Gus Dur Bela Ahmadiyah

Berdalih karena Minoritas

Gonjang-ganjing Ahmadiyah masih berlangsung. Sementara itu pembela kesesatan pun semakin ngawur-ngawuran dalam mengeluarkan perkataan. Berikut ini contoh nyata, yang menjadi pelajaran bagi umat Islam yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dengan menyimak kejadiannya kemudian menghindari keburukannya.

Ada lagi kyai sekaligus intelektual bingung dalam menyikapi Ahmadiah, yakni Gus Dur alias Abdurahman Wahid, mantan Presiden RI dan mantan Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Ketika sejumlah wartawan bertanya mengapa ia membela Ahmadiyah, Gus Dur mengatakan, Karena mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya.

Berita itu bisa ditemukan pada berbagai media, di antaranya republika online edisi 4 Mei 2008 lalu.

Jadi, Ahmadiyah dibela Gus Dur semata-mata karena mereka kaum minoritas. Dan Gus Dur sama sekali tidak peduli dengan isi ajaran Ahmadiyah, apakah sesat menyesatkan, atau bahkan bertentangan dengan akidah Islam sekalipun.

Ungkapan Gus Dur dalam tekadnya membela Ahmadiyah: “…dan saya tidak peduli mengenai ajarannya,” itu ungkapan ndrewolo (Jawa, keras kepala). Padahal sudah jelas Ahmadiyah itu ajarannya merusak agama Allah, Islam. Ayat-ayat Allah pun dipalsu.

Kalau kita merujuk kepada Al-Qur’an, kita temukan sikap keras kepala tanpa mau tahu duduk soalnya –padahal mengenai perusakan terhadap agama Allah seperti itu– tidak disandang oleh orang-orang kecuali yang telah dikecam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Ibnu Katsir mengaitkan adanya dua golongan, orang kafir yang menyeru kekafiran dan orang kafir yang hanya ikut-ikutan, sesuai dengan firman Allah:


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ
(3)

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat, (QS Al-Hajj: 3).

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ(8)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, (QS Al-Hajj: 8).

Sikap ndrewolo itu masih pula dibarengi pembelaannya terhadap Ahmadiyah pengikut nabi palsu. Hingga tercetuslah dalih pembelaannya terhadap Ahmadiyah itu satu kalimat yang amburadul –ketika ditanya kenapa membela Ahmadiyah– :Karena mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya.”

Kalau begitu cara berfikirnya, maka akan banyak sekali yang harus Gus Dur bela semata-mata hanya karena mereka termasuk kaum minoritas. Misalnya, di pasar-pasar, kaum mayoritas adalah para pedagang dan pembeli. Gerombolan copet hanyalah minoritas. Kalau ada pencopet yang tertangkap dan dibawa ke kantor polisi, maka sang pencopet pun harus dibela oleh Gus Dur karena mereka minoritas, hak hidupnya harus dijaga terlepas dari bagaimana Akidahnya dan Tatacaranya di dalam memperoleh uang.

Para koruptor, dari segi jumlah adalah minoritas dibandingkan dengan warga negara Indonesia yang mencapai 200 juta jiwa lebih. Berarti koruptor-koruptor harus dibela oleh Gus Dur semata-mata karena mereka minoritas, tidak peduli apakah perbuatannya merugikan bangsa dan negara atau tidak.

Amrozi pelaku Bom Bali itu adalah warga Jawa Timur. Di Jawa Timur, sebagian besar (mayoritas) penduduknya adalah warga NU, sedangkan Amrozi bukan warga NU. Berarti Amrozi itu minoritas yang harus dibela Gus Dur, apalagi saat ini ia sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati atas perbuatannya. Namun sampai saat ini tidak pernah terdengar suara Gus Dur membela Amrozi dan kawan-kawannya.

Pernyataan Gus Dur membela Ahmadiyah itu disampaikan beberapa saat sebelum ia bertolak ke Amerika Serikat. Salah satu agendanya adalah menerima penghargaan dari Mebal Valor, sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang berbasis di Los Angeles. Lembaga ini menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki keberanian membela kelompok minoritas. Jadi, secara mafhum mukholafah (pengertian tersirat), apa yang mendorong Gus Dur begitu giat membela minoritas meski sesat dan secara akidah bertentangan dengan Islam, yaitu karena ada yang bayar?

Dalam hal membela-bela minoritas, Gus Dur memang biangnya. Bahkan ia sangat pantas mendapat penghargaan dari institusi kafir, karena yang dibelanya adalah minoritas yang tergolong kafir atau sesat menyesatkan atau maksiat.

Ketika masih menjabat sebagai presiden, Gus Dur pada sebuah perayaan Natal Bersama di Balai Sidang Senayan Jakarta 27 Desember 1999, dalam rangka membela-bela kaum minoritas Nasrani, Gus Dur antara lain mengatakan: Kalau kita konsekuen sebagai seorang Muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga adalah harus konsekuen merayakan malam Natal.

Padahal, tidak ada dalil yang memerintahkan atau membolehkan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Artinya, pendapat Gus Dur sangat tidak berdasar. Dia beranalog dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya. Ini dari segi keilmuan, sama sekali tidak ilmiyah, sedang dari segi aqidah sama sekali menunjukkan kosongnya aqidah atau tidak jelasnya aqidah.

Dari sisi lain, itulah plintat-plintut murni. Apa artinya?

Artinya, Gus Dur lawan Gus Dur. Yaitu Gus Dur berbaju sekuler lawan Gus Dur berbaju kepala Negara.

Maksudnya?

Gus Dur kan dikenal sebagai orang sekuler. Dia sering berteriak: Negara tidak boleh campur tangan dalam urusan agama, bla bla bla…

Saat Gus Dur berbaju kepala Negara, ucapannya yang murni sekuler itu dia lawan sendiri dengan ucapan mencampur tangani urusan (bahkan urusan intern) agama plus ciri khas sangat ngawurnya: Kalau kita konsekuen sebagai seorang Muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga adalah harus konsekuen merayakan malam Natal.

Itu benar-benar sosok orang bingung. Maka ungkapan yang cocok adalah: Gus Dur lawan Gus Dur.

Sementara itu dari pandangan syari’at, berarti Gus Dur memposisikan dirinya sebagai pembuat syari’at baru. Yaitu membebani umat Islam untuk ikut merayakan malam natal bersama orang Nasrani. Ini secara maknawi berarti memposisikan dirinya sebagai Tuhan, karena yang berhak membuat syari’at itu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukankah itu hanya ijtihad dia, dan kalau salah mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala?

Bukan. Bukan ijtihad. Kalau ijtihad itu mesti memenuhi syarat-syaratnya, dan berlandaskan dalil, serta ketika menyimpulkan dalil itu tidak sekenanya begitu. Ada metodenya yang harus dilalui secara benar. Nah yang dilakukan Gus Dur itu tanpa dalil, dan kesimpulan dari apa yang dia anggap sebagai dalil padahal bukan, itu bertentangan dengan Islam. Makanya sama sekali bukan ijtihad. Ditambah lagi, ijtihad itu biasanya untuk kepentingan Islam dan umat Islam. Lha itu boleh diduga untuk kepentingan orang kafir atau menguatkan posisi orang kafir. Jadi jelas bukan ijtihad.

Yang dibela itu keyakinan kafir, sedang pembelaannya tanpa landasan ilmu dan kosong aqidah. Dari upaya yang sangat keropos itu kemungkinan diharapkan akan terjalin pertemanan yang saling melindungi. Tetapi pertemanan itupun betapa keroposnya, bahkan ketika Gus Dur terjengkang dari kursi kepresidenannya pun pertemanan keropos itu tak berdayamenyelamatkannya. Maka benarlah firman Allah:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS Al-‘Ankabut: 41).

Membela Komunis juga pernah. Bahkan hal itu dilakukan Gus Dur sambil memalsukan sejarah bapaknya sendiri. Alkisah, pada tahun 2002, terbit sebuah buku berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI karya dr Ribka Tjiptaning Ploretariyati. Pada buku itu Gus Dur menuliskan Kata Pengantar.

