Festival Film Homosex dan Lesbian Dinilai Melanggar UU Pornografi, Kesusilaan dan UU ITE

MUI dan Ormas Islam menolaknya, FPI Laporkan Panitia Q-film ke polisi (1/ 10), sedang Pemerintah telah menegurnya.

Panitia festival film homosex dan lesbian (Q-Film Festival ) menayangkan film berunsur aksi pornografi seperti tindakan bersenggama yang tidak wajar antarhubungan sejenis. Tindakan komunitas homoseksual dan panitia festival film itu dinilai melanggar Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Selain itu, mereka dinilai melanggar Pasal 282 tentang Kesusilaan dan Pasal 27 ayat (1), UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Oleh karena itu Front Pembela Islam melaporkan pengelola laman Qminity dan panitia Q-Film Festival ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya. “Qminity dan Q-Film Festival telah menyebarluaskan film yang memiliki unsur pornografi,” kata Kepala Divisi Advokasi FPI Munarman di Jakarta, Jumat (1/10).

Gerombolan pelaku homosex dan lesbian adalah para penerus kebejatan kaum Nabi Luth ‘alaihis salam di negeri Sodom sehingga penyimpangan sex itu sering pula disebut sodomi.

Perbuatan homosex kaum Nabi Luth tersebut mengakibatkan murkanya Allah Ta’ala, maka Allah menghancurkan umat tersebut dengan cara negeri mereka dijungkirbalikkan (yang atas ke bawah, dan bawah ke atas) lalu dihujani dengan batu belerang yang terbakar secara bertubi-tubi. Lihat surah Hud [11] : 82.

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ [هود/82]

82. Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (QS Hud / 11: 82).

Di samping kerasnya adzab Allah Ta’ala seperti itu, dalam Islam orang yang melakukan homosex atau lesbian maka hukumannya adalah hukum bunuh.

Dalilnya, hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا )

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw bersabda: “Siapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homo) dan yang dibuati (pasangan berbuat itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu.” (HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).

Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, Pelaku homo dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.

Masalah kedua tentang mendatangi/ menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’I berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina.. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).

Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

Kembali mengenai festival film gay, inilah berita-beritanya:

FPI Laporkan Panitia Q-film

Lipuatn6.com, Jakarta: Front Pembela Islam melaporkan pengelola laman Qminity dan panitia Q-Film Festival ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya. “Qminity dan Q-Film Festival telah menyebarluaskan film yang memiliki unsur pornografi,” kata Kepala Divisi Advokasi FPI Munarman di Jakarta, Jumat (1/10).

Munarman menyebutkan panitia festival film menayangkan film berunsur aksi pornografi seperti tindakan bersenggama yang tidak wajar antarhubungan sejenis. Ia menambahkan tindakan komunitas homoseksual dan panitia melanggar Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman penjara maksimal 12 tahun.

Selain itu, melanggar Pasal 282 tentang Kesusilaan dan Pasal 27 ayat (1), UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Sementara Ketua FPI Dewan Pengurus Daerah Jakarta, Habib Salim Alatas akan mengadukan Qminity dan panitia Q-film yang menyatakan FPI sebagai penghasut dan memberikan ancaman.

Sebelumnya, ratusan anggota FPI mendatangi Gedung Goethe Institut, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta, mendesak panitia menghentikan kegiatan Festival Film Q (FFQ). FFQ akan menggelar acara pada 10 lokasi di Jakarta antara lain Gedung GI, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus dan Pusat Kebudayaan Prancis.

Panitia berencana menayangkan film berjudul Bad Boys Cell 425 berdurasi 123 menit yang disutradarai Janusz Mrozowski dan Fucking Different Tel Aviv yang disutradarai warga negara Israel Queer Crossover.(ANT/JUM)

id.news.yahoo.com, Jumat (1/10 2010).

Ditegur pemerintah, inilah beritanya:


Penyelenggara Q Film Ditegur Pemerintah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Pemerintah telah menegur penyelenggara Q-Film Festival terkait dugaan pornografi atau perilaku menyimpang dari kebudayaan Indonesia dalam sejumlah adegan film yang diputar dalam festival tersebut.”(Sudah-red) ditegur oleh Menlu,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ditemui setelah upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di komplek Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, Jumat.

Ia menegaskan, pihaknya harus bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri karena pemutaran film tersebut mendapat dukungan pusat kebudayaan negara asing.Setelah menegur penyelenggara, ia dapat memastikan sebagian besar film dalam festival itu tidak jadi ditayangkan.”Saya sudah mengecek, sebagian besar sudah tidak jadi (ditayangkan-red),” katanya.

