Goyang Erotis Untuk Apa


Dahulu, konon, anak-anak sedang main gitar di lorong tahu-tahu cepat-cepat lari menyingkir ketika dari kejauhan terlihat akan lewat seorang Ulama, Kyai atau pemuka Islam. Tetapi kini, orang bersorban, berpeci, berpenampilan ulama tampaknya tidak membuat risih mereka. Bahkan dalam kampanye, kabarnya ada orang berpenampilan ulama atau kyai dibuat malu hati dan mati kutu karena tingkah polah penjoget penyanyi maksiat dengan goyangan erotis serta berpakaian tetapi hakekatnya telanjang justru berkasi di panggung tepat di depan muka ulama/ kyai.

Aneh, ibaratnya dulu tikus takut kucing, tetapi sekarang kucing takut tikus. Ini yang tidak normal kucingnya atau tikusnya. Dengan kata lain, yang tidak normal itu kyainya atau penjoget pornonya.

Kenyataan-kenyataan berikut ini hanyalah sebagian dari gejala yang tampak. Mari kita simak.

Untuk mengetahui kesungguhan sebuah partai politik, lihatlah bagaimana mereka melakukan kampanye. Bila pada setiap kampanye dibarengi dengan menampilkan penyanyi berpenampilan seksi, goyang seronok dan vulgar (porno aksi), itu sudah bisa dipastikan bahwa parpol tersebut tidak serius, dan janji-janji yang mereka umbar hanyalah tipu daya semata. Mengapa demikian?

Karena, sudah menjadi sunnatullah (orang bilang hukum alam) bahwa yang namanya kebaikan (ma’ruf) tidak bisa berdampingan dengan kemunkaran. Selain itu, suguhan penyanyi seksi plus goyang seronok, goyang erotis dan vulgar (porno aksi) pada saat kampanye menunjukkan bahwa parpol tersebut tidak percaya diri. Sebab, goyang erotis dan sebagainya tadi sesungguhnya merupakan daya tarik untuk mengundang massa. Kalau parpol tersebut benar-benar punya basis massa yang kuat, loyal dan kongkrit, tentu meski tanpa embel-embel duit, sembako dan pornoaksi, massa akan datang dengan sendirinya.


Dua Partai Besar

Golkar, misalnya. Sebagai partai terbesar, paling senior, pemenang pemilu legislatif tahun 2004, kalau basis massanya memang riel, maka meski tanpa iming-iming dalam bentuk apapun juga, kampanye terbukanya pasti akan dibanjiri pendukungnya. Kenyataannya, di berbagai tempat, kampanye terbuka Golkar masih diiringi dengan pornoaksi dan embel-embel lainnya.

Di Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu (Sulawesi Tengah), kampanye Golkar saat itu (Minggu 22 Maret 2009) diwarnai goyang erotis oleh Lia Amelia, salah seorang artis ibukota yang sengaja diikutkan dalam rangkaian kampanye Golkar. (vivanews edisi Minggu, 22 Maret 2009, 20:41 WIB).

Apa-apa yang dilakukan Lia Amelia sudah jelas tergolong pornoaksi yang bertentangan dengan undang-undang pornografi. Golkar termasuk yang menyetujui diterbitkannya undang-undang tersebut. Tetapi, Golkar pula yang melanggarnya. Ketika itu Lia Amelia terlihat mengenakan pakaian minim, tank top, bergoyang erotis di depan jurkam partai Golkar Andi Mattalata yang juga menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud.

Esok harinya, Senin 23 Maret 009, kampanye Golkar di Kecamatan Balerejo, Madiun, Jawa Timur, diiringi empat penyanyi dangdut berpakaian seronok dengan goyangan erotis. Lebih parah lagi, suguhan pornoaksi itu berlangsung di depan anak-anak di bawah umur. Saat itu mantan Ketua Umum Golkar Ir. Akbar Tanjung menjadi salah satu juru kampanye. (http://karodalnet.blogspot.com/2009/03/goyang-erotis-di-beberapa-kampanye.html)

Dari sini saja, kita sudah bisa menilai bahwa Golkar tidak konsisten. Membiarkan pornoaksi menjadi bagian dari kampanye terbukanya, padahal itu bertentangan dengan undang-undang pornografi. Lalu bagaimana kita bisa mempercayai Golkar?

