Heboh Dua Makam di Masyarakat Jahil yang Dipiara

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*

Masyarakat korban pembodohan dan penyesatan. Mereka suka mengerumuni kuburan dan semacamnya yang dipercayai secara batil. Kecenderungan yang jahil (batil keyakinannya) itu selama ini seakan dipiara, bahkan belakangan dikembang suburkan sebagai lahan aneka kepentingan.

***

Pekan ketiga Februari 2011 antara lain dihiasai dengan berita heboh tentang dua makam (kuburan) yang mengundang perhatian sejumlah orang. Kejadian pertama berasal dari Jombang, tentang makam Gus Dur yang ambles (15 Februari 2011). Kedua, dari Jakarta, tentang adanya desas-desus yang tak jelas sumbernya bahwa ada suara tangisan dari makam Desi, seorang gadis berusia 15 tahun yang menderita sakit, kemudian meninggal dunia pada 18 Februari 2011.

Makam Desi

Seorang gadis remaja bernama Desi kelahiran 14 Desember 1995, meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya dimakamkan di TPU Prumpung, Jakarta Timur, pada tanggal 18 Februari 2011. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja beredar kabar bahwa dari makam gadis belia itu keluar suara tangisan.

Kabar itu membuat sejumlah orang penasaran, dan berbondong-bondong mendatangi makam Desi. Menurut taksiran media massa, pada tanggal 18 Februari 2011 sekitar ratusan massa terkonsentrasi di sekitar makam Desi yang berhiaskan nisan berwarna hitam dan taburan bunga yang mulai mengering.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, aparat pemerintah setempat sudah melakukan antisipasi, antara lain mengutus Wakil Lurah Cibesut, Bambang N, untuk meyakinkan massa bahwa suara tangisan dimaksud tidak ada. Di tengah kerumunan massa, Bambang meminta massa untuk diam dan menyimak ada-tidaknya suara tangisan pada makam Desi. Ternyata tidak ada. Maka, Bambang pun meminta massa yang berkerumun di sekitar makam Desi untuk meninggalkan tempat.

Namun, massa yang penasaran tetap berkerumun di sekitar makam Desi pada hari-hari berikutnya. Ketua RT setempat, Nurohman, sudah pula turun tangan meyakinkan massa bahwa suara tangisan itu tidak ada. Meski sudah berapi-api, massa yang penasaran tak juga surut. Massa terkesan cuek (tidak peduli, bersikap masa bodoh) terhadap ‘pidato’ sang Ketua RT.

Bahkan ketika salah seorang ustadz, Junaedi, berusaha meyakinkan massa dengan ceramah keagamaannya, massa bergeming alias cuek bebek tidak menggubrisnya, meski pada saat ceramah disampaikan massa masih mau mendengarkan dengan sikap terdiam. Usai ceramah, mereka kembali kepada pendirian semula. Sampai 23 Februari 2011, masih ada sekitar 200-an orang yang terkonsentrasi di makam tersebut. Akibatnya, banyak sampah bertebaran dan sejumlah makam rusak terinjak-injak. Sejumlah pedagang pun ikut masuk areal makam untuk menjajakan makanan dan minuman.

Desi bukan siapa-siapa. Tapi, ketika kabar burung (kabar yang tidak jelas sumbernya dan tak dapat dipegangi) menyampaikan pesan bahwa dari makam gadis remaja itu keluar tangisan, lalu ratusan orang pun penasaran. Tidak sekedar penasaran, mereka berbondong-bondong mendatangi makam gadis remaja itu, seraya mengabaikan pesan pak ustadz, Ketua RT, Wakil Lurah dan aparat kepolisian. Artinya, massa lebih percaya kepada rumor berbau mistis-klenik ketimbang pesan tokoh formal dan informal tadi. Ini jelas suatu kemunduran, sekaligus merupakan krisis kepercayaan terhadap para tokoh masyarakat tadi.

Kalau makam Desi yang bukan siapa-siapa saja bisa menyedot perhatian khalayak, apalagi bila ada kejadian pada makam seseorang yang selama ini secara sengaja-ngaja diposisikan oleh media yang berbau anti Islam bahwa dia itu sebagai wali, guru bangsa, dan tokoh besar yang faktanya memang pernah menjadi presiden Indonesia. Pasti lebih heboh lagi tentunya.

