Flu Babi Ditakuti, Enzim Babi Divaksinkan ke Jama’ah Haji


Dalam pengertian umum, wabah merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang. Di Indonesia, pengertian wabah disamakan dengan epidemi, yaitu berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Suatu wabah dapat teradi secara terbatas pada lingkup kecil tertentu, dapat juga terjadi dalam lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (mendunia) disebut pandemi. Sedangkan endemik adalah istilah yang dikenakan kepada penyakit yang umum terjadi pada populasi tertentu secara konstan dan cukup tinggi penderitanya (misalnya penyakit endemik malaria di Liberia).


SARS dan Flu Burung

Belum reda rasa khawatir masyarakat terhadap ancaman wabah Flu Burung, kini sudah ada lagi ancaman serupa, yaitu Flu Babi. Beberapa tahun lalu, sebelum Flu Burung mengguncang ketenangan masyarakat, telah lebih dulu ada SARS kependekan dari Severe Acute Respiratory Syndrom (kumpulan gejala gangguan pernafasan berat yang mendadak), di tahun 2003.

Dalam bahasa sederhana, SARS merupakan penyakit radang paru-paru, namun radang paru-paru ini berbeda dengan radang paru-paru yang sudah lazim terjadi. Selain sangat menular, saat itu belum ditemukan obat yang efektif untuk kasus SARS. Meski demikian, angka kematian akibat SARS lebih kecil dari korban demam berdarah (tingkat kesembuhan korban SARS sekitar 96 persen).

Gejala penderita SARS adalah panas badan tinggi di atas 38 derajat Celcius, mengalami gangguan pernafasan (batuk kering, sesak nafas, nafas tersengal-sengal dsb), ngilu otot sendi, dada terasa sakit dalam jangka waktu relatif lama terutama saat bernafas, mirip gejala influenza (sakit kepala, bersin, hidung mampet, nafsu makan berkurang, lemah), kemerahan pada kulit.

SARS disebabkan oleh virus yang berasal dari binatang. Wabah ini bermula dari Guangdong (Cina). Oleh karena itu, kebanyakan penderita ditemukan di Hongkong dan di Cina.

Dua tahun kemudian, sekitar April 2005, wabah flu burung sudah masuk ke Indonesia dan ditemukan setidaknya di 21 propinsi. Flu burung dikenal juga dengan nama flu unggas, selesma ayam, avian influenza (AI), atau bird flu. Yaitu, penyakit zoonosis (dapat menginfeksi manusia) dan penyakit menular yang dapat berubah menjadi ganas dalam waktu yang relatif cepat. Penyebabnya, virus avian jenis H5N1 yang bersumber dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.

Flu burung lebih ganas dari SARS, karena tingkat kematian yang diakibatkannya sangat tinggi, menyerang anak-anak dan remaja, terutama anak-anak dibawah usia 12 tahun. Cara penularan flu burung dapat terjadi dari unggas ke unggas (ayam ras petelur dan pedaging, ayam kampung/buras, burung puyuh, itik, angsa, dan lain-lain), tapi dapat juga menular dari unggas ke manusia dalam 1 – 3 hari, melalui air liur, lendir dari hidung dan unggas. Selain itu, burung liar, babi, kuda, ikan paus juga dapat menjadi sumber penularan.

Penularan juga dapat terjadi melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran (tinja, sekreta) cairan hidung/mulut unggas yang menderita flu burung. Atau manakala bersinggungan langsung seperti pekerja di peternakan ayam, pemotong ayam dan penjamah produk unggas lainnya. Mereka yang tinggal di sekitar area terinfesksi, juga rawan terular. Hewan ternak seperti ayam, kalkun dan babi merupakan jenis hewan yang paling mudah terkena dampak fatal dengan cepat dari epidemi influenza. Flu burung tidak menular melalui makanan. Daging dan telur unggas yang dimasak dengan baik dan sempurna, tidak berbahaya untuk dikonsumsi.


