Gerakan Fundamentalis di Sekolah Umum?

 

MENGHIDUPKAN keberadaan hantu jadi-jadian bernama fundamentalisme dan radikalisme nampaknya merupakan pekerjaan serius yang menguntungkan bagi kalangan penganut sepilis. Pada bulan November 2008 lalu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, merilis hasil survey tentang sikap Sosial-Keagamaan Masyarakat di Jawa? yang dilaksanakan sejak bulan Mei hingga Agustus 2008.

Hasilnya, Most Islamic studies teachers in public and private schools in Java oppose pluralism, tending toward radicalism and conservatism? (Kebanyakan guru agama Islam di sekolah umum dan swasta di pulau Jawa menentang pluralisme, dan memelihara keberadaan radikalisme dan konservatisme).? (www.thejakartapost.com/news/2008/11/26/most-islamic-studies-teachers-oppose-pluralism-survey-finds.html). Untuk lebih lengkapnya, lihat kembali tulisan di nahimunkar.com berjudul Survey PPIM UIN Khas Sepilis Menggembosi Islam, December 25, 2008 9:10 pm).

Ternyata, di tahun yang sama, telah pula dilakukan penelitian yang diselenggarakan oleh SCN-Crest (Semarak Cerlang Nusa: Consultancy, Research and Education for Social Transformation), yang menyoroti kaum Muda dan Regenerasi Gerakan Keagamaan Fundamentalis di Sekolah Umum?. Penelitian dilakukan di tujuh kota (Padang, Jakarta, Pandeglang, Cianjur, Cilacap, Yogyakarta dan Jember). Hasilnya: kekuatan berbagai kelompok fundamentalis di sekolah umum negeri telah cukup mapan. Fenomena ini tidak terlepas dari perubahan sosial politik yang terjadi di tanah air dalam beberapa dasawarsa terakhir. Di sekolah-sekolah umum negeri tersebut, pada umumnya proses ‘fundamentalisasi’ diawali dengan kegiatan dan pendekatan informal. Dalam perkembangannya upaya ‘formalisasi’ dilakukan. Dalam hal ini organisasi ekstra kulikuler keagamaan merupakan ujung tombak proses ini (http://www.salihara.org/main.php?type=detail&module=event&menu=child&parent_id=0&id=36&item_id=559)

SCN-Crest didirikan pada tahun 1993 oleh sekelompok aktivis yang tergabung pada Lembaga Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Transformatif (LPIST). Tujuannya, mendorong terjadinya transformasi  sosial melalui penyediaan layanan bagi berbagai organisasi. Upaya yang dilakukan SCN-Crest adalah memberikan layanan untuk memfasilitasi berbagai lembaga yang fokus programnya beragam seperti: kaum miskin kota dan desa, buruh,  anak, perempuan dan lingkungan. Selain mempunyai jaringan di tingkat lokal dan nasional, SCN-Crest juga membangun jaringan di tingkat internasional. Di tingkat lokal, SCN-Crest antara lain berjaringan dengan UPC (Urban Poor Consortium), pimpinan Wardah Hafidz.

Penelitian SCN-Crest tersebut nampaknya melengkapi hasil survey yang dilakukan PPIM-UIN Jakarta. Nah, dalam rangka mensosialisasikan hasil penelitannya itu, SCN-Crest membuka forum diskusi yang akan berlangsung di Teater Utan Kayu, pada hari Selasa tanggal 24 Februari 2009 pukul 19:00 WIB. Tidak dipungut biaya. Sebagai narasumber, selain Farha Ciciek juga Azyumardi Azra. Semoga saja hasil penelitiannya itu dapat diakses berbagai pihak.

