يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ  [التغابن/14، 15]

14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[1479]. Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS At_Taghabun/ 64: 14, 15).

***

Ibarat kata pepatah, bila kita menanam padi, ada saja sejumput rumput yang turut tumbuh. Namun, bila kita menanam rumput, mustahil ada tanaman padi yang ikut tumbuh. Begitulah barangkali gambaran yang bijak tentang fenomena sebuah keluarga yang terkesan fundamentalis, agamis tetapi juga mengandung unsur hedonistis.

Osama bin Laden

Dalam ejaan Arab, nama lengkap tokoh internasional ini adalah Usamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin (أسامة بن محمد بن عود بن لادن). Ayah Osama, Muhammad bin Laden mempunyai 52 orang anak, dan Osama merupakan anak ke-17 yang lahir pada 10 Maret 1957 di Jeddah, Arab Saudi. Ketika menempuh pendidikan di King Abdul Aziz University di Jeddah, Osama bersentuhan dengan Sheikh Abdullah Azzam salah seorang gurunya di lembaga pendidikan tersebut. Abdullah Azzam merupakan tokoh yang berperan besar memobilisasi dukungan bangsa Arab bagi kaum Mujahidin yang berperang melawan pendudukan Uni Soviet atas Afganistan.

Usai menempuh pendidikan (1979) di King Abdul Aziz University (bidang Ekonomi dan Manajemen), Osama berangkat ke Afghanistan untuk memberi dukungan logistik dan kemanusiaan kepada mujahidin Afghan yang sedang berjuang melawan Soviet. Dukungan itu membutuhkan dana yang cukup besar. Dalam hal ini, Osama menggalang dana selain dari keluarganya (bin Laden) juga dari relasi dan koneksi bisnis keluarganya. Bahkan, sesekali Osama juga terjun ke lapangan, terlibat dalam sejumlah pertempuran antara Mujahidin Afghan melawan tentara Soviet. Osama kemudian mendirikan Al-Qaidah sebagai lembaga yang mendukung kiprahnya tersebut: mencatat keluar masuknya Mujahidin dari berbagai negara ke kancah perang Afghan, mengurus akomodasi calon Mujahidin Afghan yang akan masuk ke kancah pertempuran, menyalurkan logistik dan bantuan kemanusiaan lainnya.

Mengusir komunis Soviet dari bumi Afghanistan sebenarnya merupakan kepentingan politik Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat kala itu (1979-1980) belum pulih dari trauma kekalahannya pasca Perang Vietnam (1957 – 1975). Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat kehilangan sekitar 58.209 prajuritnya (belum termasuk yang luka-luka sebanyak 153.303 prajurit), serta menghabiskan dana lebih dari 15 miliar dollar AS (setara dengan 135 triliun Rupiah).

Untuk tetap bisa memenuhi hajat politiknya mengusir komunis Soviet dari Afghan, Amerika Serikat memanfaatkan sentimen ideologi. Ideologi komunisme secara diametral bertentangan dengan Islam. Dan ummat Islam paling terkenal dengan semangat jihadnya. Dengan memanfaatkan semangat jihad ummat Islam ini, maka Amerika Serikat bisa terhindar dari kesalahan yang sama saat PerangVietnam.

Urusan dana yang tidak sedikit, Amerika Serikat memanfaatkan relasi-relasinya selama ini, terutama Arab Saudi dan seluruh jajaran pelaku bisnisnya, termasuk konglomerat Bin Laden, ayah Osama bin Laden yang ditaksir memiliki kekayaan lebih dari 300 milyar dolar Amerika. Semua itu bisa bergerak bila ada tokoh panutan. Rupanya ‘takdir’ telah menjatuhkan pilihannya kepada sosok Osama bin Laden melalui Sheikh Abdullah Azzam.

