Ketika ada warga yang meninggal dunia sedang dia orang kaya, walau tidak pernah kelihatan dia shalat di masjid sewaktu hidupnya, namun orang berbondong-bondong ke rumahnya untuk apa yang disebut acara tahlilan setelah dikuburnya jenazah itu.

Ada gejala apa ini, kok kembali ke zaman tahun 1960-an?

Nglaler

Guru agama di SD tahun 1960-an waktu aku sekolah dulu sering menyebut lafal nglaler (menyerupai laler/ lalat). Maksudnya, dia mencela orang-orang yang tidak mau ta’ziyah dan mengantarkan jenazah ketika yang meninggal adalah orang miskin. Sedang ketika yang meninggal orang kaya, mereka berbondong-bondong datang berta’ziyah, mengantarkan jenazahnya, dan masih datang-datang lagi di upacara tahlilannya. Kenapa? Karena diperkirakan, di sana ada pesta makan-makan dengan disembelihkan sapi dan sebagainya. Itu seperti laler (lalat), ada amis-amis sedikit langsung merubung. (Nglaler, seperti laler/lalat yang suka merubungi sesuatu lebih-lebih yang amis-amis alias anyir. Sebagaimana lafal ngalong seperti kalong yang kalau malam justru melek).

Di tahun-tahun 1960-an waktu itu memang di Jawa kalau ada kematian malah pihak yang kena musibah itu masak-masak bahkan menyembelih ayam atau kambing atau bahkan sapi untuk menyuguhi para pelayat, penta’ziyah. Dan nanti masih diadakan upacara tahlilan lagi. Padahal tuntunan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, justru orang yang kena musibah itu dibantu dengan dimasakkan atau diberi makanan, karena sedang kena musibah. Pantas saja guru agama di SD itu menyebut orang-orang yang datangnya ke tempat kematian itu untuk mendapatkan makanan dari si empunya rumah (yang sedang kena musibah) disebutnya nglaler, bagai lalat yang merubungi yang anyir-anyir. Suatu celaan terhadap perbuatan yang memang pantas dicela. Kerena secara tuntunan dalam Islam justru diriwayatkan begini:

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

«اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ أمْرٌ يَشْغَلُهُمْ – أَوْ أتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ»

“Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan” (HR. Ahmad).

Imam Asy Syairozi berkata: “Disukai bagi kerabat mayat dan tetangganya untuk membuatkan makanan untuk mereka” (Syarah Muhadzab, 5/289).

Ash Shon’ani berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى شَرْعِيَّةِ إينَاسِ أَهْلِ الْمَيِّتِ بِصُنْعِ الطَّعَامِ لَهُمْ لِمَا هُمْ فِيهِ مِنْ الشُّغْلِ بِالْمَوْتِ

“Padanya terdapat dalil disyariatkannya menghibur keluarga mayat, karena disibukkan oleh kematian” (Subulussalam, 2/237).

Asyhab berkata: “Imam Malik ditanya tentang keluarga mayat, bolehkah dikirimi makanan? beliau menjawab: Sesungguhnya aku membenci meratap, dan jika itu bukan dalam rangka meratap, silahkan dikirim”. Lalu Muhammad bin Rusyd mengomentari:

وهذا كما قال؛ لأن إرْسَال الطَّعَامِ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ لِاشْتِغَالِهِمْ بِمَيِّتِهِمْ إذَا لَمْ يَكُونُوا اجْتَمَعُوا لمَنَاحَة مِنْ الْفِعْلِ الْحَسَنِ الْمُرَغَّبِ فِيهِ الْمَنْدُوبِ إلَيْهِ.

Memang demikian, karena mengirim makanan kepada keluarga mayat bila tidak disertai berkumpul untuk niyahah maka itu perbuatan baik yang dianjurkan” (Al Bayan Wat Tahshiil).

Memang di tahun-tahun 1960-an itu masyarakat dilanda musim paceklik. Banyak orang kekurangan makan. Di antaranya karena musim kemarau panjang, dan ada saja hama tikus yang sangat mengganas merajalela di mana-mana, dan haa-hama lainnya. Hingga para petani gagal panen sampai berkali-kali.

