Bismillaahi Wash Shalatu Was Salaamu ‘Ala Rasulillaahi Wa ‘Ala Alih,

Percaya dan meyakini akan adanya alam serta adzab kubur merupakan salah satu bentuk tauhid yang benar. Namun Tahukah anda dalil-dalinya, baik dari Al-Quran maupun dari Hadits (As Sunnah) maupun pendapat para ‘ulama? Berikut keterangannya yang ana dapat dari pakdenono.com

Ayat-Ayat Al-Qur’an Yang Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Tafsir QS Ibrahim, XIV/27:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُعن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فذلك قوله ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة ) وفي رواية عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت ) نزلت في عذاب القبر يقال له : من ربك ؟ فيقول : ربي الله ونبيي محمد

Berkaitan dengan ayat: “Sesungguhnya ALLAH meneguhkan bagi orang-orang yang beriman kata-kata yang teguh di kehidupan dunia maupun di akhirat, dan menyesatkan orang yang zhalim, sesungguhnya ALLAH melakukan apa yang dikehendaki-NYA.” (QS Ibrahim, 14/27) [1]. Nabi SAW bersabda: Ketika ditanya di dalam kubur, maka mereka menjawab dengan mengucap syahadah, itulah makna ayat ini. Dalam matan hadits yang lain, Nabi SAW bersabda tentang ayat ini bahwa ia diturunkan tentang azab kubur, ditanya pada seseorang: Siapa RABB-mu? Maka ia menjawab: RABB-ku adalah ALLAH.

2. Tafsir QS At-Taubah, 9/101:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Dalam hadits shahih dikatakan bahwa makna “mereka diazab 2 kali” dalam ayat tersebut salah satunya adalah azab di kubur[2].

3. Tafsir QS Ghafir, 40/46:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa makna api yang didekatkan kepada Fir’aun setiap pagi & sore hari sebelum datangnya Hari Kiamat adalah azab kubur[3].

Hadits-Hadits Shahih Tentang Fitnah Qubur

Hadits-hadits shahih dalam masalah ini amat sangat banyak, diantaranya seperti saat berceramah beliau SAW pernah menceritakan tentang azab kubur, sehingga gaduhlah mereka yang mendengarnya[4].

Demikian pula dari Aisyah ra berkata: “Tidak pernah kulihat Nabi SAW setelah selesai shalat melainkan meminta perlindungan dari azab kubur.[5]” Juga pada saat shalat Kusuf, beliau SAW memerintahkan untuk berlindung dari azab kubur[6]. Dan menurut Imam Nawawi – dalam syarah-nya atas Muslim – ada lebih dari 60 hadits shahih yang marfu’ berkaitan dengan masalah ini.

Hadits-hadits shahih & hasan tentang adzab qubur amatlah banyak, bahkan sebagian ulama muhadditsin menyatakan bahwa hadits-hadits tentang adzab qubur mencapai derajat Mutawattir Ma’nawi.[7] Dengan demikian terbantahlah orang yang mengatakan bahwa azab qubur tidak bisa diterima karena haditsnya adalah hadits ahad[8].

1. Menceritakan/berkhutbah tentang Fitnah Qubur[9]:

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَذَكَرَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ الَّتِي يَفْتَتِنُ فِيهَا الْمَرْءُ فَلَمَّا ذَكَرَ ذَلِكَ ضَجَّ الْمُسْلِمُونَ ضَجَّةً

2. Berlindung dari Fitnah & Adzab Qubur[10]:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

3. Mendoakan orang lain agar selamat dari Adzab Qubur[11]:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِقَالَ عَوْفٌ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ لَوْ كُنْتُ أَنَا الْمَيِّتَ لِدُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ الْمَيِّتِ

4. Memerintahkan Agar Saat Tasyahud Akhir Kita Berlindung dari Adzab Qubur[12]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال ” . رواه مسلم

5. Termasuk Anak Kecil yang Meninggal Boleh Didoakan Agar Selamat dari Azab Qubur[13]:

وعن سعيد بن المسيب قال : صليت وراء أبي هريرة على صبي لم يعمل خطيئة قط فسمعته يقول : اللهم أعذه من عذاب القبر . رواه مالك

6. Saat Shalat Kusuf Nabi SAW juga Berlindung dari Azab Qubur[14]

Beberapa Masalah Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Mungkinkah orang Mendengar Orang yang Diazab Dikuburnya?

a. Secara Zhahir-nya Semua manusia & Jin Tidak Bisa Mendengarnya, berdasarkan hadits:

إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ …

“Sesungguhnya mereka diazab dengan siksa yang hanya dapat didengar oleh seluruh binatang-binatang…”[15]

b. Tetapi Nabi SAW ternyata dalam beberapa kesempatan bisa mendengarnya dengan izin ALLAH SWT:

لولا أن لا تدافنوا لدعوت الله عز و جل أن يسمعكم ( من ) عذاب القبر

“Jika seandainya aku tidak khawatir kalian meninggal/hilang pendengaran kalian aku akan berdoa agar ALLAH ‘Azza wa Jalla membuat kalian bisa mendengar azab qubur.”[16]

c. Maka jika ALLAH SWT menghendaki maka orang lainpun bisa saja mendengarnya, berdasarkan hadits berikut:

دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم و أنا في حائط من حوائط بني النجار فيه قبور منهم قد ماتوا في الجاهلية ، فسمعهم و هو يعذبون…

“Masuk kekamarku Nabi SAW dan aku sedang kampung Bani Najjar, disana ada kuburan mereka yang sudah meninggal dimasa jahiliyyah, lalu mereka mendengar suara orang-orang tersebut diazab di dalam kuburnya…”[17]

2. Surat Al-Mulk Bisa Menghindarkan Dari Azab Qubur[18]:

سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر

3. Pembacaan Surat Al-Mulk tersebut Afdhal Dilakukan Tiap Malam[19]:

من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله عز وجل سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

4. Orang yang Mati Di Hari Jumat atau di Malam Jumat Diselamatkan dari Adzab Qubur[20]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر “

5. Orang yang Mati Syahid Diselamatkan dari Azab Qubur[21]:

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطا في سبيل الله فإنه ينمى له عمله إلى يوم القيامة ويأمن فتنة القبر“

6. Orang yang Shalih, Dikuburnya Tidak Merasa Takut Terhadap Fitnah Qubur[22]:

أما فتنة الدجال فإنه لم يكن نبي إلا قد حذر أمته و سأحذركموه بحديث لم يحذره نبي أمته إنه أعور و إن الله ليس بأعور مكتوب بين عينيه كافر يقرأه كل مؤمن ; و أما فتنة القبر فبي تفتنون و عني تسألون فإذا كان الرجل الصالح أجلس في قبره غير فزع ثم يقال له : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : محمد رسول الله جاءنا بالبينات من عند الله فصدقناه فيفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا فيقال له : انظر إلى ما وقاك الله ثم يفرج له فرجة إلى الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : هذا مقعدك منها و يقال له : على اليقين كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله و إذا كان الرجل السوء أجلس في قبره فزعا فيقال له : ما كنت تقول ؟ فيقول : لا أدري فيقال : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : سمعت الناس يقولون قولا فقلت كما قالوا فيفرج له فرجة من قبل الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : انظر إلى ما صرف الله عنك ثم يفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا و يقال : هذا مقعدك منها على الشك كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله ثم يعذب .

7. Azab Qubur Sebagian Besar Disebabkan Najis yang Tidak Bersih Saat Buang Air Kecil & Ghibah[23]:

أكثر عذاب القبر من البول

Pendapat Para Ulama Salafuna Ash-Shalih Tentang Azab Kubur

1. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata[24]: “Yang dinamakan fitnah kematian adalah termasuk di dalamnya su’ul-khatimah & fitnah kedua Malaikat saat di dalam kubur, bahwa sesungguhnya manusia diberi cobaan di dalam kuburnya.”

2. Imam As-Suyuthi berkata[25]: “Telah ditakhrij oleh Tirmidzi & di-hasan-kannya, juga oleh Ibnu Abid Dunya, Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah & Al-Baihaqi dalam kitab Azab Al-Qabri dari Abu Hurairah berkata bersabda Nabi SAW : Jika mayit telah dikubur maka datang 2 orang malaikat yang hitam legam, yang satu bernama Munkar & yang satu lagi dinamai Nakir.”

3. Imam Al-Ghazali berkata[26]: “Adapun mengenai azab qubur, maka telah ditunjukkan oleh dalil syariatyang sebagiannya mencapai mutawatir dari Nabi SAW & para sahabat, bahwa mereka berdoa berlindung darinya dan telah masyhur hadits Nabi SAW melewati 2 kuburan yang sedang diazab dan juga telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an : Dan telah tetap bagi keluarga Fir’aun azab yang seburuk-buruknya, yaitu api yang dihadapkan padanya tiap pagi & petang hari.”

4. Imam Ibnul Qayyim berkata[27]: “Dan adapun azab kubur adalah benar dan orang-orang yang beriman diberikan cobaan di kubur mereka dan mereka ditanyai (oleh malaikat), tetapi ALLAH SWT meneguhkan lisan siapa yang dikehendaki-NYA mereka untuk bisa menjawab.”

