Gambaran Terjaganya Kemurnian Islam

 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ(30)

Sebahagian diberiNya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. QS Al-A’raaf/ 7 :30).

Manusia terbagi dua, satu golongan mendapat petunjuk, dan satu golongan lagi jelas sesat. Sebagaimana Allah jelaskan :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(2)

Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (At-Taghaabun/64: 2).

Yang mendapat petunjuk itu adalah: Muslim yang mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan pemahaman generasi awal Islam yang masih murni yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.

Gambaran murninya Islam yang dipelajari dan diamalkan generasi awal Islam.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : كُنَّا نَتَعَلَّمُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ آيَاتٍ فَمَا نَعْلَمُ الْعَشْرَ الَّتِي بَعْدَهُنَّ حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَا أُنْزِلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ مِنْ الْعَمَلِ

مشكل الآثار للطحاوي (321هـ-933م). – (ج 3 / ص 478)

Riwayat dari Abdul Rahman As-Sulamiy dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Kami dulu belajar dari Rasululloh shollalloho ‘alaihi wa sallam 10 ayat, maka kami tidak mengetahui 10 ayat yang sesudahnya sehingga kami mempelajari pengamalan apa yang diturunkan dalam 10 ayat ini. (Ath-Thohawi w. 321H/ 933M, Musykilul Atsar, juz 3 halaman 478).

Para sahabat mempelajari ayat-ayat Al-Quran kepada Nabi SAW 10 ayat 10 ayat, kemudian dimaknakan ayat-ayat itu, sehingga mereka hafal ayatnya dan hafal makna-maknanya, serta diamalkan dalam praktek kehidupan. Demikian sampai khatam. Lalu sahabat Nabi SAW mengajarkan seperti itu kepada generasi berikutnya, yaitu tabi’ien, 10 ayat-10 ayat dan dengan maknanya. Kemudian tabi’ien mengajarkan kepada generasi berikutnya yaitu tabi’it tabi’ien

demikian pula, hingga ayat dan maknanya itu masih tetap otentik, murni. Dari para ulama periode tabi’in seperti As-Suddi, Ad-Dhohhak, Mujahid, Muqotil, Hasan Al-Bashri dan sebagainya inilah

para mufassir meriwayatkan tafsir, sehingga keutuhan dan kemurnian makna itu masih tetap terjaga sampai kini. Sehingga ajaran Islam itu masih tetap murni.

Penjelasan tentang murninya penafsiran Al-Qur’an.

Imam Ibnu Katsir dalam pengantar Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem berkata: Kalau ada orang bertanya, manakah jalan terbaik dalam ilmu tafsir? Jawabnya adalah: Sesungguhnya jalan terbaik dalam ilmu tafsir adalah Al-Qur’an ditafsirkan dengan ayat (Al-Qur’an).

Yang mujmal (global/ garis besar) dalam satu ayat maka akan diperinci dalam ayat lain. Apabila belum cukup jelas, maka ditaf­sirkan dengan As-Sunnah/ Al-Hadits, karena As-Sunnah adalah penjelas dari Al-Qur’an, seperti Allah jelaskan:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ(64)

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an), melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (An-Nahl: 64).

Dalam hadits dijelaskan:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. (أحمد و أبو داود)

Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketahuilah, aku diberi Al-Qur’an dan semisalnya bersamanya. (HR Ahmad dan Abu Daud). (yakni As-Sunnah Al-Muthohharoh/ yang suci).

Kesimpulannya, engkau cari Tafsir Al-Qur’an di Al-Qur’an. Jika engkau tak menjumpainya maka di As-Sunnah. Apabila engkau tidak menjumpainya pula maka kembalikanlah kepada perkataan sahabat-sahabat Nabi SAW, karena mereka itulah yang lebih tahu tentang ayat-ayat itu. Dan karena mereka menyaksikan hubungan-hubungan ayat itu dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masanya. Dan juga karena mereka punya pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih, dan amal yang shalih. Terlebih-lebih ulama-ulama mereka seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta tokoh-tokoh mereka seperti Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali rodhiyallohu ‘anhum.

Abdullah bin Mas’ud berkata: Demi Dzat yang tiada sembahan kecuali Dia, tidak ada satu ayat dari Kitab Alloh yang turun kecuali aku tahu tentang siapa dia turun, dan di mana dia diturunkan. Andaikan aku tahu ada seseorang yang lebih alim tentang kitab Allah daripada aku, di manapun akan aku datangi dia selagi onta bisa berjalan ke sana.’

عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشَرَ آيَاتٍ فَلاَ يَأْخُذُونَ فِى الْعَشْرِ الأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِى هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ. (أحمد)

Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rosulululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam 10 ayat maka mereka tidak mengambil 10 ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang di dalam ini (10 ayat yang tadi) yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, maka kami mengerti ilmu dan amal. (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi Syaibah nomor 29929)

Dan di antara sahabat yang ahli tafsir (Al-Qur’an) adalah Abdullah bin Abbas, yang diberi gelar Al-Habru Al-Bahru (Syeikh yang sangat luas ilmunya). Dia adalah putra paman Rasulullah SAW, Abbas, dan penerjemah Al-Qur’an, berkat do’a Rasulullah SAW untuknya:

« اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ » . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ .

Ya Allah, fahamkanlah dia dalam hal agama , dan ajarkanlah padanya tafsir. (HR Al-Bukhari dan lainnya).

Ibnu Mas’ud berkata tentang Ibnu Abbas: Ni’ma turjumaanul Qur’aani Ibnu Abbas. Sebaik-baik penerjemah Al-Qur’an itu Ibnu Abbas.

Abdullah bin Mas’ud wafat tahun 32H, sedang Abdullah bin Abbas meninggal 36 tahun berikutnya (tahun 68H). Coba bayangkan apa yang dilakukannya tentang ilmu sesudah Ibnu Mas’ud. Karena itu kebanyakan yang diriwayatkan oleh As-Suddi (penafsir dari generasi Tabi’in) dalam kitabnya adalah dari kedua sahabat itu (Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas). Tetapi kadang-kadang dia (As-Suddi) menceritakan perkataan-perkataan yang diambil dari Ahli Kitab yang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW, di mana beliau berkata:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Sampaikanlah apa yang datang dariku walau satu ayat. Dan ceritakanlah apa-apa yang dari Bani Israil, dan itu tidak dosa. Dan barangsiapa yang bohong atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka. (HR Al-Bukhari).

Cerita-cerita Israiliyyat

Tentang cerita-cerita Israiliyyat, itu hanya dijadikan sebagai saksi (penguat), bukan untuk membantah. Dan cerita Israiliyyat itu terbagi menjadi tiga bagian:

1. Yang kita ketahui keshahihannya, sesuai dengan yang ada di tangan kita, yang menyaksikan/ menguatkan kebenaran. Dan itulah yang shahih.

2. Yang kita ketahui kebohongannya jika dibanding dengan apa yang ada di tangan kita, atau yang beralawanan dengan yang di tangan kita. Itulah yang harus ditolak.

3. Yang harus didiamkan. Yaitu cerita Israiliyyat yang bukan bagian pertama (shahih) dan bukan yang kedua (bohong atau bertentangan). Maka kita tidak boleh membenarkannya dan tak boleh mendustakannya. Kita boleh saja menceritakannya, namun pada umumnya tidak ada faedahnya dalam urusan agama.

Peran Tabi’in Apabila tidak kita jumpai tafsir-tafsir dalam Al-Qur’an, dan tidak dijumpai di Al-Hadits, serta tak dijumpai di sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pada umumnya para mufassir mengembalikan kepada ucapan para tabi’in, seperti Mujahid bin Jabr. Sesungguhnya dia adalah lambang ilmu tafsir. Dia pernah berkata:

Aku baca mushaf (Al-Qur’an) pada Ibnu Abbas tiga kali, dari fatihahnya sampai akhirnya (Surat An-Naas). Aku hentikan pada setiap ayat, dan aku tanyakan tafsirnya kepadanya (Ibnu Abbas).

Oleh karena itu Sufyan At-Tsauri berkata, apabila datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah itu bagimu.

Di antara tabi’in ada lagi yang namanya Sa’id bin Jubair, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Atho’ bin Abi Robah, Hasan Al-Bashri, Masruq bin Al-Ajda’, Sa’id bin Al-Musayyab, Qotadah, dan Ad-Dhohhak, dan lain-lain di antara golongan tabi’in. Perkataan mereka diambil (sebagai rujukan) dalam hal ayat-ayat, dan perbedaan lafadh-lafadh.

Menafsirkan dengan ro’yu, salah.

Adapun menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat murni (tanpa seperti yang tersebut di atas) maka hukumnya haram. Karena telah diriwayatkan dari Nabi SAW:

{ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ أَوْ بِمَا لَا يَعْلَمُ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ , وَحَسَّنَهُ

Barangsiapa berkata mengenai Al-Qur’an dengan pendapatnya atau dengan apa yang dia tidak tahu maka hendaknya ia menduduki tempat duduknya di neraka. (HR Abu dawud, Ibnu Jarir, At-Tirmidzi, dan An-Nasaai, ia menghasankannya, dari Ibnu Abbas).

{ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ

Barangsiapa yang berkata mengenai kitab Alloh dengan pendapatnya (walaupun) benar (namun) sungguh ia telah salah. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Karena, dia telah memaksakan diri terhadap apa yang dia tidak tahu. Dan dia telah menempuh jalan yang tidak diperintahkannya.

