Hati-hati, Ada Calon Ketua Umum NU

yang Membela Ahmadiyah

Kalau tidak hati-hati dan waspada, muktamirin NU (para peserta muktamar Nahdlatul Ulama) nanti akan keblejok (tertipu dan salah pilih). Salah pilih pun sangat jauh, karena ada jago-jago NU yang sepak terjangnya lebih membela aliran sesat Ahmadiyah yang merusak Islam dibanding mengamini fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Tokoh yang bisa ditengarai membela aliran sesat dan murtad Ahmadiyah yang siap mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu adalah Salahuddin Wahid, adik kandung mendiang Gus Dur (Abdurrahman Wahid), di samping Ulil Abshar Abdalla yang memang sudah diketahui liberalnya.

Pemilihan ketua umum PBNU untuk menggantikan posisi KH Hasyim Muzadi akan dilaksanakan pada Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, 22-27 Maret 2010.

Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret 2010 mendatang.

Penolakan faham liberal juga diawaki oleh para kiai muda NU hingga mereka telah menghadapi langsung dedengkot liberal yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL. Maka telah dilangsungkan Tabayyun dan Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur Ahad, 11 Oktober 2009. Ada 8 butir kesimpulan, di antaranya:

Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. (lebih lengkapnya lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010).

Hingga kini, tujuh kandidat Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) mencuat ke permukaan yakni KH Said Agil Siradj (ketua), KH Ir Solahudin Wahid (Gus Solah/mantan ketua), Prof KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan Ketua PWNU Jatim), Masdar F Mas’udi (ketua), Achmad Bagdja (ketua), Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal/JIL).

Meskipun yang jelas memelopori kelompok liberal hanya Ulil Abshar Abdalla, namun bukan berarti yang pro liberal dari para jago itu hanya dia. Bahkan Salahuddin Wahid pun ternyata liberal juga. Hingga dia lebih cenderung membela aliran sesat dan murtad Ahmadiyah sambil menyarankan untuk menyingkirkan fatwa MUI yang menegaskan sesatnya dan murtadnya aliran yang memiliki nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad itu; dibanding rasa kepemilikannya terhadap Islam yang telah dirusak oleh Ahmadiyah. Itu sikap yang sangat aneh, lebih membela maling dibanding harta miliknya yang dimalingi, sambil menyingkirkan fatwa ulama yang menasihati untuk membela hartanya karena maling itu jelas durjana dan harus dihukum.

Dengan kenyataan itu, ditambah dengan pengakuan Salahuddin Wahid sendiri bahwa dia mendapatkan wasiyat dari Gus Dur untuk memimpin NU, berarti Gus Dur sendiri –yang jelas liberal, membela aliran sesat Ahmadiyah, dan menyepelekan MUI– telah meyakini bahwa Salahuddin Wahid sudah mampu mewarisi keliberalan Gus Dur. Dan itu berarti Gus Dur mewariskan cita-cita yang telah diancamkannya ketika kalah dalam pemilihan yang lalu di Muktamar NU ke-31 di Boyolali Jawa Tengah 2004. Gus Dur yang berpasangan dengan orang liberal Masdar F Mas’udi terbukti keok (kalah) melawan Hasyim Muzadi dan Sahal Mahfud. Maka Gus Dur mengancam untuk membuat NU tandingan. Akibatnya, rupanya Hasyim Muzadi mengakomodasi, dengan memasukkan orang liberal ke jajaran pengurus, di antaranya Masdar F Mas’udi dan Nasaruddin Umar yang kini jadi Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama. Nasaruddin Umar sejak tahun lalu tampak gigih “berjuang” mewujudkan cita-cita Gus Dur untuk menghapus apa saja yang bersifat syari’at dari undang-undang Peradilan Agama, maka Nasaruddin berkali-kali menegaskan bahwa RUU Perkawinan di antaranya berisi pidana terhadap yang nikah siri (di bawah tangan) dan yang berpoligami.

Kalau Gus Dur berwasiyat kepada Salahuddin Wahid, berarti Gus Dur telah percaya bahwa Salahuddin Wahid telah dinilai mampu mewarisi cita-cita Gus Dur untuk membuat NU tandingan yakni yang liberal dan “berjuang” untuk menghapus apa saja yang bersifat syari’at Islam dari undang-undang di negeri ini.