Lantas bagaimana dengan PDIP? Partai pemenang pemilu 1999 ini, yang kemudian disalip Golkar pada pemilu berikutnya, kian hari kian terbukti bukanlah partai yang punya basis massa yang mengakar. Kemenangan PDIP di tahun 1999, ternyata luapan emosi sesaat dari sejumlah masyarakat yang irasional namun menginginkan perubahan. Terbukti, di tahun 2004 perolehan suara PDIP turun ke peringkat kedua setelah Golkar. Bahkan ketika pilpres 2004, Megawati yang saat itu masih menjabat presiden, tidak dapat memenangkan pilpres 2004. Bagaimana dengan tahun 2009? Di kalangan PDIP sendiri, ketika partai banteng ini menempuh sikap walkout terhadap pengesahan undang-undang pornografi, mereka banyak yang kecewa dan sakit hati. Apalagi alasan walkout itu konon karena PDIP menganggap undang-undang pornografi bagian dari syari’at Islam, sehinga membuat angota PDIP beragama Islam merasa tersinggung.

Artinya, di kalangan PDIP sendiri mereka yang anti pornografi dan pornoaksi, sekaligus mendukung undang-undang pornografi, ternyata tidak diakomodir oleh PDIP. Kelompok inilah yang akan turut mengurangi perolehan suara PDIP di tahun 2009. Apalagi, sejak tahun ke tahun, hampir di setiap kampanye terbukanya, PDIP selalu menampilkan pornoaksi. Ini sudah merupakan ciri khas PDIP. Pertanyannya, bila kampanye terbuka PDIP tanpa dibarengi dengan pornoaksi, penyanyi dangdut yang seksi dengan goyang seronok, apakah massa akan membanjiri kampanye mereka?

Setidaknya dari dua kasus di atas, Golkar dan PDIP yang merupakan partai besar saja tidak begitu percaya diri dalam setiap kampanyenya, sehingga harus membawa pornoaksi ke atas panggung untuk menyemarakkan kampanye terbuka mereka. Ini dapat dijadikan sebuah petunjuk, bahwa partai besar itu selain tidak percaya diri, jangan-jangan juga tidak punya dukungan massa yang benar-benar mengakar. Sehingga, mereka begitu mudah dikalahkan bahkan oleh partai baru sekalipun. Misalnya, Golkar meski memenangkan pemilu legislatif 2004, namun hanya bisa menempatkan kadernya sebagai wapres (JK) mendampingi SBY dari Partai Demokrat. Begitu juga dengan PDIP, meski Megawati dalam posisi Presiden, namun begitu mudah dikalahkan Partai Demokrat.


Partai Baru dan Pornoaksi

Mengusung pornoaksi ke atas panggung kampanye, ternyata juga dilakukan partai baru seperti Gerindra. Ini sangat disayangkan. Mengapa mereka justru mengikuti ‘tipu daya’ para pecundang di dalam menarik simpati massa? Bila mereka menempuh cara-cara yang sama, hal itu hanya menunjukkan bahwa mereka pun sebenarnya berwatak yang sama. Yaitu, tidak percaya diri, tidak punya basis massa yang kuat, serta tidak bisa dipercaya: bagaimana mungkin kema’rufan dapat berjalan berdampingan dengan kemunkaran?

Salah satu contohnya adalah kampanye Partai Gerindra di lapangan serba guna kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, Maluku Utara, pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2009. Saat jurkam mengumbar orasi di hadapan ribuan pendukungnya, tiba-tiba muncul seorang wanita berusia 20 tahun dengan aksi porno. Wanita muda tadi bergoyang erotis di atas sebuah deretan sound system yang dipasang diatas sebuah truk dengan musik yang menghentak, sehingga langsung menarik perhatian seisi lapangan.

