Golkar Tidak Percaya Diri

Jusuf Kalla Minta Dukungan Aliran Sesat LDII

 

PADA nahimunkar edisi Oktober 2008, pernah dipublikasikan tulisan berjudul Gaya Yusril dan Soetrisno Bachir (October 15, 2008 8:07 am). Tulisan itu dibuat setelah redaksi nahimunkar.com mendapat kiriman sebuah pesan singkat (sms) yang isinya mengatakan bahwa Yusril dan Soetrisno Bachir merupakan calon presiden 2009 yang tidak percaya diri karena meminta restu dari Gus Dur, padahal Gus Dur sendiri belum tentu bisa maju jadi calon presiden 2009 karena adanya hambatan cacat fisik. “Mosok orang sehat minta restu kepada orang sakit.” Begitu kata pesan singkat tadi.

 

Dari pesan singkat tadi, ada sebuah komentar yang juga diterima berupa sms, dan dikirimkan ke redaksi nahimunkar, isinya “…yang minta restu lebih sakit dari yang dimintai restu.”

 

Lha, bila Yusril dan Soetrisno Bachir (yang meminta restu) saja dinilai lebih sakit dari yang dimintai restu, bagaimana pula dengan Jusuf Kalla (JK), Ketua Umum Golkar yang justru minta dukungan kepada aliran sesat LDII pada pemilu legislatif dan pilpres 2009 mendatang? Padahal, LDII merupakan aliran sesat –yang oleh rekomendasi Munas MUI 2005– dikategorikan sebagai ajaran sesat dan mendangkalkan aqidah. Sehingga rekomendasi Munas MUI 2005 itu menegaskan:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

 

Sedang jumlah anggota LDII pun jauh lebih kecil dari jamaah NU. Maka dalam kasus Ketua Umum Golkar yang justru minta dukungan kepada aliran sesat LDII pada pemilu legislatif dan pilpres 2009 itu  menunjukkan bahwa Golkar dan Jusuf Kalla selain tidak percaya diri juga tidak memahami Islam dan aliran sesat yang menggerogoti aqidah Islam.

 

Peristiwa JK meminta dukungan kepada aliran sesat LDII bisa ditemui antara lain pada Media Indonesia online edisi 24 Januari 2009 02:50 WIB, di bawah judul Jusuf Kalla Minta Dukungan LDII pada Pemilu Legislatif dan Pilpres. (http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTc2MzA=).

 

Tidak Percaya Diri

 

Golkar adalah pemenang pemilu 2004, menggantikan posisi PDI-P yang pada pemilu 1999 menjadi pemenang. Namun, sejak awal Golkar sudah terlihat tidak percaya diri dalam hal mencalonkan kadernya sebagai presiden. Berbeda dengan misalnya PDIP atau Demokrat yang sejak awal sudah berani memasang kadernya sendiri sebagai calon presiden.

 

Menghadapi pilpres 2004, Golkar menggelar konvensi untuk menjaring calon presiden dari Golkar sendiri. Jusuf Kalla merupakan salah satu tokoh Golkar yang ikut konvensi tersebut. Namun, belakangan Jusuf Kalla mengundurkan diri dari konvensi tersebut, dan menerima pinangan Partai Demokrat untuk disandingkan dengan SBY sebagai pasangan Capres dan Cawapres kala itu.

 

Dari Golkar sendiri, muncul pasangan Wiranto yang berduet dengan Salahuddin Wahid, yang maju bersaing dengan beberapa pasangan lainnya yaitu SBY-JK, Mega-Hasyim Muzadi, Amien-Siswono, dan Hamzah-Agum. Calon presiden dari Golkar, Wiranto-Salahuddin gagal memasuki putaran kedua pilpres kala itu. Pada putaran kedua, yang maju bertanding adalah pasangan SBY-JK dan Mega-Hasyim.

 

Bagaimana sikap Golkar yang kala itu dipimpin oleh Akbar Tanjung? Golkar justru mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi ketimbang mendukung SBY-JK, padahal JK adalah kader unggulan Golkar. Ironisnya, yang menang pilpres kala itu adalah pasangan yang tidak didukung Golkar, yaitu pasangan SBY-JK.

