Gelisah Muslimin di Amerika Serikat Setelah Tragedi Penembakan di Markas Militer

Sentimen negatif terhadap Islam berkembang di Amerika Serikat menyusul tragedi di Fort Hood pada 5 November lalu. Pada insiden berdarah tersebut, Mayor Nidal Malik Hasan, seorang warga muslim AS keturunan Palestina, menembak mati 13 orang dan melukai beberapa lainnya.

Mayoritas warga AS pun langsung terperangkap kembali dalam prasangka purba begitu kejadian itu tersiar: bahwa Islam yang sudah sekitar seabad masuk ke AS itu berbahaya, bahwa muslim itu teroris.

Padahal kejaian lain, belum tentu disikapi sama dengan kalau pelakunya Muslim. Contohnya, menurut Sally Quinn, kolumnis masalah agama dan kepercayaan di Washington Post, ketika Jason Rodriguez menembak mati seorang rekan kerjanya dan melukai lima lainnya di Orlando pada akhir Oktober lalu, apakah pemicunya adalah karena dia Katolik, Hispanik, karyawan yang suka mengeluh, atau sekadar edan?

Awal tahun ini, James von Brunn melepaskan tembakan secara membabi buta di Museum Holocaust dan menewaskan seorang penjaga. Betulkah itu terjadi karena dia Kristen, pendukung supremasi kulit putih, atau semata seorang pecundang?

Sebaliknya, sikap orang-orang Amerika yang negative terhadap Islam itulah makanya kekhawatiran adanya pembalasan akibat aksi Nidal di Fort Hood menyelimuti warga muslim AS. Di Islamic Center di Washington, Chicago, dan beberapa kawasan lain, para pengurus masjid terpaksa meminta pengawalan ekstra dari polisi. Para ulama juga mewanti-wanti agar jamaahnya lebih waspada.

Selama ini kerap dilaporkan bahwa banyak personel militer muslim yang dilecehkan. Ejekan ”teroris” atau ”Taliban” adalah makanan sehari-hari. Banyak juga personel militer muslim tersebut yang dianggap sebagai musuh dalam selimut.

Itu pula yang dikabarkan dialami Nidal. Pernah suatu kali pula stiker ”Allah Is Love” yang ditempel di bumper mobilnya disobek. Para tentara AS yang muslim juga selalu mengalami perang batin setiap ditugaskan ke Iraq atau Afghanistan yang notabene negeri muslim. Mereka tertekan karena merasa harus membunuh sesama muslim.

Inilah beritanya:

Keresahan Muslim di Amerika Serikat setelah Tragedi Fort Hood

Terbantu Tingginya Toleransi di Militer

[ Minggu, 15 November 2009 ]

KETIKA Jason Rodriguez menembak mati seorang rekan kerjanya dan melukai lima lainnya di Orlando pada akhir Oktober lalu, apakah pemicunya adalah karena dia Katolik, Hispanik, karyawan yang suka mengeluh, atau sekadar edan?

Awal tahun ini, James von Brunn melepaskan tembakan secara membabi buta di Museum Holocaust dan menewaskan seorang penjaga. Betulkah itu terjadi karena dia Kristen, pendukung supremasi kulit putih, atau semata seorang pecundang?

Sally Quinn, kolumnis masalah agama dan kepercayaan di Washington Post, mengajukan dua contoh kasus tersebut untuk menepis sentimen negatif yang berkembang di Amerika Serikat menyusul tragedi di Fort Hood pada 5 November lalu. Pada insiden berdarah tersebut, Mayor Nidal Malik Hasan, seorang warga muslim AS keturunan Palestina, menembak mati 13 orang dan melukai beberapa lainnya.

Mayoritas warga AS pun langsung terperangkap kembali dalam prasangka purba begitu kejadian itu tersiar: bahwa Islam yang sudah sekitar seabad masuk ke AS itu berbahaya, bahwa muslim itu teroris. Komisi Ombudsman Washington Post, salah satu koran paling berpengaruh di AS, misalnya, mengaku sampai kewalahan menampung segala kecaman serta kemarahan warga Negeri Paman Sam tersebut terhadap Islam pascainsiden di Fort Hood.

Nah, Quinn berusaha menepis hal itu dengan memberi contoh kasus Rodriguez dan Vonn Brunn tersebut. Ketika dua orang itu kalap, ungkap Quinn, mengapa tak ada tuduhan tentang fundamentalisme Katolik atau Kristen?

