Fatwa Haramnya Musik dan Bukti Joroknya Dangdut

Fatwa tentang Haramnya Musik

وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .

روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَالْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .

والمراد بـ (الحر) الزنى .

والمعازف هي آلات الموسيقى .

والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :

الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .

الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .

انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) . فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجدالمصدر :www.islam-qa.com سؤال رقم 12647(

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَal-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَal-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamيَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawabjuz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, soal nomor12647).

Bukti Joroknya Dangdut

DANGDUT merupakan salah satu jenis musik yang diakui sebagai musik khas Indonesia. Konon, musik dangdut merupakan generasi lanjutan dari musik Melayu yang berpusat di Sumatera. Sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan, istilah dangdut atau musik dangdut sama sekali belum dikenal. Bahkan hingga tahun 1960-an, selain musik ngak-ngik-ngok –begitu Soekarno memberikan istilah kepada musik barat ala the Beatles dan sejenisnya– masyarakat Indonesia masih belum jauh beranjak dari musik melayu.

Musik irama melayu, biasanya menonjolkan lirik atau syair seputar perjuangan atau asmara. Boleh dibilang, musik irama melayu merupakan musikalisasi syair. Instrumen musik yang digunakan dalam musik irama melayu biasanya terdiri dari gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, suling, dan biola. Tidak ada gendang.

Barulah di tahun 1970-an kosakata dangdut mewarnai dunia musik Indonesia. Istilah dangdut diambil dari salah satu instrumen musik yang dimainkan dan menjadi ciri khas jenis musik ini yaitu gendang yang bila dipukul akan menghasilkan suara ndang ndut. Alat musik gitar yang dimainkan juga tidak sekedar gitar akustik, tetapi gitar listrik.

Perkembangan musik dangdut berikutnya, digerakkan oleh Oma Irama, yang memasukkan unsur musik rock dan menjadikan musik dangdut sebagai media berdakwah, katanya.

Ketika kita merujuk kepada para ulama yang menegaskan bahwa musik itu haram, maka berdakwah dengan musik dangdut tidak hanya aneh, tetapi sudah menyimpang karena memadukan dua hal yang bertolak belakang. Apalagi, dakwah melalui dangdut yang diekspresikan melalui syair atau lirik yang mengandung nasehat (agama) seperti larangan berjudi, diragukan efektivitasnya.

Tidak hanya mempelopori apa yang dianggap sebagai dangdut-rock-dakwah, Oma Irama juga memodifikasi namanya menjadi RHOMA IRAMA setelah menunaikan ibadah haji. RHOMA merupakan singkatan raden haji oma. Rhoma Irama melalui usahanya itu (memasukkan unsur rock dan dakwah) telah mengangkat derajat musik dangdut yang semula kampungan dan berputar di kawasan bordil (pelacuran) tingkat rendahan, menjadi sesuatu yang dianggap lebih atraktif, lebih enerjik dan seakan lebih bermoral.

Sesuatu yang atraktif ada masa berlakunya. Bila sudah lewat masanya, maka muncullah atraksi yang lebih baru, seperti memasukkan unsur tari jaipong di dalam pementasan musik dangdut. Jaipong adalah seni tari rakyat, yang biasanya digelar malam hari, dengan lampu minyak secukupnya, menjual erotisme (rangsangan syahwat). Maka, tidak hanya dangdut yang naik pangkat, juga jaipong.

Ketika dangdut dan jaipong sudah naik pangkat, dan bisa dinikmati kalangan menengah ke atas, maka media elektronik pun mulai tertarik. Ketika media elektronik mulai tertarik, dan penonton kian tersihir, maka pemasang iklan pun memperhitungkannya sebagai media yang efektif. Maka, yang terjadi adalah budaya baru yaitu menjajakan erotisme (rangsangan syahwat) dengan iringan musik dangdut melalui media elektronik dan dibiayai oleh produsen.