Flu Hongkong dan Flu Singapore

Flu burung (avian flu) sebenarnya sudah pernah muncul di Hongkong pada awal tahun 1997, namun lebih dikenal dengan nama Flu Hongkong. Awalnya, flu ini menyerang unggas di Hong Kong. Dua bulan kemudian juga menyerang seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun di Kowloon yang akhirnya meninggal. Setelah diteliti, ternyata penyebabnya tak lain adalah virus flu burung tersebut. Di akhir tahun 1997 muncul pula infeksi dengan komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis (radang selaput otak). Kalau tidak segera ditangani, infeksi ini bisa berakibat fatal. Pemerintah Hong Kong akhirnya memutuskan untuk melakukan pemberantasan besar-besaran dengan memusnahkan semua unggas yang diperdagangkan secara bebas di pasaran. (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080401211654AA6rWce)

Ada flu Hongkong ada pula flu Singapore. Dalam dunia kedokteran flu Singapore sebenarnya merupakan penyakit yang dikenal dengan sebutan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau dalam bahasa Indonesia disebut Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM).

PTKM merupakan penyakit yang sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas, terutama terjadi pada kelompok masyarakat yang padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (kadang sampai 10 tahun). Orang dewasa umumnya lebih kebal terhadap enterovirus, walau bisa juga terkena.

Penularannya melalui pencernaan dan saluran pernapasan, yaitu dari percikan ludah), pilek, air liur, tinja, cairan vesikel (kelainan kulit berupa gelembung kecil berisi cairan) atau ekskreta. Penularan melalui kontak tidak langsung dapat terjadi melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu.

Gejalanya, mula-mula demam tidak tinggi selama 2-3 hari, yang diikuti sakit leher (faringitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti flu pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulkus di mulut seperti sariawan (lidah, gusi, pipi sebelah dalam) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal di telapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini umumnya akan membaik sendiri dalam 7-10 hari, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit. (http://www.indonesiaindonesia.com/f/11316-flu-singapore-hand-foot-mouth-disease/)


Flu Babi

Tingkat keganasan flu babi atau swine flu sebenarnya lebih rendah dari flu burung. Artinya, resiko kematian akibat flu burung mencapai 80 persen sedangkan pada flu babi ‘hanya’ 15 persen. Namun, tingkat penyebaran flu babi begitu cepat, tak sampai sepekan penyebaran flu babi sudah lintas negara dan benua. Menurut Mangku Sitepu, pemerintah Indonesia sangat perlu mewaspadai penyebaran virus flu babi. Meski virus yang menjadikan babi sebagai pemicu pertumbuhannya ini akan mati terkena sinar ultraviolet, namun jika babi di Indonesia sudah tertular, maka kemungkinan mutasi besar sekali.

Di Meksiko yang merupakan pusat penyebaran flu babi, hingga akhir April 2009 sudah menelan korban sekitar 159 orang, sedangkan lebih dari 2.500 orang diduga sudah terjangkiti.

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/30/0513576/Flu.Babi.Dekati.Pandemi.Global).

Flu babi awalnya merupakan penyakit respirasi (pernapasan) akut dan sangat menular pada babi yang disebabkan oleh salah satu virus influenza babi, termasuk di antaranya virus influenza tipe A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2. Boleh dibilang, babi mengalami flu merupakan kejadian yang umum terjadi sepanjang tahun, terutama pada musim gugur dan dingin.

Selain bisa terinfeksi oleh virus influenza babi tipe A subtipe H1N1, babi juga bisa terinfeksi virus avian influenza H5N1 (flu burung) dan virus influenza musiman atau virus influenza yang biasa menyerang manusia. Terkadang, kadang babi juga bisa terinfeksi oleh lebih dari satu tipe virus dalam satu waktu. Bahkan, babi merupakan tempat ideal bagi bertemunya berbagai jenis virus, baik yang menyerang babi itu sendiri, unggas, maupun manusia. Di dalam tubuh babi, virus flu dengan berbagai tipe dan subtipe bisa bercampur dan menghasilkan ‘anak’ virus dengan karakter yang baru. (http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/04/29/05213046/babi.tempat.koalisi.gen.virus.flu)

Di Amerika Serikat, seorang bayi laki-laki Meksiko berusia 23 bulan yang mengikuti perjalanan keluarganya di Texas tidak dapat bertahan hidup setelah terjangkit flu babi. Bahkan, seorang pejabat pemerintahan Presiden AS Barack Obama telah terjangkit flu babi. Pria yang tidak bekerja di Departemen Energi AS ini, ikut serta dalam kunjungan Obama ke Meksiko belum lama ini. Dia juga telah menularkannya ke keluarganya (istrinya, putranya dan keponakan laki-lakinya).

