan perdukunan yang telah Allah ‘azza wa jalla haramkan, dan termasuk pula mengaku tahu tentang perkara gaib yang tidak diketahui melainkan hanya Allah saja, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml : 65)

Maka wajib bagi seluruh muslim yang mengetahui perkara mereka untuk mengingkari mereka serta menjelaskan kebejatan perilaku mereka dan menjelaskan bahwa itu semua adalah kemungkaran. Dan hendaknya dia mengangkat permasalahan ini kepada pemerintah jika berada di negara Islam sampai mereka dihukum sebagai perealisasian syariat untuk mencegah kejahatan mereka dan melindungi kaum muslimin dari kebatilan serta penipuan mereka. Dan Allahlah Maha Pemilik Taufik.[1]

[1] Sumber: Hukmus Sihri wal Kahanaati wa ma Yata’allaq bihima, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, 18-21

 

Posted on Januari 12, 2010 by Perdana Akhmad S.Psi

http://metafisis.wordpress.com/2010/01/12/fatwa-ulama-tentang-atraksi-ilmu-debus-ilmu-kesaktian/

sedikit diubah judulnya oleh nahimunkar.com

(nahimunkar.com)

مجموع فتاوى و مقالات ابن باز – (ج 5 / ص 267)

حكم سؤال السحرة والمشعوذين

س : الأخ ص . ع . ب من الرياض يقول في سؤاله : يوجد في بعض جهات اليمن أناس يسمون ( السادة ) وهؤلاء يأتون بأشياء منافية للدين مثل الشعوذة وغيرها ، ويدعون أنهم يقدرون على شفاء الناس من الأمراض المستعصية ويرهنون على ذلك بطعن أنفسهم بالخناجر أو قطع ألسنتهم ثم إعادتها دون ضرر يلحق بهم ، وهؤلاء منهم من يصلي ومنهم من لا يصلي . وكذلك يحلون لأنفسهم الزواج من غير فصيلتهم ولا يحلون لأحد الزواج من فصيلتهم وعند دعائهم للمرضى يقولون ( يا الله يا فلان ) أحد أجدادهم .

وفي القديم كان الناس يكبرونهم ويعتبرونهم أناسا غير عاديين وأنهم مقربون إلى الله ، بل يسمونهم رجال الله ، والآن انقسم الناس فيهم : فمنهم من يعارضهم وهم فئة الشباب وبعض المتعلمين ، ومنهم من لا يزال متمسكا بهم وهم كبار السن وغير المتعلمين . نرجو من فضيلتكم بيان الحقيقة في هذا الموضوع؟

جـ : هؤلاء وأشباههم من جملة المتصوفة الذين لهم أعمال منكرة وتصرفات باطلة وهم أيضا من جملة العرافين الذين قال فيهم النبي صلى الله عليه وسلم : من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين يوما وذلك بدعواهم علم الغيب وخدمتهم للجن وعبادتهم إياهم وتلبيسهم على الناس بما يفعلون من أنواع السحر الذي قال الله فيه في قصة موسى وفرعون قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ فلا يجوز إتيانهم ولا سؤالهم لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم : من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم وفي لفظ آخر : من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم

مجموع فتاوى و مقالات ابن باز – (ج 5 / ص 268)

وأما دعاؤهم غير الله واستغاثتهم بغير الله أو زعمهم أن آباءهم وأسلافهم يتصرفون في الكون أو يشفون المرضى أو يجيبون الدعاء مع موتهم أو غيبتهم فهذا كله من الكفر بالله عز وجل ومن الشرك الأكبر ، فالواجب الإنكار عليهم وعدم إتيانهم وعدم سؤالهم وعدم تصديقهم؛ لأنهم قد جمعوا في هذه الأعمال بين عمل الكهنة والعرافين وبين عمل المشركين عباد غير الله والمستغيثين بغير الله والمستعينين بغير الله من الجن والأموات وغيرهم ممن ينتسبون إليهم ويزعمون أنهم آباؤهم وأسلافهم أو من أناس آخرون يزعمون أن لهم ولاية أو لهم كرامة ، بل كل هذا من أعمال الشعوذة ومن أعمال الكهانة والعرافة المنكرة في الشرع المطهر .

وأما ما يقع منهم من التصرفات المنكرة من طعنهم أنفسهم بالخناجر أو قطعهم ألسنتهم فكل هذا تمويه على الناس وكله من أنواع السحر المحرم الذي جاءت النصوص من الكتاب والسنة بتحريمه والتحذير منه كما تقدم ، فلا ينبغي للعاقل أن يغتر بذلك وهذا من جنس ما قاله الله سبحانه وتعالى عن سحرة فرعون : يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

فهؤلاء قد جمعوا بين السحر وبين الشعوذة والكهانة والعرافة وبين الشرك الأكبر . والاستعانة بغير الله والاستغاثة بغير الله وبين دعوى علم الغيب والتصرف في علم الكون ، وهذه أنواع كثيرة من الشرك الأكبر والكفر البواح ومن أعمال الشعوذة التي حرمها الله عز وجل ومن دعوى علم الغيب الذي لا يعلمه إلا الله كما قال سبحانه : قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

فالواجب على جميع المسلمين العارفين بحالهم الإنكار عليهم وبيان سوء تصرفاتهم وأنها منكرة ورفع أمرهم إلى ولاة الأمور إذا كانوا في بلاد إسلامية حتى يعاقبوهم بما يستحقون شرعا حسما لشرهم وحماية للمسلمين من أباطيلهم وتلبيسهم .

والله ولي التوفيق .

هذه الأسئلة والأجوبة من برنامج نور على الدرب .