Ketiga unsur di atas (mujahidin, dana dan tokoh panutan) bisa wujud secara harmonis berkat operasi intelejen (CIA) yang cerdas. Kalu toh akhirnya pasca perang Afghan Osama menjadi musuh Amerika melalui aksi terornya, itu merupakan ekses yang boleh jadi sudah bisa diperkirakan. Ibarat dalam dunia persilatan, sepandai-pandai murid membangun serangan, tetap bisa dipatahkan oleh sang guru. Apalagi, tidak semua kemampuan sang guru telah diajarkan kepada sang murid. Maka, Osama setelah sekian lama menjadi target operasi CIA, akhirnya pada 02 Mei 2011 lalu dikabarkan tewas akibat serangan militer Amerika Serikat, saat Osama sedang berada di persembunyiannya di Abbottãbad, Pakistan.

Semasa hidupnya, Osama bin Laden memiliki 23 orang anak dari beberapa istrinya. Salah satu putranya adalah Omar Osama bin Laden yang saat ini berusia 29 tahun. Konon Omar besar di kamp Jihad di Sudan danAfghanistanbersama para pejuang. Meski begitu, Omar sama sekali tidak menjadi fundamentalis atau teroris. Omar justru terkesan berbeda secara mendasar. Bahkan Omar pernah berkata kepada bapaknya: “…cari cara lain untuk mencapai tujuanmu. Bom, senjata, tidak baik dampaknya bagi siapapun…”

Pada April 2011, Omar menikah dengan Jane Felix-Browne alias Zaina Alsahah, yang berusia 52 tahun. Wanita bercuculimaasal Inggris ini, bertemu Omar saat mereka berkuda melintasipadangpasir di sekitar Piramida Agung Giza, Mesir. Omar berkeinginan bekerja di PBB dan menjadi bintang Hollywood.

Beberapa tahun sebelumnya, 2005, salah satu keponakan Osama bin Laden, Wafah Dufour, berpose nyaris bugil pada majalah pria GQ. Pose seronoknya menghiasi sampul depan majalah dewasa tersebut. Wafah Dufour yang lahir di Amerika Serikat ini, kini berusia 32 tahun. Lulusan Fakultas Hukum Columbia University, New York ini bekerja sebagai model dan musisi. Wafah bercita-cita ingin menjadi penyanyi terkenal atau bintang Hollywod. Sesekali Wafah tinggal di sejumlah negara Eropa dan Arab Saudi.

Kartosoewirjo

Bagaimana dengan di Indonesia? Di tingkat nasional, ada sosok fundamentalis yang dilihat hanya satu sisi saja yaitu pemberontak, padahal ia juga pejuang kemerdekaan yang gigih mengusir penjajah. Namanya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK). Taufik Kiemas menantu Ir Soekarno (Bung Karno) mengakui, bahwa SMK adalah sahabat Bung Karno. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/05/04/lknnrm-mpr-dan-anak-kartosuwiryo-kunjungi-pengikut-nii)

Faktanya memang demikian. Bung Karno, selain bersahabat dengan SMK juga dengan Semaun. Bahkan ketiganya berguru pada sosok yang sama, yaitu HOS Tjokroaminoto. Ketiganya belajar politik dan Islam dari HOS Tjokroaminoto. Hasilnya? Bung Karno menjadi nasionalis sekuler, Semaun menjadi komunis, dan SMK akhirnya memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 07 Agustus 1949.

Menurut catatan, HOS Tjokroaminoto adalah orang Indonesia pertama yang menjadi pengikut Ahmadiyah Lahore. Ia sudah menjadi pengikut dan penyebar ajaran Ahmadiyah sejak 1925. HOS Tjokroaminoto bukan satu-satunya founding fathers kita yang masuk aliran sesat Ahmadiyah, tetapi ada juga Wage Rudolf Supratman, penggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada masanya, SMK adalah sosok yang hebat, setara dengan BK (Bung Karno) dan Semaun. Meski demikian, dengan segala kehebatan dan kelebihan yang ada padanya, ia tetap tidak memiliki otoritas penafsiran syar’iyah tentang posisi umat Islam Indonesia di dalam konteks bernegara. SMK bukan ulama yang punya kewenangan ilmu untuk hal itu.

Dinamika politik saat itu, terutama pasca Perjanjian Renville (17 Januari 1948), yang mendorong SMK lebih serius mewujudkan gagasan Negara Islam. Artinya, gagasan Negara Islam yang ada dalam benak SMK, sama sekali tidak punya landasan syar’iyah. Gagasan itu lahir untuk menghindar dari dua kekuatan besar yang saat itu merajai dunia yaitu Soviet yang komunis dan Amerika yang liberal-kapitalis.

