Hati-hati, Dedengkot Pluralisme Agama Gentayangan

di NU dan Muhammadiyah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Buku Fiqih Lintas Agama –FLA– (tulisan 9 orang tim Paramadina, didanai The Asia Foundation yayasan orang kafir, adalah wakaf Yahudi berpusat di Amerika[1]) berisi gugatan-gugatan terhadap hukum Islam bahkan aqidah tauhid, dimaknakan jadi kemusyrikan yakni pluralisme agama, menyamakan semua agama, akan masuk surga semua, dan boleh nikah dengan pemeluk agama apapun serta aliran kepercayaan apapun. Tim penulis Paramadina itu adalah: Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komaruddin Hidayat, Masdar F Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar Rachman, Ahmad Gaus AF, dan Mun’im A. Sirry (Edditor).[2]

Ada tokoh yang duduk di MUI (Majelis Ulama Indonesia), duduk di Muhammadiyah, dia alumni Amerika, telah berani mengumumkan bahwa akan dia terapkan pendidikan pluralisme (menyamakan semua agama, semua masuk surga, hanya beda teknis, pen) di sekolah-sekolah, di media massa dan lembaga kemasyarakatan. (Republika, Sabtu 29/6 2002, halaman 14).

Orang yang walau duduk di MUI tetapi selaku ketua umum Muhammadiyah ketika dimintai tandatangan utusan MUI dalam hal usulan ormas-ormas Islam untuk meminta kepada presiden agar aliran sesat menyesatkan dan merusak Islam yakni Ahmadiyah dibubarkan, ternyata dia menolak. Tidak mau bertanda tangan.

Kalau para muktamirin Muhammadiyah Juli 2010 mendatang tidak jeli, maka orang yang kini duduk sebagai ketua umum Muhammadiyah padahal jelas merancang untuk menerapkan pendidikan pluralisme di sekolah-sekolah itu, kalau dia menjagokan kembali sebagai ketua umum Muhammadiyah, jangan-jangan akan terpilih lagi. Itu sangat berbahaya. Alumni Amerika yang mengusung faham pluralisme itu perlu disingkirkan dari tempat-tempat strategis yang mempengaruhi Ummat Islam, bukan malah diberi tempat, mestinya.

Orang Muhammadiyah se-Indonesia bahkan rata-rata Ummat Islam Indonesia pernah dikagetkan oleh pernyataan tokoh Muhammadiyah yang satu ini, bahwa gedung-gedung Muhammadiyah dia persilakan untuk dipakai acara perayaan orang Kristen. Akibat dari pernyataan itu, khabarnya –menurut penuturan sebagian aktivis Muhammadiyah–, orang-orang Kristen kemudian berdatangan untuk menjadikan Gedung Pusat Da’wah Muhammadiyah di Jakarta, untuk ditempati acara Kekristenan. Keruan saja pengurus Muhammadiyah selain dia tidak memperkenankannya.

Kecerobohan tokoh yang satu ini benar-benar memalukan!

Demikian pula kalau NU dalam Muktamarnya di Makassar Maret 2010 mendatang kalau sampai memilih Said Aqil Siradj sebagai ketua umum, misalnya, maka berarti orang-orang NU telah keblejok, keblondrok sejadi-jadinya. Sebab orang itu justru pendukung fanatic aliran sesat syi’ah, pendukung pluralisme agama dengan bukti mendukung-dukung orang yang mau memasukkan metode heremneutik (metode penafsiran bible) ke pesantren-pesantren ketika Muktamar NU di Solo/ Boyolali Jawa Tengah yang lalu. Bahkan Said Aqil Siradj itu telah diisukan suka blusak-blusuk ke gereja, dan memang memberi kata pengantar buku pendeta Kristen, dengan menyamakan tauhid Ahlis Sunnah wal Jama’ah dengan keyakinan Kristen.

