Gladi Bersih Kampanye

Oleh Mulyawati Yasin

Mantan Penyiar Radio di Jakarta

Pengantar Redaksi:

Karangan ini sekadar karangan, tidak menyangkut siapa-siapa, dan bukan merupakan berita dari satu peristiwa. Jadi ini sifatnya boleh dibilang fiksi, dan dikarang tahun 1999M/ 1420H di zaman setelah lengsernya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan 1998.

Karangan fiksi sebenarnya tidak kami seyogyakan untuk ditampilkan. Hanya saja karena dalam karangan ini ada semacam penyadaran kepada Ummat Islam untuk menghindari hal-hal yang tidak bagus, memiliki muatan amar ma’ruf nahi munkar dalam bentuk yang unik yang mungkin merupakan letupan dari lubuk hati yang sulit diucapkan secara sharih (terang-terangan) maka bentuk fiksi ini seakan alternative di pintu buntu.

Oleh karena itu kami mohon dimaklumi adanya karangan unik ini kami muat.

Terimakasih.

Redaksi nahimunkar.com

Saudara-saudara, mari kita mulai gladi bersih (latihan praktek terakhir) kampanye partai kita yakni Partai Anjing, pada malam ini, ucap pembawa acara kepada para Jurkamnas (juru kampanye nasional) partai berlambang binatang yang liurnya najis mugholadhoh ini. Untuk menyingkat waktu, saya persilakan Bapak ’Ashoby (Fanatik Golongan) untuk praktek kampanye sesingkat-singkatnya, ujar pembawa acara. Yang disebut Bapak ‘Ashoby pun maju ke podium yang telah dihiasi dengan gambar-gambar anjing. Spanduk yang dipasang di atas (belakang) podium pun berlambang anjing dengan tulisan mencolok, Gladi Bersih Kampanye Partai Anjing Tingkat Nasional.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, ucap Jurkam ‘Ashoby memulai praktek kampanyenya.

Saudara-saudara tahu, bahwa partai kita, Partai Anjing adalah yang paling disayang Allah. Sebab hanya anjing lah satu-satunya binatang yang menemani Ash-Haabul Kahfi yang diceritakan dalam Al-Quran. Dan yang dikawal anjing itu adalah pemuda-pemuda yang beriman, yang dikejar-kejar penguasa dhalim. Maka Anda sekalian akan beruntung bila mencoblos Partai Anjing. Kalau Partai Anjing menang maka rakyat akan terjaga keamanannya, dan terbebas dari kadhaliman yang selama ini melanda negeri kita. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.’

Plok-plok-plok plok….., suara riuh rendah tepuk tangan Jurkam lainnya dan hadirin yang berjumlah 1.000-an orang bergemuruh memenuhi aula yang cukup luas ini.

Lantas pembawa acara mempersilakan Jurkam Baai’ul Ayat (Penjual Ayat) untuk praktek kampanye singkat. Jurkam Baai’ul Ayat yang berperawakan tinggi besar tampak melangkah maju ke podium dengan gagahnya.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,’ serunya sambil menengok kanan kiri seantero ruangan hingga tampak sekali wajahnya yang dihiasi kaca mata jengkol warna hitam.

Wa’alaikumus salaam….,’ sahut hadirin sesama jurkam yang memenuhi kursi ruangan dan hadirin lain yang berdiri di samping-samping dan belakang.

Saudara-saudara sekalian yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Kami beritahukan kepada saudara-saudara bahwa di dalam Al-Qur’an ada beberapa kali disebut kata-kata kalb yang artinya anjing. Di antaranya yang telah disebutkan oleh Bapak ‘Ashoby dalam Surat Al-Kahfi tersebut. Maka berbahagialah kita yang berpartai Anjing ini. Bahkan, di dalam Hadits ada riwayat khusus tentang anjing. Yakni anjing kehausan menjilat-jilat tanah, lalu ditolong oleh seorang perempuan nakal dengan cara mengambilkan air, turun naik ke sumur membawakan air untuk anjing yang kehausan itu dengan sepatu boot-nya. Dalam Hadits itu dijelaskan bahwa perempuan nakal itu diampuni dosanya karena memberi minum anjing yang kehausan itu. Maka berbahagialah saudara-saudara yang nantinya mencoblos partai yang berlambang Anjing ini, hingga saudara-saudara akan diampuni dosanya sebagaimana perempuan nakal itu. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Tepuk tangan 1000 Jurkamnas dan hadirin pun riuh rendah seolah akan meruntuhkan gedung yang dibangun dengan sistem cakar ayam itu. Selanjutnya giliran Jurkam Baai’ud Diin (Penjual Agama) dipersilakan maju.