Wanita muda yang diduga telah mengkonsumsi miras dan mabuk di bawah pengaruh alkohol ini, dengan goyangan erotisnya mampu memukau ratusan pendukung Partai Gerindra yang memadati lapangan tersebut. Parahnya lagi, aksi yang membangkitkan birahi ini sempat disaksikan anak-anak yang turut bergoyang mengikuti irama lagu. Bahkan, wanita tersebut sempat berniat mencopot bajunya sebelum dicegah beberapa orang yang berdiri didekatnya. (sumber: okezone dan http://tv.kompas.com/content/view/15036/2/)

Begitu juga dengan kampanye Partai Gerindra di lapangan depan gelanggang olahraga di Kelurahan Banjar Melati, Kediri, Jawa Timur, pada hari Jum’at tanggal 27 Maret 2009, menampilkan sejumlah artis lokal dan nasional dengan goyangan erotisnya. Ketika itu, jurkam nasional yang ditampilkan adalah Permadi, SH mantan petinggi PDIP yang menyeberang ke Gerindra. Dalam orasinya Permadi mengumbar janji, bila Gerindra menang dalam Pemilihan Umum 2009 nanti dan Prabowo terpilih sebagai presiden, maka pembangunan akan dititikberatkan pada kepentingan rakyat kecil. Semua uang negara akan dipergunakan untuk kepentingan rakyat.

Di Cirebon kampanye caleg Partai Gerindra di Lapangan Pemuda, Kota Cirebon, pada hari Senin tanggal 30 Maret 2009, menampilkan musik dangdut berikut goyangan erotis para penyanyinya. Dengan pakaian serba ketat nan seksi sejumlah penyanyi dangdut bergoyang erotis di hadapan ribuan pendukung partai Gerindra meski beberapa di antaranya adalah anak-anak di bawah umur.


Dua Partai NU

Salah satu di antara Partai wong NU adalah PKNU (Partai Kebangkitan Nahdatul Ulama). Partai sejenis ini pun tak luput dari suguhan goyang erotis dalam meramaikan kampanye. Contohnya ketika PKNU Kabupaten Bantul menggelar kampanye terbuka di Lapangan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2009.

PKNU yang merupakan salah satu partai yang berbasis jamaah NU ini, dalam rangka menghibur massa, tak segan-segan menyuguhkan artis penyanyi dangdut yang lengkap dengan goyangan tubuhnya, dengan pakaian seronok. Untung saja penyanyi dangdut itu belum mengeluarkan jurus goyang erotisnya, karena keburu dicegah oleh salah satu caleg perempuan PKNU. Sumarno (25 tahun) warga Pendowoharjo Sewon, Bantul mengatakan dia tidak tertarik dengan kempanye yang dilakukan PKNU, karena terdapat goyang dangdut yang tak sesuai dengan etika Islam. “Kampanye tersebut ada sesuatu yang kontradiktif. Partai Islam kok menampilkan pornoaksi,” jelasnya.

Sumarno juga menilai, para fungsionaris ataupun kader PKNU terkesan tidak memiliki daya kreatifitas dalam menghibur massa partai yang mayoritas pendukungnya kaum Nahdiyin tersebut. Sebab, sesunggguhnya masih banyak pilihan untuk mengibur massa, dan tidak harus dangdut. (http://pemilu.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/03/29/267/205597/kampanye-pknu-diwarnai-goyang-erotis)

Selain PKNU, satu partai lagi dari komunitas NU adalah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang jajaran pengurus dan anggotanya adalah warga NU (Nahdlatul Ulama). Kampanya PKB di Jakarta, pada hari Minggu, 2 Maret 2009, selain dihadiri sejumlah tokoh agama dan ulama, juga digoyang oleh kehadiran penyanyi Mulan Jameela dengan pakaian seksi.

Sebagaimana dilaporkan vivanews, Mulan hadir dengan mengenakan baju you can see dan rok mini balon warna hijau. Mulan menyanyikan beberapa lagu di panggung yang berdekatan dengan kursi tamu-tamu eksekutif dan petinggi PKB, termasuk Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Selain Mulan, kampanye juga diramaikan Ahmad Dhani dan Mahadewi, grup duo vokal bentukan Ahmad Dhani.

Mahadewi menyanyikan empat lagu. Saat lagu ketiga, massa yang berjoget di lapangan terlibat bentrok. Sejumlah tokoh dan ulama yang datang membacakan Shalawat Badar untuk menenangkan massa. Setelah tenang, Muhaimin membacakan orasi politiknya.

Hura-hura dan menggelar goyang maksiat adalah menu yang sengaja dijejalkan kepada masyarakat dalam kampanye-kampanye baik pemilu maupun pilkada dan lainnya. Masyarakat dijejali kemaksiatan yang mengundang murka Allah Ta’ala, bahkan sampai yang duduk di barisan depan dalam acara kampanye itu orang-orang yang disebut ulama pun goyang erotis alias porno tetap dijejalkan. Seolah wajah para ulama itu ditampar dengan tontonan porno langsung secara di hadapan mata.

