Gaya Yusril dan Soetrisno Bachir

 

Sebuah pesan singkat diterima redaksi nahimunkar.com, isinya: “Yusril dan Soetrisno Bachir merupakan Capres 2009 yang TIDAK PERCAYA DIRI, mau maju jadi Capres 2009 mestinya nggak perlu minta restu Gus Dur. Lha wong Gus Dur saja belum tentu bisa maju jadi Capres 2009 karena cacat fisik.  Mosok orang sehat minta restu kepada orang sakit.” (08180811xxxx 08-09-08 10:59)

Begitulah faktanya, mungkin ini salah satu keajaiban dunia yang hanya terjadi di Indonesia. Sudah sejak lama Gus Dur menyandang cacat netra. Namun, ajaibnya, ia bisa menduduki kursi kepemimpinan di Indonesia, yaitu menjadi Presiden RI ke-4. Padahal, salah satu syarat menjadi presiden haruslah sehat secara jasmani dan rohani.

Penyandang cacat netra jelas tidak masuk golongan yang sehat jasmani. Lantas bagaimana kedudukan orang yang “sehat” seperti Yusril dan Soetrisno Bachir namun justru minta restu kepada Gus Dur yang cacat netra? Ini dalam hal mau mencalonkan diri jadi capres, kan Gus Dur sendiri belum tentu kuasa merestui dirinya sendiri. Lha kok malah orang lain minta restu kepadanya? Sebuah pendapat mengatakan, “yang minta restu lebih sakit dari yang dimintai restu.”

 

Yusril Ihza Mahendra

Siapa yang dimaksud dengan Yusril pada pesan singkat di atas? Tentu saja Yusril Ihza Mahendra, mantan Menhukham, mantan Mensesneg, mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), kelahiran Belitung (Provinsi Bangka-Belitung), tanggal 5 Februari 1956. Yusril selama ini dikenal sebagai pewaris Masyumi, apalagi setelah (almarhum) Dr Anwar Harjono mantan jurubicara Masyumi sepakat mendudukan Yusril sebagai Ketua Umum PBB (Partai Bulan Bintang), dan PBB dianggap sebagai salah satu partai pewaris Masyumi.

Tahun 1993 Yusril meraih gelar doktor dari Universitas Sains Malaysia, dengan disertasi berjudul Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam –Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jama’at-i-Islami (Pakistan). Disertasi itu diterbitkan sebagai buku oleh Paramadina tahun 1999 dengan judul Modernisme dan Fundamentalisme Islam dalam Politik Islam. Mulai saat itulah Yusril dikenal sebagai pakar tentang Masyumi.

Setahun kemudian (2000) Adian Husaini mengkritik kesimpulan Yusril dalam disertasi doktoralnya di Universiti Sains Malaysia itu, melalui sebuah buku berjudul Yusril Versus Masyumi –Kritik Terhadap Pemikiran Modernisme Islam Yusril Ihza Mahendra. Antara lain Adian mengatakan, kriteria modernisme yang dipaparkan Yusril sangat mendekati corak pemikiran “substansialisme” sebagaimana dikembangkan oleh Nurcholish Madjid dan kawan-kawan, yang cenderung syari’ah fobia.

Tahun 1998, Yusril menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB). Ketika itu, Yusril bertekad membawa PBB pada Pemilu Juni 1999 masuk ke dalam jajaran lima besar. Namun, kenyataannya, PBB berada di urutan keenam.

Dalam pidato politiknya pada perayaan milad (ulang tahun) kelima PBB di Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno, Jakarta, Minggu (24 Agustus 2003), Yusril mengatakan PBB mencanangkan posisi tiga besar dalam perolehan suara pada Pemilu 2004. Yusril begitu yakin bahwa posisi tiga besar bagi PBB akan tercapai, mengingat banyaknya suara pemilih yang bakal beralih ke PBB, yaitu mereka yang dikecewakan partai lain, setelah bersusah payah memberi dukungan pada Pemilu 1999.