”Sebab, banyak faktor yang berperan dalam kasus-kasus seperti itu. Jadi, dalam kasus Fort Hood, mengapa begitu banyak orang menyalahkan atau mempertanyakan Islam hanya karena aksi seorang pemeluknya,” lanjut Quinn dalam tulisannya.

Sebenarnya, bukan hanya penulis berpikiran terbuka seperti Quinn yang berusaha menghapus stigma yang muncul tentang Islam dan muslim pasca kejadian di Fort Hood. Eboo Patel, direktur eksekutif Interfaith Youth Core, juga menegaskan bahwa aksi gila Nidal itu sama sekali tak merefleksikan Islam.

Bahkan, dalam pidato di upacara pemakaman para korban, Presiden Barack Obama sama sekali tak menyebut kata ”muslim” atau ”teroris”. ”Berbagai ras dan agama yang bercampur di dalam militer merefleksikan keberagaman yang menjadi ciri khas Amerika,” ujar Obama. ”Mereka disatukan oleh satu visi, yaitu patriotisme.”

Sebab, sampai sekarang pun belum jelas betul motif di balik aksi brutal Nidal. Namun, tetap saja kekhawatiran adanya pembalasan akibat aksi Nidal di Fort Hood menyelimuti warga muslim AS. Di Islamic Center di Washington, Chicago, dan beberapa kawasan lain, para pengurus masjid terpaksa meminta pengawalan ekstra dari polisi. Para ulama juga mewanti-wanti agar jamaahnya lebih waspada.

”Jangan keluar rumah sendirian,” imbau Hussam Ayloush, direktur Council on American-Islamic Relations (CAIR) di California Selatan, kepada Associated Press.

Kekhawatiran lebih besar dirasakan warga muslim AS yang tergabung di militer. Saat ini, di antara total 1,4 juta personel militer AS, Pentagon mencatat sekitar 3.557 orang beragama Islam. Tapi, diduga jumlah tersebut masih bisa bertambah. Sebab, sekitar 283.000 personel militer yang lain tidak mencantumkan keyakinan mereka dalam dokumen resminya. Sementara itu, jumlah muslim di negeri dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut berkisar 7 juta jiwa.

Para tentara yang muslim tersebut sangat dibutuhkan militer AS ketika harus terjun ke medan perang seperti Afghanistan dan Iraq. Para personel muslim yang umumnya keturunan imigran Timur Tengah itu menjadi semacam ”penyambung lidah”.

”Jujur, saya sekarang cemas spekulasi yang terus bermunculan ini bakal mendatangkan aksi balasan terhadap para serdadu muslim kami,” ujar Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal George Cassey kepada CNN.

Apalagi, selama ini kerap dilaporkan bahwa banyak personel militer muslim yang dilecehkan. Ejekan ”teroris” atau ”Taliban” adalah makanan sehari-hari. Banyak juga personel militer muslim tersebut yang dianggap sebagai musuh dalam selimut.

Itu pula yang dikabarkan dialami Nidal. Pernah suatu kali pula stiker ”Allah Is Love” yang ditempel di bumper mobilnya disobek. Para tentara AS yang muslim juga selalu mengalami perang batin setiap ditugaskan ke Iraq atau Afghanistan yang notabene negeri muslim. Mereka tertekan karena merasa harus membunuh sesama muslim.

Karena itulah, menarik pelajaran dari tragedi Fort Hood, Andre Carson, salah seorang di antara dua anggota Kongres AS yang muslim, meminta agar militer lebih fokus pada masalah kesehatan mental para anggotanya. Carson yakin tak akan ada balasan kepada tentara yang muslim hanya karena aksi Nidal.

Keyakinan Carson itu didukung Sersan Fahad Kamal yang juga personel di Fort Hood. ”Saya jarang mendapat perlakuan negatif karena keyakinan saya,” ujarnya.

Memang pernah ada seorang rekan yang memanggilnya teroris. Kamal menganggap itu hanya guyonan. Tapi, tidak demikian dengan atasannya yang kebetulan mendengar. Si rekan Kamal tersebut langsung dihukum.

Relatif tingginya toleransi di militer itu juga dirasakan Mayor Aisha Bakar. ”Selama bergabung dengan Marinir, saya tidak pernah dilecehkan karena memeluk Islam. Saya tidak pernah menyembunyikan identitas muslim saya,” ujar perempuan keturunan Syria itu bangga. (hep/ttg)

http://www.jawapos.co.id/