Gatot Mengaku Nabi Bangsa Indonesia

— Sistem pemahaman Islam yang diajarkan di perguruan tinggi Islam menjurus kepada kebebasan penafsiran. Akibatnya bermunculan nabi-nabi palsu dan para penyesat, baik dari perguruan tinggi Islam maupun lainnya.

— Ketika nabi-nabi palsu dan penyesat agama bermunculan, lalu muncul pula pembelanya dan tampak pula orang yang dari perguruan tinggi Islam; UIN, IAIN dan semacamnya.

— Tampaknya sengaja pendidikan tinggi Islam dibuat demikian.

— Tampaknya para nabi palsu dan penyesat agama juga seperti dipiara, kapan-kapan ada kepentingan maka dimunculkan dalam berita.

Kini ada lagi nabi palsu di Tulungagung Jawa Timur. Gatot menganggap dirinya sebagai nabi untuk Bangsa Indonesia, dengan dalih ayat ke 4 dari Surat Ibrahim di Al-Qur’an. Pengakuan itu diedarkan melalui selebaran yang dinamai Sirullah.

Inilah salah satu bukti, penodaan agama bahkan jadi nabi palsu dilakukan orang dengan cara menafsiri Al-Qur’an tanpa berdasarkan ilmu dan kaedah yang benar. Padahal mengaku nabi itu dalam Islam hukmannya hukum bunuh. Bahkan pengikutnya pun dibunuh pula. Bukti nyata adalah nabi-nabi palsu di zaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu diserang semua, baik nabi palsunya maupun pengikutnya. Di antaranya Musailimah Al-Kaddzab dibunuh bersama 10-an ribu orang murtad yaitu para pengikut nabi palsu itu, sedang yang lainnya kembali ke Islam.

Bahkan menjelang wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah ada nabi palsu yang dibunuh. Yakni Abhalah atau Al-Aswad Al-Ansi nabi palsu di Yaman dibunuh oleh Fairuz famili isteri nabi palsu dengan kerjasama antara Fairuz dan sang isteri itu. Sejarah ini dapat dibaca di antaranya di buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat karya Hartono Ahmad jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008..

Di Indonesia, nabi-nabi palsu belum ada yang dibunuh. Terakhir, nabi palsu di Lombok hanya dihukum satu tahun penjara.

Sementara itu di perguruan tinggi Islam yang mengajarkan bebasnya penafsiran sampai menimbulkan faham kemusyrikan baru yakni pluralisme agama tidak dipersoalkan, justru dikembang suburkan. Maka secara akal menjadi logislah ketika bermunculan nabi-nabi palsu, sementara itu mereka yang diajari apalagi yang mengajari liberalnya penafsiran tampaknya cuwek bebek terhadap perusak-perusak agama itu. Bahkan lebih jahat dari itu malahan menjadi pembela nabi palsu, contohnya ada dosen atau alumni UIN Jakarta yang jadi pembela nabi palsu lewat penyebaran kesesatannya di televisi. Lebih dari itu bahkan ada yang jadi nabi palsu pula bernama Abdul Rahman, sampai mengaku reinkarnasi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diangkat jadi imam besar aliran sesat Lia Eden.

Para penyesat lewat jalur formal perguruan tinggi Islam se-Indonesia maupun para pembuat aliran sesat ditumbuh suburkan. Dua-duanya tampaknya dipiara. Kalau tidak, maka dosen-dosen IAIN atau UIN yang menyebarkan faham bolehnya homo seks, bahkan menikahkan wanita muslimah dengan lelaki kafir, yang hal itu melanggar undang-undang, mestinya ditangkap dan diproses hukum. Tetapi justru dibiarkan dan diberi tempat untuk menyebarkan kesesatan mereka di kampus dan di media massa, bahkan televisi.

Kesesatan-kesesatan yang dipiara itu kapan-kapan ada kepentingan tertentu, tampaknya dimunculkan. Di antaranya seperti berita ini:

Nabi Palsu Resahkan Masyarakat Tulungagung

20 Mei 2010 | 10:59 wib

Tulungagung, CyberNews. Warga Desa/Kecamatan Ngantru, Tulungagung resah, pasalnya seseorang yang mengaku sebagai Gatot Kusuma Wardana atau biasa disingkat GWK datang menyebarkan aliran baru dari agama Islam dan mengaku dirinya sebagai nabi untuk bangsa Indonesia. GKW menuangkan ajarannya dalam empat selebaran yang dibagikan kepada sejumlah pengikutnya. Dalam selebaran yang dinamai ‘SIRULLAH’ tersebut, GKW menganggap dirinya sebagai nabi untuk Bangsa Indonesia, dengan dasar ayat ke 4 dari Surat Ibrahim di Al-Qur’an.