Jurkam ini pakai jubah, bersorban dan berpeci seperti halnya Jurkam Baai’ul Ayat. Hanya saja bedanya, Jurkam Baai’ud Diin ini kacamatanya lebih lebar lagi.

‘Saudara-saudara sebangsa dan separtai, Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Betapa bahagianya saudara-saudara yang tergabung dalam Partai Ajing ini.

Kenapa?

Perlu kita ketahui bahwa Allah saja mengkhususkan ayat untuk memberikan penjelasan tentang mulianya pekerjaan anjing yang diperuntukkan sebagai pemburu yang dilatih. Istilahnya mukallibiin, yakni anjing-anjing yang diajari berburu secara Islam. Hasil buruan anjing-anjing yang terlatih ini halal, setelah anjingnya (semula) dilepas dengan Bismillah dan kemudian bekas gigitan anjing pada bagian tubuh binatang hasil buruannya itu dibuang. Itulah salah satu bukti betapa mulianya anjing itu. Maka beruntunglah kalian yang telah siap mencoblos Partai Anjing dalam pemilu nanti. Terimakasih.’

Tepuk tangan 1000-an jurkamnas dan hadirin meledak lagi. Dan kemudian giliran pakar-pakar dipersilakan bicara.

Pakar sosiologi dipersilakan maju. Dia ini cewek setengah umur, berambut lurus sebahu. Dia maju ke podium berpakaian dengan rock sedengkul.

‘Saudara-saudara, kita amat beruntung berpartai Anjing ini. Anjing adalah binatang multi guna dalam kehidupan sosial. Bisa untuk menjaga tanaman, kebun, rumah, untuk melacak maling, melacak penyelundup narkotik dan sebagainya. Pokoknya hebat itu Anjing. Jangan sampai lupa, pilih partai…. (disahut hadirin) Anjing….Pilih Partai…. Anjiing…. Hidup Partai… Anjing…. Hidup Anjing, Hidup Anjing, Hidup Anjing…… Hidup Anjing…….!!!

Suara gemuruh tak habis-habisnya. Sampai pembawa acara kewalahan untuk menghentikan suara sahut menyahut itu. Para Jurkamnas mulai histeris sambil meneriakkan Hidup Anjing… Hidup Anjing…. dan secara serempak mereka menari-nari berjoget di atas kursi, berjingkrakan.

Kursi-kursi yang tadinya tertata rapi itu tiba-tiba menjadi berserakan, bahkan tak sedikit yang jebol atau malahan patah karena untuk berjingkrakan ramai-ramai. Malah mulai ada yang berdansa dengan pasangan-pasangan laki perempuan dengan nyanyian kompak, Hidup Anjing… Hidup Anjing…

Malam pun mulai larut, beberapa bocah pedagang asongan yang berjualan air minum gelasan, permen, kacang dan sebagainya mulai diserbu orang-orang di saat suasananya sedang berdansa-dansi atau joget-joget itu. Dagangan para pedagang asongan pun habis ludes tak tersisa.

Mana duitnya bang… mana duitnya bang…, ucap bocah-bocah pedagang asongan di pinggir-pinggir deretan kursi, menagih orang-orang yang telah mengambil dagangan bocah-bocah itu. Orang-orang itu tetap berjoget, berteriak, ‘Hidup Anjing… Hidup Anjing…’ tidak menggubris bocah-bocah yang menagih itu.

Bocah-bocah yang dagangannya habis dijarah orang itu terpaksa pulang di kegelapan malam dengan jalan kaki berkilo-kilo meter sambil meneteskan air mata. Derita yang mereka alami itu cukup memukul. Hingga pikiran mereka pun tak mampu menjangkau, apakah penderitaan mereka ini akibat ulah penyusup-penyusup yang punya misi tertentu terhadap partai itu ataukah memang partai itu merupakan kumpulan orang-orang rakus yang tak punya belas kasihan.

Bocah-bocah ini hanya menggerutu: ‘Dasar Anjing…. menghalalkan segala cara…,’ rintih bocah-bocah miskin yang dagangannya dirampas itu di saat pulang di kegelapan malam dengan hati yang luka. Padahal mereka berdagang itu duitnya dari hasil utang.

Jakarta, Senin 2/1999M, 1 Muharram 1420H