Fenomena Demokrasi:

Idrus Marham Jadi Ketua Pansus Angket Century

(Diduga untuk menyelamatkan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Century).

Banyak suara di luaran yang menolak Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century, karena mereka menganggap Idrus sebagai bagian dari kompromi politik untuk menyelamatkan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Century.

Effendi Gazali, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia memprediksi, langkah-langkah yang akan diambil pansus nantinya hanya akan menggagalkan upaya pengungkapan kasus tersebut. Sehingga, ia tidak lagi mau berharap kepada Pansus Hak Angket Kasus Bank Century ini.

Mekanisme voting atau pemungutan suara merupakan salah satu instrumen demokrasi yang dikenal luas. Terpilihnya Idrus Marham dari Golkar sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century, merupakan salah satu contoh dari ‘dampak negatif’ mekanisme demokrasi ini.

Selama ini, citra Idrus Marham di dalam benak masyarakat luas konon ibarat organisme yang berada dalam cluster negatif. Berkenaan dengan kasus Bank Century, khususnya berkenaan dengan inisiatif menggunakan hak angket pembentukan pansus, Idrus termasuk sosok yang datang belakangan. Ia dinilai tidak ikut berkeringat ketika sekelompok orang –yang kemudian bernama Tim Sembilan– mematangkan rencana strategis ini.

Pada hari Jum’at malam tanggal 4 Desember 2009, DPR mengesahkan panitia angket Bank Century yang beranggotakan 30 orang dari berbagai fraksi, terdiri dari 8 orang dari Demokrat, 6 dari Golkar, 5 dari PDIP, 3 dari PKS, 2 dari PPP, 2 dari PKB, 2 dari PAN, 1 dari Hanura dan 1 lainnya dari Gerindra. Pansus memiliki waktu 60 hari sejak ditetapkan.

Sejak awal, Idrus Marham (politisi Golkar) mendapat dukungan dari Partai Demokrat untuk menduduki kursi Ketua Pansus Hak Angket Bank Century. Dan tentu saja berhasil. Karena secara hitung-hitungan di atas kertas, kemungkinannya memang demikian.

Dari sejumlah fraksi yang ada, setelah Demokrat memastikan secara penuh memberikan dukungan kepada Idrus Marham, maka tinggal tiga kandidat yang masih bisa diperhitungkan. Yaitu, Idrus Marham dari Golkar, Gayus Lumbuun dari PDIP dan Mahfudz Siddiq dari PKS. Calon dari Golkar (6) selain didukung oleh Demokrat (8) juga didukung oleh partai koalisi seperti PPP (2), PKB (2), PAN (2), sehingga perkiraan perolehan suara untuk Idrus Marham adalah 20 suara. Bila ditambah suara dari PKS (3), maka kemungkinannya Idrus Marham diprediksi memperoleh 23 suara.

Sedangkan Gayus Lumbuun dari PDIP (5) sudah pasti didukung oleh Hanura (1) dan Gerindra (1), sehingga diperkirakan akan meraih 7 suara saja. Kenyataannya, melalui mekanisme pemungutan suara (voting) Idrus Marham (Golkar) meraup lebih dari separuh suara yaitu 19 suara. Sedangkan Gayus Lumbuun dari PDIP benar-benar hanya memperoleh dukungan 7 suara. Kandidat dari PKS, Mahfudz Siddiq, meraih 3 suara dari kalangan PKS sendiri, sedangkan Yahya Sacawirya (Demokrat) mendulang suaranya sendiri ( 1 suara).

Terpilihnya Idrus Marham adalah sah, karena telah mengikuti mekanisme demokrasi yang berlaku luas. Meski sah, namun tidak memenuhi ekspektasi masyarakat, mengabaikan hati-nurani, melecehkan akal sehat dan moral. Begitulah ‘dampak negatif’ demokrasi, setidaknya dalam pemilihan Ketua Pansus Hak Angket Bank Century.

Dari peristiwa ini, semoga saja para sekularis yang selama ini mengagung-agungkan demokrasi sebagai sistem terbaik di dalam tatanan hidup berbangsa dan bernegara, bisa mendapatkan setitik pengertian mengapa selama ini kalangan Islam seperti ‘menolak’ demokrasi, yang disebut sebagai bikinan Barat (kaum kafir).

Ditolak Sejak Awal

Meski sejak awal sosok Idrus sudah ditolak ‘pasar’ namun ‘pasar’ tak bisa berbuat banyak ketika berhadapan dengan realitas demokrasi. Suara dari ‘pasar’ hanya bisa digemakan melalui serangkaian demo. Dan, serangkaian demo belum tentu dapat memakzulkan Idrus Marham.

Sebelum Idrus benar-benar terpilih sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century, sejumlah aktivis anti korupsi sudah meggelar unjuk rasa menolak Idrus. Bahkan, demo itu digelar di lobi Gedung DPR, Senayan, pada hari Jum’at tanggal 4 Desember 2009, sekitar pukul 14.30 WIB.

Para peserta demo itu menyanyikan lagu Indonesia Raya keras-keras untuk menarik perhatian, disambung dengan serangkaian orasi. Mereka juga membentangkan spanduk berisi pesan “Tolak Penumpang Gelap Century”. Yang dimaksud penumpang gelap adalah Idrus Marham. Selain dijuluki penumpang gelap, Idrus juga disebut-sebut sebagai titipan Cikeas, orangnya SBY.

Komentar kritis terhadap Idrus Marham juga terus bergulir meski yang bersangkutan sudah secara resmi terpilih secara demokratis sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century. Antara lain dari Arbi Sanit, pengamat politik Universitas Indonesia.