Ketika itu Yusril merasa optimistis PBB dapat berada pada posisi ketiga pada Pemilu 2004, mengingat kekuatan PBB di daerah-daerah telah mencapai enam kali lipat dibanding tahun 1999. Kenyataannya, pada Pemilu Legislatif 5 April 2004, PBB tidak memperoleh suara signifikan bahkan tidak memperoleh suara minimum 3 persen.

Kini, Yusril menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro PBB. Ia mengisyaratkan siap mencalonkan diri sebagai capres dalam Pilpres 2009. Sementara itu, Ketua Umum PBB M.S. Ka’ban menyatakan akan mencalonkan kembali duet SBY-JK di tahun 2009 nanti. Padahal Yusril sudah minta restu Gus Dur segala. Apakah ini mengisyaratkan adanya ketidakserasian pendapat antara Ketua Umum dengan Ketua Majelis Syuro PBB.

Pada harian PIKIRAN RAKYAT edisi 17 Juli 1998, ada sebuah berita menarik tentang Yusril Ihza Mahendra, yang saat itu masih menjabat sebagai Staf Ahli Setneg, sebagai berikut:

 

“Yusril Ihza Mahendra Pandai Berbahasa Cina dan Ketua Penasehat Kelenteng Jakarta“.


Bandung (PR, 17 Juli 1998) TAMPAKNYA banyak orang yang tidak menyangka pakar hukum tatanegara, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH mampu berbahasa Cina atau Mandarin. Kemampuannya itu terlihat tatkala menjadi pembicara pada seminar sehari “Perumusan Ulang Status dan Peran WNI Etnis Tionghoa dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara” yang diadakan Environment Tourism and Social Development Centre (ETSDC) di Bandung, baru-baru ini.

Cendekiawan Muslim ini menyelingi ceramahnya dengan berbahasa Tionghoa, seraya mengungkapkan pengetahuannya yang “mendalam” perihal ajaran Khong Hu Chu.

“Dulu waktu remaja, saya hidup di tengah-tengah masyarakat etnis Tionghoa. Tetangga saya Tionghoa. Saya belajar di sekolah Tionghoa. Kakak dan adik saya menikah dengan orang Tionghoa. Dan saya di Jakarta menjadi Ketua Dewan Penasihat Kelenteng, karena menurut saya semua agama pada dasarnya sama. Saya sering ke Kelenteng. Dan ketika terjadi kerusuhan, jemaah Kelenteng segera memasangkan lilin berukuran besar. Katanya agar saya beserta keluarga selamat dari aksi kerusuhan,” tuturnya.

Menurut staf Ahli Setneg yang kerjaannya antara lain menulis sambutan pidato Presiden RI sejak lima tahun silam ini, dirinya pernah terlibat debatnya dengan Jenderal TNI Feisal Tanjung ketika menjabat Pangab. Persoalannya tentang sikap Bakin yang melarang penggunaan bahasa Tionghoa dalam penerbitan umum dan tidak memasukkan Khong Hu Chu sebagai agama di Indonesia.

Dikemukakan, jangan khawatir bila Khong Hu Chu jadi ajaran agama, maka jemaahnya akan berorientasi ke RRC dan jadi antek-anteknya RRC. Sebab kekhawatiran itu sangat tidak beralasan. Buktinya, umat Islam itu diberi kebebasan punya mesjid dan beribadah menggunakan bahasa Arab. Dengan begitu, apakah kemudian orang Islam Indonesia berorientasi ke Arab Saudi dan menjadi antek-anteknya Arab Saudi?