Apabila kemaksiatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala ini kita diamkan saja, kita tahu tetapi tetap diam tanpa membencinya, tanpa mengingkarinya, maka sangat dipertanyakan keimanan kita. Oleh karena itu amat tidak pantas bila yang maksiat saja berani berterang-terangan untuk menjejalkan kemaksiatannya, sedang yang mencegah kemaksiatan justru bungkam seribu bahasa. Jangan-jangan orang-orang yang disebut ulama dan diam saja dengan adanya tontonan maksiat itu akan dicontoh oleh masyarakat, bahkan dicatat sebagai pelopor yang memuliakan orang-orang yang seharusnya dihinakan secara agama.

Diriwayatkan, Umar bin Khaththab justru pernah menghukum dera lebih dulu kepada orang yang ikut duduk dalam kalangan orang yang sedang minum-minuman keras sebelum peminum-peminumnya itu sendiri dihukum dera. Kenapa? Karena yang tidak ikut minum itu tahu, namun diam saja.


Ancaman neraka dan tak mendapat wanginya surga

Goyang erotis dalam keadaan berpakaian tetapi hakekatnya telanjang karena minimnya, tipisnya, ataupun ketatnya ini sudah ada ancaman neraka, tidak masuk surga, dan bahkan tak mendapatkan wanginya surga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا. (أحمد و مسلم عن أبي هريرة، صحيح).

“Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (pertama) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya; dan (kedua) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim, dan Ahmad dari Abi Hurairah, Shahih).


Syarh (penjelasan) hadits

Dua macam dari ahli neraka, artinya neraka Jahannam. Belum pernah aku lihat keduanya, artinya keduanya belum terdapat pada masaku karena bersihnnya masa itu, tetapi keduanya terjadi setelah masa itu. Suatu kaum, artinya salah satu dari keduanya, di tangan mereka ada cemeti-cemeti/ cambuk-cambuk seperti ekor-ekor lembu. Mereka memukuli manusia dengan cemeti-cemeti itu, yaitu memukuli orang-orang yang dituduh, misalnya dituduh mencuri lalu dipukuli agar benar pemberitaannya tentang apa yang dicurinya.

Hal itu mengandung pengertian bahwa dua macam manusia itu akan ada, dan demikian pula sesungguhnya dulu generasi setelah generasi awal munculnya Islam ada suatu kaum yang senantiasa membawa cemeti-cemeti yang tidak boleh untuk memukul dalam perkara hudud (hukuman yang sudah ada ketentuan-ketentuan syari’atnya), tetapi cemeti-cemeti itu dimaksudkan untuk menyiksa manusia. Mereka (yang senantiasa membawa cemeti-cemeti) itu adalah pembantu-pembantu polisi yang dikenal dengan tukang-tukang pukul/ jlid (jalladin). Apabila mereka diperintahkan untuk memukul maka mereka melebihi ketentuan yang disyari’atkan dalam hal sifat dan ukurannya. Dan barangkali mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu dan diliputi watak-watak kedhaliman sampai kepada penghancuran orang yang dipukul atau memperberat siksaannya, dan dia telah menirukan (kejamnya) kaki tangan-kaki tangan ketua gerombolan, lebih-lebih dalam urusan para budak.

Dan barangkali yang mengerjakan perbuatan kejam itu pada masa sekarang adalah sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (terpelajar). Al-Qurthubi berkata, secara garis besar, mereka adalah orang yang Allah marahi, yang Allah siksa mereka sebagai makhluq-Nya yang buruk pada umumnya. Kami berlindung kepada Allah dari kemarahan-Nya. Dan dikatakan, yang dimaksud dengan mereka dalam Hadits itu adalah orang-orang yang mondar-mandir di pintu-pintu orang-orang dhalim, sedang di tangan mereka ada pentungan-pentungan yang untuk mengusir manusia.

