Fatwa Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:
Peryaaan Maulid Nabi itu Bid’ah Buatan Baru dalam Agama

Pertanyaan:
Ahmad Hasan Gharib dari Jeddah bertanya, apa hukum syara’nya mengenai perayaan maulid Nabi?
Fatwa:
Kami pandang bahwa tidak sempurna iman seorang hamba sehingga ia mencintai Rasul saw dan mengagungkannya dengan apa yang seyogyanya untuk mengagungkannya, dan dengan apa yang sesuai dengan hak Nabi saw. Tidak diragukan bahwa diutusnya Rasul saw –dan tidak kukatakan maulidnya (hari lahirnya) tetapi diutusnya, karena dia tidak menjadi rasul kecuali ketika dia diutus, sebagaimana ahli ilmu berkata, dijadikan nabi dengan (wahyu) Iqro’ dan diutus dengan (wahyu) al-muddatstsir–; tidak diragukan, bahwa diutusnya Muhammad saw adalah kebaikan bagi kemanusiaan secara umum. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

ُقُلْ يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيْتُ فَآمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ
النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبَعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS Al-A’raaf: 158).

Jika keadaannya demikian, maka orang yang mengagungkannya, menghormatinya, menjadi terdidik dengannya, dan mengambilnya sebagai pemimpin yang diikuti, hendaknya tidak melewati batas yang telah disyari’atkannya kepada kita berupa ibadah-ibadah. Karena Rasulullah saw telah wafat, dan beliau tidak meninggalkan kepada umatnya suatu kebaikan kecuali telah menunjuki mereka pada kebaikan itu, dan telah memerintahkannya kepada mereka. Dan tidak ada keburukan kecuali beliau telah menjelaskannya dan memperingatkan mereka darinya. Atas dasar inilah maka tidak ada hak kita, –dan kami beriman kepadanya sebagai imam yang diikuti–, untuk lancang ke hadapan beliau dengan merayakan maulidnya (hari kelahirannya) atau pada hari diutusnya.
Perayaan (ihtifal) artinya gembira, sukaria, dan menampakkan pengagungan. Semua ini termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Maka tidak boleh kita membuat syari’at berupa ibadah kecuali apa yang telah disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya. Maka perayaan dengannya (yakni perayaan Maulid Nabi saw) terhitung bid’ah.
Sungguh Nabi saw telah bersabda,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَهٌ

Setiap bid’ah itu sesat.

Beliau berkata ini adalah perkataan umum, dan beliau saw adalah manusia paling mengerti dengan apa yang beliau katakan, dan manusia paling jelas dengan apa yang beliau katakan, dan manusia paling baik nasehatnya dalam hal menunjuki. Ini perkara yang tidak ada keraguan di dalamnya. Nabi saw tidak mengecualikan dari bid’ah-bid’ah itu sesuatu yang tidak sesat.
Telah diketahui bahwa dholalah / kesesatan itu lawan kata al-huda (petunjuk). Oleh karena itu An-Nasai meriwayatkan akhir hadits itu وكل ضلالة في النار dan tiap-tiap kesesatan di dalam neraka. Seandainya perayaan maulidnya saw itu termasuk perkara yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka pasti telah disyari’atkan. Dan seandainya telah disyari’atkan, maka pasti telah dijaga. Karena Allah Ta’ala menanggung dengan menjaga syari’atnya. Dan seandainya telah dijaga, maka khulafaur rasyidin tidak meninggalkannya, juga para sahabat, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan para pengikut mereka.
Ketika mereka tidak mengerjakan sedikitpun dari yang demikian itu, karena memang dia (peryaan Maulid Nabi saw) itu bukan termasuk agama Allah, maka yang aku nasihatkan kepada saudara-saudara kami muslimin secara umum, hendaklah menjauhi hal seperti perkara-perkara ini, yang belum jelas ditentukan kepada mereka disyari’atkannya, tidak di dalam Kitab Allah (Al-Qur’an) dan tidak (pula) dalam Sunnah Rasul-Nya saw, dan tidak di dalam perbuatan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Hendaknya mereka memperhatikan hal-hal yang dia itu jelas nyata dari syari’at berupa fardhu-fardhu dan sunnah-sunnah yang dimaklumi, dan di dalamnya ada (fardhu) kifayah dan perbaikan bagi hati, perbaikan bagi individu dan masyarakat.
Ketika aku renungkan keadaan mereka yang menekuni semacam bid’ah-bid’ah ini, maka aku dapati bahwa di sisi mereka ada kelesuan (loyo) mengenai banyak hal dari sunnah-sunnah, bahkan banyak hal dari kewajiban-kewajiban dan fardhu-fardhu. Ini adalah perkara yang wajib untuk dicerdaskan mereka itu padanya, hingga mereka konsisten (istiqomah) di atas apa yang seyogyanya untuk berada di atasnya, yaitu menjaga apa yang telah ditetapkan syari’at. (Lebih dari itu) ini dengan pandangan yang pasti tentang apa yang ada di perayaan-perayaan ini, yaitu ghuluw (sikap melampaui batas/ kebangetan) terhadap Nabi saw, yang membawa kepada kemusyrikan besar yang mengeluarkan dari agama yang dulu Rasulullah saw sendiri memerangi manusia atasnya, dan menghalalkan darah mereka, harta-harta mereka, dan keturunan mereka. Kami mendengar bahwa disampaikan dalam perayaan-perayaan ini kasidah-kasidah yang mengeluarkan dari agama secara pasti, seperti mereka mengulang-ulang perkataan Al-Bushiri (penyair Mesir 608-695H aktif dalam tasawuf dan terkenal syairnya: Burdah di antara isinya):