Boleh jadi, setelah adanya penelitian itu, kelak para aktivis sepilis seperti Farha Ciciek dan Azyumardi Azra akan terjun ke berbagai sekolah umum, tentunya dalam rangka ‘mencerahkan’ para siswa-siswi dari paham keagamaan yang menurut mereka fundamentalistis. Azyumardi Azra sudah dikenal sebagai penganut sepilis yang berhasil men-sepilis-kan sebagian mahasiswa-mahasiswi UIN/IAIN. Kini, barangkali, keberhasilan itu ingin ia terapkan di lingkungan sekolah menengah. Kiprah Azyumardi Azra sudah dikenal luas, namanya pun populer sebagai cendekiawan Muslim yang moderat. Tapi, siapa Farha Ciciek?

 

Farha Ciciek

 

Selain menjadi peneliti mitra di SCN-Crest, Farha Ciciek kelahiran Ambon 26 Juni 1963 ini, juga menjalani profesi sebagai konsultan isu agama dan gender (terutama komunitas pesantren dan sekolah), serta salah satu dari ?1000 Peace Women? yang dinominasikan untuk menerima Nobel Peace Prize. Ia juga pernah menulis tesis tentang Peran Perempuan Islam di Pondok Pesantren al Mukmin, Ngruki, Solo. Bersama beberapa pemerhati masalah perempuan, ia pernah mendirikan Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LS-PPA). Ia juga aktivis Yayasan Rahima, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam perspektif Islam.

Farha Ciciek menyelesaikan jenjang pendidikan S-1 di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga (Jogjakarta), dan jenjang pendidikan S-2 di Fakultas Pascasarjana Jurusan Sosiologi UGM. Kini, ia tercatat sebagai staf pengajar di FISIP Univesitas Nasional (Unas), Jakarta. Selain sering menjadi pembicara di berbagai forum publik seperti seminar dan diskusi, ia juga banyak menulis berbagai masalah perempuan dan agama di media massa. Keprihatinan Farha Ciciek terhadap masalah kekerasan terhadap perempuan semakin mengental sewaktu bergabung dengan Kalyanamitra, sebuah lembaga yang aktif mendampingi perempuan korban kekerasan dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan Divisi Kekerasan Terhadap Perempuan (TRKP).

Tahun 2005, Farha Ciciek menerbitkan buku berjudul Jangan Ada Lagi Kekerasan dalam Rumah Tangga yang  diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Dari bukunya itu, kita sudah bisa melihat dengan jelas ia menganut feminisme. Melalui bukunya, Farha Ciciek mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kaum perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam rumah tangga, karena kaum perempuan bukan manusia kelas dua. Ia juga mengajak pembaca untuk melihat perlunya keberadaan sebuah lembaga yang menangani tindak kekerasan dalam rumah tangga, sebuah lembaga penegakan hukum yang adil terhadap kasus-kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Pembaca juga diajak untuk menyadari sekaligus merenungkan, tentang sejauh mana tuntutan ketaatan dan kepatuhan istri kepada suami menurut ajaran Al-Qur’an.

Masih di tahun 2005, ketika MUI mengharamkan perempuan menjadi TKW (tenaga kerja wanita atau perempuan buruh migran), bila kepergian perempuan itu tidak disertai mahram (pendamping), Farha Ciciek berpendapat, bahwa Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan segala peranti konvensinya juga dapat diposisikan sebagai mahram. Bagi Farha, masalah perempuan buruh migran yang bekerja di luar negeri bukanlah persoalan agama, tetapi lebih merupakan masalah ekonomi-politik.

Pada tahun 2007, Farha Ciciek dianugerahi penghargaan Global Ashoka berupa beasiswa dari Yayasan Ashoka yang memiliki kantor pusat di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Ia merupakan satu dari lima perempuan wirausahawan sosial dari Indonesia yang mendapat anugerah tersebut. Kelima penerima penghargaan tersebut adalah Septi Peni Wulandari dari Yayasan Jarimatika, Nani Zulminarni (Pekka), Farha Ciciek (Rahima), Lita Anggraeni (Rumpun dan Jala Pekerja Rumah Tangga), dan Samsidar (Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan/RPUK Aceh). Dalam hal ini, Farha Ciciek dianggap berhasil dalam memperkenalkan interpretasi teks keagamaan yang menghargai kesetaraan gender di dalam pesantren dan komunitasnya.

