Gegeran Skandal Sex Anggota Parlemen

Sumpah, saya telah dia zinai sampai hamil…

Sumpah, saya tidak menzinainya karena saya saat itu sedang rapat di kantor…

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

***

Pada tahun-tahun sebelumnya, sudah pernah terungkap skandal seks anggota parlemen seperti Yahya Zaini, Max Moein dan Al Amin Nasution. Rupanya, kasus-kasus tersebut sama sekali tidak menjadi pelajaran bagi anggota parlemen lainnya. Faktanya, skandal seks di seputar anggota parleman masih saja terjadi. Yang paling anyar, sebagaimana diduga terjadi pada anggota parlemen dari Partai Demokrat bernama Muhammad Nazaruddin yang ramai diberitakan telah memerkosa Dita yang bekerja sebagai sales promotion girl (SPG). Muhammad Nazaruddin adalah anggota Komisi III DPR RI.

Tindak perkosaan yang dituduhkan konon terjadi bulan Mei 2010, saat berlangsung Kongres Partai Demokrat (21-23 Mei 2010) yang diselenggarakan di Hotel Aston, Pasteur, Bandung, Jawa Barat. Namun, Dita baru melaporkan kasusnya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polsek Sukasari, Bandung, pada awal Agustus 2010. Kasus asusila ini mulai diberitakan pers setelah KOMPPI (Koalisi Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia) pada 18 Agustus 2010 melapor ke BK DPR RI (Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia).

Nazaruddin sendiri sempat membantah. Menurut dia, pemberitaan yang dilakukan sebuah tabloid tentang skandal seks dirinya adalah tidak benar. Begitu juga dengan tuduhan memborong habis tabloid tersebut dari pasaran. Namun, sebagaimana kasus-kasus serupa sebelumnya, biasanya masyarakat lebih percaya kepada informasi awal, sedangkan bantahannya hanya dianggap angin lalu. Karena, secara aturan, setiap pemberitaan sudah melalui sebuah proses jurnalistik yang profesional, alias confirmed. Tidak sama dengan ngegosip atau ghibah.

Oleh karena itu, turut membeberkan kasus-kasus amoral seperti ini tidak sama dengan membuka aib seseorang, tetapi seharusnya dibaca sebagai bagian dari melawan kemunkaran secara kongkrit, melalui cara-cara yang mampu dilakoninya.

Ternyata, tak hanya Nazaruddin. Ada dugaan terhadap Ahmad Tohari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang, yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD). Dugaan skandal seks Ahmad Tohari (44 tahun) dengan Nita (28 tahun), menurut sang istri sudah berlangsung sejak tahun 2003. Namun baru terkuak sekitar Februari 2010 lalu. Ironisnya, skandal seks itu dikuak oleh anak kandung Ahmad Tohari sendiri yang masih berusia belasan tahun.

Nita yang diduga menjadi pasangan zina Ahmad Tohari adalah mantan PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang juga menjadi pengasuh kedua anak-anak Tohari. Karir Nita kemudian meningkat menjadi karyawan toko bangunan milik Tohari yang terletak di Jalan Merdeka, Mojowarno, Jombang. Hal itu memungkinkan karena Nita adalah lulusan sebuah SMK di Pare, Kabupaten Kediri Jawa Timur. Nama lengkap pasangan yang diduga dizinai Ahmad Tohari ini adalah Nita Safitri, warga Desa Warujayeng, Tanjung Anom, Nganjuk, Jawa Timur.

Skandal seks sang anggota parlemen ini terungkap, ketika pada Februari 2010 lalu, Ahmad Tohari mengajak kedua anaknya menemani sang ayah yang sedang melakoni acara kunjungan kerja dewan ke Pulau Batam, Kepulauan Riau. Mereka menginap di sebuah hotel. Tanpa dinyana, ketika Tohari sedang mandi, kedua anaknya membuka-buka telepon genggam milik ayahnya.

Kedua kakak beradik ini sontak kaget, saat menemukan foto wanita tanpa busana yang tersimpan di ponsel ayah mereka. Lebih mengejutkan lagi, karena sosok tanpa busana itu mereka kenal, yaitu Nita, yang pernah menjadi pengasuh keduanya semasa mereka masih kecil. Karena takut, saat itu keduanya memutuskan untuk tutup mulut, bersikap pura-pura tidak tahu.

Akhirnya, enam bulan kemudian, ketika kedua kakak-beradik ini menyaksikan pertengkaran hebat di antara kedua orangtua mereka, rahasia yang telah mereka pendam selama enam bulan itu pun membuncah keluar. Keduanya melaporkan temuan mereka tentang keberadaan foto tanpa busana di ponsel sang ayah. Laporan itu membuat Endang Ekowati, istri Ahmad Tohari, kian marah. Ia pun bertekad menggugat cerai sang suami dan membeberkan skandal seks Tohari ke BK (Badan Kehormatan) DPRD Jombang. Sanksi lain, DPC Partai Demokrat Jombang pada Agustus 2010 lalu mencopot Ahmad Tohari dari kursi Ketua Fraksi PD dan Ketua Komisi D DPRD Jombang.

