Perkataan A Mustofa Bisri itu coba kita bandingkan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alahi wasallam :

1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ *

1550 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak * (Muttafaq ‘alaih).

Dari hadits yang shahih ini maka benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dustalah A Mustafa Bisri yang berani mengatakan: “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”

Kalau dia mau berfikir sedikit saja, tentu akan tahu. Misalnya orang menulis-nulis atau menyiarkan kepada umum bahwa mencuri harta orang ataupun isteri orang itu boleh-boleh saja. Karena harta dan wanita itu ibarat air dan rumput, siapa saja boleh mengambil dan menggunakannya. Gagasan yang disiarkan kepada umum seperti itu apakah tidak apa-apa selagi belum dipraktekkan? Apakah itu tidak boleh dihukumi haram, tidak boleh dilarang karena baru berupa gagasan yang diedarkan, belum dilaksanakan? Apakah baru salah ketika dilaksanakan dengan menzinai isteri Tuan? Kalau baru gagasan berupa bujukan untuk menzinai isteri Tuan, maka walau disiarkan bolehnya menzinai, tidak Tuan apa-apakan, asal tidak dilakukan zina betulan, baru penyebaran bolehnya dizinai?

Yang dilakukan kaum sepilis bukan sekadar gagasan terpendam dalam batin yang tak dikeluarkan dan tak disiarkan. Tetapi adalah gagasan-gagasan busuk yang menjeru-muskan dan merusak aqidah Islam diwujudkan dalam propaganda yang luar biasa lewat aneka sarana.

Perkataan dusta A Mustofa Bisri (“Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”) itupun masih pula untuk menohok fatwa MUI yang mengharamkan sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) demi membela sepilis yang merusak aqidah Islam itu.

Rupanya bukan hanya angan-angannya yang jorok, namun angan-angan itupun diwujudkan dengan nyata yaitu membela Inul Daratista yang dipersoalkan umat karena ulahnya yang erotis, yaitu yang disebut joget goyang ngebor. Pembelaan A Mustofa Bisri itu diujudkan dengan membuat lukisan dinamai BERZIKIR BERSAMA INUL, sebuah bentuk pembelaannya atas GOYANG NGEBOR INUL. Yaitu lukisan perempuan berjoget goyang-goyang dengan menonjolkan (maaf) pantatnya di tengah lingkaran lelaki yang berdzikir.

Demikianlah adanya. Ahmadiyah dibela, sepilis pun dibela, goyang maksiat juga dibela, sedang fatwa MUI dibantah-bantah sekenanya. Pemimpin pesantren kok seperti itu lakonnya. Mudah-mudahan saja lekas sadar.[1]

Masdar F Mas’udi

Masdar menyebut dirinya ulama “INUL” (Ikatan NU Liberal), hinga dia berani menyuarakan kalau lelaki nekad berzina maka hendaknya pakai kondom.

Koran Kompas memberitakan, di antaranya sebagai berikut:

Menurut Masdar, sebaiknya kampanye kondom dilakukan tidak secara terbuka di media umum. Yang penting bagaimana menjangkau kaum pria yang tak bisa menahan hajat seksualnya dan tetap nekat berhubungan seks dengan pekerja seks komersial, agar mau menggunakan kondom sehingga tidak menularkan HIV kepada istrinya.

Soal ini Masdar sempat agak berdebat dengan KH Machruf Amin, Ketua Komisi Fatwa MUI yang juga dari NU. Namun, perbedaan pendapat itu dapat diselesaikan dengan derai tawa. Masdar menyebut dirinya ulama “INUL” (Ikatan NU Liberal), sedangkan KH Machruf Amin mengakui dirinya masih konservatif dalam soal perzinaan.[2]

Masdar F Mas’udi, dikenal dengan gagasannya tentang waktu-waktu berhaji (terutama wuquf di Arafah). Menurut Masdar F Mas’udi bahwa Ayat jangan dikorbankan oleh hadits (al-hajju ‘arafah, haji itu adalah wuquf di Arafah –pada hari Arafah) maka wuquf menurut Masdar tidak dibatasi hanya tanggal 9 Dzulhijjah tetapi sesuai dengan Al-Qur’an alhajju asyhurun ma’lummat (haji itu pada bulan-bulan tertentu –yakni Syawal, Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah).[3]