5. Imam Al-Baqilani berkata[28]: “Dalil akan pastinya azab kubur adalah firman ALLAH SWT: Dan barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an ini maka baginya kehidupan yang sempit. Berkata Abu Hurairah bahwa maksudnya azab kubur, demikian pula sabda Nabi SAW : Kubur itu adalah satu taman dari taman-taman surga atau satu lubang dari lubang-lubang neraka. Demikian pula ayat tentang siksaan bagi Fir’aun, serta hadits doa Nabi SAW untuk dilindungi dari azab kubur.”

6. Imam Al-Baihaqi bahkan menulis satu kitab tersendiri berjudul “Itsbat ‘Azabil Qabr” (Pastinya Azab Kubur).

7. Imam Al-Bukhari-pun menulis dalam kitabnya bab khusus[29] menjelaskan tentang azab kubur, demikian pula Imam Muslim[30], demikian para Imam Ash-habus Sunan sebagaimana dapat dilihat dalam seluruh kitab-kitab hadits mereka.

Demikianlah tulisan tentang azab kubur serta dalil-dalilnya. Mudah-mudahan bermanfaat.

———————————————
Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, V/160 & Muslim, XIV/33-34

[2] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[3] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[4] HR Bukhari, no. 1373

[5] HR Bukhari, no. 1372 dan Muslim, Kitabul Masajid, no. 125-126

[6] HR Bukhari no. 1050 dan Muslim, Kitabul Kusuf, no. 8

[7] Lih. Al-Ayat Al-Bayyinat Fi ‘Adami Sima’il Amwat ‘ala Madzhabil Hanafiyyatis Sadat, I/81, Imam Al-Alusi

[8] Faham seperti ini adalah mazhab Mu’tazilah & telah dibantah oleh Jumhur Ulama, diantaranya dalam tulisan Imam Ibnu Rajab, 1/81 & Ibnul Qayyim, hal. 50

[9] HR Bukhari, V/164, bab Maa Ja’a fi Adzabil Qabri

[10] HR Bukhari, IV/200-202; Muslim, VIII/75; Ibnu Majah, no. 3838; Ahmad, VI/57; Nasa’i, II/315; Tirmidzi, II/263

[11] HR Muslim; III/59; Nasa’I, I/21; Ibnu Majah, no. 1200; Ahmad, VI/23

[12] HR Muslim, III/248

[13] HR Malik, II/192; di-shahih-kan Albani dalam Al-Misykah, I/380

[14] HR Bukhari, IV/168; Muslim, IV/449

[15] HR Bukhari, XIX/455; Muslim, III/243

[16] HR Muslim, VIII/161; Ahmad, III/201; Ibnu Hibban, no. 786; Nasa’i, I/201

[17] HR Ahmad, VI/362; berkata Albani : Shahih berdasarkan syarat Muslim, lih. Ash-Shahihah, III/429

[18] HR Hakim, III/214; Tirmidzi, II/146; Abu Na’im, III/81; Di-shahih-kan oleh Albani, dalam Ash-Shahihah, III/131

[19] HR Nasa’i & Hakim, Di-hasan-kan oleh Albani dalam At-Targhib, II/91

[20] HR Ahmad, no. 6582 & Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Albani dalam Misykah Al-Mashabih, I/305

[21] HR Tirmidzi, II/3; Abu Daud, I/391; Al-Hakim, II/144 dan Ahmad, VI/20; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, II/31

[22] HR As-Suyuthi, no. 2241 & Di-hasan-kan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’, VI/188

[23] HR Bukhari, V/170, bab Adzabil Qabri minal Ghibati wal Bauli; Ibnu Abi Syaibah, I/24; Ibnu Majah, no. 348; Hakim, I/183; Ahmad, II/326

[24] Ikhtiyar Al-Awla fi Syarhil Haditsi Ikhtisham Al-Mala’il A’la, I/21

[25] Al-Haba’ik fi Akhbaril Mala’ik, I/26

[26] Al-Iqtishad fil I’tiqad, I/68

[27] Ijtima’ al-Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’athilah wal Jahmiyyah, I/27

[28] Al-Inshaf, I/15

[29] Al-Jami’us Shahih, Kitab Al-Jana’iz, Bab Ma Ja’a fi Azab Al-Qabri; lih. Juga syarah-nya dalam Al-Fath, III/232

[30] Shahih Muslim, Bab Istihbab At-Ta’awwudz min ‘Adzabil Qabri, juz III/240

Sumber : materidakwah-online.blogspot.co.id

(nahimunkar.com)