Dan wanita-wanita, artinya golongan kedua adalah para wanita, kaasiyaatun (yang berpakaian) dalam kenyataannya, tetapi telanjang pada hakekatnya. Karena mereka memakai pakaian yang tipis-tipis yang menampakkan kulit. Atau mereka berpakaian dari pakaian perhiasan, namun bertelanjang dari pakaian taqwa. Atau mereka berpakaian berupa ni’mat-ni’mat Allah, namun mereka telanjang dari mensyukurinya. Atau mereka berpakaian dari busana tapi telanjang dari perbuatan baik. Atau mereka menutupi sebagian badan mereka, namun membuka sebagian lainnya untuk menampakkan kecantikannya, dan maknanya tidak jauh dari itu. Sebagaimana kata Al-Qurthubi di dalam memaknakan makna-makna yang terkandung di antara dua kata itu (kaasiyaat ‘aariyaat) karena masing-masing makna itu kembali kepada ‘urf (kebiasaan yang dikenal). Dan kedua kata itu nampak perbedaannya ketika diidhofahkan (disandarkan kepada kata lainnya).

Maailaatun artinya menyimpang dari ketaatan. Mumiilaat artinya mereka mengajarkan kepada orang lain untuk masuk pada perbuatan seperti yang mereka perbuat atau melenggang-lenggokkan jalannya dengan menggoyang-goyangkan pundak dan pinggulnya. Atau mereka mengoyang-goyang kepalanya, mereka menyisir dengan model sisiran pelacur yang mempengaruhi wanita lain untuk menggemari sisiran model itu dan mengerjakannya pula, atau menggoda lelaki menggoncang-goncang hatinya untuk berbuat kerusakan dengan mereka, dengan menampakkan perhiasan-perhiasan mereka. Di sini didahulukan kata maailaat karena riwayat yang terbanyak adalah demikian, sedang Imam Muslim medahulukan kata mumiilaat.

Kepala-kepala mereka seperti punuk onta yang condong , artinya mereka membesarkan kepalanya dengan kerudung dan sorban yang dilipat-lipatkan di atas kepala mereka sehingga menyerupai punuk onta. Mereka tidak masuk sorga bersama orang-orang yang beruntung, orang-orang angkatan terdahulu, atau secara mutlak apabila mereka menempatkan diri sedemikian itu. Dan inilah di antara mu’jizat Nabi SAW. Maka sungguh telah terjadi yang demikian itu terutama pada isteri-isteri para ulama pada zaman kita (masa hidup pensyarh hadits ini, Al-Munawi, 952-1031H). Mereka (isteri-isteri ulama) senantiasa menambahi besarnya kepala-kepala mereka sehingga menjadi seperti sorban-sorban. Ketika para isteri ulama berbuat demikian maka wanita-wanita negeri itu pun menjadikannya panutan (hingga ikut-ikutan melakukannya), maka isteri-istri ulama menambah lagi (lilitan kerudungnya di kepala) agar tidak disamai oleh wanita-wanita lain dalam hal kebanggaan dan kebesarannya. Dan mereka tidak memperoleh wanginya, artinya wangi sorga. Sedangkan sesungguhnya wanginya itu pasti didapati dari jarak perjalanan sedemikian dan sedemikian, artinya kiasan dari 500 tahun, artinya didapati dari jarak perjalanan 500 tahun sebagaimana terdapat dalam riwayat yang lain (Ahmad dan Muslim) dalam hal shifat surga dari Abu Hurairah, sedang al-Bukhari tidak mentakhrijnya. (Faidhul Qadir, Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 4, hal 208-209).

Ancaman terhadap wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, bergoyang-goyang dan lenggang lenggok; adalah menjadi ahli neraka, tidak masuk surga, dan tidak mendapatkan bau surga. Tetapi kenapa di Indonesia justru mereka itu dipuja-puja, dibawa-bawa ke mana-mana dan dibuatkan panggung-panggung untuk diperlihatkan kepada manusia?

Semoga mereka menyadari bahwa itu semua adalah perbuatan maksiat yang diancam neraka, masih pula menebarkan maksiat secara merata, ditambah lagi penghamburan harta untuk kemaksiatan. Tidak takutkan kita terhadap adzab Allah Ta’ala, baik di dunia maupun apalagi di akherat? Betapa teganya kita dalam mendhalimi diri-diri kita dan manusia sesamanya untuk menjerumuskan kepada murka Allah Ta’ala.

Apa yang kita cari sebenarnya? Jangan-jangan seperti kata pepatah: Yang dicari tiada dapat, yang dikandung berceceran. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. (haji/tede)