Di samping itu, Masdar juga menyamakan antara zakat dan pajak. Dosen Ilmu Fiqh, Dra. Khuzaimah T. Yango, alumni Mesir, menjelaskan dalam perkuliahan yang saya ikuti di MUI DKI Jakarta 1997 bahwa pendapat Masdar F. Mas’udi yang menyamakan pajak dengan zakat itu jelas pendapat yang tidak benar dan tak punya landasan. Karena zakat jelas beda sekali dengan pajak. Dalam seminar pun sudah banyak yang membantah Masdar, kata Dr. Khuzaimah.

Rupanya setelah bermain-main dengan tema pajak dan zakat, Masdar masih punya “mainan” lagi yaitu tentang waktu pelaksanaan ibadah haji.

Waktu pun berjalan terus, sedang kedudukan seseorang bisa menanjak. Di tahun 2000, Masdar Farid Mas’udi yang tadinya disebut intelektual muda itu telah menjadi Katib Syuriyah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan Anggota Dewan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dia dengan menulis embel-embel kedudukannya itu membuat artikel yang dimuat secara bersambung di Harian Republika, Jum’at tanggal 6 dan tanggal 13 Oktober 2000, berjudul Keharusan Meninjau Kembali Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji.

Tulisan itu menyodorkan pendapat bahwa pelaksanaan ibadah haji hendaknya bukan hanya sekitar tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah, tetapi kapan saja asal selama 3 bulan (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah). Alasan Masdar, karena jelas di dalam Al-Qur’an Al-Hajju asyhurun ma’lumat. Haji itu di bulan-bulan yang sudah diketahui (3 bulan tersebut). Jadi, menurut Masdar, janganlah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits Al-Hajju ‘arafah, haji itu adalah Arafah. (Istilah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits itu tidak pernah dipakai oleh ulama manapun. Saya baru dengar dari pernyataan Masdar itu).

Landasan pikiran Masdar, ia kemukakan bahwa ibadah haji itu ‘napak tilas’. Maka dimensi ruang itu lebih penting ketimbang dimensi lainnya termasuk waktu. Oleh karena itu, saran Masdar, agar pelaksanaan ibadah haji itu ya kapan saja, asal 3 bulan tersebut.

Pendapat Masdar itu sampai pula di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI –Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia). Sehingga ketika Masdar datang ke Kairo Mesir untuk menggelar apa yang disebut Pendidikan Islam Emansipatoris , 7-8 Februari 2004 dari awal para mahasiswa sudah ancang-ancang untuk menolaknya, hingga akhirnya gagal.

Sebelum Masdar bertandang ke Mesir, rupanya sudah ada tulisan yang beredar di milis, mengenai ganjilnya pendapat Masdar dan juga masalah perkataan Zuhairi Misrawi yang dulu ketika di Mesir menyangkut tentang kewajiban shalat.[4]

Untuk menyoroti lontaran Masdar itu kami kutipkan penggalan tulisan dari kalangan pesantren sendiri, tanpa kami komentari, di antaranya dalam hal membantahnya sebagai berikut:

[email protected], “Aang Asy’ari” <[email protected]… wrote:

Telaah Kritis Pemikiran Masdar

Tanggal dimuat: 4/3/2004.

Sumb. Islamlib.com

Kalau argumen Masdar tentang haji dalam tiga gelombang wuquf berdasar karena adanya masyaqqah, masyaqqah sendiri ada batas-batasnya [al-hudud].

Secara faktual, yang menjadi masyaqqah itu justru bukan pelaksanaan wuquf, namun pada sabil [jalan]. Sehingga solusi dari tumpukan manusia bisa dilakukan dengan pelebaran sabil [jalan], pengembangan terirorial atau dengan menggunakan lif, atau aneka ragam teknologi modern sekarang ini, bukan dengan menghilangkan otentisitas dan orisinalitas pelaksanaan haji sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad dan sekarang ini.