 

Dari sini, kita bisa melihat bahwa Golkar selain tidak percaya diri juga tidak solid. Apalagi kemudian diikuti dengan mundurnya Wiranto dari Golkar, mendirikan Partai Hanura, dan pada pilpres 2009 Wiranto maju sebagai capres dari Hanura. Selain Wiranto, tokoh Golkar yang sempat ikut konvensi 2004, juga mundur dari Golkar dan mendirikan Partai Gerindra, dia adalah Prabowo Subianto, yang juga maju sebagai salah satu capres pada pilpres 2009.

 

Ketidak percayaan diri Golkar juga masih nampak pada tahun 2009, terutama untuk urusan Capres. Ketika itu, masih terdengar suara dari Golkar yang ingin mempertahankan pasangan SBY-JK sebagai Capres dan Cawapres pada pilpres 2009. Barulah setelah terjadi ‘insiden Ahmad Mubarok’ yang dianggap ‘melecehkan’ Golkar, petinggi Golkar mulai bangkit emosi dan harga dirinya. Mereka pun mulai menggagas wacana mencalonkan JK sebagai Capres pada pilpres 2009 nanti. Nampaknya pencalonan JK sebagai Capres 2009 dari Partai Golkar sudah merupakan keputusan final. Namun masih ada satu lagi urusan yang belum selesai, yaitu siapa pendamping JK sebagai Cawapres 2009?

 

Kembali terlihat ketidak percayaan diri Golkar. Menurut petinggi Golkar, mereka akan mencalonkan Cawapres dari intern bila perolehan suara Golkar pada pemilu legislatif cukup signifikan, misalnya di atas 20 persen. Bila tidak, maka Golkar akan menggandeng tokoh dari partai lain seperti PKS.

 

Golkar memang seharusnya tidak boleh percaya diri. Sebab, keberhasilan mereka menjadi juara pada pemilu legislatif 2004, belum tentu merupakan hasil kerja keras kader-kadernya, belum tentu merupakan wujud loyalitas konstituennya, belum tentu merupakan cetusan hati nurani rakyat yang ikut pemilu 2004.

 

Salah satu faktor yang menjadi penyebab meningkatnya perolehan suara Golkar, adalah kekecewaan konstituen PDI-P terhadap kinerja PDI-P dan Megawati. Kekecewaan mereka itu menghasilkan aliran suara ke Golkar dan juga Demokrat. Faktor kedua, ketika itu masih kuatnya birokrasi yang pro Golkar, baik di tingkat Kelurahan hingga level yang lebih tinggi. Mereka dalam rangka mempertahankan posisinya, cenderung memperjuangkan Golkar ketimbang lainnya. Kini, belum tentu.

 

Faktor ketiga, bisa dilihat dari serangkaian kekalahan calon yang diusung Golkar pada berbagai Pilkada, antara lain Pilkada Sumatera Utara, yang cukup bergengsi. Begitu juga dengan Pilkada di Maluku, Golkar Kalah. Pilkada di Jawa Barat, juga kalah. Ini tanda-tanda Golkar sudah ditinggalkan konstituennya. Setidaknya, suara pemilih Golkar di tahun 2004 akan terpecah-pecah: sebagian ke Wiranto, Prabowo, dan sebagainya.

 

Di tahun 2009, belum tentu Golkar bisa mengulang sukses 2004. Boleh jadi perolehan suara Golkar justru anjlok. Bukan mustahil ‘ledekan’ Mubarok dari Partai Demokrat bukan sebuah ‘ledekan’ kosong melompong, tetapi sebuah isyarat yang harus dicermati Golkar. Tak perlu heran bila ‘ledekan’ Ahmad Mubarok kelak menjadi kenyataan bagi Golkar sekaligus menjadi kenyataan pahit bagi Partai Demokrat sendiri.

