Tingkah polah Gayus Tambunan belum berakhir, meski ia berada dalam lembaga pemasyarakatan (LP) Cipinang, kisah kontroversinya masih terdengar dengan jelas.

Salah satunya, tentang kepiawaian Gayus berjudi di dalam LP Cipinang. Lawan tandingnya tak main-main, yaitu sosok bernama Nico alias Siang Fuk berusia 28 tahun.

Gayus menang berjudi dengan Nico senilai Rp 200 juta. Namun Nico tak kunjung membayar. Maka, Gayus pun minta bantuan sipir LP Cipinang untuk menagih uang sebesar Rp 200 juta kepada Nico.

Sipir LP Cipinang tentu saja tak berani menagih Nico. Karena Nico bukan orang sembarangan. Ia bandar narkoba dan salah satu pemegang saham diskotek Rajamas, yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.

Nico mendekam di LP Cipinang karena terkait kasus penembakan Bus Trans Jakarta yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 15 Januari 2011 lalu, sekitar pukul 20.30 WIB di halte bus Transjakarta di Jalan Pluit Permai Raya, Penjaringan Jakarta Utara.

Nico saat itu mengemudikan Mitsubishi Lancer biru metalik bernopol B 171 JUN, sedangkan bus Trans Jakarta yang ditembakinya bernomor polisi B 7282 IV. Senjata yang digunakan Nico adalah senjata ilegal jenis Colt kaliber 38.

Menurut Ajun Komisaris Besar Polisi Achmad Ibrahim (Kapolres Penjaringan), Nico menyerobot jalur bus Trans Jakarta, kemudian karena kesal akibat terhalangi bus Trans Jakarta, ia mengeluarkan senjata api miliknya.

Kemudian, Nico menembakkan senjatanya sebanyak lima kali: empat tembakan ke udara dan satu tembakan ke arah bus mengenai tutup tangki bus berbahan bakar gas berkapasitas 100 kilogram. Bisa dibayangkan potensi ledakan yang dihasilkan. Bila gas 3 kilogram saja bisa menghasilkan daya hancur dengan radius 200 meter, maka bila yang meledak tangki BBG bus Trans Jakarta dengan kapasitas 100 kilogram, pasti jauh lebih dahsyat.

David, pengemudi bus Trans Jakarta yang sempat diancam Nico akan ditembak, pada 16 Januari 2011 lalu melaporkan kejadian yang menimpanya kepada aparat kepolisan. Kemudian dalam waktu singkat, polisi berhasil menangkap Nico di salah satu rumahnya di Komplek Mediterania Jalan Kenari Golf Raya Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Pada saat penangkapan, dari rumah Nico polisi menemukan berbagai senjata api dan tajam. Yaitu, satu pucuk Revolver rakitan, satu magazen, 13 butir peluru, 2 butir peluru kaliber 9 mm, 1 buah Pen Gun, 3 laras Pen Gun, 35 buah peluru gas, 8 butir peluru jenis CIS, 11 butir peluru CIS kaliber 22, 14 butir peluru karet, dan dua butir peluru tajam 9 mm dan ditambah 23 bilah pedang.

Juga ditemukan alat pembuat shabu berikut shabu-shabu seberat 965,2 gram serta uang tunai Rp101 juta hasil penjualan narkoba. Selain itu ditemukan juga 2.737 butir happy five dan 11.693 butir ekstasi. Nico memang bandar narkoba, yang baru digelutinya selama dua tahun terakhir.

Begitulah kondisi LP Cipinang. Bandar narkoba tetap bisa mengoperasikan bisnisnya. Bandar judi dan pecandu judi bisa melampiaskan syahwat berjudinya, seperti gayus yang menang Rp 200 juta dari Nico alias Siang Fuk.

Gayus Tambunan yang kaya raya karena terlibat manipulasi pajak sejumlah perusahaan besar, selain suka meninggalkan ruang tahanan untuk plesir ke luar negeri, juga pernah tertipu lebih dari Rp4 milyar oleh sesama penghuni LP Cipinang bernama Muntoha, dengan modus penggandaan uang. Kasus penipuan itu mencuat sekitar pertengahan September 2011 lalu.

Muntoha adalah napi kasus penipuan pelipatgandaan uang yang masih mendekam di LP Cipinang. Meski begitu, ternyata ia masih bisa mempraktekkan kejahatannya. Sebagaimana bandar narkoba masih bisa mengendalikan bisnisnya dari dalam LP, sebagaimana bandar judi dan pecinta judi yang masih bisa bejudi di dalam LP. Benar-benar memprihatinkan.

Sebelumnya, Gayus menghebohkan pemberitaan karena ia kedapatan sedang asyik nonton pertandingan tenis Commonwealth World Championship pada tanggal 5 November 2010, di Bali. Padahal, saat itu ia seharusnya masih mendekam di tahanan Mako Brimob Kepala Dua.

Ternyata, bukan kali itu saja Gayus suka plesiran ke luar sel. Bahkan, bukan cuma Bali yang dikunjunginya, juga sejumlah tempat di luar negeri.

Aparat kepolisian pernah menemukan barang bukti berupa boarding pass dari China Air yang digunakan Gayus ketika pulang dari Macau, boarding pass Air Asia atas nama istri Gayus, Milana Anggraeni. Ini menunjukkan bahwa meski berstatus tahanan, Gayus bisa mengajak istrinya pergi ke sejumlah negara, seperti ke Macau (Hong Kong), Singapura, dan Kuala Lumpur (Malaysia). Saat itu Gayus menggunakan paspor atas nama Sony Laksono.

Begitulah bila aparat di LP tidak amanah. Sehingga, LP yang seharusnya melakukan pembinaan terhadap para napi, justru menjadi fasilitator terhadap sepak terjang para napi sehingga mereka tetap berada di dalam dunia kejahatannya, dan dilindungi secara ilegal.

Nico alias Siang Fuk (28 tahun)

haji/tede/nahimunkar.com)