Masdar [yang notabene adalah wakil Katib Syuriyah PBNU-sebuah jabatan bergengsi] dalam lontaran pemikirannya tidak mempunyai landasan teks yang autentik, terkesan mengabaikan kitab-kitab kuning [classical books] yang menjadi rujukan utama NU dan pesantren khususnya.

Sangat heran kalau Masdar dinobatkan anak-anak muda NU sebagai tokoh post tradisionalisme, yaitu aliran yang melakukan pembaharuan namun tetap berpijak dengan kekuatan tradisi [al-kutub al-shafra’] yang kuat. Karena kenyataannya Masdar terlalu lemah bangunan tradisinya [lihat Tashwirul Afkar, Post Tradisionalisme, Epistemologi dan Metodologi, Lakpesdam Jakarta, Edisi No. 9 Tahun 2000].

Siapakah yang keluar sebagai pemenang nantinya, proses sejarahlah yang akan menentukan. Namun, menurut Abdurrahman Wahid dalam kata pengantar bukunya Masdar [Agama Keadilan, ibid, hlm. xix] ujian yang paling menentukan dari setiap pemikiran, bukanlah dari sudut argumen formal yang semata-mata bersifat teoritik, melainkan ujian dari sudut materialnya yang bersifat empirik. Suatu pemikiran atau ide boleh cumlaude dari sudut teoritik, tapi jika kandas dalam pembuktian empirik, dalam arti tidak jelas manfaat dan kemaslahatannya bagi kehidupan manusia, tidaklah banyak maknanya.

Kalau Masdar mengatakan pemikiran genuine ini sudah dilontarkannya mulai tahun 1980-an di Majalah TEMPO, mengapa sampai sekarang belum menampakkan pengaruh signifikan, baik dalam gelanggang intelektualitas apalagi dalam realitas faktual, apakah karena masyarakat ini terlalu kolot, para kiai dan tokoh agama terlalu konservatif, rigid, eksklusif, eternal dan ekstrim dalam memahami persoalan hukum, atau karena Masdar sendiri yang pondasi dalilnya rapuh, kurang representatif [hanya sekedar Alquran, Qaidah Ushul Fikih dengan mengabaikan ratusan bahkan ribuan karya ulama masa lalu yang begitu kayanya], atau memang sebuah pemikiran membutuhkan alih generasi untuk bisa diterima dan dilaksanakan, atau mungkin, menurut Cak Nur, kita tidak boleh terlalu kreatif dalam masalah ibadah, karena sudah ada ketentuan jelas dan baku dari Syari’, atau mungkin saja umat ini perlu uswah hasanah, artinya Masdar harus memberikan contoh dulu, berangkat haji seperti konsep yang ditawarkan, sepanjang belum dilakukan sendiri oleh Masdar maka sangat sulit mengharapkan orang lain untuk percaya? Wallahu A’lam Bis Shawab.

(Jamal Ma’mur Asmani Alumnus Mathali’ul Falah Kajen Pati, Peneliti pada CePDeS, Center for Pesantren And Democracy Studies, dan Staf Pengajar PP Mahasiswa Al-Aqobah Kwaron Diwek Jombang).

) [email protected], “Aang Asy’ari” <[email protected]:

Telaah Kritis Pemikiran Masdar)

Demikianlah pendapat Masdar F Mas’idi yang telah ditanggapi banyak orang, di antaranya dari kalangan santri sendiri pun mengkritiknya dengan sangat tajam.

Ulil Abshar Abdalla

1. Ungkapan Ulil Abshar Abdalla dari Lakpesdam NU: Adapun hal prinsip misalnya negara demokrasi, emansipasi wanita, dan kebebasan berpikir; Islam liberal bisa menerima bentuk negara sekuler, yang menurut Ulil Abshar Abdalla lebih unggul dari negara ala kaum fundamentalis. “Sebab, negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus,” kata Ulil, yang disambut ledakan tawa peserta diskusi. (Majalah Tempo, 19-25 November 2001).