 

Kekecewaan rakyat terhadap kinerja SBY juga akan berimbas kepada Golkar. Sebab, JK merupakan bagian dari pemerintahan SBY-JK. Belum lagi kasus Lapindo yang hingga kini tak kunjung selesai, akan sangat memberikan kontribusi terhadap pencitraan buruk terhadap Golkar. PT Lapindo dikenal sebagai salah satu perusahaan dari kelompok Bakrie. Tokoh menonjol dari Bakrie yaitu Aburizal Bakrie adalah tokoh Golkar yang juga menjabat sebagai Menko Kesra.

 

Karena JK menjadi Wapres, ternyata kasus Lapindo yang seharusnya dibebankan kepada Bakrie, malah diambil alih pemerintah dengan alasan Bakrie tidak memiliki kemampuan yang cukup. Enak bener. Padahal, menurut informasi, kekayaan keluarga Bakrie justru bertambah, dan mereka menjadi salah satu orang terkaya di Asia. Seharusnya, kasus Lapindo sepenuhnya  merupakan tanggung jawab Bakrie, bila perlu mereka diseret ke proses hukum, tidak hanya untuk persoalan perdata, tetapi juga untuk persoalan perusakan lingkungan.

 

Kasus Lapindo juga akan berimbas pada Demokrat. Karena, rakyat menilai SBY tidak tegas terhadap kasus ini, malah ikut berpartsipasi mengambil alih tanggung jawab kasus Lapindo dari seharusnya tanggung jawab Bakrie menjadi tanggung jawab pemerintah. Dari sini kita bisa merasakan, pengaruh JK begitu kuat menyetir SBY.

 

Golkar boleh saja menjadikan keberhasilan swasembada beras merupakan sebuah prestasi yang perlu ditonjolkan. Namun jangan lupa, masyarakat mencatat bahwa keberhasilan swasembada beras adalah kerja keras Anton Apriantono (dari PKS) dan aparat di bawahnya. Sampai sejauh ini belum ada informasi yang menonjolkan keberhasilan menteri tertentu dari Partai Golkar.

 

Golkar dan Jusuf Kalla menjadi semakin tidak menarik bagi Ummat Islam, karena ia menjadi bagian dari rezim SBY-JK yang tidak memuaskan sekaligus menjengkelkan, tetapi juga karena Golkar merupakan Parpol besar yang selain tidak percaya diri juga konsisten mendukung kesesatan. Bukan hanya mendukung aliran sesat LDII, Golkar juga mendukung NII KW-9 Al-Zaytun yang sesat dan menyesatkan, sejak awal berdirinya Ma’had Al-Zaytun di Indramayu Jawa Barat tahun 1999.

 

Dari fakta-fakta ini, seharusnya Golkar di mata Ummat Islam sudah habis, tidak layak didukung. Karena, mereka mendukung aliran sesat yang membahayakan aqidah Islam dan melenceng dari aqidah Islam. Siapa saja yang mendukung aliran sesat, maka sesungguhnya dia juga sudah tersesat, bahkan merugikan Islam.

 

Kewajiban Ummat Islam adalah menjaga diri dengan melancarkan amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan) agar terhindar dari bahaya orang-orang sesat. Bukan sebaliknya, membiarkan diri terjerumus, bahkan mendukung atau minta dukungan orang-orang sesat.

Allah Ta’ala telah memperingatkan, yang isi peringatan itu bila dilaksanakan maka Allah menjamin tidak akan terkena bahaya dari orang-orang sesat.

يَأَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اْهتَدَيْتُمْ إِلىَ اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعاً فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al-Maidah: 105).

Ketika orang tidak menjaga diri, justru dukung-mendukung dengan aliran sesat, maka ungkapan-ungkapan yang memperingatkannya, sebenarnya hanyalah agar kembali kepada kebenaran, dan jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Namun peringatan-peringatan semacam itu pun justru dikilahi, entah karena demi menambah jumlah suara, atau karena memang tidak menggubris lagi apakah benar atau salah, hidayah atau dholalah (kesesatan), haq atau batil. Mereka itu sebenarnya perusak tetapi ngakunya sebagai pembangun. Ingatlah apa yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوْا فِي اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ#أَلآإِنَّهُمْ هُمُ اْلمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11, 12). (haji/tede)