Menurut Bruce Gellin (Direktur dari National Vaccine Program Office, Department of Health and Human Service Amerika Serikat), vaksin yang bisa efektif melawan virus flu babi masih terus dikembangkan, dan baru siap didistribusikan pada awal September. Namun menurut Mangku Sitepu (anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), obat Tamiflu yang selama ini direkomendasikan untuk flu burung, ternyata lebih efektif untuk flu babi. Karena, masa inkubasi gejala flu babi yang mencapai tiga hingga lima hari, menjadikan Tamiflu cukup efektif.

Tamiflu atau oseltamivir sering gagal pada penderita flu burung karena penderita telat dibawa ke rumah sakit. Pasien flu burung baru dibawa ke rumah sakit rata-rata lebih dari dua hari. Akibatnya, obat tersebut jadi tidak efektif.


Enzim Babi di Vaksin Meningitis Haji

Menyikapi wabah flu babi, pemerintah terlihat begitu sigap. Departemen Kesahatan sejak 29 April 2009 sudah membuat edaran ke semua gubernur di Indonesia untuk menangani flu babi (swine flu) ini. Isinya tentang definisi kasus dan pedoman pengobatan kepada semua dinas kesehatan di Indonesia sebagai pegangan petugas kesehatan yang dibuat berdasarkan pertemuan para pakar pada 29 April 2009 pagi di Departemen Kesehatan.

Sebelumnya, di terminal kedatangan 10 bandara internasional di Indonesia dipasang thermal scanner untuk mendeteksi suhu badan. Di Balikpapan, para penumpang dari luar Indonesia setiba di Bandara langsung menjalani pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur suhu badan yang dimasukkan lubang telinga setiap penumpang. Menurut Kristanto Sutopo (Survailan Epidemologi Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Sepinggan), pemeriksaan tersebut sesuai dengan perintah dalam surat edaran Departemen Kesehatan terkait dengan adanya serangan flu babi dan flu Singapura.

Bahkan, pemerintah telah mencadangkan dana sekitar Rp 38 miliar untuk penanganan wabah flu babi (swine flu), yang diambil dari dana untuk penanganan virus flu burung yang belum terpakai hingga Maret 2009.

Sayangnya, pemerintah tidak begitu hirau terhadap kasus ditemukannya enzim babi pada vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah. Menurut Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, LPPOM MUI Sumsel telah melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) sekitar tiga bulan lalu. Dari hasil penelitian itu ditemukan bahwa vaksin antiradang otak (antimeningitis) untuk calon jemaah haji menggunakan enzim porchin dari binatang babi.

Hasil temuan tersebut sudah disampaikan kepada pemerintah dan MUI Pusat. MUI Sumsel juga telah memperingatkan agar pemerintah mengganti vaksin meningitis yang digunakan untuk para jamaah haji dengan vaksin meningitis yang halal dari sapi. Namun hingga akhir April 2009, belum mendapat tanggapan.

Menurut Prof Nasruddin Iljas (Ketua LPPOM MUI Sumatera Selatan), masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga. “Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan.”

(http://www.republika.co.id/berita/46193/Enzim_Babi_di_Vaksin_Meningitis_Haji)

Ada yang mengatakan, unsur protein pada enzim babi yang dijadikan dasar membangun vaksin meningitis, sudah netral. Maksudnya sudah bebas dari unsur babi. Meski demikian, kalau ternyata ada vaksin meningitis yang dibangun dari enzim sapi yang halal, sudah seharusnya pemerintah Indonesia lebih memilih vaksin yang halal. Sebab betapa terihat ironis, pada satu sisi pemerintah begitu bersemangat menangkis masuknya wabah flu babi, mengawasi kesehatan ternak babi, sementara itu para jemaah haji dan umroh disuntik vaksin yang berbahan dasar enzim babi. (haji/tede)