Antara lain Gus Dur membanding-bandingkan (menyejajarkan) antara bapaknya Tjiptaning –penganut paham komunis yang keturunan ningrat dan layak dijuluki konglomerat, pengusaha roti di Solo Jawa Tengah– dengan bapak kandungnya sendiri yaitu KHA Wahid Hasyim yang merupakan putra dari kiai besar KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan tokoh Islam di Nusantara yang tidak berpaham komunis. Ini jelas pembelaan yang berlebihan terhadap minoritas aktivis komunis, apalagi sampai menyejajarkan bapaknya sendiri dengan tokoh komunis yang anti agama.

Bahkan saking semangatnya membela aktivis komunis Tjiptaning, Gus Dur sampai hati memalsukan sejarah bapaknya. Antara lain Gus Dur mengatakan: Namun, ia (maksudnya KHA Wahid Hasyim –red.) menentang negara agama, karena hal itu akan membedakannya dari kedudukan warga negara non-Muslim.

Padahal, faktanya tidaklah demikian. Sebagaimana bisa dilihat pada buku berjudul Gus Dur Menjual Bapaknya karya Hartono Ahmad Jaiz, KHA Wahid Hasyim pernah mengatakan: “Agama negara adalah Islam, dengan jaminan kemerdekaan bagi penganut agama lainnya untuk menganut agama mereka.”

Pada kesempatan lain KHA Wahid Hasyim pernah mengatakan, “Hanya orang Islam yang boleh dipilih sebagai presiden atau wakil presiden republik.” Kemudian, beliau pernah juga mengatakan, “Kalau presiden adalah seorang Muslim, maka peraturan-peraturan akan mempunyai ciri Islam dan hal itu akan besar pengaruhnya”

Demikianlah ucapan-ucapan ayah Gus Dur, namun justru oleh Gus Dur disejajarkan dengan tokoh Komunis yang anti Islam.

Begitulah Gus Dur, sosok yang sangat bersemangat membela minoritas, meski harus melecehkan bapaknya sendiri, bahkan melecehkan Kitab Suci Al-Qur’an sebagaimana pernah dikatakannya bahwa Al-Qur’an merupakan Kitab Suci paling porno, hanya untuk membela minoritas pendukung pornografi.

Faktanya, memang ada sebagian kecil masyarakat kita (minoritas namun powerfull) yang sudah terbiasa dengan budaya permissif, pornografi danpornoaksi. Mereka sudah sekian lama hidup enak bersama maksiat. Tiba-tiba ada RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang akan menggerus kemesraan mereka bersama maksiat. Maka dengan kekuatan uangnya, kaum penikmat maksiat itu membangkitkan gelombang penolakan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi itu dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi, kebebasan berkreasi, kebebasan berkesenian.

Dengan kekuatan uangnya mereka bisa menguasai media massa, sejumlah aktivis, termasuk kyai dan intelektual semacam Gus Dur dan istrinya juga, bahu membahu mendorong penolakan disahkannya UU (Undang-undang) yang mengatur pornografi dan pornoaksi. Padahal, UU semacam itu sudah lumrah bagi negara super liberal sekalipun. Kelompok minoritas seperti inilah yang juga turut dibela Gus Dur. Yaitu, kelompok yang meski minoritas namun duitnya banyak.

Apa yang dapat kita petik dari kasus-kasus itu?

Ingatlah peringatan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ ، صُقِلَ قَلْبُهُ مِنْهَا ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، فَذَلِكُمُ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ : كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya seorang mu’min apabila berbuat suatu dosa maka pasti terjadi titik hitam dalam hatinya. Apabila ia bertaubat dan mencabut dirinya dari dosa itu, serta mencari keridhoan Allah, maka hatinya menjadi mengkilap. Jika dosanya betambah, maka bertambah pula titik hitam itu sehingga meliputi hatinya. Itulah ar-raan yang Allah’ Azza wa Jalla sebutkan dalam kitabNya:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ(14)

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menodai hati mereka._ __ QS Al-Muthaffifiin: 14—(HR At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih).

Betapa ruginya, hidup di dunia sekali saja dipenuhi dengan penumpukan dosa-dosa dengan membela kekafiran, kemaksiatan, kepornoan, kesesatan dan semacamnya. Itu semua bila tak ditaubati maka akan mencelakakan dirinya, dan tinggal menunggu saatnya tiba. Setelah itu sudah tidak ada transaksi lagi, walau mungkin masih ada sisa yang belum terbayar. (haji/tede)