“Bagi saya ada perbedaan antara agama Budha dengan Kong Hu Chu, dan ini kurang dipahami pemerintah. Semestinya, orang etnis Tionghoa diberi hak dan kewajiban yang sama sebagaimana etnis-etnis lainnya di Indonesia. Di era reformasi sekarang harus berbeda dengan era yang lalu. Bukalah pintu-pintu bidang lain. Jangan diarahkan hanya pada bidang ekonomi. Misalnya, apa salahnya kalau etnis Tionghoa diberi kesempatan jadi Walikota di Singkawang, atau Camat di Bagansiapi-api,” kata Yusril.

Dalam kaitan ini, Yusril berharap ada “keseimbangan” sikap dari etnis Tionghoa. Diimbaunya, etnis Tionghoa jangan eksklusif. Dalam sehari-hari hendaknya tak cuma melakukan sekadar kontak ketika bisnis, tapi juga komunikasi aktif dengan masyarakat setempat.

“Sekali-kali, ada baiknya masyarakat etnis Tionghoa di Bandung atau Jabar ini berkunjung ke pesantren atau mesjid, seperti mesjid Istiqomah, atau yang lainnya. Dengan begitu, akan ada saling tukar-menukar informasi baik tentang Islam atau etnis Tionghoa,” ujar mantan penghuni Rumah Tahanan Militer (RTM) Guntur Jakarta ini. (Aji/”PR”)***

 

Dari pemberitaan itu menunjukkan bahwa Yusril berpaham bahwa semua agama itu pada dasarnya sama. Sebelum Ulil dan JIL-nya menawarkan secara terbuka ke hadapan publik, Yusril sudah lebih dulu menyuarakan pluralisme agama. Jadi, selain memahami Masyumi secara keliru, ternyata Yusril juga penganut pluralisme agama. Buktinya, ia menjadi Ketua Dewan Penasihat Klenteng di Jakarta. Klenteng adalah rumah ibadah penganut Kong Hu Chu. Padahal penyembahannya jelas berbeda sekali dengan Islam yang dipeluk Yusril. Yusril pun tentu sudah hafal ayat-ayatnya:

  

1.  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.

4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.

6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1, 2, 3, 4, 5, 6).

 

Yusril pernah menikah dengan Kessy Sukaesih. Dari pernikahan itu lahir empat anak (Yuri, Kenia, Meilan, dan Ali Reza). Setelah bercerai dari Kessy, Yusril menikahi wanita keturunan Filipina-Jepang, Rika Tolentino Kato. Akad nikah berlangsung pada Sabtu, 16 September 2006 di Masjid Ar-Rahman, Komplek Departemen Koperasi, Kuningan (Jakarta Selatan). Akad nikah disaksikan Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Menteri Dalam Negeri M. Ma’ruf. Sedang, resepsi berlangsung di ruang Garden Terrace, Hotel Four Seasons, Jakarta pada Minggu, 17 September 2006, dihadiri 250 tamu undangan, termasuk Menteri Kehutanan MS Kaban, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M. Lutfi, Direktur Utama Lion Air Rudy Kirana. Acara dimeriahkan penyanyi Ruth Sahanaya dan pembawa acara Becky Tumewu.

Ternyata Yusril juga berteman akrab dengan Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN pasca kepemimpinan Amien Rais. “Pak Trisno adalah sahabat baik saya sejak lama. Saya selalu memanggil beliau “Boss”, maklum beliau seorang saudagar dan pengusaha sejak lama.” (simak di http://yusril.ihzamahendra.com, khususnya topik ACARA “THE CANDIDATE” DI METRO TV).

 

Soetrisno Bachir

 

Soetrisno Bachir pria kelahiran Pekalongan pada 10 April 1957 ini terpilih melalui voting yang alot dalam Kongres PAN ke-2 di Semarang, 10 April 2005. Sebagai Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir (SB) bertekad meraih 100 kursi DPR untuk Pemilu 2009, dan memenangi 10 persen pemilihan kepala daerah. Kita lihat saja apakah itu merupakan tekad yang realistis. Mengingat pada Pemilu 2004 PAN hanya mampu meraup 6,44% suara, lebih rendah dari Pemilu tahun 1999.