Di balik keadaan paceklik itu ketika ada adat yang seakan dilestarikan, yaitu makan-makan di tempat kematian, maka banyak orang yang datang bila yang meninggal itu orang kaya.

Paceklik dan “pesta kematian” yang semarak itu di masa lalu, tahun 1960-an.

Sisa-sisa warisan tempo dulu itu rupanya masih ada sisanya sampai sekarang. Padahal zamannya sudah berubah. Tapi kok baru saja , bahkan di ibukota, bukan di desa, tapi “semangatnya cari makan” di tempat atau di acara berkisar kematian muncul kembli kini. Kenapa ya? Apakah ini pertanda mulai paceklik eperti zaman dulu itu?

Wallahu a’lam.

Bila dilihat gejalanya, ada semacam pembagian tugas, yang entah dibagi atau tidak, tetapi dampaknya nyata. Di satu sisi, ada pihak tertentu yang dari ulah tingkah mereka mengakibatkan banyak orang menjadi miskin. Secara bahasa gampangnya, berarti ada semacam pemiskinan.

Di sisi lain, ada pihak-pihak tertentu yang menutupi kebenaran secara ramai-ramai, sehingga kebenaran tidak tampak, justru dihindari dan dianggap tidak umum. Sebaliknya, sambil menutupi kebenaran itu mereka ramai-ramai menyemarakkan amaliah yang berseberangan dengan kebenaran yang mereka tutupi itu. Sehingga, masyarakat Umat Islam kebanyakan, tahunya yang mereka amalkan secara ramai-ramai itu adalah kebenaran, sedang kebenaran yang ditutupi itu adalah suatu keanehan yang dianggap tidak umum, dan harus disingkiri. sehingga, terjadilah apa yang terjadi. Yang mereka amalkan berbalikan dengan tuntunan yang mereka tutupi. Di antara yang mereka tutupi dalam hal ini adalah tidak perlunya ada acara kumpul-kumpul setelah dikuburnya jenazah, yang kini dikenal dengan upacara tahlilan.

Berikut ini kami kutip sebagian dari tulisan tentang Menjawab Syubhat Pembela Ritual Tahlilan.

Tahlilan adalah ritual berkumpul di keluarga kematian dengan disertai doa doa dan pembagian makanan untuk para penta’ziyah. Dalam bahasa arab lebih dikenal dengan istilahma’tam.

Jarir bin Abdillah Al Bajali berkata:

” «كُنَّا نَعُدُّ (وفى رواية كُنَّا نَرَى) الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ»

“Dahulu kami menganggap berkumpul kepada keluarga kematian dan membuat makanan setelah dikuburkan adalah termasuk meratap” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu‘ (5/320) dan Al Bushiri dalam Zawaid-nya).

Hadits berikut ini pun sama sekali tidak menunjukkan bolehnya tahlilan

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم

“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hari orang yang sedang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan” (HR. Muslim [2216]).

Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bolehnya tahlilan. Aisyah hanya membuatkan makanan untuk keluarga kematian dan kerabatnya saja untuk menghibur mereka tanpa ada acara berkumpul. Oleh karena itu beliau melakukannya setelah para wanita itu pergi. Yang seperti ini dianjurkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits:

«اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ أمْرٌ يَشْغَلُهُمْ – أَوْ أتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ»

“Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan” (HR. Ahmad).

Imam Asy Syairozi berkata: “Disukai bagi kerabat mayat dan tetangganya untuk membuatkan makanan untuk mereka” (Syarah Muhadzab, 5/289).

Ash Shon’ani berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى شَرْعِيَّةِ إينَاسِ أَهْلِ الْمَيِّتِ بِصُنْعِ الطَّعَامِ لَهُمْ لِمَا هُمْ فِيهِ مِنْ الشُّغْلِ بِالْمَوْتِ

“Padanya terdapat dalil disyariatkannya menghibur keluarga mayat, karena disibukkan oleh kematian” (Subulussalam, 2/237).