Pikiran Ulil itu apabila diujudkan dalam sosok orang, maka yang lebih dia unggulkan adalah orang yang saleh tapi fasiq (banyak maksiat, korupsi dsb) daripada orang yang saleh dan jujur. Pada dasarnya ini telah menabrak langsung satu sarana penting dalam Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Dia telah berusaha melegalkan (meresmikan) kemunkaran (keburukan) disejajarkan dengan yang ma’ruf (baik). Ini dalam bahasa bakunya adalah talbis iblis (tipuan licik) iblis. Dalam Al-Qur’an, pelaku-pelakunya itu adalah munafiqin dan munafiqot.

2. Ungkapan Ulil Abshar Abdalla, tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) dalam wawancara dengan Majalah Gatra:

· “Misalnya, perlindungan akal diwujudkan dalam bentuk pelarangan minuman keras (khamar). Jadi, haramnya khamar ini bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di Rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin.” (Gatra.Com, Majalah Gatra, 21/12 2002).

Ungkapan Ulil Abshar Abdalla itu merusak pemahaman Islam. Bukan sekadar beda penafsiran. Karena, hukum Islam hanya dilakukan secara sekunder dan tergantung situasi. Ini di samping menghalalkan yang haram, masih pula akan menjadikan rusaknya pemahaman Islam. Hingga akan bisa orang berkata, berzina di daerah-daerah yang dingin itu bisa dibolehkan, karena situasi di daerah itu sngat dingin. Betapa rusaknya pemahaman itu.

Demikianlah tafsiran-tafsiran menjerumuskan lagi berbahaya, yang justru digalakkan oleh Islam Liberal dengan landasan yang sangat keropos. Maka umat Islam wajib mewaspadainya, kalau perlu menyeret mereka ke mahkamah, untuk menyelamatkan mereka agar tidak kebablasan terus, dan agar umat selamat dari bahayanya sedang kelompok mereka pun agar membubarkan diri.

3. Masalah Pluralisme Agama[5]

Ulil Abshar Abdalla menjawab pertanyaan tentang pluralisme agama.

Kutipan:

“Ada hadis yang mengatakan, “Tamsil agama yang saya (Muhammad) bawa seperti sebuah batu bata yang saya letakkan di sudut dari sebuah bangunan yang hampir lengkap”. Artinya Islam ini menyempurnakan saja, bukan membatalkan atau mengamandemen. Ibnu Arabi mengatakan semua agama itu baik karena datangnya dari Allah.”.[6]

Sanggahan:

Ungkapan Ulil, “Islam ini menyempurnakan saja, bukan membatalkan atau mengamandemen” itu jelas bertentangan dengan ayat dan hadits. Insya Allah sebentar lagi akan saya kemukakan dalil-dalilnya.

Hadits yang Ulil kemukakan itu lengkapnya sebagai berikut:

حَدِيثُ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا وَيَقُولُونَ لَوْلَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ *.

Diriwayatkan dari Jabir r.a, ia berkata: Dari Nabi s.a.w, beliau bersabda: Perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah gedung. Dia (seseorang itu) membinanya dengan baik dan sempurna, tetapi masih ada satu tempat yang belum diletakkan bata. Ramai orang yang masuk ke dalam rumah tersebut dan mereka mengaguminya seraya berkata: Alangkah lebih baik jika kekurangan itu disempurnakan. Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diibaratkan sebagai bata tersebut di mana kedatanganku adalah sebagai penutup para Nabi. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Menurut Ibnu Hajar, dalam hadits ini dibuatnya perumpamaan-perumpamaan itu untuk mendekatkan pemahaman dan menjelaskan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas seluruh nabi-nabi dan bahwa Allah menutup para utusan dengan beliau dan menyempurnakan syari’at-syari’at agama dengan beliau.[7]

Mengenai keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kekhususannya di antaranya ada hadits:

حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ *.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Ansari r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam (yaitu seluruh manusia). Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan dulunya tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud (yaitu shalat). Maka siapa pun apabila tiba waktu shalat walau dimana saja dia berada hendaklah dia mengerjakan shalat. Aku juga diberi pertolongan secara dapat menakutkan musuh dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberi hak untuk memberi syafa’at . (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Allah SWT menjelaskan tentang posisi para nabi dan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya sebagai berikut:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ(81).