Wahai makhluk paling mulia, tidak ada bagiku tempat berlindung selainmu
Ketika terjadi peristiwa yang berat
Jika di akheratku ia tidak menolongku
Maka kukatakan: wahai diri yang celaka
Sesungguhnya di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya
Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.

Sifat-sifat seperti ini tidak sah kecuali bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Dan saya heran kepada orang yang mengatakan perkataan ini, jika dia memikirkan maknanya, bagaimana merasa enak pada dirinya untuk berkata sebagai orang yang bicara kepada Nabi saw:
Sesungguhnya di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya. Lafal min (di antara) itu maknanya untuk bagian. Lafal dunia itu adalah dunia, dan lafal dhorrotiha itu adalah akherat. Apabila dunia dan akherat itu adalah sebagian dari kemurahan Rasul alaihis sholatu wassalam, dan bukan keseluruhan kemurahannya, maka apa yang tersisa bagi Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada sisa bagiNya sedikitpun mungkin, tidak (ada sisa) dalam hal dunia dan tidak pula dalam hal akherat.
Demikian pula ucapannya (Bushiri):
Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.

Lafal min (di antara/ sebagian dari) itu untuk bagian. Saya tidak tahu (pula) apa yang tersisa untuk Allah Ta’ala dari ilmu, apabila kita berbicara kepada Rasul saw dengan pembicaraan ini.
Sebentar wahai saudaraku Muslim, kalau engkau bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka posisikanlah Rasulullah saw pada posisinya yang telah ditempatkan oleh Allah bahwa dia adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Maka katakanlah, dia adalah Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan utusan-Nya). Dan percayalah kepada apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya untuk menyampaikannya kepada manusia secara umum.

قُلْ لاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائَنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ

Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An’aam: 50).
Dan apa yang diperintahkan Allah kepadanya dalam firman-Nya:

قُلْ إِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَراًّ وَلاَ رَشَدًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfa`atan”. (QS Al-Jinn: 21).

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيْرَنِي مِنَ الله أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ مُلْتَحَداً

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kalitiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. (QS Al-Jinn: 22).

Sehingga Nabi saw pun kalau Allah menghendaki sesuatu padanya maka tidak ada seorangpun yang melindunginya dari Allah swt.
Kesimpulannya, bahwa hari-hari besar atau perayaan-perayaan maulid Rasul saw itu tidak terbatas pada asli keadaannya itu bid’ah bikinan baru, awal kejahatan agama, tetapi masih ditambah lagi dengan sesuatu kemunkaran yang membawa kepada kemusyrikan.
Demikian pula dari yang kami dengar bahwa terjadi dalam perayaan maulid itu ikhtilat (campur aduk) antara lelaki dan perempuan. Terjadi pula penabuhan (pemukulan bunyi-bunyian) dan alat musik dan lainnya dari kemunkaran yang tidak ada seorang mukminpun mempertengkarkan untuk mengingkarinya. Kami cukup dengan apa yang telah Allah syari’atkan dan Rasul-Nya kepada kami, maka di dalamnya ada perbaikan untuk hati, negeri-negeri, dan hamba-hamba.

(Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin no 1126). (Fatawa Muhimmah, Abdul Aziz bin Baaz dan Muhammad bin Shalih al-Utsimin, Darul ‘Ashimah, Riyadh, 1 juz, cetakan 1, 1413H, Muhaqqiq Ibrahim Al-Faris, halaman 44-48).

(Dari Buku Hartono Ahmad Jaiz, Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan. Lihat juga sebagian kutipannya di buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat karya Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008).