Arbi Sanit menduga, hak angket hanya akan menghamburkan uang negara karena hasilnya tidak akan memuaskan masyarakat, karena sudah dikompromikan dan multitafsir. Sedangkan kedudukan Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century, menurut Arbi, hanya akan memanipulasi sidang, sehingga sidang tidak akan berlangsung keras tetapi justru menjadi lunak. Ia juga menduga, setiap pengambilan keputusan akan ditempuh melalui voting, karena fraksi pendukung koalisi SBY lebih banyak dibandingkan dengan fraksi lain yang menjadi inisiator hak angket.

Selain Arbi, HMI MPO juga menolak Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Hak Angket Bank Century, karena mereka menganggap Idrus sebagai bagian dari kompromi politik untuk menyelamatkan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Century.

Adanya skenario menempatkan Idrus sebagai Ketua Pansus ini, sudah berhembus sejak jauh hari. Idrus yang memiliki kedekatan dengan Cikeas dianggap bisa membuat Angket Century lebih melunak. Kedekatan Idrus dengan Cikeas tampak saat SBY menjadi saksi pernikahan Idrus yang berlangsung belum lama ini. Selain SBY, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menjadi saksi dalam pernikahan Idrus dengan wanita cantik mantan presenter TV. (http://www.detiknews.com/read/2009/12/05/070352/1254461/10/idrus-marham-terpilih-jadi-ketua-pansus-angket-century-dibajak)

Menurut Muhammad Chozin Amirullah (Ketua HMI MPO), indikasi pembusukan terhadap Pansus Hak Angket sudah mulai tercium menjelang pemilihan ketua Pansus. Munculnya nama Idrus Marham sebagai kandidat terkuat untuk menduduki ketua Pansus cukup mengagetkan dan menjadi tanda tanya besar. Karena sebenarnya, di luar nama Idrus, masih ada beberapa anggota Tim 9 yang lebih pantas untuk menjadi calon ketua Pansus. “Entah permainan apa yang terjadi, sehingga akhirnya nama-nama mereka tidak muncul.”

Menurut Chozin pula, Partai Demokrat tidak merelakan ketua Pansus dijabat oleh partai oposisi. Oleh karena itu, Partai Demokrat dan Golkar bersama partai koalisi lainnya bersatu membendung ancaman dari calon oposisi. Bahkan Chozin menilai telah terjadi pengkhianatan oleh anggota DPR dan Pansus terhadap suara rakyat yang merupakan cerminan dari kedaulatan rakyat sebagaimana diamanatkan melalui Konstitusi UUD 1945.

PDIP sebagai inisiator hak angket, mengaku kecewa dengan terpilihnya Idrus Marham. Menurut Eva Kusuma Sundari, salah satu anggota Pansus dari PDIP, dengan terpilihnya Idrus Marham sebagai ketua pansus yang dinilainya masih memiliki masalah dengan integritas, maka PDIP menuntut proses dan kinerja pansus harus terbuka dan transparan. Hal itu diperlukan agar masyrakat dapat memantau apakah hak angket ini akan digembosi atau tidak.

Sedangkan menurut dugaan Ismed Hasan Putro dari Masyarakat Profesional Madani, masuknya Idrus Marham sebagai salah satu unsur pimpinan Pansus Angket dari Partai Golkar merupakan hasil sinergi antara Golkar dan Demokrat. Sekaligus, merupakan indikator jika Pansus Bank Century telah menjadi arena dagang politik dan mulai dikesampingkannya harapan publik terhadap kasus tersebut. Menurut Ismed, satu-satunya jalan agar Pansus tidak terus melenceng, masyarakat harus terus mengawal pansus tersebut.

Menurut penilaian Fadjroel Rachman dari Kompak (Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) (Kompak), terpilihnya Idrus Marham sebagai kematian atau puncak kegagalan dari hak angket kasus Bank Century. Fadjroel juga menyatakan akan menyampaikan mosi tidak percaya kepada pansus ini. Untuk membongkar kasus ini, menurut Fadjroel, harapan satu-satunya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi.

Effendi Gazali, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia memprediksi, langkah-langkah yang akan diambil pansus nantinya hanya akan menggagalkan upaya pengungkapan kasus tersebut. Sehingga, ia tidak lagi mau berharap kepada Pansus Hak Angket Kasus Bank Century ini.

Lebih jauh, Effendi Gazali mengaku kecewa terhadap anggota Tim Sembilan. Sebelumnya, beberapa inisiator hak angket ini mengaku berani, bahkan untuk menempuh walk-out sekalipun. Para inisiator itu berkeliling cari dukungan. Namun, saat masuk mekanisme politik, mereka tidak mampu mempertahankan diri untuk tetap masuk ke dalam pansus. “Hal itu sama artinya membohongi rakyat.”

Nah, dari tragedi Idrus Marham ini membuat mata kita kian terbuka, bahwa yang namanya demokrasi belum tentu sesuai dengan keinginan dan harapan rakyat, belum tentu sesuai dengan hati-nurani, belum tentu sesuai dengan akal sehat, moral, dan sebagainya.

Namun, setidaknya, dari tragedi Idrus Marham ini kalangan Islam, terutama generasi mudanya, mendapat materi jawaban aktual bila kelak ditanya soal demokrasi: “… apa sih demokrasi itu menurut anda?” Maka, boleh jadi mereka akan memberikan jawaban: “… demokrasi itu, kalau dipersonifikasi, yah kira-kira seperti Idrus Marham itulah…” (haji/tede)