Sebab lembaga sebangsa ACF, dalam mencari dana lazim meminta sumbangan yang dibarter gelar.

  • Adhie meminta KPK serius menyikapi tropi WSA untuk SBY itu. Pasti ada sesuatu di balik pemberian hadiah yang kontroversial itu. Sebab lembaga sebangsa ACF, dalam mencari dana lazim meminta sumbangan yang dibarter gelar.
  • “Kalau benar si penerima gelar harus nyumbang untuk biaya kegiatan ACF, berapa jumlahnya? Pasti di atas USD 10 juta. Tapi menggunakan uang siapa? Kalau uang negara, masuk dalam delik korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” ujar Adhie.

Inilah beritanya, dengan agak disingkat, dan ada tambahan keterangan foto.

***

Adhie M Massardi Minta KPK Sita Penghargaan WSA Untuk SBY

Jumat, 31 Mei 2013 18:03 WIB

sby wsa

SURYA/SUGIHARTO

Buruh berebut untuk berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Maspion I Sidoarjo, Rabu (1/5/2013). Dalam pidatonya, Presiden SBY akan menetapkan mulai tanggal 1 Mei 2014 menjadi Hari Libur Nasional. (SURYA/SUGIHARTO) / lihat judul:  Ironis! 1 Mei, Hari Illuminati akan Jadi Hari Libur Nasional di Indonesia https://www.nahimunkar.com/ironis-1-mei-hari-illuminati-akan-jadi-hari-libur-nasional-di-indonesia/

 

TRIBUNNEWS.COM – Demi rasa keadilan masyarakat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus menyita tropi World Statesman Award (WSA) yang diterima Presiden Yudhoyono dari The Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah yayasan milik kaum Yahudi di New York, Amerika Serikat, Kamis (30/5/2013).
“Kalau KPK berani menyita gitar bass milik Gubernur DKI Jokowi, karena hadiah dari Robert Trujillo, personel Metallica itu dianggap gratifikasi, maka demi rasa keadilan masyarakat, KPK juga harus menyita tropi yang diterima SBY dari yayasan kaum Yahudi AS itu,” ujar koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie M Massardi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (31/5/2013), seperti tertulis dalam rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com.
Adhie melihat ada beberapa persamaan antara gitar bass hadiah dari personal grup musik Metallica untuk Jokowi, dengan tropi WSA yang diterima SBY dari ACF. Keduanya, sesuai undang-undang, merupakan material berharga lebih dari Rp 300 ribu, dan diberikan berkaitan dengan jabatan dengan tujuan si pemberi memperoleh imbalan dari hadiah tersebut.
Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi: Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.
Gitar bass Jokowi disita karena dia tidak punya prestasi apa pun dalam dunia musik, yang memang bukan kewajibannya. Makanya,KPK menganggap pasti si pemberi ada maunya karena Jokowi kini Gubernur DKI.
“Tropi WSA yang diterima SBY juga tidak ada kaitannya dengan kinerja kenegarawanan sebagai penjaga dan pemelihara kehidupan keberagamaan. Kalau tidak percaya, tanya para penggiat HAM, atau para pengampanye keharmonisan kehidupan beragama di tanah air,” ungkap Adhie.
Adhie meminta KPK serius menyikapi tropi WSA untuk SBY itu. Pasti ada sesuatu di balik pemberian hadiah yang kontroversial itu. Sebab lembaga sebangsa ACF, dalam mencari dana lazim meminta sumbangan yang dibarter gelar.
“Kalau benar si penerima gelar harus nyumbang untuk biaya kegiatan ACF, berapa jumlahnya? Pasti di atas USD 10 juta. Tapi menggunakan uang siapa? Kalau uang negara, masuk dalam delik korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” ujar Adhie.
“Jadi dalam konteks ini, gitar bass Jokowi dan tropi WSA SBY sama-sama untuk urusan pribadi, dan ada udang di balik semua itu. Makanya, KPK jangan hanya beraninya sama Jokowi…,” pungkas Adhie.

(nahimunkar.com)