Padahal, ketika itu PAN masih dipimpin Amien Rais, dan mendapat dukungan dari ormas Muhammadiyah. Pasca kepemimpinan Amien Rais, PAN tidak terlalu didukung ormas Muhammadiyah. Indikasinya, Din Syamsuddin Ketua PP Muhammadiyah pasca Amien Rais, dalam setiap kesempatan selalu mengatakan bahwa Muhammadiyah memposisikan diri pada jarak yang sama terhadap berbagai partai politik yang ada.

Mungkin SB sangat menyadari PAN yang dipimpinnya kini harus bekerja ekstra keras, apalagi setelah adanya gelagat ditinggalkan oleh konstituen Muhammadiyah. Oleh karena itu, SB tidak segan-segan melakukan manuver yang dianggapnya jitu, antara lain dengan menyatakan bahwa dirinya dan PAN yang dipimpinnya menganut pluralisme. Sebagaimana dipublikasikan melalui www.madina-sk.com, Soetrisno Bachir mengatakan, “Satu hal yang menjadi ciri dari PAN adalah semangat pluralisme, upaya merangkul semua komponen bangsa. PAN tempat berhimpun semua anak bangsa, tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras atau golongan… Masa kepemimpinan saya sekarang, pluralisme ini terus dikembangkan. Dalam arti, kita makin memberi tempat bagi setiap orang berkiprah dalam PAN tanpa melihat asal usul keturunannya, termasuk warga keturunan Tionghoa…”

Pernyatan-pernyataan itu disampaikan SB ketika ia selaku Ketua Umum DPP PAN menghadiri 32 Years Partnership Celebration Together We Progress yang diselenggarakan oleh Union Corporation di Sands International Executive Club, Kamis malam, 7 Agustus 2008. Ketika itu, kehadiran SB mendapat sambutan hangat dari hadirin yang sebagian besar adalah para pengusaha keturunan Tionghoa.

Harian Kompas edisi 30 September 2008 mendeskripsikan keseriusan SB di dalam menjadikan PAN sebagai partai yang menganut pluralisme, sebagai berikut: “…ia terangan-terangan mengaku telah dan akan terus berjuang membawa PAN ke ‘tengah’ dari tadinya yang dicap agamis, Islam. Beberapa bukti, mulai menanggalkan simbol-simbol dan warna parpol Islam pada PAN dengan mengganti pada simbol NKRI, seperti warna bendera merah putih dan Pancasila… Bahkan, untuk pembuktian riil politik, calon legislator PAN pada Pemilu tahun depan lebih banyak mencantumkan caleg nonmuslim dibandingkan tahun 2004…”

Soetrisno Bachir tidak saja memiliki kesamaan dengan Yusril dan Gus Dur dalam hal menganut pluralisme, ia juga –sebagaimana Gus Dur– berjanji melindungi kaum minoritas: “Saya akan memperlakukan kaum minoritas termasuk Kristen sama dengan warga negara lainnya yang beragama Islam, Hindu, Budha dan lain-lain. Itulah tugas seorang pemimpin. Namun saya akan menjaga tidak boleh ada diktator mayoritas pada kaum minoritas. Tidak boleh terjadi ada lagi Ormas Islam dengan leluasa berbuat anarkisme seperti sekarang ini…” (Kompas, 30 September 2008)

Rupanya pengetahun politik Soetrisno Bachir –khususnya yang berkenaan dengan umat Islam– benar-benar klise dan basi. Cara pandangnya sama saja dengan para politisi sekuler dan non Muslim yang selalu menghembus-hembuskan bahwa di Indonesia terjadi tirani mayoritas atas minoritas. Padahal, sebagai pengusaha, SB tahu persis, bagaimana kaum pribumi yang mayoritas Islam, setidaknya di dunia bisnis, terdhalimi oleh minoritas berkat dukungan rezim yang berkuasa sejak zaman kolonial Belanda.