Ahmad Tohari sendiri telah berupaya membantah. Bahkan pada 25 Oktober 2010 lalu, di hadapan wartawan ia menunjukkan surat keterangan dari sebuah Rumah Sakit di Surabaya yang menyatakan selaput dara (hymen) Nita masih utuh. Namun, surat keterangan seperti itu menurut BK DPRD Jombang tidak diperlukan. Karena, perzinaan tidak selalu sama dengan robeknya selaput dara.

Nita sendiri juga sudah membantah. Menurut dia, hubungannya dengan Ahmad Tohari hanya sebatas buruh dengan majikan. Namun Nita mengakui bahwa sosok wanita tanpa busana dalam folder foto di ponsel Ahmad Tohari adalah dirinya. Menurutnya, foto-foto tersebut dijepret di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur.

Di Langkat, skandal seks anggota parlemen juga terjadi. Sekitar kuartal ketiga tahun 2008 pers pernah memberitakan dugaan perzinaan yang dilakoni Juni Mintarsih AMK angota DPRD Langkat, Sumatera Utara dari Partai PDK (Partai Demokrasi Kebangsaan), dengan Surianto anggota DPRD Langkat dari Partai Golkar.

Juni Mintarsih adalah wanita bersuami. Suaminya, Syahrial (43 tahun) adalah pengusaha yang menetap di Aceh. Sebagai suami ia mendukung sang istri yang bernafsu menjadi anggota DPRD Langkat. Dan berhasil. Sejak sang istri berkecimpung di dunia poilitk, perilakunya berubah, suka berselingkuh. Juni Mintarsih tega mengkhianati suaminya yang telah membesarkan dirinya sehingga mendapat posisi mulia di masyarakat sebagai anggota DPRD Langkat. Kini, Juni Mintarsih dipecat dari partainya, begitu juga dengan Surianto.

Sekitar Juni 2010, pada tabloid Suara Rakyat Jember dimuat berita berjudul Anggota DPRD Jatim Zinahi Janda. Isinya, tentang dugaan skandal seks antara Ahmad Nawardi (anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa) dengan seorang mahasiswi yang juga janda asal Jember berinisial MCD. Ahmad Nawardi dituding telah meniduri MCD hingga hamil.

Dalam pengakuannya, MCD mengatakan bahwa ia berkenalan dengan Ahmad Nuwardi via facebook, kemudian berlanjut dan bertemu di sebuah hotel. Di tempat itu, di sebuah hotel di Jalan Gubernur Suryo, Genteng, Surabaya, MCD diajak bermaksiat. Meski sekali, namun MCD mengalami kehamilan. Ahmad Nawardi tentu saja menolak bertanggung jawab. Sikap AN membuat MCD depresi. Apalagi setelah MCD gagal berkomunikasi dengan AN, karena ponsel AN sering tidak aktif.

Depresi dan panik yang dialami MCD akhirnya menyebabkan kandungannya gugur. Dalam keadaan seperti itulah ia mencurahkan perasaanya di facebook, sehingga skandal seks sang anggota DPRD Jawa Timur ini terkuak.

Pihak PKB sendiri tidak tinggal diam. Selama Juni-Juli 2010, tim investigasi yang mereka bentuk telah melakukan pemanggilan dan klarifikasi kepada yang bersangkutan. Namun saat itu belum ditemukan bukti yang kuat. Ahmad Nuwardi yang mantan kontributor majalah Tempo ini juga membantah. “Itu fitnah menjelang Idul Fitri.”

Uniknya, keduanya sebelum memberikan keterangan, bersumpah dengan Al-Qur’an. MCD bersumpah dengan Al-Qur’an bahwa ia berzina dengan AN dan hamil, kemudian keguguran. Sedangkan AN juga bersumpah dengan Al-Qur’an bahwa ia tidak melakukan perzinaan dengan MCD, karena pada saat itu ia sedang rapat di kantornya.

Siapa yang benar? Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Setidaknya, yang membuat kita prihatin, bahwa Al-Qur’an sudah menjadi alat bagi sebagian orang untuk menutupi kebohongannya. Astaghfirullah…

Bobroknya dan bejatnya moral sehingga perzinaan terjadi di mana-mana, khususnya dalam kasus ini melanda wakil-wakil rakyat itu mesti ditangani secara serius dan sampai tuntas. Kalau dibiarkan, dan juga aneka sarana yang menjurus kepada perzinaan termasuk aneka tayangan dan tulisan porno dibiarkan merajalela, maka hendaknya kita takut ancaman Allah Ta’ala:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [الأنفال/25]

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfal/ 8: 25).

Moral bejat dan merajalelanya maksiat adalah tingkah manusia yang mengundang murka Allah Ta’ala, sehingga kalau dibiarkan, maka yang lain akan terkena adzabnya pula di dunia ini. Apalagi: dalam kasus ini terbukti, sudah jelas ada bukti kemaksiatan yakni hamil tanpa ada suami, lalu si wanita yang hamil berani bersumpah bahwa dia dizinai oleh si Anu, sedang si Anu yang anggota dewan yang (mungkin tidak) terhormat sebagai tertuduh itupun berani bersumpah bahwa drinya tidak menzinai wanita itu. Bagaimanapun, ini di antara keduanya itu ada yang dusta. Bagi yang dusta, berarti telah bermaksiat ganda yakni zina, masih pula ditambahi dengan dusta. Dua dosa besar dilakukan secara nekat terang-terangan!

Na’udzubillahi min dzalik! (tede)

(nahimunkar.com)