Dalam buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam yang ditulis oleh Bambang Noorsena, Said Aqiel Siradj memberikan kata penutup yang sangat berbahaya dan menyesatkan:

“Dari ketiga macam tauhid di atas (tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ wa shifat), maka tauhid Kanisah Ortodox Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyyah, Kristen Ortodox Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga mengikrarkan Laa ilaaha illallah: “Tiada tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah, secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut.” (hal 165).

Pernyataan Said Aqiel Siradj itu sudah sangat dan terlalu jauh penyimpangannya dari akidah Islam.Dengan menyamakan tauhid Islam dan Kristen, (berarti sama dengan) secara langsung dia berfaham bahwa Islam dan Kristen itu sama-sama syirik kepada Allah SWT. Karena pada halaman 167 buku tersebut, dicantumkan dengan jelas Qanun Al Iman Al Muqaddas (Pengakuan atau syahadat Iman) Kristen Ortodoks Syria dalam bahasa Arab berdampingan dengan bahasa Aram:

“Qaanuun al-iimaan al-muqaddas: Nu’min birobbin waahidin ‘Iisaa al-Masiih ibnullaahil-waahidi, al-mauluudu minal aabi qabla kullid-duhuur, nuurun min nuurin, ilaahun haqq min ilaahin haqq, mauluudin ghoiru makhluuqin, waahidun ma’al-aabi fid-dzaati, alladzii bihi kaana kullu syai-in, haadzal-ladzii min ajlina nahnul-basyar, wamin ajli kholaashinaa, nazala minas-samaa’…wa min maryam al adzraa al bathuul, waalidatul ilah…”

(Dan kami beriman kepada satu-satunya Tuhan (Rabb) yaitu Isa al-Masih (Yesus Kristus) Putra Allah Yang Tunggal, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad, Terang dari sumber Terang, (firman) Allah yang keluar dari (Wujud) Allah, dilahirkan dan bukan diciptakan, yang satu dengan Allah dalam Dzat-Nya yang Esa, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan. Untuk kita manusia dan demi keselamatan kita, telah nuzul dari surga… dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan (walidatul ilah).

Umat Kristen yang beriman bahwa satu-satunya rabb (tuhan) adalah Yesus Kristus, dikatakan masih sama tauhidnya dengan Islam?? Kemudian doktrin bahwa Maryam adalah ibunya Tuhan (walidatul ilah) dikatakan substansinya sama dengan Islam?? Subhanallahi ‘amma yashifuun. Kami berlindung kepada Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Dengan pemikiran seperti itu, maka sesungguhnya “teologi” KH Said Aqiel Siradj lebih Kristen daripada para pendeta dan teolog Kristiani. Jika masih merasa sebagai umat Islam, maka seharusnya dia bertobat kepada Allah saat ini juga, sebelum terlambat. Karena ucapan itu bisa menggugurkan keislamannya, dan sangat kontradiktif dengan ayat-ayat Ilahi berikut ini:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31).

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS At-Taubah: 31).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا(36)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS An-Nisaa’: 36).

(Majalah Bidik, Edisi Perdana, Th I, januari 2003, halaman 42, 43, dan 46).

Pendidikan pluralisme agama pendidikan pemurtadan

Pendidikan pluralisme yang menyamakan semua agama itu menurut Islam adalah pendidikan pemurtadan dan pengkafiran. Sebab Allah SWT menegaskan, agama yang diterima di sisi Allah itu hanyalah Islam. (lihat QS Ali Imran: 19). Orang yang mencari agama selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi. (lihat QS Ali Imran: 85). Dalam Hadits Riwayat Muslim ditegaskan, orang Yahudi ataupun Nasrani yang telah mendengar seruan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mati dan dia tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka termasuk penghuni neraka.

