Hanung, Republika, “?” yang Penuh Tanda Tanya!

hanung-republika

CEO Mahaka Media Erick Thohir (kiri), Menbudpar Jero Wacik (tengah) dan sutradara Hanung Bramantyo (kanan) di pemutaran perdana film Tanda Tanya di Djakarta Theater, Rabu (6/4). (Republika).republika.co.id

Assalamu’alaikum Wr Wb

SAYA terkaget-kaget melihat pernyataan sineas film Hanung Bramantyo di beberapa  media. Ia mengatakan, mengaku puas dengan film terbarunya yang berjudul “?” (Tanda Tanya) meski ia tahu film terbarunya itu banyak mendapat kritikan kaum Muslim. Herannya, ia mengaku senang dengan adanya kritikan menandakan bahwa film tersebut hidup.

Bayangkan, bagaimana rusaknya Islam jika ada umatnya tidak mengindahkan peringatan atau saran dari saudaranya, dari ulama seperti kasus Hanung ini. Inilah yang menjadikan agama akhirnya tak berfungsi.

Bagaimana rusaknya agama jika orang tak paham agama (jahil) kemudian bicara seenakknya masalah agama?????

Film terbaru hanung berjudul “?” (Tanda Tanya) telah banyak mendapat kritikan ahli fikih, tokoh agama termasuk MUI. Lha,herannya dia malah mengaku senang???

Saya baru sadar, rupanya dia orang yang tak mengerti agama dan (maaf, ia berlagak mengerti agama, padahal sesungguhnya gak ngerti). Mudah-mudahan ia segera istighfar, meminta ampunan Allah, dan bertaubat. Saya kasihan dengannya, saya khawatir, jika dia tak bertaubat, akan terjadi apa-apa pada anak, istri dan keluarganya. Apakah ia yakin rizkinya halal dengan cara seperti ini?

Dan yang lebih menyedihkan lagi  bahwa Mahaka Picture dan Mahaka Media yang memiliki Harian Republika ikut ambil bagian dalam pembuatan film ini.

Bagaimana mungkin?

Padahal dulu, ketika masih mahasiswa di tahun 90-an,  saya termasuk orang yang provokatif mengajak teman-teman  agar membeli saham PT Abdi Bangsa, yang kala itu menerbitkan Harian Republika dan Majalah Ummat. Sungguh ini kekecewaan yang luar biasa.

Mengapa bisa seperti ini? Mengapa Harian Republika yang dulu dipromosikan Pak BJ Habibie dan menjadi kebanggaan kami dan umat Islam (yang bermimpi punya media Islam sendiri) tiba-tiba mendukung film yang mencampur-adukkan antara yang bathil dan yang haq?

Mengapa Republika justru mendukung pemikiran liberal, yang menurut istilah KH. Cholil Ridwan, justru mendukung orang jadi murtad?

Saya benar-benar tidak paham dan kecewa.

Dalam pikiran saya saat ini penuh Tanda Tanya antara Film “?” dan Harian Republika

?????

Wass

AF. Maulana

Surabaya

Rep: CR-3

Red: Panji Islam

Hidayatullah.com, Senin, 18 April 2011

(nahimunkar.com)