Lahirnya kelompok usaha seperti Ikamuda yang didirikan oleh Soetrisno Bachir dan kawan-kawannya di masa Orde Baru, adalah untuk melawan tirani minoritas tersebut. Begitu juga dengan lahirnya Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, adalah untuk melawan dominasi minoritas di sektor bisnis.

Nampaknya, untuk memenuhi syahwat berkuasa (berpolitiknya), Soetrisno Bachir tidak segan-segan mengingkari sejarah, tidak segan-segan mengingkari fakta yang sesungguhnya ada di dalam kepalanya sendiri, padahal fakta itu pulalah yang telah mendorongnya menjadi pengusaha pribumi yang sukses. Bahkan ia tidak segan-segan mulai meninggalkan Islam dan menggantinya dengan pluralisme.

Keinginan SB merangkul dan menarik simpati keturunan Cina, dan kalangan minoritas lainnya ke dalam PAN itu sah-sah saja, tanpa harus memposisikan pribumi dan umat Islam seolah-olah sebagai pelaku tirani atas minoritas. Ini jelas-jelas mengingkari kenyataan, melecehkan, dan kontraproduktif karena hanya akan membuat SB tercerabut dari akarnya. Apalagi saat ini generasi muda Muhammadiyah sudah mendeklarasikan Partai Matahari Bangsa, yang akan mengusung Din Syamsuddin sebagai salah satu kandidat Capres 2009.

Soetrisno Bachir sejak beberapa bulan lalu sering tampil di berbagai televisi melalui iklan politiknya yang berslogan Hidup Adalah Perbuatan.

Perlu diingat, yang namanya perbuatan, bisa macam-macam. Ada perbuatan yang bisa membawa pelakunya ke surga, tetapi sebaliknya dapat juga menjerumuskan ke neraka, paling sedikit ke penjara.

Soetrisno Bachir (biasa disingkat SB), pernah diterpa isu skandal seks, yang berawal dari gugatan cerai Gustiranda terhadap Nia Paramitha, istrinya. Gusti dan Nia telah menikah selama 9 tahun dan dikarunia empat orang anak yang masih kecil-kecil. Gustiranda mulai mencurigai Nia memiliki pria idaman lain (PIL) sejak Nia keguguran (bleeding) beberapa waktu lalu. Kabarnya, Gustiranda sudah melakukan vasektomi, sehingga meski Gusti tetap berhubungan intim, istrinya tidak bisa hamil. Ketika itu, 30 Maret 2006, SB disebut-sebut telah berselingkuh hingga membuahkan kehamilan bagi Nia Paramitha. Tapi, SB membantah isu ini, bahkan dia merasa difitnah.

Nia Paramitha ketika itu juga telah membantah. Bantahan tersebut disampaikan Nia di hadapan mantan Ketua Umum PAN Amien Rais dan SB, di rumah SB di kawasan Pondok Indah. Sebelumnya, Amien Rais pernah didatangi Gustiranda. Kepada Amien, Gusti melaporkan tentang hubungan SB dengan Nia yang mengakibatkan Nia Hamil. Karena tak mau termakan isu, Amien Rais kemudian mempertemukan Nia dan SB. Dalam pertemuan itu, Amien menanyakan kepada Nia apakah benar SB telah menghamili dirinya. Secara terbuka Nia ketika itu membantah keras tudingan suaminya.

Kasus itu akhirnya tak jelas juntrungannya. Namun yang pasti Soetrisno Bachir (SB) adalah sahabat karib Yusril Ihza Mahendra (YIM). Dua orang sahabat biasanya mempunyai kecenderungan yang sama. Terbukti, SB dan YIM sama-sama cenderung minta restu ke Gus Dur untuk maju jadi Capres 2009. Atau, barangkali mereka bertiga (GD, SB, dan YIM) memang punya kecenderungan yang sama? Pepatah Arab mengatakan, burung-burung akan berkumpul sesamanya. (haji/tede)