Dilema seperti itu pun menghinggapi Bung Karno. Kalau memilih Soviet, khawatir akan diganyang Amerika. Kalau memilih Amerika khawatir akan diganyang Soviet. Akhirnya BK memilih Pancasila yang bukan komunis, bukan liberal-kapitalis, sekaligus juga bukan Islam. Sila-sila Pancasila diambil dari azas Freemasonry. Namun untuk memikat hati rakyat banyak, maka BK pun bersiasat dengan mengatakan bahwa Pancasila hasil perahannya terhadap nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat Indonesia.

Meksi telah memilih jalan tengah berupa Pancasila, namun pada perjalanan berikutnya BK tak mampu mengelak dari rayuan Soviet, sehingga ia membiarkan Indonesia tercemari komunis secara pasti, terutama sejak ia pulang berkunjung ke Soviet pada Desember 1959. Meski BK mengaku bukan penganut komunisme, namun setidaknya ia membiarkan komunisme tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya melancarkan kudeta berdarah.

Karena Pancasila sudah menjadi brand image Soekarno, maka SMK menjadikan Islam sebagai ideologi alternatifnya. Pasca Perjanjian Renville, sejumlah kawasan Republik Indonesia harus diserahkan kepada Belanda. SMK menolak dan melawan. Maka diproklamirkan Negara Islam Indonesia, karena menurut SMK, Republik Indonesia sudah bubar dan jatuh ke tangan Belanda pasca disetjuinya Perjanjian Renville. SMK melalui NII-nya bermaksud mempertahankan wilayah RI yang dicaplok Belanda. Sampai di sini, sebenarnya kita masih bisa melihat betapa SMK itu seorang pejuang kemerdekaan yang gigih melawan Belanda. Sedikit berbeda dengan Soekarno-Hatta yang cenderung bersikap lunak kepada kemauan Belanda.

Namun, rupanya SMK termasuk yang keras pendirian. Ia tak mau membatalkan proklamasi NII-nya. Karena, bagi SMK itu seperti menelan ludah sendiri. Menjijikkan. Rupanya, Perjanjian Renville bukanlah perjalanan final sebuah diplomasi. Masih ada rangkaian diplomasi lainnya yang menyebabkan Repubik Indonesia tetap eksis hingga kini tanpa bisa direbut kembali oleh Belanda. Bahkan, di tahun 1965 ketika Belanda berusaha merebut Papua, berhasil diusir oleh TNI. Hingga kini Papua atau Irian tetap menjadi bagian Republik Indonesia.

Kekerasan hati SMK mempertahankan proklamasinya tentu mengecewakan teman-temannya sendiri, termasuk Soekarno-Hatta. Akhirnya, SMK diposisikan sebagai pemberontak, dan hal ini terus berlangsung hingga kini. Bahkan, saking seriusnya pemerintahan Soekarno memposisikan SMK sebagai pemberontak, eksekusi mati terhadap SMK berlangsung begitu cepat, hanya beberapa bulan setelah tertangkapnya SMK di tahun 1962.

SMK ditangkap pada 3 Juni 1962, kemudian sidang pertama kasus SMK berlangsung 14 Agustus 1962. Pada 5 September 1962, eksekusi mati terhadap SMK dilaksanakan di sebuah pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. Kuburan SMK kini dapat dilihat di Pulau Onrust, dan dijadikan semacam makam keramat yang diziarahi sejumlah orang Tentu bukan ziarah kubur yang syar’iyah.

Bila dalam kehidupan Osama bin Laden ada Omar dan Wafah, di dalam kehidupan SMK juga ada salah seorang keponakannya yang secara ‘ideologis’ berbeda amat mendasar dengan SMK. Sang keponakan SMK itu adalah seorang artis penyanyi yang seksi, modis, sangat populer, dan merupakan penyanyi wanita dengan honor termahal saat ini. Dia bernama lengkap Raden Terry Tantri Wulansari.

Ibunda dari Raden Terry Tantri Wulansari bernama Titi Aisyah yang masih bersaudara sepupu dengan Dewi Siti Kalsum, istri Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK). Raden Terry Tantri Wulansari kini dikenal dengan nama panggung Mulan Jameela.