Asyhab berkata: “Imam Malik ditanya tentang keluarga mayat, bolehkah dikirimi makanan? beliau menjawab: Sesungguhnya aku membenci meratap, dan jika itu bukan dalam rangka meratap, silahkan dikirim”. Lalu Muhammad bin Rusyd mengomentari:

وهذا كما قال؛ لأن إرْسَال الطَّعَامِ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ لِاشْتِغَالِهِمْ بِمَيِّتِهِمْ إذَا لَمْ يَكُونُوا اجْتَمَعُوا لمَنَاحَة مِنْ الْفِعْلِ الْحَسَنِ الْمُرَغَّبِ فِيهِ الْمَنْدُوبِ إلَيْهِ.

Memang demikian, karena mengirim makanan kepada keluarga mayat bila tidak disertai berkumpul untuk niyahah maka itu perbuatan baik yang dianjurkan” (Al Bayan Wat Tahshiil).

(lihat: Menjawab Syubhat Pembela Ritual Tahlilan, Posted on 27 Mei 2016 by Nahimunkar.com. Sumber: channel Al Fawaid. Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, Artikel Muslim.or.id).

Dampak pemiskinan dan pembodohan

Melihat gejala baru yang seakan kembali kepada kebiasaan lama yang kurang bagus itu, saya bertanya kepada tetangga yang mengetahui keadaan pihak kematian.

Pertanyaan saya: Sampean tahu ga’, yang kini acara tahlilannya dihadiri banyak orang dan mereka tampak semangat itu, dia suka ke masjid atau tidak?

Sang tetagga menjawab: Saya sudah 20 tahun di sini, belum pernah tahu dia ke masjid.

+ Lho, kenapa orang-orang itu bersemangat ramai-ramai datang untuk apa yang disebut tahlilan ke rumahnya? Apakah dia kaya, atau karena apa? (Saat saya bertanya bukan di depan rumah kematian yang dituju, tetapi di depan masjid yang orang-orangnya sedang berangkat dari masjid menuju lokasi tahlilan. Jadi saya tidak tahu rumahnya seperti apa).

-Ya, dia memang orang kaya… rumahnya tingkat dan begini begitu… pokoknya banyak duitlah… jawab sang tetangga yang cukup tahu keadaannya.

Dari jawaban itu saya bergumam sendiri dalam hati. Ada dua hal yang mengganjal di hati, dan menimbulkan pertanyaan. Kenapa ya, padahal mereka tahu bahwa yang “diupacarai” tahlilan itu orangnya tidak pernah terlihat ke masjid, tapi kok malah orang-orang yang rajin ke masjid bersusah payah ramai-ramai datang ke acara untuknya?

Kalau jawabannya karena mereka memperkirakan bahwa akan ada makanan-makanan enak, hingga bersemangat, maka memunculkan pertanyaan lagi. Apakah sebenarnya sekarang sudah mulai paceklik? Atau memang sudah mulai menggejala lagi sifat nglaler seperti yang diungkapkan guru agama saya tahun 1960-an itu, dan muncul lagi saat ini?

Kalau dipikir-pikir, itu memang merupakan kerjasama yang sukses antara pihak-pihak yang ulah tingkahnya mengakibatkan kemiskinan (di satu pihak) dengan pihak-pihak yang selama ini menutup-nutupi kebenaran sambil memasarkan serta memasyarakatkan dan mempertahankan apa yang tidak disetujui oleh kebenaran itu. Hingga kebenarannya tenggelam serta dianggap tidak umum, sedang yang berseberngan dengan kebenaran tersebut jalan terus dan pada saat ada gejala pacelik maka tampak nyata hampir kembali lagi seperti zaman paceklik dulu tahun 1960-an.

Kasihan saudara-saudara kita Umat Islam, terasa atau tidak, mereka tergiring dan tersudutkan dalam posisi hasil konspirasi yang kurang menguntungkan, baik dari segi kehidupan materi maupun kehidupan beragamanya.

Inilah musibah besar sebenarnya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)