Kalau jaipong bisa naik pangkat, maka erotisme yang lebih parah pun bisa diangkat derajatnya. Maka, goyang erotis bernama goyang ngebor yang diprakarsai Inul pun mulai ditampilkan di media elektronik. Ternyata berhasil. Suguhan dangdut dengan atraksi erotisme goyang ngebor menarik banyak penonton, sehingga menarik banyak pengiklan. Maka muncul kreasi baru yang menawarkan erotisme, yaitu goyang dombret, goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang ngecor.

Ketika erostisme yang dijajakan melalui musik dangdut berhasil dibenamkan ke dalam benak masyarakat, maka dangdutnya sudah kehilangan bentuk. Masyarakat tidak lagi menikmati dangdut tetapi menikmati erotisme. Sejalan dengan itu, sekelompok orang tidak lagi menjajakan dangdut tetapi menjajakan erostisme. Erotisme dijajakan melalui organ tunggal, melalui gerobak dorong yang memutarkan lagu-lagu dangdut dilengkapi dengan penari erotis wanita, keluar masuk kampung dengan bayaran sekedarnya.

Dengan organ tunggal dan gerobak dorong, erotisme (rangsangan syahwat) dijajakan di mana-mana. Tidak hanya di kampung-kampung, dan di pinggir jalan, tetapi juga di depan masjid. Hal ini sebagaimana terjadi di Serang pada hari Sabtu malam Minggu hingga minggu dini hari (13-14 Juni 2009) lalu.

Atraksi musik dangdut dengan suguhan erotisme di depan masjid Desa Lebak Gempol, merupakan salah rangkaian acara pernikahan anak seorang Ketua RW di lokasi itu. Aparat kepolisian tidak membubarkan acara dangdutan yang menampilkan biduan berpenampilan seronok, dengan alasan tidak ada peraturan daerah (perda) yang melarang pentas dangdut depan Masjid. Apalagi, penyelenggara hajat sudah mengantongi izin untuk mengadakan pentas dangdut dari aparat kepolisian Polsek Cipocok, dan meski atraksi itu berlangsung di depan masjid, namun menurut pengakuan aparat, tidak ada satu pun warga di sekitar itu yang berkeberatan.

(http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/14/02330660/Ya.Ampun..Dangdut.Erotis.Depan.Masjid)

Ketika itu, aparat kepolisian dan petugas satpol PP setempat, hanya menegur penampilan sang penyanyi agar mengenakan pakaian yang lebih sopan. Teguran itu dituruti, namun, ketika petugas beranjak dari tempat itu, para penyanyi dangdut tadi kembali mengenakan busana seronoknya, dan kembali bergoyag seronok, di depan mesjid, di depan sejumlah penonton anak-anak di bawah umur yang kembali menghampiri panggung setelah sang biduan kembali berkostum seronok dan bergoyang seronok.

Alasan aparat kepolisian yang tidak bisa melarang acara seronok di depan mesjid itu berlangsung karena tidak ada perda yang melarangnya, sebenarnya terlalu mengada-ada. Karena, Undang-undang Pornografi yang disahkan sejak 30 Oktober 2008, memungkinkan dijadikan landasan bertindak.

Definisi pornografi menurut UU no. 44 tahun 2008 adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Dari definisi di atas, aksi seronok di depan mesjid seperti tersebut di atas, sudah termasuk perbuatan melanggar undang-undang dimaksud. Bahkan bila hal itu dibiarkan oleh aparat pemerintah, maka pembiaran itu melanggar pasal 17 UU No. 44/2008 tentang Pornografi: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.”

Kalau yang punya hajatan baru ‘pejabat’ setingkat Ketua RW saja sudah tidak bisa diatasi oleh aparat, bagaiman pula bila yang punya hajatan pejabat beneran yang pangkatya jauh lebih tinggi dari Ketua RW?