Makam Gus Dur Ambles

Kenyataannya memang demikian. Apalagi, peristiwa amblesnya makam Gus Dur yang terletak di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur ini, terjadi bertepatan dengan liburan Maulid 15 Februari 2011/ 12 Rabi’ul Awwal 1432H. Beberapa jam pasca amblesnya makam Gus Dur itu, dua putri Gus Dur, Inayah dan Alissa telah mendatangi dan melihat kondisi makam tersebut. Namun saat itu, makam ambles Gus Dur sudah ditutup pasir oleh petugas penjaga makam.

Saat itu, pada liburan Maulid, orang-orang yang berziarah ke makam Gus Dur jauh lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Maklumlah hari libur, Maulid pula. Bukan hanya peziarah yang tumpah ruah, tetapi juga curah hujan yang turun membasahi bumi seperti tumpah dari langit. Sekitar pukul 15:00, Waldi yang biasa berjualan VCD tentang Gus Dur di sekitar makam, tiba-tiba melihat permukaan tanah pada makam Gus Dur ambles. Mulanya seukuran telapak tangan dengan kedalaman sekitar 20 sentimeter.

Kejadian itu segera ia laporkan kepada Zainul yang sedang berjaga di pos dekat pintu keluar masuk bagi peziarah. Serta-merta Zainul bergegas menuju areal makam dan langsung menutupi lubang pada makam Gus Dur dengan pasir. Selanjutnya, penjaga dan pengurus ponpes membuat barisan barikade agar peziarah tidak sampai mengabadikan peristiwa amblesnya permukaan makam Gus Dur. Alasannya, jasad Gus Dur yang sudah setahun lebih dimakamkan di tempat itu terlihat masih tetap utuh.

Menurut M. Hasan, orangtua Zainul, yang juga ikut menutupi lubang di makam Gus Dur itu bersama anaknya, di bawah guyuran hujan ia melihat sesuatu yang ganjil, namun tak berani menceritakan apa yang dilihatnya. Alasannya, itu bukan merupakan kewenangannya. Sesuatu yang ganjil?

Yang jelas, sehari pasca amblesnya makam Gus Dur, di sekeliling areal makam dibangun tembok setinggi 30 sentimeter untuk mengantisipasi derasnya terjangan air hujan. Juga, disediakan pasir. Maksudnya, jika sewaktu-waktu hujan deras, dan permukaan makam Gus Dur ambles lagi, maka pasir-pasir itu bisa lagsung digunakan untuk menutupi lubang dengan segera.

Selain itu, keluarga besar mendiang Gus Dur menggelar rapat internal, membahas fenomena langka amblesnya permukaan tanah makam Gus Dur, kain kafan yang masih terlihat bersih, dan jasad Gus Dur yang meski telah satu tahun lebih ditanam konon tetap utuh. Bagi para Gusdurian, kabar seperti itu membuat mereka kian yakin bahwa Gus Dur itu bermaqom wali. Istilah Gus Durian antara lain digunakan beritajatim.com untuk menyebut konstituen pengagum Gus Dur.

Sebenarnya peristiwa amblesnya makam Gus Dur bukan kali ini saja terjadi. Beberapa hari sejak Gus Dur dimakamkan, sekitar awal Januari 2010, makam Gus Dur pernah ambles akibat banyaknya peziarah yang berkerumun. Menurut pemberitaan Liputan6.com edisi 04 Januari 2010: “Sejak KH Abdurrahman Wahid dikebumikan, makam cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu tak henti-hentinya didatangi peziarah. Apalagi peziarah bisa dengan leluasa memasuki areal dan mendekati makam. Akibatnya, tanah makam Gus Dur ambles dan sejumlah batu nisan di kompleks makam rusak.”

Sejak saat itu (04 Januari 2010), pengelola ponpes Tebuireng memberi pembatas dengan tali tambang, sehinga peziarah tak bisa leluasa seperti sebelumnya, selain untuk menghindari kerusakan yang lebih parah lagi.

***

Semasa hidupnya, Gus Dur memang dekat dengan hal-hal berbau mistis, klenik dan bid’ah. Bahkan, hingga ia mati pun, ketiga hal tadi tetap mewarnai kematiannya. Antara lain sebagaimana bisa dirasakan melalui pernyataan Munasir Huda, salah seorang Gus Durian yang tinggal di Diwek, Jombang. Menurut Huda, jasad Gus Dur tidak saja masih utuh. Bahkan, saat permukaan tanah ambles terlihat sinar terang yang muncul dari dalam tanah kuburan, dan sinar terang itu memancar dari jasad Gus Dur.

Sayangnya Huda tidak menyaksikan langsung, tapi kata orang lain. Meski kata orang lain, ia percaya berita itu bukan kabar bohong. Ia malah yakin, fenomena yang tidak disaksikannya sendiri itu merupakan suatu bukti kewalian Gus Dur.