Raden Terry Tantri Wulansari lahir di Garut (Jawa Barat) pada tanggal 23 Agustus 1979. Pernah menikah dengan Harry Indra Nugraha dan menghasilkan dua orang anak (Tyarani Savitri dan Muhammad Rafly Aziz). Terakhir ia dikabarkan menikah secara rahasia (sirri) dengan Ahmad Dhani dan menghasilkan seorang putri bernama Syafiya, yang lahir pada hari Sabtu tanggal 26 Februari 2011 sekitar pukul 01.00 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Beberapa waktu lalu Mulan kepergok sedang berbelanja didampingi Ahmad Dhani di Singapura. (http://hot.detik.com/read/2011/02/26/172234/1580129/230/gosip-hamil-mulan-jameela-melahirkan?991101mainnews)

Sungkar

Selain ada nama Kartosoewirjo masyarakat juga mengenal nama Sungkar, sebuah nama keluarga keturunan Arab. Bila diawali dengan Abdullah, maka nama keluarga Sungkar menjadi begitu terkesan fundamentalistis, bahkan bermakna teroris. Faktanya, ada sosok bernama Abdullah Sungkar, yang pernah menjadi aktivis gerakan NII (Negara Islam Indonesia) di bawah komando Ajengan Masduki. Abdullah Sungkar berpasangan dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Sejauh ini, keberadaan Abdullah Sungkar selain dikaitkan dengan gerakan NII juga berkaitan dengan Gerakan Usroh (awal 1980). Juga, dengan Jama’ah Islamiyah (JI) yang didirikannya bersama Abu Bakar Ba’asyir setelah keduanya menyatakan keluar dari gerakan NII komando Ajengan Masduki.

Jama’ah Islamiyah mereka dirikan ketika keduanya berada dalam pelarian di Malaysia. Sejak 1985 Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir hengkang ke Malaysia untuk menghindari kejaran rezim Orde Baru. Jama’ah Islamiyah digagas mereka sejak Januari 1993. Contact Person di Indonesia sejak saat itu (1993) adalah Hamzah  alias Abu Rushdan, kemudian sejak 1995, jabatan itu dialihkan kepada Ibnu Thoyib alias Abu Fatih.

Abdullah Sungkar akhirnya meninggal dunia pada 23 Oktober 1999, tak berapa lama setelah ia kembali ke Indonesia. Kepemimpinanya dilanjutkan oleh Abu Bakar Ba’asyir. Namun hingga kini Abu Bakar Ba’asyir menyangkal pernah terlibat di dalam gerakan NII pimpinan Ajengan Masduki, juga menyangkal menduduki jabatan sebagai Imam Jama’ah Islamiyah pasca meninggalnya Abdullah Sungkar, meski sejumlah mantan anak buahnya sudah membenarkan keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir di Jama’ah Islamiyah (JI).

Sejauh ini memang tidak pernah terdengar ada anak atau kemenakan Abdullah Sungkar yang terjun jadi artis, atau profesi lainnya yang secara ‘ideologis’ bertentangan dengan Abdullah Sungkar yang fundamentalistis. Kalau toh ada sosok bermarga Sungkar yang jadi artis atau pembalap (Rifat Sungkar) dan bergelimang lumpur hedonistis, itu sama sekali tidak ada hubungan dengan Abdullah Sungkar. Rifat Sungkar adalah Pe-reli (pe·re·li n orang yang mengikuti perlombaan kendaraan (sepeda, mobil) di jalan umum/ KBBI) terbaik tingkat nasional yang menikah dengan Sissy Priscilla (artis) pada 10 Juli 2010.

Namun demikian, ada salah seorang anggota jaringan usroh Abdullah Sungkar, yang selama ini memberi kesan sebagai fundamentalis dan bercita-cita mendirikan negara Islam namun kenyataannya sepak terjangnya tidak Islami. Sosok itu bernama Nur Hidayat, mantan karateka nasional yang menjadi provokator kasus Lampung (Talangsari, 1989).