Kenyataannya, para pejabat itu sendiri yang justru menjadikan dangdut erotis sebagai daya tarik pada masa kampanye. Contohnya, sepanjang masa kampanye pemilu legislatif yang berlangsung 9 April 2009, dangdut erotis justru menjadi menu utama hampir semua parpol. (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul Goyang Erotis Untuk Apa edisi April 7, 2009 5:53 am)

Seorang pembaca, yang memperhatikan hiruk-pikuk kampanye pemilu 2009, menuliskan kegalauannya tentang kampanye erotis yang dijalankan petinggi parpol. Hal itu diungkapkannya melalui okenews.com sebagai berikut:

Rabu, 08 April 2009 09:22 wib

Opini Pembaca

Kampanye Erotis

Dalam kampanye pemilu 2009 yang baru saja dilaksanakan oleh para simpatisan dan pendukung partai politik peserta pemilu, tampak ada beberapa pelanggaran yang dilakukan. Mulai dari keterlibatan anak-anak di bawah umur, aksi kriminal, pelanggaran lalu lintas, hingga penggunaan artis-artis yang berpakaian seronok.

Keterlibatan artis penyanyi di panggung untuk mendampingi para orator dalam berkampanye, tentunya sah-sah saja. Akan tetapi, bila artis yang tampil berpakaian seronok, tentu saja membuat tanda tanya besar. Hal ini terlihat dari beberapa kampanye di beberapa daerah, terutama artis dangdut.

Para penyanyi dangdut tersebut berpakaian minimalis berjoget aduhai di hadapan ratusan peserta kampanye. Sementara para penonton laki-laki yang kelihatannya mabuk secara tidak sadar terdorong melakukan aksi tidak sopan terhadap penonton perempuan. Pemandangan ini terlihat di beberapa stasiun televisi pada waktu yang lalu sebelum masa tenang kampanye.

Sungguh ironis. Para anggota dewan yang mayoritas menyepakati Undang-undang Pornografi, kendatipun memicu kontroversi, tiba-tiba dengan terbuka menggunakan pertunjukan dangdut erotis untuk menarik dukungan masyarakat. Bagi saya ini merupakan sebuah pelecehan atas nama politik. Kenapa?

Pertama, para calon anggota legislatif (yang semoga terhormat) masih beranggapan, bahwa tayangan erotis merupakan identitas kelompok masyarakat kebanyakan. Padahal, tidak demikian kenyataannya, tidak sedikit dari mereka yang masih memiliki kepedulian moral. Kalaupun mereka terlihat apatis, itu semua dikarenakan kurang diberikan keteladanan.

Kedua, politik semestinya menjanjikan perubahan ke arah lebih baik. Pertunjukkan itu membuktikan bahwa kepekaan calon legislatif untuk melakukan perubahan sangat minim. Sebagai bangsa timur, pertunjukkan semacam itu mestilah dihapuskan, digantikan dengan penampilan yang disesuaikan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Jika politik justru dijadikan alat mengukuhkan status quo erotisme, politik telah disalahgunakan oleh oknum tertentu guna memuluskan tujuan jangka pendek.

Ketiga, para calon legislatif yang menyetujui pertunjukan itu menandai kepribadian mereka. Masih ingat dengan kasus anggota legislatif Golkar yang terlibat hubungan pribadi dengan artis Maria Eva? Ini barangkali fenomena gunung es. Kasus itu merupakan setitik kasus yang diketahui publik selebihnya masih banyak kasus serupa. Ternyata, setelah mengetahui ada pertunjukan erotis, mentalitas erotis masih melekat erat. Ini akan sangat berbahaya ketika mereka sudah memperoleh kekuasaan. Bukan tidak mustahil, kasus Maria Eva terjadi berulang-ulang. Seperti itukah dewan yang diharapkan?

Setelah melihat tayangan itu di televisi, kita menjadi resah dan khawatir sekaligus berharap untuk berdoa kepada Tuhan agar Indonesia terbebas dari virus politik erotis yang merusak moralitas bangsa.