Ayatnya telah jelas, haditsnya pun jelas. Namun orang-orang pluralis tetap menganggap bahwa semua agama sama, masuk surga semua, hanya beda teknis. Pendapat mereka itu sendiri sudah menunjukkan penentangan terhadap ayat Allah, berarti kufur (mengingkari ayat Allah). Masih pula mereka menyiar-nyiarkan pendapatnya yang kufur itu lewat aneka sarana, bahkan mereka rencanakan lewat pendidikan. Maka sudah saatnya sekarang berperang melawan kekufuran itu. Abu Bakar As-Shiddiq, begitu diangkat sebagai khalifah, langsung berperang melawan musuh Allah yakni kafirin, sekaligus berperang pula melawan orang-orang murtad, mengaku Islam namun menolak sebagian syari’at Islam. Dan Abu Bakar itulah orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aliran sesat yang ghuluw, melampaui batas, ekstrim sangat ketat, menganggap yang Islamnya sah hanya golongan mereka. Sebaliknya, ada ekstrim jenis lain, yaitu kebalikan dari ekstrim sangat ketat yaitu ekstrim sangat longgar. Fahamnya berupa, mau beragama Islam ataupun Kristen, Hindu, Budha, Sinto dan lainnya; maka sama saja, masuk surga semua, menuju keselamatan semua, dan hanya beda teknis. Itulah faham pluralisme Agama yang disandang oleh JIL (Jaringan Islam Liberal), Paramadina, sebagian orang IAIN dan sebagainya.

Secara faham, yang ekstrim sangat ketat itu bertentangan secara diameteral dengan eksrim yang sangat longgar. Ahmadiyah bertentangan dengan liberal pluralis. Juga LDII ajaran Nurhasan Ubaidah yang dulunya bernama darul Hadits kemudian bernama Islam Jama’ah sangat bertentangan dengan liberal plurails. Tetapi ketika mereka berhadapan dengan Islam, maka Ahmadiyah dibela oleh orang-orang liberal pluralis. Contohnya dalam kasus fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah, maka orang-orang liberal pluralis seperti Azzumardi Azra rector UIN Jakarta, Gus Dur tokoh NU, Masdar F Mas’udi dari NU, Ulil Abshar Abdalla dari JIL, mereka membela Ahmadiyah dan menghadapi fatwa MUI. Bahkan mereka berkonferensi pers bersama orang-orang kafir untuk membela Ahmadiyah dan menentang fatwa MUI.

Demikian pula LDII yang bertentangan dengan liberal plurasil sebenarnya sangat bertentangan. Tetapi justru bekerjasama, contohnya LDII bekerjasama dengan fakultas di IAIN Jakarta yang dekannya orang pluralis, Dr Yunan Yusuf, dalam bidang apa yang mereka sebut dakwah beberapa waktu lalu. Memang sesama yang sesat, walau hakekatnya bertentangan, namun justru bekerjasama.

Dalam kenyataan lain, dapat digambarkan segitiga: Islam berada di atas, liberal pluralis ada di segi bawah kiri, agama-agama ada di segi bawah kanan, misalnya. Liberal pluralis adalah bertentangan dengan Islam, dan juga bertentangan dengan agama-agama (selain Islam). Tetapi ketika menghadapi atau bahkan melawan Islam, maka orang liberal pluralis ini bekerjasama dengan agama-agama selain Islam, bahkan didanai orang kafir. Itulah.

Ahmad SyafiI Maarif mantan ketua Muhammadiyah menulis di rubrik resonansi di Harian Republika berjudul Hamka tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah. (Republika, Selasa 21 November 2006/ 29 Syawal 1427H, halaman 12). Isinya untuk mendukung faham pluralisme agama, menyamakan semua agama, masuk surga semua. Maka kelanjutan dari tulisannya itu lebih menegaskan lagi, “Mereka rakus surga dan melakukan kekerasan teologis, joke saya, mereka akan masuk sendiri dan kelelahan nyapu surga yang luasnya tak terbatas.”

Ucapan pedas mantan ketua umum Muhammadiyah itu ditujukan kepada kaum Muslimin yang mengikuti aqidah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa yang masuk surga itu hanya orang Muslim.

