Gelar “Bapak Pluralisme” Gus Dur ditolak MUI

Gelar “Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme” yang diucapkan Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) ketika memimpin acara penguburan mayat Gus Dur (Abdurrahman Wahid) di Jombang Jawa Timur Kamis 31 Desember 2009, ternyata ditolak MUI Jawa Timur.

“Kami tidak sependapat jika Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme seperti diungkapkan Presiden di Jombang beberapa waktu lalu karena dapat menimbulkan konflik agama,” kata Ketua MUI Jatim K.H. Abdusshomad Buchori di Surabaya, Rabu (13 Januari 2010).

Ia menilai, pluralisme adalah faham pencampuradukan beberapa ajaran agama sehingga sangat berbahaya terhadap kehidupan beragama di Indonesia.

Kantor berita resmi Antara memberitakan, cuplikannya sebagai berikut:

MUI Tolak Gelar “Bapak Pluralisme” Gus Dur

Rabu, 13 Januari 2010 15:05 WIB

Surabaya (ANTARA News) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menolak gelar “Bapak Pluralisme” terhadap mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kami tidak sependapat jika Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme seperti diungkapkan Presiden di Jombang beberapa waktu lalu karena dapat menimbulkan konflik agama,” kata Ketua MUI Jatim K.H. Abdusshomad Buchori di Surabaya, Rabu.

Ia menilai, pluralisme adalah faham pencampuradukan beberapa ajaran agama sehingga sangat berbahaya terhadap kehidupan beragama di Indonesia.

“Ada dua hal yang membahayakan hubungan umat beragama di Indonesia, yakni radikalisme agama dan pluralisme agama,” katanya dalam sidang Badan Pembina Pahlawan Daerah Jatim untuk membahas pengusulan Gus Dur sebagai pahlawan nasional.

Shomad menyatakan, sejak Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme, MUI Jatim kebanjiran surat protes dari berbagai kalangan.

“Yang benar adalah pluralitas, bukan pluralisme. Pluralitas adalah upaya untuk mensejajarkan beberapa agama. Ini harus dicermati agar tidak memicu konflik karena adanya pelanggaran akidah,” katanya mengingatkan. (Ant, Rabu, 13 Januari 2010 15:05 WIB).

Pluralisme dan multikulturalisme adalah kemusyrikan baru

Perlu diketahui, pluralisme dan multikulturalisme adalah istilah bikinan dari luar Islam. Kalau dicocokkan dengan aqidah Islam, kurang lebihnya, pluralisme dan multikulturalisme itu adalah kemusyrikan baru, lebih berbahaya dari kemusyrikan yang dijajakan oleh kaum musyrikin Quraisy. Karena musyrikin Quraisy di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kepada kemusyrikan dengan syarat Muslimin agar ikut menyembah berhala mereka selama setahun, kemudian setahun berikutnya musyrkin Quraisy mau menyembah Allah Ta’ala bersama Ummat Islam. Maka langsung ditolak oleh Allah Ta’ala dengan sangat tegas, dengan satu surat penuh yakni Surat Al-Kafirun. (lihat sebab turunnya ayat, dalam Tafsir Ibnu Katsir, tentang turunnya Surat Al-Kafirun).

Syarat yang lebih lunak juga ditawarkan musyrikin Quraisy, cukup hanya agar mengusap berhala mereka, nanti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan dijadikan teman dekat mereka. Namun tawaran orang-orang kafir itu langsung dijawab Allah Ta’ala dengan mengancam Nabi Muhammad shallallahu ‘alai wa sallam kalau sampai cenderung ke mereka maka akan ditimpakan adzab lipat ganda di dunia ketika masih hidup maupun sesudahnya, ketika sudah wafat. Bunyi ayatnya;

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا (73) وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS Al-Israa’/ 17: 73, 74, 75).

Pluralisme agama tidak meminta syarat apa-apa, hanya agar meyakini bahwa semua agama sejajar, parallel, semua menuju kepada keselamatan, hanya beda teknis.

Ini berarti pluralisme agama itu lebih berbahaya dibanding kemusyrikan yang dijajakan orang kafir Quraisy, yang masih pakai syarat, paling kurang adalah mengusap berhala mereka. Dan itupun telah diancam oleh Allah Ta’ala.