“Allah tidak akan menurunkan rasul kecuali sesuai dengan bahasa kaumnya/bangsanya. Apabila bahasa kita adalah Bahasa Indonesia (Jawa), maka berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa rasul kita adalah orang Indonesia. (Nabi Muhammad bahasanya Arab, Rasul bagi kaum/bangsa Arab),” bunyi cuplikan kalimat dalam 4 selebaran yang dibagikan GKW kepada pengikutnya.

Atas isu nabi palsu yang beredar di kalangan masyarakat itu, Kepolisian Tulungagung, langsung bergerak cepat dengan mencari bukti-bukti yang menyatakan bahwa GWK adalah  “nabi bagi bangsa Indonesia” yang berupa pesan singkat yang pernah dikirimkan Totok, salah seorang warga Desa/Kecamatan Ngantru, kepada Gatot Kusuma Wardana (GKW) yang disebutnya sebagai kanjeng rosul.

Menurut Kasat Intelkam Polres Tulungagung, AKP Paidi, pihak kepolisian sendiri mengaku masih menunggu sikap yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulungagung, apakah akan diambil langkah tegas berupa pembubaran ataupun penanganan secara pidana.

Sampai saat ini pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan lanjutan untuk mengungkap kebenaran pengakuan nabi tersebut. Disela langkah tersebut, kepolisian juga terus melakukan upaya persuasif meredam masyarakat agar tidak berlaku anarkis. “Bukan tidak mungkin itu bisa terjadi dan kami terus berusaha meredamnya,” imbuhnya.

( dtc /CN14 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/05/20/54902/Nabi-Palsu-Resahkan-Masyarakat-Tulungagung

Ada yang minta tindakan tegas. Inilah beritanya:

Rabu, 19/05/2010 19:33 WIB

Pria Surabaya Mengaku Nabi

Pengacara Muslim Minta Polisi Bertindak Tegas

Steven Lenakoly – detikSurabaya

Surabaya – Pengacara muslim meminta agar pihak kepolisian segera menindak nabi palsu yang meresahkan Tulungagung. Pasalnya, nabi palsu itu sudah termasuk dalam pidana penistaan agama Islam.

“Saya minta Polda Jatim segera bertindak dalam kasus ini. Nabi palsu ini jelas menistakan agama Islam,” kata Koordinator Tim Pengacara Muslim Jatim, Fachmi Bahmid kepada detiksurabaya.com, Rabu (19/5/2010).

Pengacara yang kondang dalam kasus trio bom Bali itu menjelaskan, polisi harus bertindak cepat karena kasus ini berbeda dengan kasus biasanya. Karena pria yang mengaku nabi palsu itu telah meresahkan masyarakat secara meluas.

“Bila berita ini benar maka pria yang mengaku sebagai nabi itu harus segera ditangkap. Polisi harus bertindak cepat agar informasi ini tidak meresahkan masyarakat luas,” tuturnya.

Fahmi takut pria yang mengaku nabi ini bila tetap belum ditangani bisa menjelekkan agama Islam dan sebaiknya diamankan dan segera diproses secara hukum. “Tindakannya sudah termasuk dalam tindak pidana penistaan dan penodaan terhadap agama Islam,” tegasnya.

Warga di Desa/Kecamatan Ngantru, Tulungagung mengaku resah. Pasalnya Gatot Kusuma Wardana atau biasa disingkat GWK datang menyebarkan aliran baru dari agama Islam dan mengakui dirinya sebagai nabi untuk bangsa Indonesia.

Pengakuan nama oleh GKW tertuang dalam 4 selebaran yang dibagikan kepada sejumlah pengikutnya. Dalam selebaran yang dinamai ‘SIRULLAH’ tersebut, GKW menganggap dirinya sebagai nabi untuk bangsa Indonesia, dengan dasar ayat ke 4 dari Surat Ibrahim di Al-Qur’an.

“Allah tidak akan menurunkan rasul kecuali sesuai dengan bahasa kaumnya/bangsanya. Apabila bahasa kita adalah Bahasa Indonesia (Jawa), maka berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa rasul kita adalah orang Indonesia. (Nabi Muhammad bahasanya Arab, Rasul bagi kaum/bangsa Arab),” bunyi cuplikan kalimat dalam 4 selebaran yang dibagikan GKW kepada pengikutnya.

(stv/wln)

http://us.surabaya.detik.com/read/2010/05/19/193344/1360357/475/pengacara-muslim-minta-polisi-bertindak-tegas?y991101465