Karena dia tidak mendatangi perkara lewat pintunya. Seperti orang yang menghukumi di antara manusia dengan kebodohan, maka dia masuk ke dalam neraka. Oleh karena itu pada umumnya orang-orang salaf (generasi terdahulu) merasa berdosa menafsirkan apa yang tidak mereka ketahui ilmunya. Sehingga diriwayatkan dari Abu Bakar as-Shiddiq RA, dia berkata:

َكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ : أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إذَا قُلْت فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا لَا أَعْلَمُ .

Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang mau menyanggaku, apabila aku berkata mengenai kitab Allah, apa yang aku tidak tahu. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf).

Adapun dalam hal hadits, ilmu hadits justru lebih dahulu tumbuh dan berkembangnya, sehingga hadits-hadits terkumpul dengan rapi, dan bisa diseleksi mana yang shahih, hasan, dan mana yang dho’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu).

Kemurnian Islam masih tetap terdeteksi dan diikuti

Al-Qur’an dengan tafsirnya, hadits Nabi Muhammad shollalloho ‘alaihi wa sallam dengan pilahan-pilahan shohih tidaknya, serta ilmu-ilmu syar’i yang mengiringinya, semuanya masih tetap terjaga. Hingga sampai kini (apalagi sekarang dengan adanya alat seperti computer dan lainnya yang memudahkan pengumpulan data, maka akan menjadi alat untuk menjaga kemurniannya pula) dan selanjutnya insya Alloh tetap dapat dideteksi, mana yang benar dan mana yang tidak. Artinya, kemurniannya tetap terjaga, bahkan sampai qaul (perkataan atau pendapat) ulama pun terjaga pula, sehingga apa yang dikatakan oleh Imam as-Syafi’I, misalnya, tetap akan dinisbatkan kepadanya, dan bukan kepada Imam lainnya. Demikian pula apabila bukan perkataan beliau maka tak dapat dinisbatkan kepadanya. Apabila ada yang menisbatkannya, maka akan ketahuan dustanya. Apalagi mengenai Al-Qur’an yang sudah jelas ada jaminan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr: 9).

Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam statusnya juga wahyu dari Alloh Ta’ala, sebagaimana dalam hadits : Ketahuilah aku diberi Al-Qur’an dan semisalnya bersamanya. (HR Ahmad dan Abu Daud). (yakni As-Sunnah Al-Muthohharoh/ hadits yang suci). Maka keterjaminannya sebagai ilmu pun telah dijaga oleh para sahabat dan para ulama berikut-berikutnya secara terus menerus, hingga dipilah-pilah dengan sangat teliti oleh ulama ahlinya; mana yang memang benar-benar shohih dan mana yang hasan, serta mana yang dho’if (lemah) bahkn maudhu’ (palsu).

Dengan demikian, Al-Qur’an dengan maknanya, dan hadits dengan pilahan-pilahan shahih tidaknya, itu semua dalam keadaan utuh, murni, dan bisa dilacak keberadaannya. Maka orang yang mengimani Islam, mempelajari Islam dengan baik, insya Allah akan mendapatkan petunjuk yaitu mendapatkan Islam yang benar dan utuh, otentik lagi murni.

Sebaliknya, orang yang ragu-ragu terhadap Islam, yang menjadikan Islam sebagai tameng, yang mendompleng pada Islam, yang diam-diam menyerang Islam, maka akan menjadikan syaitan-syaitan sebagai walinya, yaitu sebagai pelindung, teman setia, pemberi jalan, dan penuntun ke arah kesesatan.

Maka terjadilah dua kelompok yang nyata berseberangan, yang satu mengikuti kebenaran, dan yang satunya lagi mengikuti kesesatan, sebagaimana dalam ayat di atas:

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ(30)

Sebahagian diberiNya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. QS Al-A’raaf/ 7 :30).

Petunjuk yang benar sudah jelas benarnya, sedang kesesatan pun sudah jelas sesatnya. Maka orang yang mengikuti petunjuk yang benar sudah disediakan petunjuknya, dan bahkan untuk mendapatkan petunjuk yang benar itu sendiri di samping kita wajib tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’I) masih pula ada doanya. Di antaranya setiap sholat bahkan tiap roka’at kita baca, yaitu surat Al-Fatihah, di antara isinya adalah do’a agar Allah tunjuki kita jalan yang benar:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ(7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Alloh Ta’ala menjaga agamanya, memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan senantiasa mengadakan kaum yang tetap membela kebenaran agamaNya, sampai menjelang qiyamat. Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

5059 عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ». ( صحيح مسلم – (ج 6 / ص 52)

Riwayat dari Tsauban, ia berkata: Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Senantiasa ada dari ummatku, pembela-pembela kebenaran, tidak membahayakan mereka (gangguan) orang yang menghinakan mereka sehingga datangnya perintah Alloh (yaitu qiyamat) dan mereka dalam keadaan demikian. (Hadits shahih riwayat Muslim nomor 5059, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Demikianlah gambaran singkatnya, semoga bermanfaat. Amien ya Robbal ‘alamien.