Lebih dahsyat lagi adalah multikulturalismenya Gus Dur.

Gagasan Gus Dur tentang multikulturalisme:

Setiap pribadi berhak melakukan pilihan terhadap agama dan tradisi budayanya oleh karena itu baik negara maupun masyarakat harus menghargai serta menghormatinya. (M RIDWAN LUBIS, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PB NU,Multikulturalisme , waspada.co.id, Wednesday, 06 January 2010 06:02 )

Multikulturalismenya Gus Dur itu sampai membabat inti agama yakni amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan). Karena Gus Dur mengharuskan Negara dan masyarakat untuk menghargai dan menghormati tradisi budaya (apa saja) pilihan orang. Padahal tradisi budaya itu banyak sekali yang bertentangan dengan Islam, bahkan banyak sekali yang merupakan kemusyrikan, seperti ruwatan, larung laut, memberikan sesaji di gunung, sendang (mata air), sungai, laut, pohon dan sebagainya. Belum lagi tradisi joget dengan aneka pakaian yang tidak sesuai dengan Islam dan tak menutup aurat. Itu semua menurut konsep multikulturalisme Gus Dur harus dihormati dan dihargai oleh Negara dan setiap orang. (baca nahimunkar.com, NU Tersihir Pluralisme dan Multikulturalismenya Gus Dur, 11:17 pm ).

Dengan demikian, pluralisme dan multikulturalisme itu bahasa Islamnya adalah kemusyrikan baru, sekaligus membabat amar ma’ruf nahi munkar. Jadi Islam ini sudah ditarik ke ranah yang sama dengan agama-agama kakafiran dan kemusyrikan, masih pula dibabat inti da’wahnya yaitu amar ma’ruf nahimunkar. Betapa jahatnya!

Oleh karena itu, wajar kalau MUI menolak gelar itu, bukan lantaran Gus Dur-nya, kemungkinan, tetapi dampaknya kepada masyarakat yang akan buruk. Adapun Hasyim Muzadi, kira-kira saja menolaknya itu kemungkinan karena risih, punya tokoh saja kok digelari yang gelar itu kalau dimaknakan secara Islam adalah Bapak kemusyrikan baru.

Seberapa kekuatan gelar yang diucapkan Presiden SBY untuk Gus Dur itu, ada komentar dari pejabat di Jawa Timur dengan mengemukakan bahwa gelar tersebut tidak ada landasan hukumnya karena tanpa SK (Surat keputusan). Berita selanjutnya seperti ini:

Sementara itu, Ketua BPPD (Badan Pembina Pahlawan Daerah) Jatim Saifullah Yusuf yang memimpin sidang itu menyatakan, penyebutan Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme itu tidak ada landasan hukumnya berupa surat keputusan (SK) Presiden atau SK Gubernur.

“Itu hanya penyebutan, tidak ada SK-nya. Namun masukan dari MUI ini sangat berarti,” kata Wakil Gubernur Jatim yang juga masih keponakan Gus Dur itu. (Ant, Rabu, 13 Januari 2010 15:05 WIB).

Hasyim Muzadi ketua Umum PBNU dengan nada yang berbeda juga telah menanggapi tentang gelar “Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme” untuk Gus Dur itu. Menurut Hasyim Muzadi, pluralisme di NU bukan bersifat teologis, namun pluralisme sosiologis. Karena, alasan Hasyim Muzadi, NU tidak mengenal akidah “tahu campur”, yakni mencampur adukkan keyakinan agama.

Dengan adanya penolakan dari MUI Jawa Timur dan juga tanggapan dari ketua Umum PBNU, berarti –walaupun kalau ditelusuri memang Gus Dur itu memenuhi syarat dalam hal pluralisme agama— tampaknya dari pihak NU dan MUI Jawa Timur tidak berkenan untuk disematkan gelar itu kepada pelakunya yang telah meninggal itu.

Ini bisa diartikan, apa yang dicanangkan oleh orang liberal, Ulil Abshar Abdalla dan konco-konconya, yang menyuara agar hari kematian Gus Dur dijadikan Hari Pluralisme Indonesia, otomatis tertolak!