Untuk melihat keseriusan seseorang di dalam mengamalkan ajaran agamanya, lihatlah bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Dalam hal ini, bisa dilihat dari pesta perkawinan anak perempuan Nur Hidayat yang digelar beberapa tahun lalu, yang jauh dari syari’at Islam. Nur Hidayat yang sampai saat ini berprofesi sebagai penceramah agama (Islam) ini, beberapa tahun belakangan membubuhi marga Assegaf di belakang namanya, meski ia bukan keturunan Arab. Begitulah sepak terjang salah seorang ‘murid’ Abdulah Sungkar.

Selain Abdullah Sungkar, di ranah dakwah Islam kita juga mengenal Hajjah Lutfiah Sungkar, wanita juru dakwah yang kondang, bahkan sempat sekian lama menjadi narasumber tetap di sebuah teve swasta.

Lutfiah Sungkar (penceramah agama Islam) punya seorang adik bernama Mark Sungkar (lelaki artis), yang menikah dengan Fanny Bauty (artis). Dari pernikahan Mark-Fanny ini lahir antara lain Zaskia Sungkar dan Shireen Sungkar yang memilih karier sebagai penyanyi dan pemain sinetron. Mark Sungkar sendiri pada masa sebelumnya adalah pemain film, begitu juga dengan Fanny. Kini, Mark dan Fanny telah bercerai. Sebelum menikahi Fanny, konon Mark pernah menikah dengan Emilia Contessa. Namun Emil menyangkal pernikahan itu, karena konon mereka hanya hidup bersama-sama tanpa ikatan pernikahan. (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/05/24/PT/mbm.19860524.PT35105.id.html)

Hajjah Lutfiah Sungkar sebagai wanita penceramah keagamaan, banyak disenangi kaum wanita pada masanya. Nasehat-nasehat keagamaan tentang kehidupan keluarga yang disampaikan Hajjah Lutfiah Sungkar sangat bekesan di hati para wanita kala itu. Namun, kehidupan perkawinan Hajjah Lutfiah Sungkar mengalami pasang surut.

Hajjah Lutfiah Sungkar pernah menikah dengan Hasan Ali Jawas, kemudian bercerai. Dari perkawinannya dengan Hasan Ali Jawas, mereka dikaruniai lima anak, yaitu Riza, Sylvia, Helmi, Deana, dan Naufal. Pada Maret 2010 lalu, terbetik kabar bahwa Riza alias Abu Hamzah menjadi target DPO (daftara pencarian orang) tim Densus 88. Pada KTP, nama yang tertera adalah Riza Hasan, namun lebih dikenal dengan Reza Sungkar. Pada hari Rabu tanggal 19 Mei 2010, Riza menyerahkan diri.

Menurut keterangan aparat, Riza selain pernah ikut latihan di kamp militer Nanggroe Aceh Darusssalam, juga ikut membangun kamp tersebut. Ketika itu Riza berangkat bersama Dulmatin, sebelum akhirnya Dulmatin tewas ditembak aparat di Pamulang.

Mark Sungkar membenarkan bahwa Riza Hasan alias Babe alias Abu Hamzah adalah keponakannya. Tujuan Riza ke NAD Aceh menurut Mark adalah untuk dakwah. Namun, “… setelah melihat gerakan itu tidak sesuai dia memisahkan diri.”

Hajjah Lutfiah Sungkar setelah bercerai dengan Hasan Ali (bapaknya Riza alias Abu Hamzah), kemudian menikah dengan dokter Mulya Tarmidzi. Kemudian bercerai lagi, dan menikah dengan Hasan Usman Alamudi. Namun belum sampai satu bulan menikah, Hajjah Lutfiah Sungkar mengugat cerai sang suami, yang sebelum menikahi Lutfiah berprofesi sebagai musisi jazz (drummer).

***

Demikianlah secuplik dinamika sejumlah keluarga dengan kesan fundamentalistis, agamis, namun juga punya sisi hedonistis dan sekular. Mudah-mudahan itu hanya bagai sejumput rumput yang tumbuh diantara bentangan sawah berbulir padi, bukan sepetak sawah berbulir padi yang terselip diantara bentangan padang belantara yang luas. Insya Allah. (tede)

(nahimunkar.com)