T. DAUD YUSUF

Bukit Duri Selatan, Tebet, JAKARTA SELATAN

Meski UU Pornografi sudah disahkan, kenyataannya pelanggaran terhadap undang-undang tersebut masih saja terjadi tanpa ada tindakan semestinya dari aparat terkait (seperti keopisian, panwaslu, dan sebagainya). Apalagi pada masa sebelumnya, ketika UU Pornografi belum disahkan.

Misalnya, di tahun 2008, pada saat berlangsung kampanye calon Gubernur Maluku saat itu (Asis Samual dan Lukas Uratu), salah satu menu utama yang menghebohkan adalah tarian erotis penyanyi dangdut. Sang penyanyi dangdut tersebut bernyanyi dan bergoyang dengan seronoknya, padahal persis di depan panggung banyak anak-anak menyaksikan aksinya. Anehnya, Panitia Pengawas Pilkada Maluku sama sekali tak memberikan sanksi kepada pasangan calon dari Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Damai Sejahtera ini. (http://www.songlyricsatoz.com/video_UkV4oLOD9vc.html)

Di luar masa kampanye, suguhan musik dangdut plus erotismenya juga dimanfaatkan untuk menghibur para peserta muktamar suatu ormas keagamaan. Hal ini terjadi di tahun 2005, ketika ormas Muhammadiyah menyelenggarakan muktamar yang berlangsung di kompleks Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jl. Tlogomas Raya, Malang, pada bulan Juli 2005.

Panitia muktamar memang sengaja menyuguhkan pagelaran musik dangdut untuk menghibur para penggembira maupun pengunjung bazar yang digelar di stadion kampus UMM. Ketika itu, biduanita dangdut selain bernyanyi juga berjoget erotis, dan mengenakan pakaian serba ketat. Kejadian tersebut snagat memprihatinkan aktivis IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), salah satu organisasi otonom yang anggotanya para pelajar dan remaja ini.

Menurut para aktivis IRM, pertunjukan dangdut yang menampilkan goyangan erotis tersebut justru bertentangan dengan tema yang dicanangkan Muktamar saat itu yakni ‘Tajdid Gerakan Menuju Pencerahan’. Menurut Muhammad Nazmi, Ketua Pimpinan Pusat IRM saat itu, pertunjukan dangdut dengan goyang erotis malah menjerumuskan warga Muhammadiyah. Seharusnya, panitia muktamar menyuguhkan hiburan yang bercorak Islami, bukan dangdut dengan goyang erotis yang bisa mengundang berahi para peserta muktamar. (http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/07/tgl/05/time/150120/idnews/396976/idkanal/10)

Bukan hanya Muhammadiyah yang sudah terjangkiti sikap tak punya malu. Tetapi NU (Nahdlatul Ulama) juga, di antaranya dalam kampanye PKNU, partai yang didirikan oleh para kyai dan tokoh NU, menampakkan jati dirinya tidak punya malu mempertontonkan dangdut dengan goyang jorok. Padahal yang hadir banyak yang pakai surban. Beritanya sebagai berikut:

Kampanye PKNU Diwarnai Goyang Erotis

Pemilu – pemilihan legislatif

Minggu, 29 Maret 2009 – 04:23 wib
Daru Waskita – Trijaya

BANTUL – Ratusan kader dan simpatisan Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU) Kabupaten Bantul menggelar kampanye terbuka di Lapangan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (28/3/2009).
Kampanye terbuka untuk terakhir kalinya dalam Pemilu 2009, juga dihadiri para calon legislatif (caleg) yang menyampaikan orasi politiknya.
Partai yang berbasis umat Islam itu juga menampilkan artis-artis  dangdut. Untuk menghibur massa PKNU, tak segan-segan para artis tersebut menggoyangkan tubuhnya.