Menurut dia, film-film yang akan ditayangkan dalam fesival itu belum lulus sensor. Padahal, katanya, semua film yang akan diputar di Indonesia harus melalui tahap sensor oleh Lembaga Sensor Film.”Itu sudah rumus, bukan tidak boleh. Boleh bikin festival tetapi harus disensor dulu,” katanya.

Ia menjelaskan, aturan yang sama juga diterapkan di beberapa negara. Dia menceritakan, film karya sineas Indonesia tetap harus melalui tahap sensor ketika akan mengikuti festival di Berlin.Penolakan terhadap Q-Film Festival sebelumnya dilontarkan oleh Front Pembela Islam (FPI).

FPI akhirnya melaporkan pengelola laman Qminity dan panitia Q-Film Festival terkait dugaan pornografi ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya.”Qminity dan Q-Film Festival telah menyebarluaskan film yang memiliki unsur pornografi,” kata Kepala Divisi Advokasi (Nahimunkar) FPI, Munarman di Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan panitia festival film itu menayangkan film berunsur aksi pornografi seperti tindakan bersenggama yang tidak wajar antarhubungan sejenis.Ia menambahkan tindakan komunitas homoseksual dan panitia festival film itu melanggar Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Selain itu, melanggar Pasal 282 tentang Kesusilaan dan Pasal 27 ayat (1), UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).Sebelumnya, ratusan massa FPI mendatangi Gedung Goethe Institut (GI) Jalan Sam Ratulangi Nomo 9-15, Jakarta, dan mendesak panitia menghentikan kegiatan festival film tersebut.

Festival itu akan menggelar acara di 10 tempat di Jakarta, antara lain Gedung GI, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus dan Pusat Kebudayaan Prancis.Panitia berencana menayangkan film berjudul “Bad Boys Cell 425” berdurasi 123 menit yang disutradarai Janusz Mrozowski, dan “Fucking Different Tel Aviv” yang disutradarai warga negara Israel Queer Crossover.

Red: Krisman Purwoko

Sumber: ant

Republika.co.id, Jumat, 01 Oktober 2010, 14:15 WIB

MUI dan Ormas Islam menolak festival film gay yang dinilai melanggar undang-undang dan moral itu.

Inilah beritanya:

MUI dan Ormas Islam Tolak Festival Gay

Menurut MUI, nilai budaya bangsa Indonesia dan HAM tidak membenarkan adanya kebudayaan bebas dan keluar dari nilai dasar

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama ormas Islam menolak diselenggarakannya Festival Film Internasional tentang homoseksualitas dan lesbianisme.

Hal ini disampaikan oleh Ketua MUI Pusat KH.Ma’ruf Amin pada konferensi pers yang digelar MUI di kantornya Kamis siang (30/9) Jl.Proklamasi No.51 Menteng Jakarta pusat.

“Kami menolak pemutaran film tersebut, karena bertentangan dengan Islam dan nilai-nilai budaya bangsa yang sangat menentang seks menyimpang,” kata Ma’ruf Amin.

Menurutnya, praktik homoseksualitas dan lesbianisme sangat bertentangan dengan hak azasi manusia yang diciptakan Allah dengan fitrah berpasang-pasangan yang berdasar ikatan perkawinan yang sah.

“Homoseksualitas tidak sesuai dengan fitrah, dan perkawinan sejenis hukumnya haram,” imbuh Ma’ruf Amin.

Selain menolak festival film tersebut, MUI juga menyatakan rasa penghargaannya kepada pemerintah yang sudah merespon festival film tersebut dengan tepat, yaitu melakukan pelarangan terhadap pemutarannya.

“Kami sangat apresiasi kepada pemerintah yang secara tegas menolak dan menghentikan festival film tersebut,” ungkap Ma’ruf.

MUI juga meminta LSF agar tidak membiarkan berlangsungnya festival film tersebut dan melakukan kerjanya dengan baik  dengan memperhatikan nilai agama Islam dan agama lain yang menjunjung tinggi kearifan dan dan martabat kemanusiaan.

“MUI minta LSF menolak Festival tersebut, lalu lakukan seleksi dan sensor film dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai yang dijunjung bangsa,” tegas Ma’ruf Amin.

Menurut MUI, nilai budaya bangsa Indonesia dan hak azasi manusia tidak membenarkan adanya kebudayaan yang bebas dan nilai dasar budaya bangsa. Oleh sebab itu, MUI menghimbau kepada pemerintah/Negara asing dan perwakilannya agar menghargai kedaulatan NKRI dalam hal budaya serta mengimbau anak bangsa untuk menolak intervensi pihak asing dalam mengembangkan seni budaya yang bertentangan dengan konstitusi.

Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa kelompok film seperti Kineforum dan Ghoethe Institute bekerjasama dengan kelompok seni asing yang hendak mengadakan festival film dengan mengangkat seputar kehidupan kaum homoseksual dan lesbianisme di beberapa kota di Indonesia mendapat penolakan dan penentangan yang keras dari ormas Islam dan masyarakat Indonesia.

Acara konferensi pers yang berlangsung lancar dan penuh keakraban dihadiri pula oleh beberapa pengurus Pusat MUI dan wartawan dari berbagai macam media, baik cetak maupun elektronik. [bil/hidayatullah.com]

Hidayatullah.com, Jum’at, 01 Oct 2010

Sejarah tentang azab bagi manusia yang melakukan kebejatan moral berupa homosex, inilah uraiannya:


Azab Bagi Kaum Homoseksual

Ahad, 15 Agustus 2010, 21:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Perilaku seks menyimpang sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Lihat saja ulah kaum Nabi Luth yang gemar melakukan homoseksual. Karena itulah, Nabi Luth AS diutus oleh Allah SWT di daerah Palestina di dekat Laut Mati, tepatnya di Sodom dan Gomorah, untuk mengingatkan kaumnya yang sesat itu.

Nabi Luth sezaman dengan Nabi Ibrahim AS. ”Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS Asy-Syu’ara [26]: 165-166).

Berkali-kali Nabi Luth menasihati kaumnya agar meninggalkan perbuatan tersebut, namun semua itu tak digubris. Sebaliknya, mereka malah mengecam dan mencaci-maki Nabi Luth. Hingga Allah mengutus dua orang malaikat untuk bertemu dengan Nabi Ibrahim dan Luth. Ketika kedua malaikat itu menceritakan maksud kedatangannya kepada Nabi Ibrahim untuk memberikan kabar gembira akan kelahiran Ishak.

Lalu, kemudian disampaikan bahwa keduanya akan melanjutkan pertemuan dengan Nabi Luth. Saat ditanya Nabi Ibrahim maksud kedatangan mereka menemui Luth, kedua malaikat itu mengatakan bahwa mereka akan mengazab kaum Luth yang melakukan perbuatan menjijikkan tersebut. (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 32, Hud [11]: 62-81).

Kisah diazabnya umat Nabi Luth AS terdapat dalam surah Al Anbiya [21]: 74-75, Hud [11]: 82-83, dan Al-Qamar [54]: 33-38. Kisah kehancuran umat Luth AS ini juga

diceritakan dalam Perjanjian Lama.

Atas perbuatan kaum Nabi Luth tersebut, maka Allah menghancurkan umat tersebut dengan cara dijungkirbalikkan (yang atas ke bawah, dan bawah ke atas) lalu dihujani dengan batu belerang yang terbakar secara bertubi-tubi. Lihat surah Hud [11] : 82.

Selama ribuan tahun terkubur, kini jejak atau sisa-sisa kehancuran umat Nabi Luth berhasil ditemukan oleh para ahli arkeologi di sekitar Laut Mati. Awalnya, penelitian dilakukan oleh William Albright, seorang ahli purbakala pada 1924 di sekitar Laut Mati. Beberapa orang yang bersama William Albright mencari keberadaan sisa-sisa Kota Sodom dan Gomorah, hingga akhirnya mereka menemukan situs purbakala Bab-Edh-dhra (dibaca: Babhedra).

Keberadaan umat Nabi Luth di sekitar Laut Mati ini diperkuat dengan ulasan National Geographic edisi Desember 1957. Paul Lapp dan Thomas Schaub, melakukan penggalian kembali di sekitar Laut Mati pada 1967. Dan kemudian, penggalian diteruskan oleh Werner Keller, seorang ahli arkeologi asal Jerman di sekitar Laut Mati.

Red: Budi Raharjo

Rep: Berbagai sumber

Republika.co.id

Meskipun ulah manusia pelaku homosex dan lesbian di antaranya kini mereka menyelenggarakan festival film gay itu jelas diprotes keras, namun orang-orang yang berpikiran tidak begitu waras dan berbau menentang Islam –seperti biasanya, sebagaimana mereka membela pornografi–, mereka juga membela keburukan yang ini. Sehingga orang dari HAM ataupun media massa yang jenis itu tidak malu-malunya mempromosikan dan membela perusakan moral ini.

Dengan kenyataan itu, masyarakat mudah menilainya, tidak mungkin penyimpangan dan ketidak normalan (dalam hal ini penyimpangan sex) akan didukung kecuali oleh orang-orang yang memang jiwanya mengidap penyimpangan dan ketidak normalan.

(nahimunkar.com).