Gus Durian lainnya, Nikmah, penjual kopi di areal dekat Ponpes Tebuireng, juga percaya perihal jasad Gus Dur yang masih utuh meski ia tidak melihat langsung. Begitu juga dengan Robet Arif Budiman, pedagang kaus bergambar Gus Dur, ia percaya jasad Gus Dur utuh karena menurutnya Gus Dur merupakan sosok yang ikhlas, istikomah menjalankan ajaran Islam.

Menurut Permadi, paranormal sahabat Gus Dur, jasad Gus Dur masih utuh dianggap wajar. Karena, Gus Dur itu punya banyak kelebihan. Meski aneh, Gus Dur itu, menurut Permadi, sosok yang jujur dan tidak munafik. Serta, berani melawan arus dan suka membela kaum yang lemah.

Rupanya, bukan cuma tukang kopi dan tukang kaus yang percaya jasad Gus Dur masih utuh, tetapi juga sosok berpendidikan tinggi yang pernah jadi anggota DPR dari PDI-P, dan kini sudah loncat ke partai lain.. Begitulah kira-kira mereka disatukan dalam pemahaman. Meski berbeda tingkat pendidikan, namun sama-sama punya kecenderungan terhadap klenik dan mistik. Jadi, yang namanya jahil (bodoh, terutama dalam hal keimanan yang benar hingga mempercayai yang batil; makanya zaman sebelum Islam disebut zaman jahiliyah) itu, tidak ada hubungannya dengan profesi dan tingkat pendidikan. Lagi pula, kalau benar amblesnya makam Gus Dur itu sekitar 20 sentimeter saja, maka mustahil kain kafan dan jasad Gus Dur bisa kelihatan. Karena, rata-rata kedalaman makam hampir mencapai 200 sentimeter (bahasa kitabnya: sak dedeg sak pengawe, setinggi orang berdiri sambil tangannya mengawe-awe/ isyarat memanggil-manggil).

Penyebab Ambles

Faktor utama penyebab ambles, karena banyaknya peziarah. Pada peristiwa ambles pertama (04 Januari 2010), selain karena curah hujan yang tinggi dan jumlah peziarah yang cukup banyak, juga disebabkan oleh belum adanya pembatas, sehinga peziarah leluasa berada di dekat makam Gus Dur, mengambil sejumput tanah makam atau taburan bunga di atas makam untuk dibawa pulang. (Ini tidak wajar dan mengandung keyakinan batil, tetapi banyak dilakukan orang, menurut berita yang tersebar. Tidak lain ya karena jahil tersebut).

Setelah diberi pembatas, permukaan makam juga ambles, karena selain jumlah peziarah yang tetap banyak, juga akibat curah hujan yang deras. Curah hujan yang tinggi menghasilkan kucuran air dari atap pendopo yang jatuh di atas makam Gus Dur seperti menggerus sebagian permukaan makam. Oleh karena itu, pasca amblesnya makam Gus Dur, keesokan harinya sistem talang air pada pendopo diperbaiki sehingga kucuran air hujan tidak jatuh di atas makam. Apalagi, sejak jasad Gus Dur dimakamkan, permukaan tanah makam tidak dipadatkan, karena tidak ada yang berani menginjak-injak permukaan makam tersebut, karena takut kualat. (Ini juga aneh, kalau takut kualat, mestinya ya takut menimbuninya dengan tanah…Jadi keyakinan batil itu di dunia saja sudah mendatangkan mudharat).

Menurut Lukman Hakim (ketua Pengurus Ponpes Tebu Ireng), “… saat pemakaman lalu, tanah yang digunakan untuk menguruk tidak dipadatkan. Biasanya, sehabis diuruk, kalau memakamkan kan dipadatkan dengan diinjak-injak. Nah, waktu itu gak ada yang berani injak-injak…”

Soal kain kafan yang terlihat masih bersih, juga jasad Gus Dur yang konon tetap utuh, yang dipercayai sebagian orang, rasanya merupakan sesuatu yang dilebih-lebihkan, apalagi bila kedalaman yang dihasilkan proses penurunan permukaan tanah (ambles) hanya sekian puluh sentimeter. Masih jauh dari dasar makam, tempat jasad Gus Dur berada.

Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur yang masih tergolong keponakan Gus Dur tidak percaya dengan kabar burung tadi. “Nggak mungkinlah sampai kelihatan kain kafannya karena begitu ambles sedikit saja sudah ada yang menguruknya. Makam itu di tengah pondok, sudah barang tentu banyak yang mengurusnya selain dari pihak keluarga…”

Begitu juga dengan jasad Gus Dur yang konon terlihat masih utuh, boleh jadi merupakan sesuatu yang dilebih-lebihkan, untuk membangkitkan rasa ingin tahu (penasaran) masyarakat praktisi bid’ah. Bila kedalaman hanya sekian puluh sentimeter tentu mustahil jasad terutup kain kafan bisa terlihat jelas.

Kalau toh benar jasad Gus Dur yang sudah setahun lebih ditanam masih utuh, secara ilmiah bisa dijelaskan. Menurut Agus Hendratno (Ahli Geologi Yogyakarta), bisa saja jasad manusia yang dikubur akan tetap utuh, karena mungkin saja di dalam tanah itu tidak terdapat hewan organik yang bisa mengubah jasad manusia menjadi tanah.

Lagi pula, jasad yang masih utuh meski sudah dikubur beberapa lama, tidak selalu layak dikaitkan dengan tingkat kesalehan yang bersangkutan. Dalam kisah Fir’aun yang zalim dan mempertuhankan dirinya, jasadnya tetap utuh karena Allah kehendaki dan untuk bukti kekuasaan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Sehingga, dapat dijadikan bukti kebenaran Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad saw.

Kebenaran Al-Qur’an tentang kisah Fir’aun telah memantapkan hati seorang Maurice Bucaille masuk Islam. Maurice Bucaile adalah ahli bedah kenamaan Prancis yang dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Ia berkesempatan meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun, sehingga terkuak misteri di balik penyebab kematiannya. Yaitu, ditemukannya sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh mumi Fir’uan sebagai bukti terbesar bahwa Fir’aun mati karena tenggelam.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آَيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آَيَاتِنَا لَغَافِلُونَ [يونس/92]

“Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Di Turfan, Xinjiang, China Timur Jauh, pernah ditemukan sejumlah jasad yang masih utuh (Januari 2009), yang diyakini sebagai jasad pejabat pada masa Dinasti Qing (1644-1911). Dinasti Qing merupakan kekaisaran terakhir di China hingga terbentuknya Republik China pada 1911. Mereka tentu saja bukan penghafal Al-Qur’an, bukan juru dakwah Islam, bukan sosok bermaqom Wali penyebar agama Islam.

Di kawasan Republik Karelia pernah ditemukan jasad utuh seorang pilot Rusia setelah selama 55 tahun tewas. Pilot tersebut bernama Boris A. Lazarus. Pesawatnya jatuh karena ditembak oleh pesawat tempur Jerman pada tanggal 21 Februari 1943. Di tahun 1998, sebuah ekspedisi pencarian telah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat Lazarus. Di antara puing-puing pesawat tempur, ditemukan jasad Lazarus yang masih utuh. Yang jelas, Lazarus adalah tentara berpangkat sersan, dari sebuah negara yang berpaham komunis dan cenderung memusuhi Islam.

Fenomena jasad utuh, seharusya disikapi biasa saja. Karena pemilik jasad itu, boleh jadi orang bengis atau orang saleh. Yang pasti, faktor alam ada kemungkinan mengakibatkan keutuhan jasad, dan pasti karena merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana terjadi pada kisah Fir’aun yang dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an tersebut.

Akan tetapi, karena di Indonesia rakyatnya tergolong awam agama sekaligus menjadi praktisi bid’ah secara aktif, maka berita-berita bernuansa mistis, klenik dan sebagainya lebih bisa diterima akal mereka ketimbang penjelasan yang rasional dan ilmiah serta berdasarkan dalil syar’i. Sehingga, kasus-kasus sebagaimana terjadi pada makam Desi dan makam Gus Dur kemungkinan akan terus terjadi di lain waktu dan di lain tempat, apabila aqidah Ummat Islam ini tidak bersih dari aneka keyakinan batil seperti tersebut.

Kalau ulama, tokoh formal dan informal sudah tidak didengar lagi oleh rakyat, dan mereka lebih percaya kepada rumor, mistis dan klenik, siapa yang patut disalahkan?

Ketika kejahilan justru dipiara

Gejala gemar mendengarkan perkataan-perkataan tidak jelas kebenarannya bahkan penuh batil dan membahayakan aqidah itu telah dikecam dalam Al-Qur’an. Dan itu dialami oleh orang-orang Ahli Kitab (yang dituruni kitab dari Allah, yakni Yahudi dan Nasrani).

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آَمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ %