Heboh di Suatu Lembaga

 

Awal Agustus 2008, menjelang dilaksanakannya kongres ketiga oleh sebuah lembaga Islam, Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan petinggi di lembaga tersebut justru mempublikasikan pengunduran-dirinya dari lembaga itu.

Sebagaimana dipublikasikan oleh berbagai media online, seperti arrahmah.com, inilah.com dan Antara News edisi 6 Agustus 2008, Ba’asyir menyatakan pengunduran dirinya dari lembaga tersebut, karena adanya ketidak-cocokan dalam sistem kepemimpinan yang berjalan.

Menurut keyakinan Ba’asyir, lembaga tersebut merupakan suatu institusi perjuangan Islam yang sistem kepemimpinannya justru tidak dikenal dalam ajaran Islam. Bahkan Ba’asyir mengaku memiliki pandangan yang berbeda dengan sejumlah pengurus di lembaga tersebut, sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Namun demikian, Ba’asyir mengakui bahwa sistem perjuangan serta tujuan dibentuknya lembaga tersebut sudah benar, hanya sistem kepemimpinan yang diterapkan masih menggunakan sistem demokrasi, seharusnya sesuai dengan ajaran Islam, yaitu sistem Jamaah dan Imamah.

Meski pernyataan pengunduran dirinya baru dipublikasikan 6 Agustus 2008, namun sesungguhnya secara lisan Ba’asyir sudah menyatakan mundur sejak 13 Juli 2008, dan secara tertulis pada 19 Juli 2008 bertepatan dengan tanggal 16 Jumadits Tsani 1429 H. Mengapa Ba’asyir mempublikasikan pengunduran dirinya secara terbuka baru pada awal Agustus 2008, beberapa hari menjelang dilaksanakannya kongres ketiga oleh lembaga tersebut, yang berlangsung tanggal 9 dan 10 Agustus 2008? Hanya Ba’asyir yang tahu jawabannya.

Setelah mundur dari lembaga tersebut, Ba’asyir pada bulan Ramadhan 1429 H akan mendirikan lembaga serupa, yang namanya boleh jadi berupa Jama’ah Imamah (?). Kalau benar nama lembaga bentukan Ba’asyir kelak bernama Jama’ah Imamah, maka akronimnya boleh jadi disingkat JI (Jama’ah Imamah). Singakatan itu sangat mengingatkan kita pada akronim Jama’ah Islamiyah (JI) sebuah organisasi yang bersifat rahasia (tandzim sirri), yang keberadaannya disangkal habis-habisan oleh Ba’asyir. Jadi, kalau dulu Ba’asyir menyangkal dirinya terlibat dalam aksi terorisme yang dilakukan JI (Jama’ah Islamiyah), kini ia justru kemungkinan akan mendirikan JI (Jama’ah Imamah) (?). Seandainya itu nanti didirikan dengan nama itu, apakah JI yang satu ada kaitannya dengan JI yang satunya lagi? Hanya Ba’asyir yang tahu.

Setidaknya ada tiga pokok-pokok pemikiran Ba’asyir yang pernah ia sampaikan di hadapan petinggi lembaga tersebut, yaitu berkenaan dengan Sistem Jama’ah Imamah, Sistem Musyawarah, dan Sistem Kepemimpinan (Amir).

Menurut Ba’asyir, sistem organisasi yang diterapkan lembaga tersebut adalah mengikuti ajaran demokrasi atau sekuler. Padahal, Allah dan Rasul-Nya telah menurunkan cara berorganisasi yang islami yaitu Jama’ah dan Imamah.

Berkenaan dengan Sistem Musyawarah, Ba’asyir mengatakan, tidak ada satu dalil pun baik di dalam Al-Qur’an maupun sunnah yang membenarkan cara-cara musyawarah sebagaimana yang dilakukan selama ini. Musyawarah yang benar, menurut Ba’asyir, adalah untuk meringankan Amir, bukan untuk membebaninya.

Lanjut Ba’asyir, Musyawarah hanya memberi masukan, dan keputusan musyawarah tidak mengikat Amir. Sehingga tidak boleh Amir dituntut untuk melaksanakan hasil musyawarah, tetapi Amir memilih mana pandangan-pandangan yang maslahat untuk dijalankan.

Sedangkan yang dimaksud dengan Sistem Kepemimpinan (Amir) menurut Ba’asyir adalah, pertama, Kepemimpinan (Amir) itu bersifat tunggal, bukan kolektif, karena kepemimpinan kolektif itu jahiliyah dan tidak ada dalil Al-Qur’an yang membenarkannya. Bahkan menurut Ba’asyir, semua hadits Nabi menyatakan al amiru ahaduhum (amir itu tunggal).

Kedua, Pemimpin atau Amir atau Imam itu tidak bertanggung jawab kepada rakyat (anggota), tetapi hanya bertanggung jawab kepada Allah saja. Sehingga, Amir tidak perlu menyampaikan laporan pertanggung jawaban –misalnya– setiap lima tahun sekali kepada anggota.

Ketiga, masa kepemimpinan Amir adalah seumur hidup, tidak ada pergantian secara periodik. Menurut Ba’asyir, pergantian pimpinan secara periodik tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama salaf, misalnya lima tahun sekali harus menggelar kongres untuk memilih pimpinan baru. Selama sang pemimpin itu masih taat kepada syari’at, dipagari syari’at dan tidak melanggar pokok-pokok syari’at, serta masih ada kemampuan, ia tidak boleh diganti.

Keempat, pemimpin atau amir atau imam tidak terikat dengan keputusan musyawarah, karena musyawarah itu hanya memberi masukan dan pembantu bagi pemimpin, bukan memberi beban dan menjadikan pemimpin sebagai pekerjanya.

Bagaimana respons lembaga tersebut yang sistem kepemimpinannya dinyatakan tidak islami oleh Ba’asyir? Menurut dokumen tertulis yang diperoleh redaksi nahimunkar, pimpinan lembaga tersebut mengatakan, bahwa yang sebenarnya terjadi adalah sistem organisasi pada lembaga tersebut  tidak sesuai dengan kemauan Ba’asyir, bukan tidak sesuai dengan syari’ah.

Begitu juga dengan pernyataan Ba’asyir bahwa sistem kepemimpinan kolektif tidak ada dalam Islam dan meniru-niru tradisi jahiliyah, –menurut lembaga itu— pernyataan tersebut sangatlah tidak tepat. Karena, menurut lembaga ini, sepanjang sejarah justru yang menganut sistem kepemimpinan tunggal adalah Yahudi, dengan mengangkat orang-orang alim versi mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah SWT.

Pendapat Ba’asyir yang mengatakan bahwa Imam tidak terikat musyawarah dan musyawarah tidak wajib adalah paham sekte Syi’ah, bukan paham Ahlus Sunnah, sanggah lembaga ini. Paham Syi’ah tentang Imamah dan Syuro ini, lanjut lembaga ini,  ditulis oleh Ali Syari’ati dalam bukunya berjudul Imamah dan Ummah.

Sedangkan pernyataannya bahwa Imam tidak bertanggung jawab kepada Ummat, dinilai oleh lembaga ini, sebagai doktrin Ahmadiyah yang ditetapkan oleh Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana bisa dilihat pada buku karangan Ihsan Ilahi Zhahir berjudul Al-Qadianiyyah (hal. 175, terjemahan Indonesia).

Selanjutnya, menurut salah satu pimpinan lembaga tersebut, menerapkan sistem imamah yang berlaku bagi kekhalifahan (pemerintahan) ke dalam kumpulan organisasi di luar pemerintahan adalah qiyas bathil. Karena, kedudukan khalifah dengan segala kewajibannya tidak dapat direduksi ke dalam organisasi sosial atau lembaga lainnya di luar pemerintahan.

Demikianlah di antara silang pendapat antara Ba’asyir dan lembaga tersebut.

 

Ba’asyir Bukan Satu-satunya

Sebelum Ba’asyir, sudah ada yang mundur ataupun dinon-aktifkan dari lembaga tersebut. Misalnya, di tahun 2005, Ketua I Lajnah Tanfidziyah Afif Abdul Majid mengundurkan diri, karena merasa tidak serasi lagi dengan pengurus Lajnah Tanfidziyah, selain karena adanya perbedaan visi dan misi perjuangan.

Fauzan Al-Anshari yang sejak tahun 2000 menjabat sebagai Ketua Departemen Data dan Informasi, dinon-aktifkan dengan berbagai alasan. Antara lain karena ia dinilai melanggar disiplin, yaitu mendeklarasikan forum lintas agama bernama Gerakan Nasional Anti Terorisme (GNAT) bersama sejumlah pendeta dan Bhiksu, tanpa berkoordinasi sebelumnya dengan lembaga tersebut.

Fauzan tidak berhenti sampai di situ, ia juga membidani lahirnya Panitia Persiapan Kepemimpinan Nasional (PPKN) dengan agenda mengorbitkan Ba’asyir sebagai salah satu alternatif Calon Presiden di musim Pemilihan Presiden tahun 2009. Argumen yang menjadi alasan Fauzan mengusung Ba’asyir sebagai Calon Presiden 2009 adalah keyakinannya terhadap kebenaran ramalan Ronggowarsito. Rupanya ada juga ‘mujahid’ yang percaya dengan ramalan model primbon perdukunan.

Bahkan, Fauzan dan Mufied al-Kalatini menerbitkan buku berjudul Proses Berakhirnya Dunia, Membongkar Konspirasi Yahudi (Sebuah Upaya Mengadu Domba Umat Islam dan Nasrani). Melalui buku itu Fauzan meramalkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2009. Rupanya selain percaya dengan ramalan dukun, ‘mujahid’ yang satu ini juga bisa meramal kiamat segala.

Halawy Makmun yang pernah menjadi anggota pada Departemen Siyasah dan Tathbiqus Syari’ah di lembaga tersebut, juga melakukan pengembangan pemikiran takfiri sehingga membuat perpecahan dan ketidak-serasian di antara komponen lembaga. Selain mengajarkan faham takfiri, Halawy Makmun juga dianggap melakukan manipulasi, menghina dan melecehkan lembaga tersebut. Sebagaimana Fauzan, Halawy juga dinon-aktifkan.

Bardan Kindarto di tahun 2006 mengundurkan diri dari lembaga tersebut, karena aspirasinya dengan aspirasi lembaga berada di persimpangan jalan. Ia ingin menjadikan lembaga tersebut sebagai lembaga kekhalifahan. Selain itu, Bardan Kindarto juga mengembangkan dan mempraktekkan faham menyimpang. Dalam mempraktekkan poligami, Bardan Kindarto memperistri wanita yang masih bertalian darah satu sama lain. Istri keduanya merupakan keponakan kandung dari istri pertamanya. Faham ini diikuti oleh sejumlah anggota jamaah pengajiannya.

Bardan Kindarto juga menganut faham ‘menikah tanpa saksi adalah sah’. Bahkan ia juga berfaham, pernikahan seseorang sah hanya dengan pengakuan sepihak dari calon suami berupa ucapan amu istri saya saja.

Dari tulisan ini, Ummat Islam sudah seharusnya meningkatkan kewaspadaan, karena rongrongan terhadap aqidah dan kemurnian pemahaman Islam tidak saja datang dari kelompok-kelompok sesat yang selama ini sudah kita kenal, seperti Jaringan Islam Liberal atau Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan Liberalisme), Ahmadiyah, Syi’ah, LDII (Islam Jama’ah), komunitas ahli bid’ah dan sebagainya, namun juga datang dari komunitas yang oleh kaum sekuler disebut sebagai fundamentalis dan radikal. Lha, bagaimana mungkin syari’ah Islam bisa ditegakkan oleh orang-orang ketika pemikirannya belum tentu syar’i, dan boleh jadi terkontaminasi, lalu bertabrakan satu sama lain, dan masing-masing berpegang pada pendiriannya? Semoga hal ini menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita semua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan tuntunan dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(59)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa'” 59).

 

Kasus heboh ini sebenarnya hanya terjadi di suatu lembaga, sedang untuk membahasnya pun perlu hati-hati agar tidak ada dampak yang tak bermanfaat atau bahkan buruk. Namun di sini dimunculkan tulisan pula, karena untuk memberikan semacam peringatan, agar tidak terjadi fitnah yang akan menimpa bukan hanya terhadap orang-orang yang berbuat salah namun yang tak salah pun terkena. Fitnah itulah yang perlu dihindari, maka tulisan ini mengingatkan pula adanya wanti-wanti (pesan dengan sangat) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. 8:25).

Semoga ini dapat difahami dan bermanfaat bagi kita semua. (haji/tede)