Tulisan Syafii Maarif itu menjadikan Hamka sebagai tameng. Padahal Mamka dalam Tafsirnya, Al-Azhar juz 6 halaman 325, Hamka menegaskan: “Yang iman itu yang terbuka hatinya menerima wahyu yang dibawa oleh sekalian Nabi, sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Misalnya sampai Hamka pun berfaham model Syafii Maarif, –dan ternyata tidak–, tetap umat Islam harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan kenyataannya, dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau seandainya Nabi Musa as hidup berjumpa dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak ada kelonggaran kecuali ikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang ikut Nabi Musa ‘alaihis salam, dan meninggalkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِى لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّى مِنَ الأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّينَ ».

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengahkalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (ummat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (nabi yang menjadi) bagian kalian. (HR Ahmad).

Terus dari mana Pak Ahmad Syafii Maarif mau berkilah bila berhadapan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di akherat? Adakan mandat kepada Pak Ahmad Syafii Maarif untuk memasukkan surga orang-orang sekarang yang tak percaya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tak mengikuti Islam yang beliau bawa? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sejelas itu dalam menggariskan surga dan neraka. Bagaimana mau menegakkan kepala di akherat kelak, ketika ingat di dunia telah moyoki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang rakus surga dan akan kelelahan menyapu surga. Demikian pula umatnya yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, telah dipoyoki seperti itu. Lantas, apakah di akherat kelak akan dibagi surga oleh orang kafir yang telah Pak Ahmad Syafii Maarif iming-imingi masuk surga pula sebagaimana orang Muslim itu? Bukankah justru orang kafir akan menagih kepada Pak Syafii Maarif? Lantas dari mana mau membagi surga kepada mereka? Apakah ada mandat dari ayat maupun hadits sebagai counter ayat 6 surat Al-Bayyinah?

Tidak ada. Yang ada justru ayat-ayat yang menegaskan bahwa orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya. Juga tidak mungkin masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Ayat-ayatnya jelas dan tegas, sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-bayyinah: 6).

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ(40)

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS Al-A’raaf/ 7: 40).

Dalil-dalil menjawab ahli tasykik

Untuk menjawab golongan tasykik (menyebarkan keragu-raguan) itu, perlu disimak ayat-ayat, hadits, sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang riwayatnya otentik.

Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in itu cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam Al-Qur’an. Di antaranya ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia.” (As-Saba’: 28).

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua.” (Al-A’raaf: 158).

Apakah mungkin ayat itu dianggap tidak berlaku? Dan kalau tidak meyakini ayat dari Al-Qur’an, maka hukumnya adalah ingkar terhadap Islam itu sendiri. Kemudian masih perlu pula disimak hadits-hadits.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَكَانَ النَّبِىُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً ، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Wa kaanan nabiyyu yub’atsu ilaa qoumihi khooshshotan wa bu’itstu ilan naasi ‘aamatan.”

Dahulu Nabi diutus khusus kepada kaumnya sedangkan aku (Muhammad) diutus untuk seluruh manusia.” (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/ 86, dan Muslim II/ 63, 64).


[1] kata Prof Bustanul Arifin SH, seorang ahli hukum terkemuka di Indonesia, dalam pertemuan dengan para ulama dan tokoh Islam di As-Syafi’iyah Jakarta, Rabu 6 Ramadhan 1425H/ 20 Oktober 2004.

[2] Buku Fiqih Lintas Agama itu telah penulis bantah dengan mengemukakan aneka tipuan mereka dan plintirannya terhadap ayat, hadits, dan perkataan ulama. Bantahan penulis dalam buku setebal 306 halaman berjudul Menangkal Bahaya JIL & FLA, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004. Juga bantahan dari Ust Agus Hasan Bashori, Koreksi Total Buku Fikih Lintas Agama, Al-Kautsar, Jakarta, 2004.

Bersambung