Menurut sebuah sumber, Farha Ciciek melalui organisasinya Rahima, dianggap telah berhasil –melalui tradisi selawat– menyebarkan ide kesetaraan perempuan kepada 27.000 pelajar di Jawa Timur. Bahkan Farha mentargetkan, akan menjangkau lebih dari enam juta orang di seluruh Indonesia dengan pesan selawat gendernya, melalui dukungan jaringan Fatayat-NU.

Masih di tahun 2007, dalam sebuah diskusi publik bertajuk Agama Seharusnya Ramah Terhadap Terhadap Perempuan, yang berlangsung di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta (Kamis 7 Juni 2007), Farha Ciciek menilai, perempuan  mengalami perlakuan diskriminatif dan eksploitatif yang seringkali dilegitimasi ajaran agama. Reaksi perempuan atas hal itu pun bermacam-macam, mulai dari menjadi atheis, liberal, hingga konservatif. Perilaku diskriminatif dan eksploitatif itu dialami perempuan tidak hanya di ranah rumah tangga. Namun di tingkat negara, perlakuan itu dinilai masih kerap terjadi. Demikian pendapat Farha Ciciek.

Sudah lebih dari satu dasawarsa Farha Ciciek menjalani perannya sebagai pengusung feminisme, namun ia belum seberuntung Abidah El-Khalieqy yang salah satu novelnya diterbitkan Yayasan Kesejahteraan Fatayat (NU) dan the Ford Foundation, kemudian menuai kontroversi setelah difilmkan. Kontroversi itulah yang melambungkan namanya. (Lihat artikel News Maker from Jombang di nahimunkar.com).

Dengan belum terangkat-angkatnya Farha Ciciek itu makanya sekarang bareng-bareng dengan Azra untuk menggarap kalangan anak-anak SMA. Ini apakah karena Azra di tingkat perguruan tinggi merasa gagal misinya karena upayanya selama ini untuk meliberalkan mahasiswa Muslim di perguruan tinggi Islam (UIN/ IAIN) justru menjadikan makin matinya Fakultas Ushuluddin di berbagai IAIN, UIN, STAIN dan STAIS di seluruh Indonesia  karena masyarakat tahu bahayanya liberalisme berkedok Islam di perguruan tinggi Islam? Kemudian daripada menambah kegagalan maka – kira-kira saja– perlu terjun menggarap anak-anak SMA. Ataukah karena pihak pembuat scenario peliberalan itu untuk mengangkat Farha Ciciek agar lebih meningkat lagi  hingga pihak sponsor kafirin lebih tertarik untuk mendanainya sebagaimana Abidah didanai Ford Foundation?

Mereka lebih tahu tentang itu. Tetapi Allah Ta’ala lebih tahu lagi bahkan Maha Tahu, hingga sepak terjang yang arahnya untuk merusak Islam itu pun tetap tercium juga oleh hamba-hambaNya yang setia yakni masyarakat Muslim. Kapan-kapan tinggal menerapkan sikap apa yang pas dan tepat untuk ditembuskan kepada orang-orang yang ditengarai menjadi kaki tangan asing kafir dalam mengusik Islam dengan aneka cara dan dalih itu.

Perlu diingat, di dalam Al-Qur’an dikisahkan, di kalangan kaum Nabi Shaleh ‘alaihis salam ada persekongkolan 9 orang jahat yang membuat tipu daya untuk merusak agama Allah, akibatnya seluruh kaum itu dihancurkan oleh Allah Ta’ala, tetapi Allah Ta’ala tetap menyelamatkan orang-orang yang beriman.

 

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ(48)قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ(49)وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ(50)فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ(51)فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(52)وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(53)

Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (QS An-Naml/ 27: 48, 49, 50, 51, 52, 53). (haji/tede)