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.( QS Ali Imran: 81).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut:

Ali bin Abi Thalib dan putera pamannya, Ibnu Abbas, pernah berkata,”Allah tidak mengutus seorang nabi pun melainkan Dia mengambil janji darinya, (Yaitu) jika Allah mengutus Muhammad, sedang ia (seorang nabi selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam keadaan hidup, niscaya ia akan beriman kepadanya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), menolongnya dan memerintahkan kepada nabi itu untuk mengambil janji dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.”

Thawus, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah mengatakan, ”Allah telah mengambil janji dari para nabi, agar masing-masing mereka saling membenarkan satu sama lainnya.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ali dan Ibnu Abbas, bahkan menghendaki makna tersebut dan mendukungnya. Oleh karena itu, Abdul Razak meriwayatkan dari Muammar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, pendapat yang sama seperti pendapat Ali dan Ibnu Abbas.

Imam Ahmad meriwayatkan:

15303 حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ عَنْ جَابِرٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مَرَرْتُ بِأَخٍ لِي مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ فَكَتَبَ لِي جَوَامِعَ مِنَ التَّوْرَاةِ أَلَا أَعْرِضُهَا عَلَيْكَ قَالَ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ لَهُ أَلَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا قَالَ فَسُرِّيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّي مِنَ الْأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّينَ *. (رواه أحمد).

Riwayat dari Abdullah bin Tsabit, ia berkata:Umar bin Khattab pernah datang kepada Nabi seraya berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memerintahkan kepada seorang saudaraku yang beragama Yahudi dari Bani Quraidzah (untuk menuliskan ringkasan Taurat), maka ia menuliskan untukku ringkasan dari isi Taurat. Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?” Abdullah bin Tsabit berkata, maka berubahlah wajah Rasulullah. Kemudian aku katakan kepada Umar: ”Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?” Umar pun berkata, ”Aku rela Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Rasulku.” Abdullah bin Tsabit melanjutkan, maka hilanglah kemarahan Nabi dan beliau bersabda:”Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (nabi yang menjadi) bagian kalian.” (HR Ahmad).

Dalam hadits lain, Al-Hafidh Abu Bakar berkata, meriwayatkan hadits dari Jabir yang berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوكُمْ وَقَدْ ضَلُّوا فَإِنَّكُمْ إِمَّا أَنْ تُصَدِّقُوا بِبَاطِلٍ أَوْ تُكَذِّبُوا بِحَقٍّ فَإِنَّهُ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي * (أحمد).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, karena mereka tidak akan memberikan petunjuk kepada kalian, dan sungguh mereka telah sesat. (Kalau kamu menanyakan sesuatu kepada Ahli Kitab) maka sesungguhnya kamu boleh jadi membenarkan kebatilan atau membohongkan kebenaran. Maka sesungguhnya seandainya Musa hidup di antara punggung-punggung kalian (di kalangan kalian) tidak halal baginya kecuali mengikutiku. (HR Ahmad).

Dengan demikian, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang menjadi penutup para nabi selama-lamanya sampai hari kiamat kelak. Beliau adalah pemimpin agung, seandainya beliau muncul kapan saja, maka beliau yang wajib ditaati dan didahulukan atas seluruh nabi. Oleh karena itu, beliau menjadi imam mereka pada malam Isra’, yaitu ketika mereka berkumpul di Baitul Maqdis. Beliau juga adalah pemberi syafaat di Mahsyar, agar Allah datang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Syafaat inilah yang disebut maqamal mahmud (kedudukan yang terpuji) yang tidak pantas bagi siapa pun kecuali beliau, yang mana ulul azmi[8] dari kalangan para nabi dan rasul pun semua menghindar darinya (dari memberikan syafaat), sampai tibalah giliran untuk beliau, maka syafaat ini khusus bagi beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya.[9]

Ali Al-Haitsami (W 807H) dalam Majma’ Az-Zawaid menulis bab larangan bertanya kepada Ahli Kitab. Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata: Janganlah kamu sekalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, karena mereka tidak akan memberi petunjuk kepada kalian, dan sungguh mereka telah menyesatkan diri mereka sendiri, bisa jadi mereka menceritakan kepada kalian dengan kebenaran lalu kalian membohongkan mereka atau dengan kebatilan lalu kalian membenarkan mereka. (HR At-Thabrani dalam Al-Kabir, dan rijal/ para periwayatnya kuat/ terpercaya).