Partai yang berplatform ‘Memperjuangkan Islam sebagai Syariat dalam Bernegara’ itu dinilai tidak sejalan dengan kemasan acara kempanye. Bahkan jika salah satu celeg perempuan PKNU Bantul tidak melarang penyanyi dangdut agar tidak berpakaian seronok maka simpatisan yang sebagian menggunakan surban ini akan disuguhi tontonan goyang erotis dari tiga penyanyi dangdut yang sengaja didatangkan untuk memeriahkan acara kampanye terbuka PKNU Bantul.
Sumarno (25) warga Pendowoharjo Sewon, Bantul, mengatakan dia tidak tertarik dengan kempanye yang dilakukan PKNU. Dia menilai, yang membuat kampanye tersebut tidak menarik adalah karena terdapat goyang dangdut yang tak sesuai dengan etika Islam.
“Kampenye tersebut ada sesuatu yang kontradiktif. Partai Islam kok menampilkan pornoaksi,” jelasnya.
Dia menilai fungsionaris ataupun kader PKNU terkesan tidak ada kreatifitas dalam menghibur massa partai yang mayoritas pendukungnya kaum Nahdliyin tersebut.
“Saya kira banyak pilihan untuk mengibur massa . Tidak harus dangdut,” tandasnya.
Sementara Ketua DPC PKNU Kabupaten Bantul KH. Muzamil tidak memberi komentar apapun terkait penampilan para artis dangdut dalam kampanye tersebut.
Dalam orasinya, dia mengimbau agar massa PKNU mampu untuk memperkokoh barisan di dalam partai.
“Jangan sampai kita kehilangan anggota,” serunya dihadapan pendukung PKNU.
Dalam pidatonya, dia juga mengkhawatirkan adanya penggelembungan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam pemilu nanti. Pihaknya meminta agar kader PKNU dapat mengantisipasi dan mengawasi proses pemilu.

“Semua kader harus proaktif dalam mengawasi pemilu,” pungkasnya.(lam)

(uky) http://m.okezone.com

Goyang jorok, mabok, dan perkelaian

Secara sosial kemasyarakatan, keberadaan musik dangdut yang dijajakan secara berkeliling melalui gerobak dorong atau mobil bak terbuka, sangat mengganggu ketenangan masyarakat. Dangdut keliling ini biasanya mangkal di tempat-tempat tertentu yang kosong atau tak bertuan. Meski demikian, karena pengeras suaranya cukup maksimal maka kebisingan yang dihasilkannya pun dirasakan penduduk sekitar yang agak jauh sekalipun.

Kasus seperti ini antara lain terjadi di kampung Muara Bahari, tak jauh dari stasiun Tanjung Priok. Penjaja dangdut keliling ini menempati lahan di antara rel kereta api yang tidak aktif. Agar lebih menarik, mereka mendirikan panggung sederhana lengkap dengan alat musik seperti gitar listrik, kibort, gendang, serta mikrofon yang disambungkan ke pengeras suara. Kebisingan dentuman musik bukan satu-satunya yang menjadi penyebab kemarahan warga, tetapi juga kebisingan dan keributan yang dihasilkan dari para pengunjung.

Para pengunjung umumnya berasal dari luar kawasan itu. Terdiri dari sopir truk, kuli angkut pelabuhan, dan preman-preman terminal. Mereka memadati panggung dadakan berlampu neon itu. Sambil berjoget, sambil minum-minuman keras hingga mabok. Kalau sudah pada mabok sering terjadi perkelahian, setidaknya berteriak-teriak saat berjoget.

Dangdut sudah semakin jauh dari akarnya yaitu musik irama melayu. Dangdut selain identik dengan erotisme, juga dengan mabok-mabokan, kebisingan dan kerusuhan. Di Lamongan Jawa Timur, misalnya, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Lamongan yang ke 440, warga disuguhi konser musik dangdut. Oleh karenanya, ribuan warga Lamongan Sabtu Malam (30 Mei 2009) tumpah ruah di alun-alun kabupaten Lamongan. Saking banyaknya yang hadir, terjadi senggolan. Dari senggolan terjadi tawuran.