Bukti-bukti berikut ini menunjukkan bahwa Salahuddin Wahid bisa dimaknakan sebagai pembela aliran sesat Ahmadiyah, sejalan dengan Buyung Nasution dan lainnya yang pendapat-pendapatnya berseberangan dengan Islam. Di samping itu Salahuddin Wahid juga blusak-blusuk atau runtang-runtung dengan kiprah orang kafir.

Tentang Salahuddin Wahid lebih cenderung membela Ahmadiyah dan menyuara untuk menyingkirkan fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah, Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid: Negara Tidak Boleh Merujuk MUI

Kamis, 14 Februari 2008 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahuddin Wahid mengatakan negara tidak boleh merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Negara itu rujukannya UUD 1945 dan undang-undang,” kata Salahuddin yang biasa disapa Gus Sholah, di sela seminar mengenai Jaminan Perlindungan Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Kebebasan Beragama dan Beribadah Menurut Agama dan Kepercayannya di Hotel Sultan, Kamis (14/2).
Ia menyebut fatwa sesat Ahmadiyah dari MUI merupakan sudut pandang agama. “Tapi negara tidak usah merujuk ke MUI,” katanya.
Negara, mantan anggota Komnas HAM itu melanjutkan, bertugas melindungi rakyat. Negara juga yang mempunyai hak untuk melarang. Karena itu polisi harus berani menindak pelaku kekerasan.
Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution mengatakan pemerintah masih ragu-ragu dalam menindak pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah.
Menurut Buyung, MUI adalah lembaga warisan Orde Baru untuk mengontrol dan menyeragamkan rakyat. “Siapa yang berhak memvonis orang sesat atau tidak,” ujarnya.

Iqbal Muhtarom

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/02/14/brk,20080214-117541,id.html

Salahuddin Wahid juga sukarela berkiprah dalam acara yang diselenggarakan Hindu. Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid

Salahuddin Wahid adik Gus Dur (Abdurrahman Wahid) adalah orang yang belum tentu jelas wala’nya. Dia pernah menjadi juri Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) dalam acara Peradah Indonesia menganugerahkan Peradah Award, Juni 2009. Bertindak sebagai dewan juri adalah KH Salahuddin Wahid, Pdt Nathan Setiabudi dan Ngakan Putu Putra.

Di antara yang diberi anugerah adalah mendiang Pramoedya Ananta Toer tokoh sastrawan Lekra (Lembaga milik PKI – Partai Komunis Indonesia) yang berideologi komunis dengan dituangkan dalam tulisan-tulisannya hingga pemerintah sering melarang buku-bukunya untuk dibaca.

Sedang media yang dimenangkan justru media yang disebut plural (dalam arti pluralisme agama, menyamakan semua agama) yakni Majalah Tempo.

Dari Islam, yang dimenangkan dan dianugerahi Penghargaan MPU Peradah 2009 (yang jurinya dari Islam Salahuddin Wahid Itu) adalah tokoh yang mengusung faham pluralisme agama yang telah diharamkan MUI, yakni Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. (lihat detiknews Minggu, 14/06/2009 06:44 WIB). (nahimunkar.com, 2:15 am).

Cacat Aqidah Islamnya

Ulama atau tokoh Islam kalau sudah blusak-blusuk dan runtang-runtung atau cenderung membela orang kafir bahkan aliran sesat yang merusak Islam seperti Ahmadiyah, maka semua orang tahu bahwa itu cacat yang nyata secara agama.

Dalilnya, firman Allah Ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS Al-Mujadilah/ 58: 22).

Kalau sudah tahu bahwa seorang tokoh ternyata berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya namun mereka tetap memilihnya, maka bisa dimaknakan bahwa mereka sama juga sebagai kekasih-kekasih penentang Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hal ini setidaknya ada beberapa tokoh liberal yang maju ke pemilihan ketua umum PBNU yakni Salahuddin Wahid, Said Aqiel Siradj (bahkan sampai mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan aqidah Islam dengan Kristen), Ulil Abshar Abdalla, dan Masdar F Mas’udi. Mereka ini ada bukti-bukti liberal bahkan berkiprah semacam blusak-blusuk itu. (Lebih rincinya silakan baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010, dan artikel Catatan Kecil Tentang Para Calon Ketua Umum NU, nahimunkar.com 2:15 am). Maka seyogyanya para ulama, kyai, dan muktamirin benar-benar mementingkan agamanya, jangan sampai keblejok dan salah pilih. (nahimunkar.com)