Riwayat dari Abi Musa, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Bani Israel telah menulis satu kitab (Talmut, pen) lalu mereka mengikutinya dan mereka meninggalkan Taurat. (HR At-Thabrani dalam Al-Kabir, dan rijalnya kuat).[10]

Dari hadits itu, orang-orang Bani Israel sebenarnya telah menghapus sendiri agama mereka diganti dengan ajaran kitab yang mereka tulis. Maka ungkapan Ulil bahwa Islam ini hanya menyempurnakan saja, bukan membatalkan atau mengamandemen agama-agama sebelumnya, itu adalah ungkapan yang tidak sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kenyataan yang ada. Lebih tandas lagi adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

218 حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ *.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, dari Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seorang dari umat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab wajibnya beriman kepada risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Kitab Shahih Muslim adalah kitab hadits shahih (benar periwayatannya) yang termasuk menjadi pedoman umat Islam. Dalam hadits tersebut Imam Muslim memberinya bab: Wajibnya beriman kepada risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau. Pertanyaan yang ringan tetapi telak bisa dikemukakan, lebih afdhol mempercayai Imam Muslim yang telah diakui oleh dunia Islam ataukah mempercayai celotehan Ulil Abshar Abdalla orang JIL yang dihujat banyak ulama dan umat Islam?


[1] Lihat buku Hartono Ahmad jaiz, Kyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Pustaka Nahimunkar, Jakarta 2009).

[2] (KOMPAS, 14 Maret 2003).

[3] (Lihat sorotan selengkapnya di buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dalam bab Ganjilnya “Pembaruan” Tentang Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji. Juga buku Hartono Ahmad jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2005, dalam bab Sosok-Sosok Nyeleneh Banyak yang di UIN dan IAIN).

[4] Muchlis Hanafi <[email protected] di milis insistnet.

[5] Pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini adalah puncak kesesatan, kemusyrikan, yang sangat berbahaya. Tetapi justru faham itulah yang senantiasa dikampanyekan oleh JIL ataupun kelompok dan orang-orang sesat lainnya di berbagai kesempatan secara terus menerus. Mengingat masalah ini sangat berbahaya dan senantiasa disebarkan, maka saya tidak ragu-ragu pula untuk selalu membantahnya dan mengemukakan betapa sesatnya di aneka kesempatan, mudah-mudahan umat Islam diselamatkan Allah SWT dari bahaya kemusyrikan yang sangat mengancam ini. Dimuatnya bantahan terhadap faham pluralisme agama di buku-buku saya tidak lain adalah untuk mengimbangi gigihnya para penyesat yang mempropagandakan perusakan aqidah semacam itu dan mengingatkan umat agar jangan sampai terseret kepada kesesatan yang sangat berbahaya itu.

[6] Majalah Panjimas, No 07/ 2002, hal 35.

[7] Fathul Bari 6, 559

[8] Ulul azmi yaitu lima nabi yang punya keteguhan, mereka adalah Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[9] Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr Beirut, 1312H/ 1992M, jilid 1, halaman 464 dalam menafsirkan Surat Ali Imran ayat 81.

[10] Majma’ Az-Zawaid juz 1, hal 192.

مجمع الزوائد ج: 1 ص: 192

باب النهي عن سؤال أهل الكتاب عن أبي الزعرا قال قال عبدالله يعني ابن مسعود لا تسألوا أهل الكتاب عن شيء فإنهم لن يهدوكم وقد أضلوا أنفسهم إما أن يحدثوكم بصدق فتكذبونهم أو بباطل فتصدقونهم رواه الطبراني في الكبير ورجاله موثقون باب عن أبي موسى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن بني إسرائيل كتبوا كتابا فاتبعوه وتركوا التوراة رواه الطبراني في الكبير ورجاله ثقات.