Sedikitnya empat kali aksi tawuran mewarnai konser musik dangdut yang dimeriahkan artis-artis ibu kota itu. Rata-rata tawuran terjadi ketika para artis menyanyikan lagu dengan ritme yang cepat. Selain aksi tawuran, konser musik dangdut itu juga diwarnai goyang erotis dari beberapa penyanyi dengan cara meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut pakaian minim. Padahal diantara penonton terdapat beberapa anak yang belum dewasa. (http://www.berita86.com/2009/05/tawuran-konser-dangdut-erotis-1.html)

Meski UU Pornografi sudah disahkan, tidak ada aparat yang bisa melarang, lha wong penyelenggaranya pemda setempat kok. Di Lamongan, dan sebagian besar daerah lainnya, memang tidak punya perda yang mengatur hal itu, sebagaimana antara lain dimiliki oleh Pemda Tangerang sejak 2005. Melalui Perda No. 8 tahun 2005, pemda Tangerang melarang penyanyi dangdut tampil seronok. Perda itu antara lain membuat kesal Dewi Persik yang terkenal dengan goyang gergajinya, dan selalu tampil erotis di setiap panggung. Selain Dewi Persik, masyarakat dan pemerintah Tangerang juga pernah menolak kehadiran Inul Daratista untuk tampil di sana.

Perda semacam di Tangerang itu, oleh sebagian kalangan termasuk kalangan sepilis, dianggap sebagai perda bernuansa syari’at yang tidak sejalan dengan kebhinekaan dan pluralisme. Bagi mereka itu terlalu Islami. Boleh jadi mereka ingin agar kalangan menengah ke bawah kita, rakyat miskin kita, yang penghasilannya pas-pasan itu dihabiskan untuk nonton konser dangdut, sambil beli minuman keras, kemudian mabok dan tawuran. Kalau sudah terluka bahkan parah, masuk rumah sakit, maka habislah seluruh kekayaannya.

Konsumen dan penyelenggara dangdut erotis adalah rakyat kelas bawah. Mereka sama-sama miskinnya. Mereka sama-sama lemahnya. Lemah dalam iman, lemah dalam pengetahuan, dan sebagainya. Seharusnya, yang kuat, seperti pemerintah, ulama dan sebagainya mencegah perilakusesama orang miskin saling memiskinkan dirinya dengan aktivitas yang sia-sia. Menolong orang miskin bukan hanya dengan membagi-bagikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang begitu diterima langsung habis sehingga diledeki sebagai BLTLH (Bantuan Langsung Tunai Langsung Habis). Tetapi, pemerintah bisa mencegah mereka dari kegiatan yang sia-sia namun menguras penghasilan. Seperti nonton dangdut erotis, disertai mabok-mabokan, apalagi yang ada sawerannya. Mendingan uangnya untuk nyawer anak-istrinya sendiri, beli susu, beli buku, biaya berobat ke puskesmas dan sebagainya.

Itulah akibat dari arah apa yang disebut pembangunan di negeri ini hanya pembangunan fisik. Tidak memperdulikan pembangunan rohani alias tidak menggubris agama, bahkan terkesan menyingkirkan agama dengan aneka cara. Sehingga kalau dianggap menguntungkan secara materi, apalagi diperkirakan akan melanggengkan jabatan atau akan tercapainya kedudukan, maka larangan agama sebesar apapunbahkan sampai menjadikan pelakunya murtad alias jadi kafir pun dibiarkan saja bahkan dilakukan, bahkan kadang dilakukan secara upacara resmi. Misalnya meresmikan tempat penyembahan berhala, larung sesaji di berbagai Pemda (Pemerintah Daerah) dan sebagainya. Na’udzubillahi min dzalik.

Kalau sudah seperti itu “perjuangannya” dalam hidup ini, maka ketika masuk kubur, hasil yang telah diupayakan selama hidupnya itu sia-sia, sedang bekal untuk menghadapi akherat hanya tanda tanya. Maka mumpung masih diberi umur oleh Allah Ta’ala, marilah kita bertaubat dan memperbaiki diri, kembali ke keimanan yang benar, wahai saudara-saudaraku…(haji/tede)